Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Busettt!" celetuk David sambil menatap Thomas dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Elo bener-bener berani ya, Thom? Nyali lo boleh juga nembak cewek di depan pawang... eh, maksud gue di depan orang yang ditolak Melody kemarin."
Melody mematung, memandangi surat merah jambu di tangannya. Otaknya berputar secepat mesin balap. Aduh, gimana nih? Kalau gue tolak kasar, kasihan ini anak orang. Tapi kalau gue terima... mending terima aja kali ya? Biar satu sekolah tahu kalau gue udah move on dari si Es Batu itu!
Melody melirik Thomas. Tapi... culun banget, bejir. Masa selera gue terjun bebas dari puncak Everest langsung ke palung Mariana? batinnya getir.
Wajah Melody yang sedang berpikir keras itu sangat mudah ditebak. Matanya melirik ke arah surat, lalu ke arah Thomas, lalu tak sengaja melirik ke arah Kaisar yang masih berdiri di depan pintu. Aura di sekitar Kaisar mendadak makin mencekam, cowok itu hanya diam, tapi tatapannya seolah bisa melubangi kepala Thomas saat itu juga.
"Aduhh... gimana ya?" ucap Melody ragu-ragu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku sih... mau-mau aja ya sebenernya..."
Satu kelas langsung hening. Jigar sampai tersedak ludahnya sendiri. Galen menatap Melody dengan minat yang makin besar.
"Tapi... nanti deh! Gue belum mau jawab sekarang. Kasih gue waktu buat... eh, semedi dulu," lanjut Melody sambil nyengir kuda.
Wajah Thomas langsung berbinar penuh harap, meski jawabannya belum pasti. "Yaudah, aku tunggu ya, Melody! Aku bakal tunggu sampai kapan pun!"
Thomas kemudian menyodorkan seikat bunga kecil yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya. Dengan ragu, Melody menerimanya.
"Makasih ya, Thomas. Lo... baik banget," ucap Melody kaku.
"Sama-sama! Aku pergi dulu!" Thomas langsung ngacir keluar kelas dengan perasaan terbang ke awan, melewati geng Amours dengan langkah seribu.
Melody menatap bunga itu, lalu mendesah pelan.
"Mell, elo beneran mau nerima dia?" tanya Jigar dengan wajah tidak percaya, seolah-olah baru saja melihat keajaiban dunia kedelapan. "Seleran lo beneran banting setir dari singa ke kelinci percobaan?"
Melody mengangkat bahu dengan santai, tangannya memainkan kelopak bunga dari Thomas. "Kenapa enggak? Dia lucu tahu, punya pipi chubby gitu, gemesin," jawab Melody jujur. Di matanya, Thomas memang terlihat jauh lebih aman dan tidak berisiko bikin mati muda dibanding cowok-cowok di depannya ini.
"Tapi..." Melody menggantung kalimatnya, membuat suasana kelas mendadak hening lagi. "Gue masih punya misi sebelum beneran nerima dia."
"Misi apa?" tanya Azka singkat. Tumben-tumbenan si manusia irit bicara ini ikut penasaran.
Melody menegakkan punggungnya, wajahnya dibuat seserius mungkin seolah-olah sedang merencanakan strategi perang negara. Matanya melirik ke arah geng Amours satu per satu, terakhir berhenti sejenak di mata tajam Kaisar.
"Misi buattt..." Melody menjeda kalimatnya cukup lama.
Jigar, David, bahkan Galen sampai mencondongkan badan ke depan, menunggu kelanjutan kalimat Melody dengan serius.
"Misi buat... Yaelah! Nungguin yaaa? Penasaran kan lo semua? Hahahaha!" tawa Melody pecah, wajahnya yang cantik berubah jadi sangat menyebalkan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Nyebelin banget sih lo, Mel!" seru David kesal, ia hampir saja melempar botol minumnya kalau tidak sadar ini masih di dalam kelas.
"Sumpah, pengen gue karungin terus buang ke laut ini anak!" gerutu Jigar sambil mengacak rambutnya frustrasi.
"Bodo amat! Wlee!" Melody menjulurkan lidahnya dengan sangat petakilan, persis bocah SD yang habis menang taruhan kelereng.
Sebelum cowok-cowok itu sempat bereaksi lebih jauh—terutama Kaisar yang auranya sudah mulai menggelap karena merasa dipermainkan—Melody langsung menyambar tasnya dan berlari kencang keluar kelas.
"Dahhh para penguasa sekolah! Gue mau cari kedamaian dulu!" teriaknya sambil lari terbirit-birit di koridor.
Kaisar hanya berdiri mematung, matanya mengikuti punggung Melody yang menjauh hingga hilang di belokan koridor. Ia tidak bicara apa-apa, tapi tangannya yang memegang ponsel terlihat sedikit lebih kencang dari biasanya.