TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 11: Kepulangan Sang Legenda dan Tanah yang Terluka
Perjumpaan Ayah dan Anak
Raka mendarat dengan lembut di samping Sang Hyang Jagat yang masih tertegun melihat kehebatan putranya. Raka memegang Inti Alam Semesta itu dan memberikannya kepada ayahnya.
"Ayah... ambil kembali takhtamu," ucap Raka tulus.
Sang Hyang Jagat menggeleng lemah. Ia menyentuh pundak Raka dengan tangan yang gemetar.
"Tidak, Raka. Waktuku sudah usai. Kau telah mencapai tingkat yang bahkan tidak pernah bisa kucapai. Kau adalah Matahari Nirwana yang akan memimpin jagat ini menuju zaman baru."
Tiba-tiba, dari sisa-sisa energi Barata, muncul sebuah retakan dimensi yang mengarah kembali ke dunia manusia, ke Desa Lembah Wening.
Raka melihat bayangan Sekar yang sedang duduk di tepi sungai, menatap langit dengan sedih.
"Raka... kau harus pulang," bisik suara Nisala di dalam dirinya.
"Tugasmu di sini sudah selesai, namun tugasmu sebagai pelindung dunia manusia baru saja dimulai. Ada kekuatan lain yang lebih tua dari Barata yang sedang bangkit karena ledakan energi ini."
Raka menatap ayahnya, lalu menatap gerbang menuju dunianya. Ia tahu, meskipun ia kini telah menjadi sakti mandraguna, hatinya tetaplah milik seorang pemuda desa yang mencintai gadisnya.
"Aku akan kembali, Ayah. Tapi aku berjanji, aku akan menjaga keseimbangan antara langit dan bumi," ujar Raka.
Raka melangkah menuju gerbang dimensi. Namun, sebelum ia masuk, ia merasakan Matahari Kesembilan!" Matahari Sejati," mulai berdenyut di dalam jiwanya.
Ia belum membangkitkannya, namun ia tahu, kekuatan terakhir itu hanya akan muncul saat ia menghadapi ancaman terbesar dalam sejarah penciptaan."
Syuuuuutttt!
Raka melesat menembus gerbang, meninggalkan Dimensi Tanpa Ruang yang kini mulai pulih."
Kembali ke dunia manusia, di mana seorang pahlawan baru saja lahir kembali dari kematian."
"Langit di atas Desa Lembah Wening yang biasanya biru cerah, kini tertutup oleh kabut ungu yang berbau busuk dan anyir.
Tidak ada lagi suara burung berkicau atau tawa anak-anak di pematang sawah. Yang terdengar hanyalah suara lonceng perunggu yang dipukul pelan, menciptakan nada rendah yang membuat bulu kuduk berdiri."
Di tengah alun-alun desa, sebuah lubang dimensi terbuka perlahan. Awalnya hanya seukuran kepalan tangan, lalu melebar dengan kilatan petir perak yang menyilaukan."
DUAR!
Sesosok pria meluncur turun dari lubang tersebut. Ia tidak jatuh, melainkan melayang turun dengan keanggunan seorang dewa."
Raka telah kembali.
Rambut peraknya perlahan kembali menjadi hitam pekat, namun aura di matanya tetap memiliki kilatan emas yang tak bisa disembunyikan. Pakaian tempurnya yang bersinar perlahan memudar, berganti dengan jubah hitam sederhana yang ia ciptakan dari energi murni.
Tap.
Kaki Raka menyentuh tanah. Ia menghirup udara desa, namun seketika ia terbatuk. Udara itu telah tercemar oleh energi jahat.
"Apa yang terjadi dengan desaku?" gumam Raka.
Ia melihat ke sekeliling. Rumah-rumah penduduk banyak yang hancur. Di depan setiap pintu, tergantung janur kuning yang sudah kering dan simbol mata satu yang menangis, lambang dari Sekte Bayangan Abadi.
Kring... Kring... Kring...
Suara rantai yang diseret terdengar dari arah jalan desa. Raka melihat sekelompok penduduk desa, dengan tubuh kurus kering dan mata kosong, berjalan beriringan sambil dirantai lehernya. Di belakang mereka, berdiri beberapa pria bertopeng besi dengan cambuk berduri di tangan.
"Jalan lebih cepat, budak! Persembahan untuk Dewa Bayangan tidak boleh terlambat!" teriak salah satu penjaga sambil melecutkan cambuknya.
Lecutan itu mengarah ke seorang wanita tua yang jatuh tersungkur. Sebelum cambuk itu mengenai punggung si wanita untuk kedua kalinya, sebuah tangan kekar menangkap ujung cambuk tersebut.
Sret!
Penjaga itu terkejut. Ia mencoba menarik cambuknya, namun benda itu seolah-olah telah menyatu dengan batu karang. Ia menatap Raka dengan ngeri.
"Siapa kau?! Beraninya mencampuri urusan Sekte!"
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap penjaga itu dengan dingin. Tiba-tiba, cambuk berduri itu membara dan berubah menjadi abu di tangan Raka.
Cesss...
"Aku adalah pemilik tanah ini," ucap Raka rendah.
Raka menjentikkan jarinya. Sebuah gelombang kejut transparan menyapu para penjaga tersebut.
Mereka terlempar puluhan meter hingga menghantam dinding batu dan pingsan seketika. Raka kemudian menyentuh rantai para penduduk. Hanya dengan satu tatapan, rantai-rantai baja itu meleleh.
"Raka? Apakah itu benar kau, Nak?" tanya wanita tua itu dengan suara gemetar. Ia adalah Ibu Arini, ibu angkat Raka.
Raka berlutut, memeluk ibunya dengan erat. "Ibu, aku pulang. Maafkan aku terlambat."
"Raka... cepat lari! Mereka membawa Sekar ke kuil tua! Pemimpin mereka, Pendeta Hitam, ingin menjadikannya pengantin bagi Dewa Bayangan malam ini juga!"
Pertemuan di Kuil Tua."
Raka tidak membuang waktu. Dengan satu lompatan, ia melesat menuju kuil tua di puncak bukit.
Wusss!
Kecepatannya menciptakan ledakan udara yang membuyarkan kabut ungu di jalurnya.
Di dalam kuil, suasananya sangat mencekam. Sekar terikat di sebuah altar batu, mengenakan gaun sutra tipis yang hampir tidak menutupi tubuhnya. Di depannya, seorang pria tua berjubah ungu tua sedang merapalkan mantra terlarang.
"Cukup!" teriak Raka. Suaranya menggelegar, menghancurkan kaca-kaca patri di kuil tersebut.
Pranggg!
Pendeta Hitam berbalik, matanya merah menyala. "Gangguan lagi? Habisi dia!"
Puluhan bayangan hitam muncul dari lantai kuil, menyerang Raka. Namun, Raka hanya berjalan tenang. Setiap bayangan yang mendekatinya hancur berkeping-keping hanya oleh tekanan aura Matahari Kedelapannya.
Dalam sekejap, Raka sudah berada di depan altar. Ia menghancurkan ikatan Sekar dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Pendeta Hitam mencoba menyerang dengan bola energi gelap, namun Raka hanya meniupnya hingga padam.
Hffft.
Raka kemudian mengibaskan tangannya, melempar pendeta itu menembus dinding kuil hingga menghilang di kegelapan hutan.
"Raka..." tangis Sekar pecah. Ia memeluk leher Raka dengan sangat erat, tubuhnya yang gemetar karena ketakutan kini mulai merasakan kehangatan yang luar biasa dari tubuh pria yang ia cintai.
Raka membawa Sekar ke sebuah ruang rahasia di bawah kuil, tempat yang dulunya adalah ruang meditasi suci. Di sana, suasana jauh lebih tenang.
Cahaya bulan masuk dari celah atap, menyinari wajah Sekar yang sembab namun tetap cantik.
"Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi," bisik Sekar. Ia menarik wajah Raka, menciumnya dengan penuh kerinduan yang membara.
Raka merasakan desakan emosi yang luar biasa. Kekuatan saktinya yang besar seolah melunak menjadi gairah manusiawi yang murni.
Ia membalas ciuman Sekar dengan intensitas yang lebih dalam dari sebelumnya. Tangan kekar Raka membelai punggung mulus Sekar yang terbuka, sementara Sekar mendesah pelan saat merasakan kekuatan dan keamanan di dalam dekapan Raka.
Di bawah naungan cahaya rembulan, mereka bersatu kembali. Bukan sebagai dewa, melainkan sebagai dua jiwa yang telah lama terpisah oleh takdir yang kejam.
Sentuhan Raka kini jauh lebih terkendali, setiap belainya memberikan energi kehidupan yang memulihkan trauma Sekar.
Gairah mereka meledak dalam keheningan kuil, sebuah penyatuan yang mengukuhkan janji mereka bahwa tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka."
Bersambung....