Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 21
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah ventilasi kontrakan sempit mereka, namun suasananya terasa berbeda. Tidak ada lagi beban berat yang biasanya menghimpit dada Rumi setiap kali ia terbangun. Keputusan Fathur untuk pindah hari ini adalah oksigen baru baginya. Fathur sibuk memasukkan sisa pakaian ke dalam koper besar.
"Mas, apa kita benar-benar harus pergi tanpa pamit lagi ke Ibu?" tanya Rumi pelan, ada keraguan yang tersisa di matanya.
"Bagaimanapun, Ibu sedang sakit hati karena aku ..."
Fathur menghentikan aktivitasnya. Ia mendekat dan menggenggam bahu istrinya.
"Dek, pamit dalam kondisi Ibu yang masih penuh amarah hanya akan menciptakan drama baru. Kita butuh jarak. Bukan untuk memutus silaturahmi selamanya, tapi untuk menyembuhkan lu-ka masing-masing. Biarkan Ibu tenang dulu. Baru nanti kita bicara kepada Ibu,"
Baru saja Fathur hendak menutup ritsleting koper, pintu depan digedor dengan kasar. Jantung Rumi berdegub kencang. Ia mengira itu adalah Ibu mertuanya yang datang untuk mengamuk lagi. Namun, saat Fathur membuka pintu, yang berdiri di sana adalah Elisa, adik Fathur, dengan wajah angkuh dan tangan bersedekap.
"Oh, jadi benar mau kabur?" sindir Elisa tanpa basa-basi. Ia melirik kardus-kardus yang sudah berjajar di ruang tamu.
"Hebat ya, Mas Fathur. Gara-gara perempuan ini, Mas tega membiarkan Ibu jatuh sakit karena tekanan batin semalaman."
"Elisa, jaga bicaramu," suara Fathur rendah namun penuh peringatan.
"Jaga bicara apa? Ibu itu sampai nggak mau makan! Dan Mas malah asyik mau pindah ke rumah dinas mewah? Ibu tahu dari Dona kalau Mas naik jabatan. Harusnya Mas itu berterima kasih sama ibu, doa ibu yang membuat kamu bisa mendapatkan jabatan itu, mas! Bukan wanita itu! Dia hanya bisa menghabiskan uangmu saja!"
Rumi berdiri, mencoba menahan emosinya.
"Elisa, Mas Fathur naik jabatan karena..." ucapan Rumi terpotong.
"Halah, diam kamu! Kamu itu cuma parasit yang bikin Mas Fathur jauh dari keluarga!" bentak Elisa dengan tatapan penuh kebencian kepada Rumi.
Fathur tidak lagi membalas dengan teriakan. Ia mengeluarkan sebuah buku tabungan dan beberapa lembar kuitansi dari tasnya, lalu melemparkannya ke atas meja di depan Elisa.
"Lihat itu, Elisa," ujar Fathur dingin.
"Selama tiga tahun ini, setengah gajiku masuk ke rekening Ibu dan membantu biaya kuliahmu sampai lulus. Rumi yang memintaku untuk tetap memprioritaskan kalian, meski kami sendiri harus hemat luar biasa untuk makan sehari-hari. Dan kuitansi itu? Itu adalah cicilan hutang motor yang kamu pakai sekarang, yang selama ini dicicil oleh 'istri parasit' yang kamu maki ini."
Elisa tertegun. Ia meraih buku tabungan itu dan membacanya dengan cepat. Wajahnya yang tadi merah padam perlahan berubah pucat. Motor yang dia gunakan ternyata di cicil oleh Rumi dan Fathur. Padahal ibunya selama ini mengatakan kalau motor yang dia gunakan adalah pemberian dari kedua kakak iparnya yang lain. Hana dan Intan.
"Sekarang, keluar dari rumahku," perintah Fathur tegas.
"Bawa motor keinginanmu itu, tapi jangan pernah datang lagi hanya untuk merendahkan istriku. Karena mulai detik ini, satu rupiah pun dari keringatku hanya akan kuberikan untuk anak dan istriku, sampai Ibu dan kamu belajar cara menghargai orang lain."
Elisa keluar dengan menghentakkan kaki, meski ada gurat malu dan gelisah di wajahnya. Ia tak menyangka kakaknya akan bertindak sejauh itu. Dan perasannya saat ini lebih ke kesal. Karena Fathur berubah, bukan lagi kakaknya yang dulu.
Fathur kembali menatap Rumi, kali ini dengan senyum yang tulus.
"Sudah siap, Sayang? Mobil jemputan kantor sudah di depan."
Mereka melangkah keluar dari kontrakan itu. Para tetangga yang kemarin sempat mencemooh kini hanya bisa menonton dari jauh dengan tatapan segan. Rumi masuk ke dalam mobil, merasakan hembusan AC yang sejuk, seolah membasuh sisa-sisa sesak di dadanya.
Namun, di sudut jalan, sebuah mobil sedan putih terparkir. Di dalamnya, Dona memperhatikan keberangkatan mereka dengan me-re-mas jemari pada kemudi.
"Kamu pikir bisa lepas begitu saja, Fathur?" gumam Dona sinis.
"Ibumu mungkin gagal, tapi aku punya cara lain untuk masuk ke rumah dinas barumu dan menjadi istri wakil manager yang memiliki gaji besar juga banyak fasilitas!"
Dua hari setelah kepindahan, suasana tenang di rumah dinas baru itu kembali terusik. Pukul sepuluh pagi, saat Fathur sudah berada di kantor, sebuah taksi berhenti di depan pagar. Rumi yang sedang menyiram tanaman di balik pagar besi yang tinggi melihat sosok Bu Sri dan Dona turun dengan wajah penuh amarah.
Kali ini, Bu Sri tidak lagi berpura-pura pingsan. Ia membawa sebuah tas besar, seolah berniat untuk menumpang tinggal secara paksa.
"Buka pintunya, Rumi! Jangan jadi menantu kurang ajar yang mengunci mertua di luar!" teriak Bu Sri sambil menggedor pagar.
Rumi meletakkan selang airnya. Ia tidak lari ke dalam kamar untuk menangis. Sebaliknya, ia berjalan tenang menghampiri pagar, namun tangannya tetap memegang kunci. Ia tidak membukanya.
"Maaf, Bu. Mas Fathur sudah berpesan, rumah ini adalah fasilitas kantor yang ketat aturannya. Tamu yang tidak diundang tidak diperkenankan masuk tanpa izin kepala rumah tangga," ujar Rumi dengan nada datar namun sangat berwibawa.
"Tamu tidak diundang?! Aku ini ibunya Fathur! Kamu itu cuma orang asing yang kebetulan hamil anak dia!" bentak Bu Sri, kembali dengan ucapan yang sangat menu-suk.
"Rumi, sudahlah. Jangan merasa jadi nyonya besar hanya karena tinggal di rumah dinas. Kamu tahu tidak, kalau perusahaan bisa menarik fasilitas ini kapan saja jika ada laporan soal perilaku buruk pegawainya? Dan aku punya kuasa untuk itu." Dona menimpali dengan senyum meremehkan.
Rumi tertawa kecil, sebuah tawa yang membuat Dona mengernyitkan dahi.
"Silakan, Mbak Dona. Laporkan saja," tantang Rumi.
Dia tak tahu sebenarnya pekerjaan Dona apa. Karena rasanya setiap saat selalu ada bersama dengan ibu mertuanya. Katanya wanita karir tapi ada di rumah terus seperti pengangguran. Entahlah.
"Laporkan bahwa istri wakil manajer menolak membiarkan orang asing masuk tanpa janji temu. Saya tidak takut!" tantang Rumi.
Wajah Dona pucat pasi. Ia tidak menyangka Rumi yang dulu penakut kini bisa berani bicara kepada mereka berdua. Bu Sri yang merasa diabaikan kembali berteriak.
"Kamu berani mengancam? Fathur akan menceraikanmu kalau tahu kamu bicara begini pada Ibunya!"
"Ibu..." sela Rumi dengan tatapan mata yang tajam, membuat Bu Sri terdiam seketika.
"Selama tiga tahun saya diam bukan karena saya takut pada Ibu. Saya diam karena saya menghargai suami saya. Tapi sekarang, ada nyawa di dalam perut saya yang harus saya lindungi dari aura negatif Ibu." Rumi maju satu langkah lebih dekat ke pagar.
"Ibu bilang Fathur akan menceraikan saya? Silakan coba. Tapi perlu Ibu tahu, Fathur yang sekarang bukan lagi Fathur yang bisa Ibu setir. Dia lebih takut kehilangan saya dan calon anaknya daripada kehilangan restu yang selama ini Ibu jadikan alat untuk menyiksa kami. Pulanglah, Bu. Sebelum saya panggilkan sekuriti kompleks untuk menyeret kalian keluar secara tidak hormat."
"Kamu... kamu benar-benar keterlaluan!" suara Bu Sri bergetar, kali ini bukan karena akting, tapi karena ia menyadari bahwa kekuasaannya atas Fathur telah runtuh sepenuhnya lewat tangan Rumi.
"Saya hanya mencerminkan apa yang Ibu ajarkan kepada saya selama tiga tahun ini: Bahwa kelembutan tidak ada gunanya bagi orang yang tidak tahu cara menghargai."
Dona yang merasa posisinya terancam segera menarik lengan Bu Sri.
"Ayo Tante, kita pergi saja. Kita urus ini lewat jalur lain."
"Jalur apa pun yang kalian pilih, saya akan berdiri di depan pintu ini untuk melawannya. Ingat itu," pungkas Rumi sebelum berbalik badan dengan anggun, meninggalkan mereka yang berdiri mematung di pinggir jalan.
Rumi masuk ke dalam rumah, jantungnya memang masih berdegup kencang, tapi perasaannya luar biasa lega. Ia mengusap perutnya dan berbisik.
"Nak, Ibu tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Kita akan tumbuh kuat bersama."
lihat selanjutnya ....
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒