Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Hati Yang luluh.
Sejak Aurel pergi dari rumah Argas, ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Rumah yang biasanya terasa hangat kini terasa kosong. Ruang makan yang biasanya dipenuhi suara obrolan terasa sunyi, bahkan Feni beberapa kali tanpa sadar masih memanggil nama Aurel saat bekerja di dapur sebelum akhirnya terdiam sendiri.
Indah juga merasakan hal yang sama. Berkali-kali matanya mencari sosok gadis desa yang selalu ramah itu. Gadis yang selalu menyapa dengan senyum, gadis yang selalu membantu tanpa pernah mengeluh, gadis yang diam-diam sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
Malam ini setelah makan malam selesai, Bagaskara langsung masuk ke kamar. Bagaskara lebih banyak diam, lebih banyak berpikir, lebih banyak menghabiskan waktu sendirian.
Sementara Indah yang sejak tadi, memperhatikannya akhirnya memutuskan satu hal, malam ini. Indah akan berbicara dan kali ini tidak akan menyerah, karena menurutnya sudah cukup.
Sudah cukup melihat Arvano menderita, sudah cukup melihat Aurel menangis dan sudah cukup melihat suaminya keras kepala.
Di dalam kamar utama. Bagaskara duduk di sofa kecil dekat jendela. Masih mengenakan pakaian kerja. Tangannya memegang segelas kopi yang mulai dingin. Tatapannya mengarah keluar jendela, namun pikirannya jelas sedang melayang ke mana-mana.
Tok. Tok. Tok...
Suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk." Pintu terbuka.
Indah masuk sambil membawa dua cangkir teh hangat.
Bagaskara menoleh sebentar, lalu kembali memandang ke luar. Indah berjalan mendekat. Meletakkan teh di meja kecil, kemudian duduk di samping suaminya.
Awalnya tidak ada yang berbicara, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar pelan. Sampai akhirnya Indah membuka percakapan. "Mas."
"Hm?" Jawab Bagaskara yang singkat.
"Aku mau bicara." Kata Indah.
Bagaskara menghela napas pelan. "Tentang Arvano lagi?"
Indah tersenyum tipis. "Kali ini tentang Arvano dan Aurel."
Bagaskara langsung diam, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Bagaskara tidak langsung memotong, tidak langsung marah, tidak langsung menghindar, dan itu membuat Indah sedikit lega. "Aku cuma ingin Mas mendengarkan."
Bagaskara mengangguk kecil. "Bicara saja."
Indah menarik napas panjang, lalu mulai berbicara. "Mas masih ingat pertama kali Aurel datang?"
Bagaskara terdiam, tentu ingat. Saat itu Aurel datang menggantikan Freya yang sedang sakit.
Gadis desa sederhana yang pemalu, sopan, dan terlihat sangat gugup.
Saat pertama kali melihatnya, Bagaskara tidak pernah menganggap Aurel penting baginya, Aurel hanyalah pekerja sementara, tidak lebih. Namun sekarang, nama Aurel justru menjadi pusat semua masalah, dan mungkin, pusat kebahagiaan putranya.
Indah melanjutkan."Waktu pertama datang, dia selalu bekerja paling pagi. Dia membantu Feni, membersihkan rumah, mengurus semuanya. Dia bahkan jarang duduk santai."
Bagaskara masih diam.
Indah tahu suaminya mendengarkan, karena Bagaskara tidak menyela sedikit pun.
Lanjut Indah. "Aurel juga selalu memperhatikan semua orang, dia perhatian sama aku, perhatian sama Feni, perhatian sama Satrio, bahkan sama Mas juga."
Bagaskara menoleh. "Aku?"
Indah mengangguk. "Iya. Dia selalu memastikan makanan kesukaan Mas tersedia, sering bertanya ke Feni apa yang Mas suka dan tidak suka."
Bagaskara terlihat terkejut, karena memang tidak pernah tahu hal itu.
Indah kemudian melanjutkan. "Mas, Aku mau tanya sesuatu."
"Apa?" Sahut Bagaskara.
"Kalau Aurel memang hanya mengincar uang, kenapa dia rela menjaga Arvano di rumah sakit?"
Bagaskara langsung terdiam. Pertanyaan Indah mengenai tepat sasaran, karena Indah juga mengingat kejadian itu. Saat Arvano kecelakaan, saat Aurel menjaga putranya, saat Aurel hampir tidak meninggalkan rumah sakit.
Indah kembali berbicara. "Dia bisa saja mendekati Arvano saat sadar, Dia bisa saja memanfaatkan keadaan, tapi dia tidak pernah melakukannya. Dia tetap menjaga batas. Dan Dia tetap menghormati semua orang."
Bagaskara menunduk. Pikirannya mulai dipenuhi banyak kenangan, banyak kejadian yang dulu dianggap biasa. Namun kini terasa berbeda.
Indah teringat bagaimana Aurel selalu meminta izin sebelum melakukan apa pun, teringat bagaimana gadis itu selalu mengucapkan terima kasih, teringat bagaimana Aurel tidak pernah membantah meskipun sering dimarahi, dan teringat bagaimana gadis itu menangis saat diusir, bukan karena kehilangan pekerjaan. Melainkan karena takut kedua orang tuanya tahu.
Bagaskara mulai menyadari sesuatu. Aurel memang bukan gadis yang buruk, bahkan mungkin terlalu baik. Hanya saja, Bagaskara terlalu fokus pada status, terlalu fokus pada pandangan orang lain, dan terlalu fokus pada perbedaan antara anak seorang CEO dan anak seorang petani. Sampai melupakan satu hal penting, hati seseorang.
Indah menggenggam tangan suaminya. "Mas."
Bagaskara menoleh.
"Jangan lihat statusnya, ihat hatinya." Ucapan Indah membuat Bagaskara terdiam cukup lama. Indah melanjutkan. "Aurel mencintai Arvano, dan Arvano mencintai Aurel. Itu jelas, semua orang bisa melihatnya. Termasuk Mas."
Bagaskara memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. Seolah sedang melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. Beberapa menit berlalu tanpa suara, sampai akhirnya, Bagaskara membuka mata dan berkata pelan. "Kamu benar."
Indah langsung menatapnya. "Apa?"
"Aku salah." Kata Bagaskara.
Mata Indah langsung membesar, karena itu adalah kalimat yang sangat jarang keluar dari mulut Bagaskara. "Aku terlalu keras." Lanjut Bagaskara. "Aku terlalu memikirkan status, Aku terlalu memikirkan perusahaan, dan aku hampir kehilangan anakku sendiri."
Indah tersenyum haru.
Akhirnya suaminya mulai mengerti. Bagaskara berdiri, lalu berjalan menuju jendela. Menatap langit malam. Beberapa saat kemudian BAGASKARA berkata. "Aku setuju."
Indah langsung berdiri. "Waktu?"
"Aku setuju Aurel menjadi menantuku." Air mata langsung menggenang di mata Indah, bahkan tidak menyangka perubahan itu terjadi malam ini.
Bagaskara tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat. "Aku sudah memikirkan semuanya, dan aku sadar. Arvano tidak pernah mencintai siapa pun seperti ini."
Indah mengangguk, karena itu memang benar. Bahkan saat bersama Erika. Arvano tidak pernah terlihat sebahagia saat bersama Aurel.
Indah masih tersenyum ketika Bagaskara kembali duduk. "Kalau begitu kita jemput Aurel?" Tanya Indah.
Namun Bagaskara menggeleng. "Belum."
Indah mengernyit. "Kenapa?"
"Aku ingin bicara dengan Arvano dulu, sendiri." Ucap Bagaskara.
Indah terdiam, lalu mengangguk pelan.
Bagaskara melanjutkan. "Aku akan meminta maaf akan bilang kalau aku sudah menyetujui hubungan mereka dan kalau semuanya berjalan baik..." Bagaskara tersenyum kecil. ".....Kita segera melangsungkan pertunangan mereka."
Mata Indah langsung berbinar, bahkan hampir tidak percaya mendengar kata-kata itu.
Bagaskara yang dulu paling keras menolak. Kini justru yang mengusulkan pertunangan.
Indah memeluk suaminya erat. "Terima kasih."
Bagaskara hanya tersenyum tipis, namun jauh di dalam hatinya, Bagaskara tahu. Masih ada satu hal yang harus dilakukan. Bagaskara harus menemukan Arvano.
Dan yang lebih penting, Bagaskara harus menemukan Aurel, karena sampai saat ini. Tidak seorang pun di rumah keluarga Argas tahu di mana Aurel berada.
Sementara itu, Di rumah Tara. Aurel yang baru selesai berbicara dengan orang tuanya sedang duduk sendirian di dekat jendela kamar. Menatap langit malam. Tidak tahu bahwa di tempat lain. Seseorang yang dulu mengusirnya, baru saja mengambil keputusan yang akan mengubah hidupnya dan malam itu, takdir mereka perlahan mulai bergerak kembali.