NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *25

Reyno membeku. Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada suara yang keluar. Karena kalau dipikir-pikir jujur, kalau ia menelusuri kembali kejadian-kejadian belakangan ini, setiap kali Merlin dan Yara sama-sama membutuhkan dirinya di waktu yang bersamaan. Setiap kali ada pilihan yang harus diambil, ia memang selalu pergi ke Yara. Ia selalu memilih ke sana. Dan fakta itu terlalu menyakitkan untuk dibantah. Terlalu nyata untuk ditutupi.

"Aku cuma ... aku cuma gak mau dia kenapa-kenapa. Aku janji sama Lucas bakal jagain dia," ucap Reyno pelan, suaranya melemah dan kehilangan kekuatan.

"Terus aku?"

Satu pertanyaan sederhana itu keluar dari mulut Merlin, lembut namun menusuk tepat ke jantung.

"Terus aku gimana, Rey? Siapa yang jaga aku? Siapa yang mikirin aku? Siapa yang takut aku kenapa-kenapa?"

Pertanyaan itu langsung membuat Reyno kehilangan suara. Ia menunduk, tak sanggup lagi menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata.

Merlin menangis diam-diam sekarang. Tidak berteriak, tidak meronta, tidak histeris. Namun justru tangisan seperti itulah yang paling menghancurkan hati Reyno. Tangisan pasrah, tangisan kecewa, tangisan seseorang yang sudah lelah berjuang sendirian.

"Aku juga lagi hancur pelan-pelan, Rey," bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. "Aku juga lagi sakit, tapi kamu gak pernah lihat. Kamu gak pernah sadar."

Mendengar itu, Reyno langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Ia memeluk Merlin erat sekali. Rasa panik, takut, dan menyesal terkumpul jadi satu dalam hati dan pikiran Rey saat ini.

"Maaf ... maafin aku .... " Rey berucap sangat lirih dengan nada penuh akan rasa bersalah. Aku minta maaf banget, Merlin." bisiknya serak di telinga Merlin. Ia mencium puncak kepala istrinya berulang kali. "Aku bodoh, aku jahat, dan ... maafin aku ya. Maaf."

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan mereka, Merlin tidak langsung membalas pelukan itu. Tubuh wanita itu diam dan kaku bak manekin tanpa nyawa. Seolah pelukan Reyno sudah tidak lagi terasa hangat, sudah tidak lagi terasa aman, dan sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman buat dia.

"Aku takut kehilangan kamu," bisik Reyno lagi, suaranya terdengar penuh keputusasaan. "Jangan pergi ya, Mer. Jangan ninggalin aku."

Kalimat itu membuat air mata Merlin jatuh semakin deras membasahi dada kemeja suaminya. Kalau memang begitu takut kehilangan ... kenapa justru terus-menerus menyakitinya? Kenapa terus-menerus mengabaikannya? Kenapa membuatnya merasa tidak berharga? Namun pertanyaan itu hanya tersimpan jauh di dalam hati. Ia terlalu lelah untuk bertanya lagi.

Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya berisi pelukan yang penuh kepahitan itu. Akhirnya, Merlin perlahan melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan, wajahnya terlihat sangat lelah dan sembab.

"Rey ..." panggilnya pelan.

"Hm? Ada apa? Bilang aja apa pun itu, aku bakal dengerin," jawab Reyno lembut, menatapnya penuh perhatian.

Tangannya perlahan bergerak kembali mengambil selembar kertas kecil yang tadi sempat terjatuh ke sela-sela sofa. Ia menggenggamnya erat sekali sampai jari-jarinya memutih. Jantungnya kembali berdegup kencang, campuran antara rasa takut, haru, dan cemas.

Ini saatnya. Ini waktu yang tepat. Tidak ada lagi penundaan. Ia harus memberitahu Reyno sekarang, malam ini juga, di saat mereka berdua sedang berbicara dari hati ke hati seperti ini.

"Aku mau ngomong sesuatu. Hal yang penting banget," ucapnya pelan namun tegas.

Reyno mengerutkan kening sedikit, namun menatap istrinya dengan penuh perhatian dan kesungguhan. "Iya? Ngomong aja, Sayang. Ada apa?"

Merlin membuka mulutnya perlahan, hendak mengucapkan kalimat yang sudah ia siapkan berhari-hari. Namun tepat saat bibirnya bergerak. Tring! Tring! Suara nyaring ponsel Reyno kembali berbunyi dari atas meja samping sofa.

Keduanya serentak menoleh ke arah sana. Layar ponsel itu menyala terang di tengah ruangan yang redup. Dan lagi-lagi, nama yang tertulis jelas di sana adalah nama yang sama. Nama yang menjadi bayang-bayang abadi untuk kebersamaan mereka akhir-akhir ini. Siapa lagi kalau bukan, Yara.

Benar-benar hening. Bahkan suara hujan seolah terdengar jauh. Reyno langsung terlihat ragu. Sangat ragu. Matanya berpindah-pindah antara ponsel itu dan wajah istrinya yang mulai berubah pucat lagi.

Sementara itu, Merlin hanya menatap layar benda itu lama sekali. Menatap nama itu seolah menatap tembok pembatas yang kokoh di antara dirinya dan suaminya. Lalu perlahan, di tengah ketegangan itu, Merlin tertawa kecil.

Namun kali ini tawanya terdengar sangat sedih, sangat hancur, dan sangat pasrah.

"Angkat aja," ucapnya pelan.

"Merlin, bentar aja ya ... nanti abis ini kita lanjut ngomong lagi ya," Reyno mencoba bernegosiasi.

"Angkat aja," potong Merlin, suaranya kini lebih tegas dan dingin dari sebelumnya. "Tadi kan kamu bilang dia gak boleh sendirian, kan? Kamu bilang dia butuhin kamu, kan? Ya udah, angkat aja."

Dada Reyno terasa makin sesak, makin sakit, makin penuh rasa bersalah. Namun akhirnya, karena kebiasaan dan rasa khawatir yang sudah mendarah daging, ia tetap mengambil benda itu dan menerima telepon itu.

Dan di saat itulah, sesuatu yang kecil namun berharga di dalam hati Merlin akhirnya benar-benar retak malam itu. Karena bahkan di saat ia ingin membagikan kabar paling penting, paling indah, dan paling membahagiakan dalam hidup mereka. Yara tetap datang lebih dulu. Yara tetap lebih didahulukan oleh Reyno. Yara tetaplah segalanya bagi suaminya.

Merlin memeluk kertas hasil USG itu kembali ke dadanya, menyembunyikannya lagi dari pandangan. Kabar itu tertunda lagi. Rumah ini memang sudah tidak lagi hangat.

"Yara? Kenapa lagi?"

Suara Reyno terdengar lembut, penuh perhatian, dan sangat sabar. Nada bicara yang seharusnya hanya milik istrinya, tapi malam ini kembali tercurahkan untuk wanita lain. Suara itu bergaung pelan di tengah ruang tamu yang sunyi, diiringi suara hujan yang masih deras menghantam kaca jendela di luar.

Di hadapan Reyno, Merlin masih duduk diam di atas sofa. Tangannya yang dingin dan gemetar masih menggenggam erat selembar kertas kecil berisi hasil USG itu. Gambar samar yang menjadi bukti kehidupan baru, yang belum sempat ia perlihatkan, belum sempat ia ceritakan, dan belum sempat ia rayakan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, di tengah rasa sakit yang luar biasa, wanita itu merasa benar-benar kalah. Bukan kalah sebagai istri. Bukan kalah sebagai perempuan. Bukan karena ia tidak dicintai.

Tapi kalah dari rasa tanggung jawab yang terlalu besar di hati suaminya sendiri. Kalah dari rasa bersalah yang Reyno pikul atas nama persahabatan dan janji masa lalu. Kalah karena di mata suaminya, Yara adalah sosok yang rapuh, yang harus dijaga, yang tidak boleh dibiarkan terluka sedikit pun. Sementara dirinya? Merlin merasa ia dianggap sebagai wanita yang kuat, yang bisa menahan segalanya, yang bisa ditinggalkan kapan saja, dan yang akan tetap ada menunggu di rumah.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!