Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ONE
Dinginnya lantai semen di bangsal isolasi Rumah Sakit Jiwa Paramita seolah meresap hingga ke sumsum tulang Fradella Gauta. Gadis itu meringkuk di sudut ruangan yang pengap, memeluk lututnya yang gemetar. Rambutnya yang dahulu hitam berkilau kini kusam dan kusut, membingkai wajah pucat dengan mata yang kehilangan cahaya.
Lima tahun. Seribu delapan ratus dua puluh lima hari Della dikurung di tempat yang lebih mirip neraka ini. Bukan karena dia gila, melainkan karena dia adalah penghalang bagi kebahagiaan ibu tirinya, Yuhana Emerald, dan kakak tirinya, Ratu Mayesa. Dengan dalih trauma berlebihan akibat kesedihan, Della digiring paksa masuk ke Rumah Sakit jiwa dengan dalih rehabilitasi mental dan kesehatan jiwa.
Klek.
Suara kunci diputar terdengar memekakkan telinga di kesunyian malam yang mencekam. Della tersentak, tubuhnya mengejang ketakutan. Biasanya, jam segini adalah waktu bagi perawat kejam untuk memberinya suntikan penenang yang membuat sarafnya mati rasa. Namun, kali ini langkah kaki yang terdengar bukan hanya satu pasang.
Pintu besi itu berderit terbuka, menampilkan siluet beberapa orang yang sangat ia kenali, sosok-sosok yang telah menghancurkan hidupnya.
"Lihatlah tikus kecil ini," suara melengking Yuhana memecah keheningan. Wanita itu melangkah masuk dengan anggun, menutupi hidungnya dengan sapu tangan sutra seolah udara di sekitar Della adalah racun. "Masih saja betah di tempat busuk ini, Della? Aku kira kamu sudah mati karena bunuh diri."
Di belakang Yuhana, berdiri Tantowi Gauta, ayah kandung Della yang hanya menatap putrinya dengan tatapan dingin dan tak bernyawa. Di sampingnya ada Ratu Mayesa, tampil mempesona dengan gaun mahal, menggandeng mesra lengan seorang pria.
Della terkesiap. Pria itu adalah Adryan Juardi. Pria yang seharusnya menjadi tunangannya. Pria yang berjanji akan menjaganya, namun justru berkhianat dan membiarkan Della diseret ke RSJ tepat setelah pemakaman ibunya.
"Ayah..." suara Della parau, nyaris tak terdengar. "Bawa Della keluar dari sini... Della tidak gila, Ayah tahu itu..."
Tantowi tidak mendekat. Ia tetap berdiri di ambang pintu. "Aku memang ke sini untuk membawamu pulang, Della. Tapi bukan untuk kembali ke rumah keluarga Gauta."
Ratu tertawa sinis, mempererat rangkulannya pada lengan Adryan. "Tentu saja tidak. Kau akan pindah ke istana yang lebih megah, Adikku tersayang. Sebuah istana dengan pagar tinggi dan penjaga ketat. Cocok untukmu."
Della merasakan firasat buruk yang menghantam dadanya. "Apa maksud kalian?"
Yuhana melangkah maju, senyum liciknya mengembang. "Kau akan menikah, Della. Besok. Kami sudah mengurus semuanya."
"Menikah?" Della menggeleng lemah, air mata mulai mengalir di pipinya yang tirus. "Dengan siapa? Aku tidak mau!"
"Kau tidak punya pilihan," potong Adryan dengan suara dingin yang menusuk. Pria yang dulu memuja Della itu kini menatapnya dengan jijik. "Keluarga Herlos sudah memberikan mas kawin yang sangat besar. Cukup untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu yang hampir bangkrut."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Della. Keluarga Herlos. Hanya ada satu nama yang terlintas di kepalanya saat mendengar nama itu. Nama yang menjadi momok menakutkan di seluruh penjuru kota.
"Dayaksa Herlos?" Della berbisik dengan bibir bergetar. "Kalian... kalian ingin menikahkanku dengan Tuan Muda yang gila itu?"
Tawa Ratu meledak, memenuhi ruangan sempit itu dengan gema yang mengerikan. "Oh, jadi kau masih ingat mantan tunanganku? Ya, Si Monster Gila Dayaksa. Karena dia sudah gila total setelah kecelakaan itu, aku tentu saja membatalkan pertunanganku. Dan sebagai gantinya, kau yang akan menempati posisi itu."
Della merangkak mendekati ayahnya, mengabaikan rasa sakit di lututnya yang lecet. "Ayah, tolong... jangan lakukan ini. Mereka bilang Tuan Muda Herlos kehilangan akal sehatnya. Dia berbahaya! Della bisa mati di tangannya! Della masih ingin hidup, Della sudah berjanji kepada ibu untuk melahirkan banyak cucu-cucu agar ibu bisa masuk ke surga, Ayah."
Yuhana berjongkok di depan Della, menarik dagu gadis itu dengan kasar agar menatap matanya. "Bukan hanya berbahaya, Della. Biar kuberitahu sebuah rahasia kecil agar kau bisa bersiap-siap untuk malam pengantinmu."
Yuhana merendahkan suaranya, memberikan nada horor yang membuat bulu kuduk Della berdiri.
"Tuan Muda Dayaksa itu bukan sekadar gila. Dia adalah monster. Saat penyakitnya kambuh, dia suka memukuli calon istrinya tanpa ampun. Kau tahu kenapa ketiga calon istri sebelumnya menghilang? Satu di antaranya cacat permanen karena dicambuk olehnya. Dayaksa suka mengikat wanita di pohon saat hujan deras dan membiarkan mereka kedinginan, menggigil sambil terus disiksa."
Della menggeleng histeris, mencoba menutup telinganya, namun Yuhana menepis tangan Della dengan kuat. "Diam, Ratu! Diam!"
"Ada pelayan yang bercerita," lanjut Yuhana dengan kilat mata kejam, "bahwa Tuan Muda Dayaksa mengurung orang-orang yang tidak dia sukai di dalam kandang anjing. Mereka diperlakukan seperti hewan peliharaan, diberi makan di lantai, dan dipaksa menggonggong. Itulah nasibmu besok, Della. Dari satu RSJ ke RSJ pribadi milik keluarga Herlos."
"Tidak! Tidak mungkin!" Della berteriak, air matanya tumpah deras. "Ayah, jangan dengarkan dia! Ayah, tolong Della!"
Tantowi tetap bergeming. "Keluarga Herlos sudah memberikan mahar yang tidak bisa kutolak. Lagipula, kau sudah berada di sini selama lima tahun. Apa bedanya tinggal di rumah keluarga Herlos atau di sini? Setidaknya di sana kau punya status sebagai istri seorang keluarga terhormat sebelum kamu meninggal, meski suamimu adalah orang gila."
"Tapi dia bisa membunuhku, Yah! Aku masih belum mau mati!"
"Maka matilah dengan berguna bagi keluarga ini!" bentak Tantowi, membuat Della terdiam membeku. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada cambukan perawat di RSJ.
Adryan, pria yang dulu menjanjikan surga pada Della, hanya menatap pemandangan itu dengan bosan. "Ayo cepat selesaikan ini. Aku tidak betah berlama-lama di tempat berbau obat ini."
Ratu melangkah mendekati Della, lalu dengan sengaja menginjak jari-jari tangan Della yang sedang menumpu di lantai. Della menjerit kesakitan, namun Ratu justru menekan tumit sepatu hak tingginya lebih dalam.
"Sakit, Della? Ini belum ada apa-apanya dibanding siksaan Tuan Muda Dayaksa besok," bisik Ratu dengan nada puas. "Kau tahu? Sebenarnya aku sedikit iri. Tuan Muda Dayaksa itu sangat tampan sebelum dia menjadi gila. Tapi sekarang? Dia hanyalah binatang buas yang haus darah. Aku sudah memberikan sisa-sisaku padamu, dulu ayahku, lalu tunanganku, sekarang calon suamiku yang gila. Kau memang ditakdirkan untuk memakan sampahku."
Della mencoba menarik tangannya, namun tenaganya yang lemah akibat kekurangan gizi tak mampu melawan. Ia menatap Adryan, memohon lewat tatapan mata, namun Adryan justru memalingkan wajah dan merangkul pinggang Ratu.
"Ayo pergi," ajak Adryan. "Biarkan para perawat membersihkannya sebelum kita bawa pulang. Aku tidak ingin dia mengotori jok mobilku."
Tantowi mengangguk. Ia memberi isyarat kepada dua orang pria berbadan besar yang sejak tadi berjaga di luar. "Seret dia keluar. Jika dia melawan, suntik dia dengan dosis maksimal."
"Jangan! Tolong!" Della meronta saat kedua pria itu mencengkeram lengannya dengan kasar. "Aku tidak mau menikah! Aku lebih baik mati di sini! Ayah... Ayah... Della mohon."
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua