Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: MIMPI YANG MENEMBUS DINDING KAMAR
Malam itu, Faris tidur lebih awal. Otaknya yang biasanya berputar seperti prosesor superkomputer, akhirnya lelah setelah seharian melawak dan menjelaskan teori kuantum kepada warga. Ia tertidur pulas di kamar tamu yang disulap menjadi perpustakaan mini, dikelilingi tumpukan kitab kuning dan laptop canggih.
Dan di sanalah, dalam alam bawah sadarnya yang paling dalam, ia bertemu dengan dia.
Faris berdiri di sebuah perpustakaan raksasa yang tidak memiliki atap, hanya langit berbintang yang memancarkan cahaya keemasan. Rak-rak buku menjulang hingga ke awan, berisi ribuan manuskrip kuno dari berbagai peradaban.
Di ujung lorong, duduk seorang wanita.
Bukan bidadari bersayap, bukan putri kerajaan dengan gaun gemerlap. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna earth tone, kerudung lebar yang menutupi dada rapi, dan wajahnya... ah, wajahnya begitu nyata. Tidak ada filter kecantikan. Ada sedikit bintik matahari di hidungnya, rambutnya yang tersembunyi terlihat agak berantakan karena sering dibalik-balik saat membaca.
Wanita itu sedang memegang sebuah kitab tebal bertuliskan aksara Arab-Latin kuno, sementara di pangkuannya terbuka sebuah tablet yang menampilkan simulasi orbit planet.
"Halo, Faris," sapa wanita itu tanpa menoleh. Suaranya jernih, cerdas, tapi ada nada hangat yang membuat hati Faris berdesir aneh. "Kamu terlambat tiga menit untuk diskusi tentang termodinamika dalam fikih puasa."
Faris mendekat, bingung. "Siapa kamu? Aku belum pernah melihatmu."
Wanita itu akhirnya menoleh. Matanya tajam, penuh kecerdasan, namun di sudut matanya ada kilatan nakal yang sangat familiar. Kilatan yang sama dengan yang ada di mata Faris saat ia menyembunyikan lelucon di balik data sains.
"Aku siapa tidak penting," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Yang penting adalah apa yang kamu baca. Kamu terlalu sibuk membuat orang tertawa, sampai lupa bahwa ada orang di dunia ini yang tertawa sendirian saat menemukan kesalahan hitung di kitab Al-Qanun fi At-Tibb karya Ibnu Sina."
Faris terkejut. "Kamu membaca Ibnu Sina? Dan kamu menemukan kesalahan hitung?"
"Bukan kesalahan," koreksi wanita itu cepat, matanya berbinar jenius. "Tapi variasi metode yang hilang selama 500 tahun. Aku menemukannya seminggu lalu di gudang belakang rumahku. Tapi aku tidak bisa membuktikannya karena tidak punya alat ukur presisi. Makanya aku menunggu seseorang seperti kamu. Seseorang yang bisa menggabungkan logikaku dengan teknologimu."
Faris duduk di sampingnya. "Di mana rumahmu? Siapa namamu?"
Wanita itu tertawa kecil. Tawa yang renyah, lucu, tapi ditahan-tahan seolah itu rahasia besar. "Namaku Zahra. Dan rumahku... mungkin lebih dekat dari yang kamu kira. Tapi aku jarang keluar. Dunianya ada di antara halaman-halaman kitab ini. Kalau aku keluar, ayah dan ibuku akan panik. Mereka pikir aku sudah gila saking banyaknya membaca."
"Gila bagaimana?" tanya Faris penasaran.
Zahra menurunkan suaranya, berbisik conspiratorial, persis seperti gaya Faris melawak. "Mereka pikir aku sedang mencari jodoh. Padahal aku sedang mencari rumus penyatuan gravitasi dan tauhid. Lucu kan? Orang tua itu... selalu menganggap serius hal yang salah. Mereka bilang, 'Zahra, kalau kamu terus membaca, nanti nggak laku!' Lalu aku jawab, 'Bu, kalau aku nemu rumus ini, nanti yang antri bukan cuma laki-laki kampung, tapi profesor se-dunia!' Hahaha!"
Faris ikut tertawa lepas. Ada koneksi instan di sini. Wanita ini bukan hanya cantik dan shalehah. Dia adalah versi perempuan dari dirinya sendiri. Jenius, realistis, mendalami kitab kuno, tapi menyimpan jiwa pelawak yang terpendam karena tidak ada yang mengerti bahasanya.
"Zahra," panggil Faris lembut. "Aku ingin menemuimu. Di dunia nyata."
Zahra menatapnya dalam-dalam, senyumnya berubah menjadi serius namun manis. "Jika kita bertemu, jangan kaget jika aku tampak biasa saja. Jangan kaget jika aku lebih banyak diam. Karena di dunia nyata, aku harus menjaga adab. Tapi jika kamu bisa membuatku tertawa... jika kamu bisa membuatku mengeluarkan sisi 'gila' itu lagi... maka itulah tandanya."
"Tanda apa?"
"Tanda bahwa mimpi ini bukan sekadar bunga tidur. Tanda bahwa Allah mempertemukan dua frekuensi yang sama."
Tiba-tiba, suara azan Subuh yang keras membangunkan Faris. Ia tersentak bangun, keringat dingin membasahi dahinya, tapi hatinya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena rindu yang aneh.
"Zahra..." gumamnya pada udara kosong di kamarnya. "Siapa kamu sebenarnya?"
Dunia Nyata: Pagi yang Membawa Kejutan
Sarapan pagi itu di rumah Aris terasa berbeda. Faris tidak selera makan. Ia hanya mengaduk-aduk buburnya sambil melamun
"Kau kenapa, Faris? Kurang tidur?" tanya Rina sambil menyendokkan buah untuk Aris.
"Aku bermimpi, Kak," jawab Faris datar. "Bertemu seorang wanita. Namanya Zahra. Dia jenius, shalehah, ahli kitab kuno dan sains, tapi dia menyembunyikan sifat pelawak seperti aku. Dia bilang dia anak warga sini, tapi jarang keluar rumah."
Aris dan Rina saling berpandangan.
"Zahra?" ulang Aris perlahan. "Nama yang indah. Tapi apakah dia nyata? Atau hanya proyeksi keinginan bawah sadarmu karena kau butuh partner intelektual?"
"Aku rasa dia nyata, Kak," tegas Faris. "Rasanya... terlalu detail. Aku bisa mencium bau kertas tua dan minyak kayu putih darinya. Aku harus menemukannya."
Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu yang ragu-ragu. Bukan ketukan wartawan yang agresif, tapi ketukan halus, hampir tak terdengar.
"Saya permisi..." suara seorang pria tua terdengar dari luar. Itu Pak Harun, tetangga sebelah kanan masjid, seorang penjaga perpustakaan kecil masjid yang sangat pendiam dan jarang bicara.
Aris segera membuka pintu. "Oh, Pak Harun. Silakan masuk. Ada yang bisa kami bantu?"
Pak Harun masuk dengan wajah cemas, membawa sebuah tas kain berisi beberapa kitab tua yang dibungkus plastik. Di belakangnya, terlihat samar-samar sosok seorang gadis muda yang menunduk dalam-dalam, memakai kerudung cokelat sederhana, menutupi sebagian besar wajahnya. Gadis itu memegang sebuah tablet tipis yang menyelip di antara lipatan bajunya.
"Begini, Pak Ustadz Aris, Mas Faris," mulai Pak Harun gugup. "Saya... saya mau minta tolong. Anak saya, Zahra... dia sepertinya kena sihir atau kurang waras."
Jantung Faris berhenti berdetak sesaat. Zahra? Ia menatap gadis di belakang Pak Harun itu. Gadis itu mengangkat wajahnya sedikit.
Dan dunia Faris berhenti berputar.
Wajah itu. Bintik matahari di hidung itu. Mata cerdas yang sedikit lelah karena kurang tidur. Gamis sederhana itu. Itu dia. Wanita dari mimpinya. Persis. Tanpa kurang satu detail pun.
Zahra melirik sekilas ke arah Faris. Saat mata mereka bertemu, ada percikan kejutan yang sama. Zahra juga mengenainya. Wajahnya yang tadi pucat karena takut, tiba-tiba memerah, dan sudut bibirnya berkedut-kedut menahan sesuatu.
"Dia kenapa, Pak Harun?" tanya Rina lembut, merasakan ketegangan aneh di ruangan itu
Pak Harun menghela napas panjang. "Anak saya ini, Bu. Sejak kecil dia nggak mau main keluar. Kerjanya cuma baca kitab-kitab tua peninggalan kakeknya di gudang. Dia hafal luar kepala. Tapi belakangan ini... dia sering ngomong sendiri. Tertawa-tawa sendiri di kamar. Kadang dia bilang, 'Ayah, kalau gravitasi itu kayak hukum waris, dibagi-bagi tapi nggak berkurang!' Lalu dia ketawa guling-guling. Saya dan istri saya khawatir. Apa dia stres? Apa dia kesurupan ilmu?"
Pak Harun menatap Faris dengan harap. "Saya dengar Mas Faris ini ahli sains dan agama. Mungkin Mas Faris bisa mengeceknya? Atau... atau kalau Mas Faris berkenan, saya ingin menjodohkan dia. Biar ada yang ngerti sama 'kegilaan' anak saya. Saya bercanda sih, Mas. Mana ada orang mau sama anak kutu buku yang jarang mandi sinar matahari begini."
Pak Harun tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana, mengira permintaannya mustahil.
Tapi Faris tidak tertawa. Ia berdiri perlahan, berjalan mendekati Zahra. Langkahnya mantap. Seluruh ruangan menahan napas.
Faris berhenti tepat di depan Zahra. Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan mata gadis itu.
"Zahra," panggil Faris lembut.
Gadis itu tersentak, matanya membelalak. "Mas... Mas tahu nama saya?"
"Dalam mimpi semalam, kamu memberitahuku," jawab Faris jujur, membuat Pak Harun melongo. "Kamu bilang kamu menemukan variasi metode hitung di kitab Al-Qanun yang hilang 500 tahun lalu. Benar kan?"
Zahra terpaku. Bibirnya bergetar. Perlahan, senyum yang selama ini terpendam mulai merekah di wajahnya. Senyum yang cerah, jenaka, dan penuh kelegaan.
"Iya," bisiknya, suaranya mulai lantang. "Dan kamu tahu nggak? Kalau kita gabungkan itu dengan algoritma blockchain, kita bisa bikin sistem zakat otomatis yang anti-corrupt! Gila kan idenya? Hahaha!"
Tawa Zahra meledak. Tawa yang renyah, lucu, dan melegakan. Tawa seorang pelawak terpendam yang akhirnya menemukan panggungnya.
Pak Harun ternganga. "Eh? Zahra? Kok kamu ketawa? Biasanya kamu diam saja?"
Rina dan Aris juga tertawa melihat pemandangan itu. Ternyata benar. Jiwa pelawak itu ada.
Faris ikut tertawa, lalu menoleh pada Pak Harun dengan wajah serius namun mata berbinar.
"Pak Harun," kata Faris tegas. "Anda tadi bilang ingin menjodohkan Zahra?"
Pak Harun panik, tangan berkeringat. "Eh, eh, Mas Faris, saya cuma bercanda! Masa Mas Faris sejenius itu mau sama anak saya yang kutu buku ini? Jangan dianggap serius, Mas! Nanti saya malah dosa bohong!"
"Saya tidak menganggapnya bercanda, Pak," potong Faris lembut tapi pasti. "Saya menganggapnya sebagai takdir yang baru saja turun dari langit, lewat mimpi semalam
Faris menatap Zahra lagi. "Zahra, apakah kamu bersedia? Menjadi partner riset saya? Menjadi teman diskusi saya? Dan mungkin... menjadi ibu dari anak-anak kita yang akan meneruskan warisan sains Islam ini?"
Zahra menatap Faris, air mata bahagia menggenang di matanya. Ia tidak menjawab dengan kata-kata manis biasa. Ia justru mengeluarkan lelucon khasnya.
"Wah, kalau gitu, Mas Faris harus siap-siap ya. Nggak ada madu-maduan romantis di malam minggu. Kita bakal begadang ngerjain persamaan diferensial sambil makan gorengan! Siap nggak?"
Faris tertawa lepas, lalu mengulurkan tangannya. "Siap. Justru itu yang aku cari."
Zahra menjabat tangan Faris. Di那一刻 (saat itu), Pak Harun jatuh terduduk di kursi, syok setengah mati. Istri Pak Harun yang baru muncul dari dapur langsung memeluk suaminya, menangis haru.
"Ya Allah, terima kasih!" seru Ibu Zahra. "Anak saya diterima! Anak saya yang jarang keluar rumah, diterima oleh saudara kembar Ustadz Aris!"
Aris dan Rina tersenyum puas. Mereka menyadari bahwa Allah memang punya cara unik mempertemukan hamba-Nya. Tidak lewat pesta mewah, tidak lewat aplikasi kencan, tapi lewat mimpi, kitab kuno, sains, dan lelucon yang sama.
Di luar rumah, berita ini akan segera menyebar lebih cepat dari sebelumnya. "Sang Jenius Pelawak Telah Menemukan Belahan Jiwa: Gadis Kutu Buku Ahli Kitab Kuno."
Dan bagi Victoria Sterling? Jika ia tahu bahwa musuhnya kini semakin kuat karena memiliki partner sefrekuensi yang sama gilanya, mungkin ia akan memutuskan untuk pensiun dini dan pindah ke planet Mars. Karena melawan pasangan "Power Couple" gila sains dan humor ini adalah tugas yang mustahil.
Bersambung...