NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 29 ungkapan Hati Arum

Malam di depan aula cenayang terasa sunyi dan berat, seperti dunia sengaja menahan suara agar tidak mengganggu sesuatu yang akan dimulai. Kabut tipis bergerak perlahan di antara pepohonan, menyelimuti jalan setapak yang hanya diterangi cahaya redup dari lentera di dinding kayu tua.

Ravin berdiri diam di depan pintu aula, tatapannya terpaku lama tanpa benar-benar berkedip, sementara pikirannya terasa penuh oleh hal-hal yang tidak bisa ia susun menjadi kata.

Di sampingnya, Arum berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam, jemarinya sedikit gemetar namun tetap berusaha tenang. Wajahnya pucat, bekas air mata masih terlihat samar, tapi sorot matanya sudah berubah—lebih dalam, lebih tegas dari sebelumnya.

“Aku masuk sekarang,” ucap Arum pelan, suaranya hampir tertelan angin malam.

Ravin menoleh, menatapnya cukup lama seolah sedang mencari sesuatu yang ingin ia tahan. “Kamu yakin?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan berat.

Arum tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. “Kalau aku mundur sekarang… aku tidak akan bisa melindungi siapa pun.”

Hening jatuh di antara mereka.

Ravin menarik napas pelan, lalu mengangguk kecil. “Kalau ada apa-apa…” ia berhenti sejenak, menatap Arum lebih dalam, “…aku akan datang.”

Kalimat itu membuat dada Arum terasa sesak. Ia mengangguk pelan tanpa mampu menjawab, karena jika ia membuka suara, mungkin ia akan benar-benar runtuh di tempat itu juga.

“Aku akan menunggu,” gumam Ravin lebih pelan, hampir seperti janji yang tidak ingin ia lepaskan.

Arum akhirnya melangkah maju. Satu langkah. Lalu langkah berikutnya.

Pintu aula cenayang terbuka dengan suara pelan namun terasa berat. Cahaya lilin di dalam ruangan menyambutnya seperti dunia lain yang sudah lama menunggu. Arum berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh sekali lagi ke arah Ravin.

Dan untuk sesaat itu, dunia mereka terasa berhenti.

“Aku pergi,” ucap Arum lirih.

Ravin tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, seolah takut suaranya akan merusak momen itu.

Pintu tertutup perlahan.

Suara kayu yang bergeser itu terdengar seperti sesuatu yang mengunci bagian tertentu dari hati Ravin.

Ia berdiri di sana beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, menatap pintu yang sudah tertutup rapat, sebelum akhirnya menarik napas panjang.

“Aku harus cukup kuat,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Lalu ia berbalik.

Langkahnya menjauh dari aula itu, meninggalkan kabut, meninggalkan cahaya, dan meninggalkan seseorang yang baru saja memilih jalan yang tidak bisa lagi ia ikuti.

Namun di dalam dadanya, ada satu hal yang tidak ikut pergi.

Janji yang tidak diucapkan keras-keras, tapi tetap hidup di dalam dirinya.

Bahwa apa pun yang terjadi di dalam sana—ia tidak akan benar-benar melepaskan Arum.

Malam semakin larut ketika langkah Ravin menjauh dari aula cenayang itu. Kabut di belakangnya semakin tebal, seolah sengaja menelan jejak yang baru saja ia tinggalkan. Suara langkah kakinya di tanah basah terdengar pelan, tapi di kepalanya justru terlalu berisik—terlalu penuh oleh satu sosok yang baru saja menghilang di balik pintu kayu itu.

Ravin berhenti di tengah jalan tanpa sadar.

Tangannya mengepal pelan.

“…kenapa rasanya sesak begini,” gumamnya lirih, hampir tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Ia menunduk, menarik napas dalam. Tapi udara malam terasa berat, seperti tidak mau masuk sepenuhnya ke dalam paru-parunya.

Di dalam pikirannya, wajah Arum kembali muncul.

Cara gadis itu tersenyum tadi—dipaksa kuat padahal matanya jelas sedang menahan takut. Dan kalimat terakhirnya… “aku pergi.”

Ravin menghela napas panjang.

“Jangan bikin aku jadi gila begini…” suaranya pecah pelan, bercampur frustrasi dan sesuatu yang lebih lembut dari itu.

Namun tidak ada jawaban.

Hanya angin.

Di dalam aula cenayang, suasana jauh lebih sunyi.

Arum berdiri di tengah ruangan besar yang dipenuhi cahaya lilin. Bayangan di dinding bergerak perlahan, seperti menyambut seseorang yang baru saja masuk ke dunia yang tidak lagi sama dengan sebelumnya.

Cenayang Wu berdiri tidak jauh darinya.

Tatapannya tenang, tapi dalam.

“Kau sudah memutuskan,” ucapnya pelan.

Arum mengangguk.

“Iya.”

Suaranya terdengar lebih mantap dibanding sebelumnya, tapi tangannya masih gemetar kecil di sisi tubuhnya.

Cenayang Wu menatapnya lama. “Kalau kau masuk ke jalan ini… tidak ada lagi kehidupan seperti sebelumnya.”

Arum menelan ludah.

“Aku tahu.”

Hening sebentar.

Lalu ia melanjutkan, lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Tapi kalau aku tidak masuk… aku akan kehilangan dia lebih cepat.”

Kalimat itu membuat udara di ruangan terasa sedikit berubah.

Cenayang Wu tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Arum dengan ekspresi yang sulit dibaca, lalu akhirnya menghela napas pelan.

“Kau tidak masuk untuk menjadi kuat,” katanya akhirnya. “Kau masuk karena takut kehilangan.”

Arum terdiam.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak membantah.

Di sisi lain istana, malam tidak lebih tenang.

Di ruang pribadi Putra Mahkota, Yudra berdiri di depan jendela besar. Cahaya bulan jatuh di wajahnya, tapi tidak cukup untuk menutupi bayangan gelap di matanya.

Tangannya masih mengepal sejak pertemuan tadi.

“Aruna…” gumamnya pelan, seperti mencoba menahan sesuatu yang terus naik ke dadanya.

Lalu ia menutup mata sebentar.

Namun yang muncul justru bukan ketenangan.

Melainkan wajah Ravin yang menggenggam tangan Arum.

Yudra membuka mata lagi.

Tatapannya mengeras.

“Kenapa harus dia…”

Suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang menahan amarah agar tidak meledak.

Ia berbalik, menghantam meja kecil di sampingnya dengan keras.

BRAK.

Pelayan di luar langsung menunduk takut.

Namun di dalam ruangan itu, Yudra hanya berdiri diam setelahnya.

Napassnya berat.

Matanya gelap.

Dan untuk pertama kalinya, Putra Mahkota yang selalu terkontrol itu benar-benar kehilangan arah emosinya sendiri.

Kembali ke aula cenayang.

Arum mulai melangkah mengikuti Cenayang Wu menuju bagian dalam ruangan terdalam.

Setiap langkah terasa semakin berat.

“Mulai sekarang,” ucap Cenayang Wu tanpa menoleh, “kau tidak hanya akan melihat masa depan.”

Arum menatap punggungnya.

“Apa lagi?”

Cenayang Wu berhenti sejenak.

“Hal-hal yang tidak seharusnya kau lihat.”

Arum terdiam.

Tangannya perlahan mengepal lagi.

Namun kali ini, ia tidak mundur.

Ia terus berjalan.

Dan saat pintu ruangan dalam itu mulai terbuka perlahan, cahaya putih pucat keluar dari celahnya—dingin, asing, dan terlalu dalam untuk disebut hanya cahaya.

Arum menatapnya lama.

Lalu berbisik pelan, seolah pada dirinya sendiri.

“Kalau ini harga untuk melindungi dia…”

Ia menarik napas.

“…aku akan bayar.”

Dan langkah kakinya masuk sepenuhnya ke dalam cahaya itu.

Cahaya putih itu semakin menekan kesadaran Arum, sampai ia tidak lagi bisa membedakan mana dirinya dan mana ruang di sekelilingnya. Udara terasa hilang, seperti dunia sengaja menghapus batas antara tubuh dan pikirannya. Suara detak jantungnya sendiri semakin pelan, lalu bergema, lalu menghilang, menyisakan kehampaan yang terlalu luas untuk dipahami.

“Ini…” suara Arum bergetar, hampir tidak berbentuk kata. “Aku masih di sini… kan?”

Cenayang Wu berdiri tidak jauh darinya, tatapannya tidak berubah sejak awal. Tenang, tapi berat seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia biasa.

“Kau sudah masuk lebih dalam,” ucapnya pelan.

Arum menoleh dengan mata yang mulai basah. “Kenapa semua ini terasa seperti aku tidak punya tempat lagi?”

Hening sesaat.

Lalu Cenayang Wu menjawab dengan suara rendah, “Karena kau sedang melihat dunia tanpa perlindungan batinmu.”

Kalimat itu membuat Arum mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Aku tidak peduli…” gumamnya lirih, tapi suaranya mulai pecah di akhir. “Aku tidak peduli apa pun itu…”

Cahaya di sekelilingnya bergetar lagi, lebih keras, lebih tidak stabil.

Di dalam ilusi yang ia lihat, dunia terus runtuh.

Api di istana semakin besar, angin membawa abu ke udara seperti salju hitam. Suara teriakan bercampur dengan denting senjata yang tidak lagi teratur, hanya kekacauan yang tidak punya arah.

Arum berdiri di sana, tak bisa menyentuh apa pun, hanya bisa menyaksikan.

“Ravin…” suaranya lirih, penuh ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Namun Ravin di sana tidak mendengar.

Tidak ada yang mendengar.

Dan itu yang paling menyakitkan.

“Kenapa aku tidak bisa sampai ke sana…” Arum menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. “Kenapa aku selalu terlambat…”

Cenayang Wu menatapnya lama sebelum berkata pelan, “Karena ini bukan dunia yang bisa kau ubah dengan keinginan saja.”

Arum langsung mengangkat wajahnya.

“Kalau begitu aku akan belajar!” suaranya naik, retak oleh emosi. “Aku akan belajar apa pun itu!”

Tangannya mengepal sampai bergetar.

“Aku tidak mau melihat ini lagi… Ravin mati, Yudra hancur, semua orang jatuh—aku tidak mau!”

Suasana di sekelilingnya ikut bergetar, seolah ruang itu sendiri merespons emosinya.

Cenayang Wu sedikit menyipitkan mata.

“Emosi yang tidak stabil akan memperburuk penglihatanmu.”

“Aku tidak peduli!” Arum hampir berteriak sekarang, air matanya jatuh tanpa henti. “Kalau harus hancur sekalipun… aku akan tetap lihat semuanya!”

Hening.

Untuk pertama kalinya Cenayang Wu tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Arum lama sekali, seperti sedang menilai sesuatu yang sangat berbahaya sekaligus sangat berharga.

Lalu perlahan ia berkata, “Itu pilihan yang sangat berbahaya.”

Arum terdiam beberapa detik, napasnya masih tidak stabil.

Namun akhirnya ia mengangguk kecil.

“Kalau bahaya itu satu-satunya cara…” suaranya pelan, tapi tegas, “…aku akan ambil.”

Cahaya di sekelilingnya mulai menutup perlahan, seperti tirai yang turun menutupi dunia yang sedang runtuh itu.

Namun sebelum semuanya benar-benar hilang, Arum masih sempat melihat Ravin di kejauhan—sekilas, samar, seperti bayangan yang hampir menghilang.

Dan di detik terakhir itu, ia berbisik sangat pelan, seolah hanya untuk dirinya sendiri.

“Jangan mati…”

Lalu cahaya itu menelannya sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!