Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sorban dan Jaket Kulit
Lantunan selawat dari pengeras suara masjid jami’ Al-Ikhlas mengalun membelah udara sore yang mulai mendingin. Bagi sebagian orang, suara itu adalah ketenangan. Namun bagi Arini, melodi itu terdengar seperti lonceng peringatan bahwa kebebasannya baru saja berakhir. Ia berdiri di depan cermin besar di dalam kamar tamu ndalem—kediaman keluarga pengasuh pesantren—menatap bayangannya sendiri yang tampak asing.
Ia mengenakan gamis berwarna abu-abu muda dengan kerudung lebar yang menutupi dada. Tak ada lagi jins belel atau kaos oversized yang biasa ia pakai saat nongkrong di kafe buku dekat kampusnya. Hari ini, ia bukan lagi Arini si mahasiswi sastra yang bercita-cita keliling dunia.
Hari ini, ia adalah calon istri seorang Gus.
“Arini, sudah siap?” Suara ibunya terdengar lembut dari balik pintu, disusul derit kayu yang terbuka perlahan.
Arini memaksakan senyum. “Sudah, Bu.”
“Kyai Ahmad dan Nyai Salma sudah menunggu di ruang tengah. Zikri juga sudah ada di sana,” lanjut ibunya sambil merapikan sedikit kerudung Arini.
Tatapan ibunya penuh haru, seolah-olah menyerahkan Arini ke tempat paling aman di dunia adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.
Arini menghela napas panjang. Ia melangkah keluar dengan tungkai yang terasa berat. Ruang tengah ndalem beraroma kayu jati dan minyak wangi gaharu yang pekat. Di sana, duduk dua pria paruh baya yang sangat ia hormati: Ayahnya dan Kyai Ahmad. Di samping Kyai Ahmad, duduk seorang wanita paruh baya bersahaja, Nyai Salma.
Namun, perhatian Arini langsung tersedot pada sosok pria yang duduk di kursi paling ujung.
Pria itu mengenakan koko putih bersih dan sarung batik motif gelap. Sebuah peci hitam terpasang di kepalanya. Sekilas, ia tampak seperti santri teladan pada umumnya. Namun, ketika pria itu mendongak, Arini melihat sesuatu yang salah. Mata itu tidak menunjukkan ketundukan. Ada binar pemberontakan yang tajam, rahang yang mengeras, dan sebuah anting kecil hitam yang—meski mencoba disembunyikan di balik telinga—tetap tertangkap oleh mata teliti Arini.
Itulah Muhammad Zikri Al-Fahri. Gus Zikri.
“Duduklah, Arini,” ujar Kyai Ahmad dengan suara yang berwibawa namun teduh.
Prosesi itu berlangsung khidmat namun terasa sangat cepat bagi Arini. Tidak ada lamaran romantis dengan bunga. Yang ada hanyalah kesepakatan antara dua keluarga yang telah lama terjalin lewat janji masa lalu. Arini hanya bisa menunduk, mendengarkan obrolan para orang tua yang mengatur tanggal pernikahan mereka bulan depan.
Sepanjang pertemuan, Zikri tidak berucap sepatah kata pun. Ia hanya sesekali memainkan ponsel di bawah meja, sebuah tindakan yang dianggap tidak sopan di lingkungan pesantren, namun anehnya tidak ditegur oleh Kyai Ahmad. Seolah-olah sang ayah sudah lelah memberi tahu putranya.
Setelah pertemuan formal berakhir, Nyai Salma meminta Arini untuk mengantarkan nampan berisi teh hangat ke teras belakang, tempat Zikri tiba-tiba menghilang. Arini melangkah melewati koridor kayu yang panjang. Saat sampai di teras belakang yang berbatasan langsung dengan area parkir khusus keluarga, ia terpaku.
Peci hitam yang tadi dipakai Zikri kini tergeletak di atas meja kayu. Pria itu sudah melepas baju kokonya, menyisakan kaos hitam polos yang membungkus tubuh atletisnya. Ia sedang berdiri di samping sebuah motor gede—Kawasaki Ninja 1000cc berwarna hitam legam—sambil mengenakan jaket kulit yang penuh dengan tempelan logo band underground.
“Gus?” panggil Arini ragu.
Zikri menoleh. Ia tidak tampak terkejut. Ia mengambil kunci motor yang tergantung di jarinya dan memutarnya seperti mainan. “Bawa apa?”
“Teh... dari Nyai,” jawab Arini sambil meletakkan nampan di meja, tepat di samping peci yang terabaikan itu.
Zikri berjalan mendekat. Langkahnya tidak seperti santri yang biasanya menyeret sandal jepit; langkahnya mantap dan penuh percaya diri.
Ia berhenti tepat di depan Arini, menciptakan jarak yang sangat tipis sehingga Arini bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau bensin.
“Kamu yakin mau menikah sama aku?” tanya Zikri. Suaranya rendah, serak, dan sangat kontras dengan lingkungan religius di sekitar mereka.
Arini memberanikan diri menatap mata Zikri. “Ini amanah dari orang tua saya.”
Zikri tertawa sinis. Ia mengambil cangkir teh, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan kasar. “Amanah. Kata yang cantik untuk sebuah paksaan. Dengar ya, Arini. Di sini, aku memang dipanggil Gus. Di depan santri, aku harus jadi suci. Tapi di luar gerbang itu, aku bukan siapa-siapa. Aku bukan imam yang kamu mimpikan.”
Zikri menunjuk tato kecil berbentuk siluet burung walet di pergelangan tangan dalamnya yang selama ini tertutup lengan koko. “Aku pembalap, aku suka musik yang bikin telinga orang tuaku sakit, dan aku benci aturan. Kamu cuma bakal jadi pajangan di rumah ini kalau kamu tetap mau lanjut.”
Arini terdiam sejenak, mencerna kata-kata tajam itu. Sebagai penulis, ia sering menciptakan karakter pemberontak, tapi menghadapi satu di dunia nyata ternyata jauh lebih mengintimidasi.
“Gus mencoba menakuti saya supaya saya yang membatalkan ini?”
Zikri menaikkan satu alisnya. “Aku cuma kasih peringatan dini. Sebelum kamu terjebak dalam 'neraka' yang dibungkus label pesantren ini.”
“Kalau begitu, kenapa Gus sendiri tidak menolak?” tantang Arini.
Zikri terdiam. Sorot matanya berubah gelap sesaat, ada luka yang bersembunyi di sana sebelum kembali tertutup oleh topeng angkuhnya. “Karena aku punya hutang budi pada Abi yang nggak bisa dibayar dengan uang. Dan sayangnya, kamu adalah cicilan pertamanya.”
Tanpa menunggu balasan Arini, Zikri menyambar helm full-face hitamnya. Ia naik ke atas motornya, menyalakan mesin yang menderu keras—suara yang pasti memekakkan telinga para santri yang sedang mengaji di asrama sebelah—lalu melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan Arini yang terpaku sendiri.
Malam harinya, Arini tidak bisa tidur. Ia duduk di ambang jendela kamar tamu, menatap lampu-lampu asrama putri yang mulai padam satu per satu. Ia mengambil buku catatannya, mencoba menulis sesuatu untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
“Gus Bad Boy,” tulisnya di halaman baru.
Ia tersenyum getir. Judul itu terdengar seperti komedi satir. Bagaimana mungkin seorang putra mahkota pesantren memiliki sisi gelap sepekat itu? Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Arini. Cara Zikri menatap motornya, cara ia berbicara tentang kebebasan—itu bukan sekadar kenakalan remaja yang telat. Itu adalah teriakan seseorang yang merasa tercekik oleh ekspektasi.
Tiba-tiba, suara deru motor terdengar dari kejauhan. Arini melongok ke luar. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang, ia melihat Zikri kembali. Namun, kali ini ia tidak langsung masuk ke *ndalem*. Zikri mematikan mesin motornya jauh sebelum gerbang, lalu mendorong motor besarnya itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara.
Arini memperhatikan dari balik tirai. Zikri tampak lelah. Ia duduk sebentar di kursi teras belakang, tempat mereka bertemu sore tadi. Pria itu menunduk, menyandarkan kepalanya di antara kedua tangan. Dalam kesunyian malam, keangkuhannya menguap. Yang tertinggal hanyalah seorang pria muda yang tampak sangat kesepian di bawah bayang-bayang kebesaran nama ayahnya.
Zikri mengambil peci yang masih tertinggal di meja, menatapnya lama, lalu mengusapnya dengan ibu jari sebelum memakainya kembali dengan gerakan enggan. Ia kembali menjadi "Gus Zikri".
Arini menarik diri dari jendela. Ia menyadari satu hal: hidupnya setelah ini tidak akan pernah membosankan. Ia bukan hanya akan menjadi seorang istri, tapi ia baru saja masuk ke dalam sebuah narasi rumit yang belum pernah ia tulis sebelumnya.
Pernikahan ini mungkin sebuah paksaan, tapi bagi Arini, setiap misteri menuntut untuk dipecahkan. Dan Gus Zikri adalah misteri terbesar yang pernah ia temui.
“Kita lihat saja, Gus,” bisik Arini pada kegelapan malam. “Siapa yang akan bertahan lebih lama dalam sandiwara ini.”
Ia menutup buku catatannya, namun pikirannya terus berputar. Di kepalanya, bab-bab baru mulai tersusun. Tentang pesantren, tentang motor gede, dan tentang seorang pria yang memakai sorban untuk menyembunyikan jaket kulitnya.
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr