NovelToon NovelToon
OM CEO Itu Suamiku

OM CEO Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.

Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.

Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Muncul Wanita Lain

Namanya Kiara.

Zahra tidak langsung tahu namanya dia tahu wajahnya dulu. Muncul di layar HP Rafandra yang tidak sengaja Zahra lihat waktu mereka sama-sama di dapur pagi itu.

Bukan Zahra yang ngintip. HP Rafandra ada di counter, layarnya menyala, dan Zahra kebetulan lewat di saat yang salah.

Foto profil. Nama. Pesan yang isinya tidak sempat Zahra baca karena Rafandra sudah mengambil HPnya duluan.

Tapi nama itu sempat terbaca.

"Kiara."

Zahra tidak bertanya. Bukan karena tidak mau tahu tapi karena dia tidak punya hak untuk bertanya. Atau setidaknya, dia belum yakin apakah dia punya hak itu.

Jadi dia makan sarapan seperti biasa, ngobrol singkat seperti biasa, dan waktu Rafandra berangkat dia tersenyum sopan seperti biasa.

Baru setelah pintu depan tertutup Zahra duduk di kursi dapur dan menatap kopinya yang mulai dingin.

"Siapa Kiara?"

Bisa siapa saja. Rekan kerja. Klien. Sepupu. Teman lama. Tapi ada sesuatu di cara Rafandra mengambil HP-nya tadi cepat, refleks, seperti tidak mau Zahra melihat yang membuat sesuatu di dada Zahra tidak karuan.

"Ini bukan urusan gue," Zahra mengingatkan dirinya sendiri. Tapi dadanya tidak mau mendengar.

.

.

.

Sinta, seperti biasa, tidak membantu situasi.

"CARI. Sekarang. Instagram, LinkedIn, Google, apapun."

"Sin—"

"ZAH. Ada wanita misterius di HP suami lo dan lo mau santai?"

"Kita nggak tau dia misterius. Mungkin rekan kerja."

"Rekan kerja yang fotonya bikin suami lo refleks nyembunyiin HP?"

Zahra tidak menjawab karena tidak punya jawaban yang bagus.

"Nama lengkapnya apa?" desak Sinta.

"Gue cuma lihat 'Kiara'."

"Oke, itu cukup buat mulai." Suara Sinta sudah terdengar seperti orang yang sedang mengetik. "Kiara, CEO, Jakarta—"

"Sin, stop." Zahra memijat pelipisnya. "Gue nggak mau stalk orang."

"Ini bukan stalk. Ini riset."

"Itu definisi yang sama."

Sinta berhenti mengetik tapi Zahra tidak percaya dia benar-benar berhenti.

"Zah, dengerin gue." Nada Sinta turun jadi serius.

"Lo berhak tahu siapa orang-orang di kehidupan suami lo. Bukan buat cemburu tapi buat tau posisi lo di mana."

Zahra diam.

.

.

.

Jawabannya datang tiga hari kemudian. Tanpa Zahra cari. Rafandra pulang malam itu dengan seseorang.

Zahra sedang di ruang keluarga waktu mendengar suara dua pasang langkah kaki di foyer dan suara perempuan yang tertawa pelan, suara yang terdengar seperti seseorang yang sudah sangat nyaman di tempat ini.

Zahra mematikan volume HPnya.

Mereka masuk ke ruang tamu Rafandra dan perempuan itu. Tinggi, rambut panjang digerai, setelan blazer krem yang kelihatan mahal bahkan dari jarak ini. Cantik dengan cara yang percaya diri dan tidak meminta persetujuan siapapun.

Rafandra mengatakan sesuatu pelan ke perempuan itu. Lalu mendongak dan melihat Zahra.

"Zahra." Suaranya normal datar seperti biasa. "Ini Kiara. Rekan bisnis."

Kiara menoleh ke arah Zahra. Senyumnya muncul manis, tapi matanya mengamati dengan cara yang lebih tajam dari senyumnya.

"Oh, ini istrinya?" Suaranya hangat tapi ada sesuatu di nadanya. "Kiara. Senang ketemu."

"Zahra." Senyum sopan. Tangan yang dijabat. Semua gerakan yang benar. "Sama-sama."

Kiara menoleh ke Rafandra. "Cantik. Kamu tidak bilang."

Rafandra tidak merespons kalimat itu.

"Ada dokumen yang perlu diselesaikan malam ini," katanya ke Kiara, mengalihkan. "Kita ke studio."

Kiara mengangguk, senyumnya ke Zahra sekali lagi dan ada sesuatu di senyum itu yang Zahra tidak bisa beri nama tapi langsung terasa sebelum mengikuti Rafandra ke studio.

Pintu studio tertutup. Zahra berdiri di ruang keluarga sendirian.

HPnya di tangan. Volume masih mati. Dan di dadanya ada sesuatu yang dia sangat tidak mau akui namanya.

"Ini cemburu? Nggak. Ini... waspada. Iya. Waspada." Meyakinkan dirinya.

Mereka di studio hampir dua jam. Zahra naik ke kamarnya, membuka laptop, menatap bab tiga skripsi yang sudah direvisi tapi tidak jadi dibaca. Telinganya terlalu sibuk mendengarkan tapi dari lantai dua tidak ada suara yang bisa ditangkap.

Jam sepuluh malam, suara langkah kaki di tangga. Satu pasang bukan dua. Berarti Kiara sudah pergi. Lima menit kemudian ada ketukan di pintu kamar Zahra.

"Masuk."

Rafandra membuka pintu. Berdiri di ambang dengan ekspresi yang seperti biasa tidak langsung terbaca.

"Sudah makan malam?"

"Sudah." Bohong dia hanya makan sedikit tadi.

Rafandra menatapnya sebentar. Seperti tahu. Tapi tidak mengejar.

"Kiara sudah pergi," katanya.

"Gue denger."

Hening sebentar.

"Ada yang mau kamu tanya?" kata Rafandra langsung, tanpa basa-basi, dengan cara yang membuat Zahra tidak siap.

Zahra menatapnya.

'Ada yang mau kamu tanya.' Bukan "kamu tidak perlu khawatir" atau "itu tidak ada apa-apa." Tapi langsung membuka ruang untuk pertanyaan.

"Siapa dia sebenernya?" Zahra memilih jujur.

"Rekan bisnis, itu gue percaya. Tapi ada yang lain?"

Rafandra masuk beberapa langkah, duduk di kursi baca yang ada di sudut kamar. Pertama kali dia duduk di kamar Zahra.

"Kiara adalah..." dia berhenti sebentar. "Seseorang yang pernah ada dalam rencana yang berbeda."

Zahra mengernyit. "Rencana yang berbeda?"

"Sebelum situasi berubah—" Rafandra menatap tangannya sendiri sebentar. "Ada kemungkinan bahwa Kiara yang akan ada di posisimu sekarang."

Udara di kamar itu terasa berbeda tiba-tiba.

"Tunangan?" suara Zahra lebih pelan dari yang dia rencanakan.

"Tidak resmi." Rafandra menatapnya langsung. "Tapi ada ekspektasi dari beberapa pihak. Termasuk dari Kiara sendiri."

Zahra diam. Mecoba mencerna. "Jadi Kiara tahu bahwa dia 'seharusnya' ada di posisi ini. Dan sekarang dia lihat Zahra di posisi itu."

"Senyum tadi. Tatapan tadi. Sekarang masuk akal."

"Dan Om?" tanya Zahra akhirnya. "Om punya ekspektasi yang sama?"

Rafandra menatapnya lama, dengan ekspresi yang lebih terbuka dari biasanya.

"Tidak," jawabnya. Singkat. Tapi berat.

"Kenapa?"

Rafandra berdiri dari kursi baca. Berjalan ke pintu.

"Karena ada hal yang lebih penting dari ekspektasi orang lain," katanya tanpa menoleh. "Tidur yang cukup, Zahra."

Pintu menutup.

Zahra menatap kursi baca yang baru saja ditinggalkan Rafandra masih sedikit bergeser dari posisi aslinya.

'Ada hal yang lebih penting dari ekspektasi orang lain.'' Kalimat yang tidak menjelaskan apa-apa. Sekaligus menjelaskan terlalu banyak.

Zahra meletakkan laptopnya ke samping, rebahan, menatap langit-langit. Kiara. Wanita yang "seharusnya" ada di posisi Zahra. Yang senyumnya mengamati dan matanya menghitung yang akan Zahra punya firasat kuat tidak akan menghilang begitu saja dari cerita ini.

Dan untuk pertama kali sejak semua ini dimulai Zahra tidak yakin apakah dia siap untuk itu.

.

.

.

1
Liadjamileba 08
bagussss bangettt
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼
jlianty: sabar ya, masih dalam peninjauan bab selanjutnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!