Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Lautan Pasir Abu-Abu
Gurun Tulang membentang tanpa batas di bawah langit malam.
Pasir abu-abu pucat berkilau diterpa cahaya bulan, menciptakan ilusi seolah-olah mereka berjalan di atas lautan tulang-belulang yang dihancurkan. Angin gurun berembus pelan tapi terus-menerus, membawa butiran pasir yang menempel di kulit dan pakaian. Suhu di sini aneh—tidak panas seperti gurun pada siang hari, juga tidak dingin seperti malam di padang pasir biasa. Hanya... netral. Mati.
Xiao Fan berjalan di depan, matanya mengamati sekitar dengan waspada. Peta dari Shang Bo menunjukkan Kuil Bayangan berada sekitar setengah hari perjalanan dari mulut terowongan. Tapi itu perhitungan di atas kertas. Di gurun, jarak bisa menipu.
"Guru," Liu Ruyan berjalan di sampingnya, tangan kanannya memegang gagang pedang besi. "Tempat ini... terasa salah. Seperti tidak ada kehidupan sama sekali."
"Kau benar. Tidak ada kehidupan." Xiao Fan menatap pasir di bawah kakinya. "Gurun biasa masih punya kalajengking, ular, atau kadal yang beradaptasi. Di sini... tidak ada apa-apa. Hanya pasir dan tulang."
Ia berhenti sejenak, berjongkok, dan mengambil segenggam pasir. Butiran-butiran itu dingin, dan saat diperhatikan lebih dekat, warnanya bukan abu-abu alami. Ini adalah campuran pasir biasa dan... abu. Abu dari sesuatu yang terbakar ribuan tahun lalu.
"Pertempuran besar pernah terjadi di sini," kata Xiao Fan sambil membiarkan pasir itu mengalir dari jarinya. "Mungkin pertempuran yang sama yang menghancurkan peradaban Raja Kegelapan."
Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin dalam ke gurun, semakin aneh suasananya. Angin kadang berhenti total, menciptakan keheningan yang memekakkan telinga. Lalu tiba-tiba berembus kencang, membawa suara-suara aneh—seperti jeritan dari kejauhan, seperti bisikan dalam bahasa yang tak dikenal.
Liu Ruyan beberapa kali menoleh, merasa ada yang mengawasi. Tapi tidak ada apa-apa di balik bukit pasir. Hanya hamparan abu-abu tak berujung.
"Guru, apa ada monster di gurun ini?"
"Seharusnya ada. Tapi kita belum melihat satu pun. Itu yang membuatku curiga."
Mereka terus berjalan. Satu jam. Dua jam. Kuil Bayangan di kejauhan terlihat semakin jelas—bangunan hitam menjulang dengan arsitektur yang tidak seperti buatan manusia. Sudut-sudutnya terlalu tajam. Bayangannya terlalu gelap, seolah menelan cahaya bulan yang jatuh di atasnya.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mereka tiba di sebuah cekungan besar. Dasarnya dipenuhi... tulang. Bukan tulang manusia biasa. Tulang-tulang raksasa, seukuran pohon kelapa. Tengkorak-tengkorak dengan tanduk melengkung. Kerangka ular yang panjangnya puluhan meter.
"Monster kuno," bisik Xiao Fan. "Mereka mati di sini. Semuanya."
Liu Ruyan menatap pemandangan itu dengan mata lebar. "Apa yang bisa membunuh mereka semua?"
Pertanyaan itu tidak sempat dijawab.
Pasir di bawah kaki mereka bergetar. Bukan gempa. Sesuatu bergerak di bawah permukaan. Xiao Fan langsung meraih lengan Liu Ruyan dan melompat mundur.
Tepat di tempat mereka berdiri sedetik lalu, pasir meledak. Sesosok makhluk muncul dari dalam tanah.
Bentuknya seperti kalajengking raksasa, tapi dengan cangkang berwarna tulang putih—seolah-olah ia terbuat dari tulang-belulang yang menyatu. Capitnya sebesar tubuh manusia dewasa. Ekornya melengkung tinggi, ujungnya berkilat dengan cairan hitam pekat.
Kalajengking Tulang.
[Analisis: Kalajengking Tulang. Monster gurun tingkat menengah. Setara dengan kultivator Fondasi Inti Puncak. Cangkangnya sangat keras. Racun di ekornya mematikan.]
Monster itu tidak menunggu. Capit kanannya menyambar ke arah mereka.
Xiao Fan mendorong Liu Ruyan ke samping, lalu melompat ke arah berlawanan. Capit itu menghantam pasir, menciptakan kawah kecil. Xiao Fan mendarat dan langsung menghunus Pedang Bintang Jatuh.
"Liu Ruyan! Serang dari samping! Aku dari depan!"
Gadis itu mengangguk. Matanya mulai bersinar ungu, Energi Kegelapan Sejati mengalir ke pedangnya.
Mereka bergerak bersamaan. Xiao Fan melesat ke depan, Pedang Bintang Jatuh menebas ke arah capit yang hendak menyambar lagi. Denting keras—pedangnya hanya meninggalkan goresan dangkal di cangkang monster itu.
Terlalu keras.
Kalajengking itu membalas dengan sambaran ekor. Xiao Fan menghindar, tapi ujung ekor itu hampir mengenai bahunya. Ia bisa mencium bau busuk dari cairan hitam di ujungnya.
Sementara itu, Liu Ruyan menyerang dari samping. Pedangnya yang diselimuti kabut ungu menebas ke sambungan antara capit dan tubuh. Energi Kegelapan meniadakan pertahanan alami cangkang. Pedang itu masuk beberapa inci. Cairan hitam—darah monster itu—menyembur.
Kalajengking itu menjerit. Suaranya seperti logam bergesekan. Ia berbalik, mengabaikan Xiao Fan, dan menyerbu Liu Ruyan dengan kemarahan.
Gadis itu mengaktifkan Langkah Bayangan, menghindar ke kiri dan kanan. Tapi monster itu cepat. Capitnya hampir mengenainya beberapa kali.
Xiao Fan melihat celah. Saat kalajengking itu fokus pada Liu Ruyan, ia mengangkat Pedang Bintang Jatuh.
Tebasan Dimensi.
Ia menebas ke arah ekor monster itu. Ruang di depan mata pedangnya robek—garis hitam tipis muncul tepat di pangkal ekor.
KRAAK!
Ekor kalajengking itu putus. Bukan karena tebasan biasa, tapi karena dimensi di titik itu terpotong. Monster itu menjerit histeris, tubuhnya berputar-putar kesakitan.
"Serang kepalanya!" teriak Xiao Fan.
Liu Ruyan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melompat tinggi—lebih tinggi dari yang seharusnya bisa dilakukan kultivator levelnya, seolah Energi Kegelapan memberinya dorongan ekstra—dan menusukkan pedangnya tepat ke salah satu mata kalajengking itu.
Pedang besi itu masuk sampai ke gagang.
Monster itu kejang-kejang. Capitnya meronta-ronta tanpa arah. Lalu tubuhnya ambruk, berguling ke dasar cekungan, berhenti di antara tulang-tulang raksasa. Mati.
Liu Ruyan mendarat dengan napas terengah. Pedangnya masih menancap di mata monster itu, tertinggal. Ia menatap tangannya sendiri yang gemetar.
"Aku... membunuhnya."
Xiao Fan mendekat, memeriksa apakah monster itu benar-benar mati. Setelah yakin, ia menoleh pada Liu Ruyan. "Kerja bagus. Tapi pedangmu..."
Gadis itu menatap pedang besinya yang tertinggal. "Aku akan mengambilnya."
Ia berjalan ke arah bangkai, menarik pedangnya dari mata monster dengan susah payah. Bilahnya bengkok di beberapa bagian, tapi masih bisa digunakan.
"Kita perlu istirahat," kata Xiao Fan sambil menatap Kuil Bayangan yang kini sudah sangat dekat. "Monster itu mungkin bukan satu-satunya."
Mereka menemukan tempat yang agak terlindung di balik batu besar. Liu Ruyan duduk, memeriksa pedangnya yang rusak. Xiao Fan mengeluarkan air minum dari perbekalan dan memberikannya pada gadis itu.
"Guru," Liu Ruyan meneguk air, lalu menatap ke arah kuil. "Aku bisa merasakannya sekarang. Panggilan dari dalam kuil itu. Seperti... seseorang menungguku."
Xiao Fan menatap kuil hitam itu. "Mungkin fragmen ketiga. Atau Air Mata Kegelapan. Atau keduanya. Apa pun itu, kita akan menghadapinya bersama."
Matahari mulai naik, tapi cahayanya redup di atas gurun abu-abu ini. Kuil Bayangan menanti. Dan di dalamnya, jawaban tentang masa lalu dan harapan untuk masa depan.