Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Karat Hitam dan Taktik Sang Pandita
Malam itu, ruang kerjaku terasa lebih dingin dari biasanya, meski sisa hawa panas dari pedang Tsubaki seakan masih menempel di dinding kayu. Aku duduk mematung di depan perkamen kosong, menyadari bahwa aku sedang berjalan di atas seutas tali tipis di atas jurang.
Di ujung tali yang satu, ada Tsubaki dan palu Hephaestus yang menuntut realisme pahit untuk menghentikan kegilaan para pandai besi. Di ujung tali lainnya, ada Freya yang menanti cawan berisi anggur penderitaan dan keindahan tragedi. Jika ceritaku terlalu teknis dan hambar, Freya akan bosan dan mencabut perlindungannya. Jika terlalu heroik, Tsubaki akan melelehkan kepalaku.
Aku memejamkan mata, memanggil kembali ingatan tentang Blade dari duniaku sebelumnya. Pedangnya, yang ditempa dari pecahan Shuhu, bukanlah senjata yang indah. Itu adalah senjata keputusasaan.
Aku mencelupkan penaku ke dalam tinta, dan mulai menenun kutukan itu.
"Yingxing menatap pedang yang baru saja ia angkat dari tungkunya yang hancur. Tidak ada kilau keperakan. Tidak ada ketajaman yang bisa membelah angin. Pedang itu berwarna hitam kusam, dipenuhi retakan merah yang berdenyut seperti urat nadi. Ia menamainya 'Karat Hitam'."
"Logam dari Pohon Keabadian itu mengutuk bentuknya sendiri. Setiap kali Yingxing menggunakan batu asah untuk menajamkan bilahnya, logam itu beregenerasi kembali menjadi tumpul dalam hitungan detik. Ia menolak untuk melukai, namun juga menolak untuk hancur. Bobotnya tak masuk akal, setara dengan jangkar kapal raksasa, karena logam itu terus memadat dan menumbuhkan selnya sendiri."
"Bagi petualang biasa, menyentuh Karat Hitam adalah bunuh diri. Gagangnya memancarkan racun Abundance yang akan langsung menginfeksi aliran darah, mengunci sirkulasi Mind, dan membusukkan Falna dari dalam. Pedang itu tidak bisa diayunkan dengan kekuatan fisik. Ia hanya bisa ditebaskan menggunakan nyawa. Setiap kali Yingxing mengayunkan pedang tumpul itu untuk menghancurkan musuhnya, pedang itu meminum darah dan kewarasannya sendiri sebagai bayaran. Itu bukanlah senjata pahlawan; itu adalah alat penyiksaan portabel yang dibawa oleh seorang pendosa abadi."
Aku membaca ulang paragraf tersebut dengan saksama. Cukup mengerikan untuk membuat pandai besi mana pun muntah hanya dengan membayangkannya, namun cukup puitis dalam penderitaannya untuk memuaskan Sang Dewi Kecantikan.
Menjelang pagi, aku menyelesaikan bab tersebut dan bergegas menuju titik jatuh. Salinan eksklusif bersampul ungu kutinggalkan di tempat biasa dengan setangkai mawar merah tua—sebagai simbol darah Yingxing—untuk Freya. Salinan lainnya kuberikan kepada sang bartender bermata satu di The Rusty Coin.
Tiga hari berikutnya adalah hari-hari penentuan nasibku. Aku mengurung diri di rumah, hanya keluar sesekali untuk membeli persediaan makanan, sambil memasang telinga lebar-lebar di pasar.
Hasilnya persis seperti yang diantisipasi oleh Tsubaki.
Bab terbaru "The Xianzhou Alliance" menghantam komunitas pandai besi Orario seperti ember berisi air es. Harapan mereka untuk menciptakan pedang abadi yang tak bisa patah seketika hancur berkeping-keping. Begitu mereka membaca bahwa logam Abundance justru menolak ketajaman, sangat berat hingga tidak bisa dipakai, dan lebih parahnya, merusak Falna pemakainya, semua eksperimen sinting di distrik pandai besi langsung dihentikan.
Tidak ada petualang yang mau membeli pedang tumpul yang akan membusukkan status Falna mereka. Tidak ada permintaan, maka tidak ada penawaran. Krisis pandai besi berakhir sebelum Guild sempat melakukan penangkapan massal.
Malam harinya, saat aku kembali ke ruang kerjaku, aku menemukan sebuah pisau lipat kecil dengan gagang perak tergeletak di atas mejaku. Pisau itu sangat tajam dan ditempa dengan sempurna. Di bawahnya, terdapat selembar nota kecil berlogo palu Hephaestus.
"Kau menepati janjimu, Anonym. Tanganmu tetap utuh untuk sekarang. Anggap ini sebagai hadiah karena kau punya otak yang waras." - T.
Aku menghela napas lega hingga kakiku terasa lemas. Hephaestus Familia resmi melepaskanku. Jaringanku aman. Uang langgananku kembali mengalir dengan stabil. Aku merasa bisa bernapas normal kembali di Orario.
Namun, kedamaian di kota labirin ini hanyalah mitos belaka.
Aku lupa bahwa "The Xianzhou Alliance" tidak hanya bercerita tentang pandai besi atau penyihir. Di sana ada sosok Jing Yuan, sang Divine Foresight. Demi membuat kisah Kuintet Awan Tinggi masuk akal saat melawan pasukan monster Abundance yang beregenerasi, aku telah menuliskan secara detail taktik formasi militer, strategi phalanx, dan metode pengepungan berlapis yang kutiru dari buku-buku sejarah dan game strategi di kehidupanku sebelumnya.
Seminggu setelah krisis pandai besi mereda, aku pergi ke sebuah kedai teh yang tenang di dekat Menara Babel untuk menyortir catatan kasaring. Tempat ini biasanya sepi pada siang hari.
Saat aku sedang menyesap teh chamomile-ku, sebuah bayangan jatuh menutupi mejaku.
Seorang Pallum (Hobbit) berambut pirang dengan senyum ramah dan mata biru yang kelewat tajam berdiri di sana. Ia mengenakan pelindung dada ringan dengan lambang badut khas Loki Familia.
Itu adalah Finn Deimne. Sang Braver. Kapten dari salah satu Familia terkuat di Orario, sekaligus ahli taktik jenius yang memimpin ekspedisi ke lantai terdalam Dungeon.
Jantungku berhenti berdetak.
"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya sopan, meski ia sudah menarik kursi sebelum aku menjawab. "Kedai ini kebetulan penuh, dan aku melihat punggung seseorang yang kabarnya belakangan ini mendadak kaya karena sebuah... bisnis distribusi bayangan."
Aku menelan ludah, berusaha keras menjaga ekspresi wajahku tetap datar. "Aku tidak tahu apa yang Anda bicarakan, Tuan Pallum. Aku hanya seorang pedagang rempah."
Finn terkekeh pelan. Ia meletakkan sebuah buku catatan kecil di atas meja. Aku bisa melihat coretan-coretan rumit bergambar formasi tempur di halamannya yang terbuka. Itu adalah diagram formasi sayap bangau ganda yang kupakai di Bab 4 saat Jing Yuan menjebak pasukan Caterpillar.
"Tuan Pedagang Rempah," kata Finn, suaranya pelan, bersahabat, namun mengunci seluruh ruang gerakku. "Pandai besi memang mudah tertipu oleh deskripsi logam fiktif. Tapi seorang komandan lapangan tidak bisa dibohongi oleh fiksi."
Ia menatap lurus ke mataku.
"Formasi 'Awan Menggulung' yang ditulis oleh Anonym ini, yang memanfaatkan titik buta monster besar sambil membagi Mind penyihir baris belakang... itu bukanlah fiksi. Itu adalah strategi militer tingkat tinggi yang sempurna. Formasi itu baru saja kucoba terapkan pada ekspedisi kecil Loki Familia kemarin, dan kami berhasil membantai segerombolan Violas tanpa ada satu pun anggota yang terluka."
Finn mencondongkan tubuhnya ke depan, senyumnya tidak memudar, tapi tekanan udaranya terasa seberat pedang Tsubaki.
"Jadi, Anonym... di Akademi militer mana kau belajar, dan mengapa seorang jenius taktik sepertimu membuang waktunya menulis novel bajakan di Orario?"