Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Perjalanan Paksa ke Negeri Bulu dan Taring
Suasana di dalam gua yang lembap itu mendadak sunyi setelah teriakan Kibo mereda.
Kakak tertua Kibo, seorang pria bertubuh tegap dengan telinga serigala abu-abu yang tajam, menatap adiknya dengan pandangan tidak percaya.
"Kibo, apa yang kau katakan? Pulanglah bersama kami sekarang. Tempat ini berbahaya, manusia-manusia ini hanya akan mengulitimu perlahan!" bentak kakaknya, suaranya menggeram rendah, membuat bulu kuduk Melan berdiri.
Kibo menggelengkan kepala dengan kuat, ekornya yang biasanya bergoyang riang kini melengkung tegang.
"Tidak, Kak! Aku memang ingin pulang dan merindukan kalian, tapi aku sudah menemukan teman-teman baru di sana. Kami bekerja bersama, bergotong-royong membangun sesuatu yang besar. Untuk pertama kalinya, aku merasa senang dan dihargai bukan sebagai peliharaan!"
Melan, yang masih terduduk dengan tangan terikat lemas, menghela napas panjang.
"Kibo, kalau kamu mau pulang sama keluarga kamu, pulang saja. Saya nggak maksa kok. Saya bukan bos yang jahat yang nahan karyawannya pulang kampung," ucap Melan sambil mencoba mengatur posisinya agar lebih nyaman.
"Tidak, Yang Mulia! Saya mau tetap bersama Anda!" Kibo bersikeras, matanya berkaca-kaca.
Melihat keras kepalanya Kibo, para pria bertudung itu mulai saling berbisik dengan nada curiga. Kakak Kibo menatap Melan dengan tatapan benci sekaligus ngeri.
"Lihat? Dia pasti sudah mengguna-gunaimu, Kibo. Wanita ini pasti penyihir dari kerajaan sebelah. Tidak mungkin ada manusia yang bisa membuat kaum kita tunduk dan setia begitu saja kalau bukan karena sihir!"
"Penyihir?" Melan spontan mencibir, rasa takutnya sesaat kalah oleh rasa kesalnya.
"Heh, Mas Serigala! Muka saya yang secantik ini dibilang penyihir? Yang bener aja! Saya ini cuma pengusaha yang mau memajukan ekonomi lintas ras. Kalau saya penyihir, sudah saya ubah kalian semua jadi gantungan kunci dari tadi!"
"Diam kau, wanita terkutuk!" bentak salah satu kawanan itu.
"Kalian ini ya, dikasih tahu malah nyolot. Saya itu punya niat baik, eh malah diculik. Udah diculik, dituduh pakai pelet lagi. Zaman sekarang tuh yang laku kerja keras, bukan sihir tahu!" omel Melan panjang lebar, tidak peduli lagi meski dia sedang dikelilingi makhluk buas.
Kakak Kibo mengabaikan omelan Melan dan menatap kawanannya dengan tegas.
"Kita tidak punya pilihan. Kita harus membawa wanita ini ke Negeri Binatang secara paksa. Hanya para tetua di sana yang bisa mematahkan sihirnya agar Kibo bisa kembali normal dan pulang bersama kita."
Kibo marah besar, ia mencoba menyerang kakaknya sendiri untuk melindungi Melan.
Namun, kakaknya justru hampir menyerang balik, menganggap Kibo sudah benar-benar hilang kesadaran akibat pengaruh sihir Melan.
"Kibo, stop!" teriak Melan panik. "Oke, oke! Saya ikut! Daripada kalian saling cakar cuma gara-gara saya, mending saya ikut ke negeri kalian. Tapi janji ya, jangan diapa-apain si Kibo!"
Mau tak mau, Melan akhirnya harus mengikuti rombongan itu menembus hutan lebat, meninggalkan wilayah kekuasaan Nolan menuju Negeri Binatang yang misterius bersama Kibo yang terus merengut sepanjang jalan.
Perjalanan yang Menguji Perut
Perjalanan itu benar-benar menjadi ujian berat bagi Melan. Bukan karena medannya yang sulit, tapi karena urusan perut.
"Woi, Mas Serigala! Saya laper!" teriak Melan saat mereka beristirahat di pinggir sungai pada hari kedua.
Kakak Kibo melemparkan sepotong daging rusa yang masih merah dan berdarah ke depan Melan. "Makan itu. Itu hasil buruan terbaik kami pagi ini."
Melan menatap daging mentah itu dengan tatapan jijik luar biasa. "Gila ya kamu? saya ini manusia, usus saya nggak didesain buat makan begituan! Mana ada ceritanya Permaisuri makan daging tartare ala hutan begini. Masak kek, bakar dikit kek!"
"Jangan manja, manusia. Di sini tidak ada pelayan yang akan menyiapkan pesta untukmu," sahut pria itu dingin.
"Ya minimal kasih bumbu gitu, garam kek, merica kek," keluh Melan sambil mengomel tanpa henti. "saya ini biasa makan enak di kerajaan, minimal ada sate ayam lah. Ini mentah semua, saya bisa cacingan!"
Kibo, yang merasa kasihan, akhirnya mencarikan buah-buahan hutan untuk Melan. Beruntung, masih ada buah beri liar dan apel hutan yang bisa mengganjal perut Melan selama perjalanan.
"Nih, Yang Mulia. Makan ini saja. Maafkan kakak saya, dia memang agak kaku," bisik Kibo.
"Makasih ya, Kibo. Untung ada kamu. Kalau nggak, mungkin saya sudah pingsan karena malnutrisi," ujar Melan sambil menggigit apel hutan yang rasanya agak asam itu.
Gerbang Menuju Dunia Fantasi
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama satu minggu penuh, rombongan itu akhirnya sampai di perbatasan Negeri Binatang. Melan yang tadinya lesu mendadak berdiri tegak dengan mulut menganga lebar.
Pemandangan di depannya benar-benar di luar nalar logikanya sebagai orang yang dulu hidup di dunia modern.
Jika di Kerajaan Valerius suasananya seperti abad pertengahan yang ramai dan sejum, di sini semuanya tampak seperti ilustrasi buku dongeng fantasi paling indah yang pernah ia lihat.
Negeri ini sangat ramai namun terasa begitu menyejukkan. Pohon-pohon raksasa dengan daun berwarna-warni tumbuh menjulang, dan di antara dahan-dahannya, terdapat rumah-rumah kayu yang tertata rapi.
Yang paling menakjubkan bagi Melan adalah melihat bagaimana manusia binatang di sini hidup akur berdampingan dengan hewan-hewan liar.
"Wow... gila, ini nyata?" gumam Melan takjub.
Ia melihat seekor burung berbulu pelangi terbang rendah di dekatnya, mengeluarkan suara cicitan yang ritmis seolah-olah sedang bercerita atau bernyanyi pada penduduk yang lewat.
Di sudut lain, seekor rusa besar tampak tenang membiarkan anak-anak manusia binatang menunggangi punggungnya sambil tertawa riang.
"Ini bener-bener dunia fantasi," bisik Melan pada dirinya sendiri.
Di dunianya dulu, binatang hanya ada di kebun binatang atau jadi konten TikTok. Tapi di sini, mereka seperti memiliki jiwa dan bahasa sendiri.
"Selamat datang di tanah leluhur kami, manusia," ucap kakak Kibo dengan nada sedikit bangga.
"Jangan senang dulu. Pemandangan ini mungkin indah, tapi para tetua sudah menunggu untuk memutuskan nasibmu."
Melan menelan ludah. Keindahan di depannya sesaat membuatnya lupa bahwa ia datang sebagai tawanan yang dituduh penyihir.
Namun, melihat keajaiban negeri ini, jiwa pebisnis Melan malah mulai bergejolak.
Kalau gue bisa buka cabang Mall atau minimarket di sini, pasar lintas ras beneran bakal meledak! batin Melan, masih sempat-sempatnya memikirkan keuntungan di tengah situasi hidup dan mati.
Kibo menggenggam tangan Melan, mencoba memberinya kekuatan. "Tenang saja, Yang Mulia. Saya akan bicara pada para tetua. Mereka pasti akan mengerti kalau Anda orang baik."
Melan hanya bisa mengangguk pasrah sambil terus memperhatikan burung-burung yang berterbangan, merasa dirinya benar-benar sudah terjun sangat dalam ke dunia yang selama ini hanya ia baca di novel-novel digitalnya.