NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kurungan Emas & Ledakan Emosi

Hari-hari berlalu begitu lambat bagi Ziva. Sudah dua hari ia terkurung di dalam kamarnya sendiri, dihukum oleh Kevin tanpa alasan yang ia anggap masuk akal. Bahkan jalan rahasia andalannya—jendela balkon yang selalu ia gunakan untuk keluar-masuk diam-diam—kini sudah dipaku rapat dari luar. Papan kayu tebal dan paku-paku besar menutup celah pandang, seolah-olah Kevin sengaja memastikan tidak ada satu celah pun yang bisa ia gunakan untuk kabur.

Ziva duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut, menatap papan penghalang itu dengan tatapan penuh kekesalan.

"Dasar Kevin... dasar kakak yang keterlaluan!" gerutunya pelan sambil menendang-nendang kaki kasur. "Kenapa sih punya kakak yang overprotektif sampai tidak waras begini? Rasanya aku bukan di rumah sendiri, tapi di penjara mewah. Apa dia pikir aku anak kecil yang perlu diawasi terus-menerus? Aku ini Ratu Mafia yang biasa mengatur ratusan orang, tapi malah diatur-atur cuma gara-gara pulang telat!"

Rasa bosan dan pengekangan itu benar-benar membuat emosinya menumpuk. Ia sudah terbiasa bebas pergi ke mana saja, melakukan apa saja sesuai keinginannya, tapi di sini, di rumah keluarga Sterling ini, rasanya ia seperti burung dalam sangkar emas.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu terdengar lembut, memecah keheningan yang mulai membuat gatal lidah.

"Masuk," jawab Ziva malas.

Pintu terbuka perlahan, dan munculah sosok Daniel yang tampak anggun dengan setelan jas rapi. Wajah kakak sulungnya itu selalu terlihat tenang, hangat, dan penuh kelembutan yang kontras dengan Kevin. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Ziva dengan senyum lembut.

"Ziva? Kenapa duduk melamun saja di kamar seharian? Tidak bosan kah kamu di sini sendirian?" tanya Daniel penuh kasih sayang, lalu melangkah masuk dan duduk di samping Ziva.

Ziva mendengus kasar, menunjuk jendela yang tertutup papan itu. "Mana boleh aku keluar, Kak? Aku sedang dihukum sama Kak Kevin. Katanya aku nakal, tidak boleh melangkah keluar dari kamar ini sampai dia bilang boleh."

Mendengar itu, Daniel terkekeh pelan sambil mengelus kepala adiknya.

"Tenang saja, jangan dipikirkan. Nanti Kakak yang akan bicara sama dia, dia pasti tidak berani menolak omonganku," ucap Daniel meyakinkan. Lalu ia mengangkat sebuah kantong kertas berwarna emas cantik yang sedari tadi ia bawa. "Nah, sekarang kamu bersiap-siap dan dandan yang cantik ya. Malam ini ada pesta bisnis besar yang diadakan rekan kerja Papa, Kakak butuh pendamping. Kamu ikut Kakak, ya?"

Ziva menatap kantong itu penasaran, lalu menerimanya. Saat ia membuka isinya, matanya seketika terbelalak. Di dalamnya terdapat sebuah gaun pesta yang sangat indah, berwarna biru langit dengan hiasan payet berkilauan yang menjuntai lembut, terlihat sangat mahal dan elegan.

"Wah... indah sekali, Kak," puji Ziva tulus, namun seketika wajahnya kembali murung. Ia menyerahkan kembali gaun itu ke tangan Daniel. "Tapi maaf Kak... aku tidak bisa. Aku tidak bisa berdandan. Aku tidak pernah belajar merias wajah atau menata rambut cantik-cantik seperti gadis kalangan atas lainnya. Selama hidupku aku hanya sibuk bertahan hidup, bukan belajar cara menjadi putri raja. Aku pasti akan kaku dan terlihat aneh di sana."

Daniel baru hendak menghibur dan membantunya mencari solusi, tiba-tiba suara ceria yang penuh semangat terdengar dari balik pintu yang belum tertutup rapat.

"Hah? Kak Ziva tidak bisa berdandan? Tenang saja! Serahkan semuanya padaku!"

Munculah Zea dengan wajah yang berseri-seri, matanya berbinar penuh antusiasme. Ia melompat masuk ke dalam kamar dengan semangat membara. Wajahnya terlihat begitu cerah dan percaya diri.

"Kakak tenang saja, aku ini jagonya berdandan lho! Percayakan saja wajah dan rambutmu ke tanganku. Aku jamin, nanti malam Kak Ziva akan tampil sangat cemerlang, mempesona semua orang, dan menjadi pusat perhatian sepanjang malam ini!" seru Zea penuh janji, seolah-olah ini adalah tugas paling penting dalam hidupnya.

Melihat semangat adiknya itu, hati Ziva terasa hangat. Daniel pun tersenyum lega, lalu berdiri.

"Baiklah, kalau begitu Kakak tunggu di bawah ya. Kerjakan tugas kalian berdua dengan baik. Aku yakin hasilnya pasti luar biasa," ucap Daniel lalu keluar meninggalkan mereka.

Segera setelah pintu tertutup, Zea langsung bertindak. Ia mengeluarkan berbagai macam kosmetik dan peralatan rias yang entah sejak kapan sudah ia siapkan, seolah ia sudah menunggu momen ini sejak lama.

"Ayo duduk tegak, jangan banyak bergerak ya Kak!" perintah Zea dengan wajah serius bak seorang seniman yang sedang melukis mahakarya.

Tangan-tangan kecil Zea bergerak sangat lincah dan telaten. Ia mengoleskan bedak, meratakan alas bedak, menyempurnakan alis, memulas perona pipi hingga menciptakan rona merah alami, dan menuturkan lipstik merah muda lembut. Ia bekerja dengan penuh kesabaran, seolah sedang merawat bunga yang paling indah. Ia tidak melebih-lebihkan riasan, ia hanya ingin menonjolkan kecantikan alami yang sudah ada pada diri Ziva.

Setelah wajah selesai, giliran rambut yang ia tata. Ia menyisir rambut hitam panjang Ziva, lalu menyanggulnya dengan gaya anggun namun tetap membiarkan beberapa helai rambut jatuh lembut menyentuh leher, memberikan kesan manis dan misterius. Tak lupa ia membantu Ziva mengenakan gaun biru indah itu, membenarkan setiap lipatan kain hingga pas sempurna di tubuh adiknya.

"Sudah selesai! Nah, lihatlah dirimu di cermin, Kak!" seru Zea bangga.

Ziva perlahan berjalan mendekati cermin besar di sudut kamar. Dan saat ia melihat pantulannya sendiri, napasnya tertahan sejenak.

Wanita di cermin itu... benarkah dirinya?

Wajahnya tampak bercahaya, matanya terlihat lebih tajam namun lembut, dan gaun itu membuatnya terlihat begitu anggun, berwibawa, dan sangat mempesona. Ia terlihat persis seperti seorang putri bangsawan sejati.

"Zea... kamu hebat sekali," puji Ziva takjub.

"Tentu saja dong! Aku kan adikmu," jawab Zea sambil tersenyum lebar, lalu menggandeng tangan Ziva. "Ayo Kak, kita turun. Kak Daniel pasti sudah menunggu."

Dengan langkah percaya diri, mereka berjalan beriringan keluar kamar, menuju tangga utama. Namun, baru saja mereka melangkah keluar pintu kamar, langkah mereka terhenti seketika.

Di ujung lorong, berdiri sosok tinggi besar yang sudah menunggu dengan wajah yang sangat datar, dingin, dan mengerikan. Itu Kevin.

Pria itu menatap tajam ke arah Ziva, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya bukan kekaguman, melainkan penuh kecurigaan dan kemarahan yang belum usai.

"Siapa yang memberi izin kamu pergi, Ziva?" tanya Kevin dengan suara rendah yang terdengar mengancam.

Wajah Ziva yang tadinya cerah seketika berubah masam. Ia menatap balik Kevin dengan tatapan yang sama datarnya, bahkan sedikit muak.

"Kak Daniel yang mengajakku, Kak. Dia butuh aku sebagai pendamping," jawab Ziva singkat, tanpa ada nada takut sedikitpun.

"Pendamping atau alasan supaya kamu bisa pergi menemui cowok brengsekmu itu?!" nada suara Kevin tiba-tiba meninggi, penuh amarah. "Ingat siapa dirimu, Ziva! Kamu adalah Nona keluarga Sterling, putri dari orang tua yang sangat dihormati. Jaga sikapmu dan harga dirimu! Jangan sampai kamu merendahkan dirimu sendiri di hadapan orang asing!"

Kata-kata itu seperti minyak yang disiram ke api yang sudah menyala. Kesabaran Ziva yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya pecah juga. Ia sudah lelah berpura-pura menjadi gadis polos, manja, dan penurut seperti yang diharapkan keluarga ini. Ia bukan boneka.

"Urusanku dengan siapa pun itu adalah urusan pribadiku!" seru Ziva dengan suara keras yang bergetar menahan emosi yang meledak. Ia menatap lurus ke manik mata Kevin. "Aku sudah dewasa, aku tahu mana yang baik dan buruk! Tidak perlu kamu ikut campur dalam setiap masalah hidupku seolah-olah kamu pemilik hidupku! Aku tidak membutuhkan perhatianmu yang menyiksa seperti ini, Kevin!"

"Ziva..." panggil Kevin kaget melihat adiknya yang berani melawan dengan tegas seperti itu.

"Sudah ada apa ini?"

Suara berat dan tenang terdengar dari arah tangga. Daniel baru saja naik menjemput mereka, namun mendengar keributan itu ia segera menghampiri.

"Kevin, kamu jangan terlalu berlebihan. Ziva sudah dewasa, dia berhak melakukan apa saja yang dia mau dan pergi ke mana saja. Dia bukan anak kecil yang perlu dikurung," tegur Daniel dengan nada tegas namun tenang.

"Dewasa?!" Kevin tertawa sinis, matanya menatap tajam ke arah Ziva. "Kalau dia sudah dewasa, mana mungkin dia melakukan hal yang tidak pantas! Melakukan hal intim dan membiarkan tubuhnya dinodai oleh pria asing brengsek, aku harus diam saja melihat adikku diperlakukan sembarangan?!"

Kalimat itu meledak seperti petir di ruangan itu. Wajah Daniel seketika berubah pucat dan terkejut luar biasa. Ia menatap Ziva tak percaya.

"Ziva... apa maksud Kevin? Benarkah itu?" tanya Daniel lemah.

"Aku jamin, malam ini dia tidak akan bertemu pria itu. Aku akan menjaganya tetap di sisiku sepanjang acara," sahut Daniel berusaha tenang, meski hatinya kaget bukan main. Ia lalu menatap Kevin. "Kalau boleh tahu... siapa pria yang berani melakukannya padanya?"

"Tanya saja adikmu itu! Tanya pada 'Nona Baik-baik' ini!" bentak Kevin dengan nada tinggi. Ia lalu menoleh ke samping, melihat Zea yang hanya diam mematung menyaksikan perseteruan kakak-beradik itu. Dengan kasar ia menarik paksa tangan Zea, menyeret gadis itu pergi dari sana. "Ayo kita pergi dari sini! Lihat saja, nanti kalau dia hancur lebur karena kesalahannya sendiri, jangan harap kami mau menolongnya!"

Zea yang ditarik paksa hanya bisa menoleh ke belakang, menatap Ziva dengan tatapan khawatir, namun ia tak berani melawan kemarahan Kevin yang mengerikan itu.

Sementara itu, di sana tinggalah Ziva dan Daniel. Ziva menunduk dalam, napasnya memburu, dadanya sesak menahan rasa marah, malu, dan sedih yang bercampur aduk. Rahasia yang selama ini ia sembunyikan, ternyata sudah diketahui oleh orang yang paling tidak ia inginkan tahu.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Mimpi Pencatat: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!