TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 9: Pengorbanan Sang Panglima
Nisala menarik Raka ke sebuah sudut dimensi yang tersembunyi di balik dinding. Di sana, suhu udara sedikit lebih hangat.
"Kau harus membagikan api mataharimu padaku, dan aku akan memberimu Napas Kehampaan, agar kau bisa bergerak di sini," ujar Nisala.
Tatapannya menjadi lapar. Ia telah berada di kegelapan ini selama ratusan tahun, dan energi matahari Raka adalah sesuatu yang sangat ia dambakan.
Nisala menarik kain hitamnya, membiarkannya luruh ke lantai yang dingin. Tubuhnya yang indah tampak seperti patung marmer yang sempurna di tengah kegelapan. Ia menarik kepala Raka, mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang terasa seperti es yang terbakar.
Mmmp!
Raka merasakan energi Matahari Kelimanya ditarik keluar dengan paksa, namun pada saat yang sama, sebuah energi dingin yang menenangkan mengalir masuk ke dalam paru-parunya.
Tangan Raka yang besar meraba pinggul Nisala yang dingin, kulit wanita itu terasa halus seperti sutra namun sekeras baja.
Nisala mendesah, suaranya memenuhi kehampaan yang sunyi. Ia memeluk Raka dengan erat, kaki jenjangnya melilit pinggang Raka saat mereka bersatu dalam tarian hasrat yang liar.
Setiap gerakan mereka menciptakan riak energi di dimensi itu. Raka merasakan sensasi yang sangat berbeda dengan Laksmi atau Dara, bersama Nisala, ia merasakan kekuatan kegelapan yang tenang mulai berpadu dengan api mataharinya.
Kekuatan sakti Raka yang tadinya liar kini mulai menetap. Simbol naga di dadanya bersinar kembali, namun kini warnanya berubah menjadi emas gelap yang lebih pekat."
Serangan Penjaga Bayangan
Ketenangan itu pecah saat suara geraman keras mengguncang dimensi tersebut.
GGRRRRAAAAAAA!
Dua makhluk raksasa muncul dari kegelapan. Mereka disebut Void Sentinels, makhluk tanpa wajah dengan tangan berbentuk sabit raksasa sepanjang tiga meter. Mereka adalah mata dan telinga Dewa Barata di penjara ini.
"Mereka mencium keberadaanmu, Raka!" teriak Nisala sambil mengenakan kembali kainnya.
Tangannya kini memegang sebuah busur yang terbuat dari tulang arwah.
Salah satu Sentinel melayangkan sabitnya.
Wussss!
Raka menghindar dengan gerakan yang jauh lebih ringan dari sebelumnya. Berkat penyatuan dengan Nisala, ia kini bisa "berjalan" di atas kehampaan seolah-olah itu adalah udara biasa.
Blar!
Raka memukul udara. Kali ini, api yang keluar dari tangannya bukan lagi kuning terang, melainkan api emas dengan inti hitam yang pekat. Ledakan itu menghantam dada sang Sentinel hingga lubang besar menganga.
"Matahari Keenam... Matahari Gerhana!" gumam Raka.
Ia merasakannya. Kekuatan baru yang lahir dari perpaduan cahaya matahari dan dinginnya kehampaan. Raka melesat maju, meninggalkan jejak cahaya hitam di belakangnya.
Sret! Sret!
Dengan dua tebasan tangan kosong yang dilapisi aura gerhana, Raka memotong kedua Sentinel itu menjadi empat bagian.
Makhluk-makhluk itu tidak hancur menjadi debu, melainkan terserap masuk ke dalam tubuh Raka, menambah cadangan energinya.
Nisala menatap Raka dengan ngeri sekaligus takjub.
"Kau... kau adalah makhluk pertama yang mampu menelan energi kehampaan."
Raka menatap ke arah ayahnya yang masih dirantai. Matanya kini bersinar dengan aura emas gelap yang sangat mengancam.
"Ayah, aku datang."
Namun, di saat Raka hendak melangkah maju, sebuah tawa yang sangat dikenalinya bergema dari segala penjuru. Tawa yang membuat seluruh dimensi itu bergetar hebat.
"Selamat, keponakanku. Kau telah menyelesaikan latihan yang aku siapkan untukmu."
Sesosok pria dengan jubah kekaisaran yang megah namun dipenuhi aura kematian muncul di atas kepala Sang Hyang Jagat. Ia adalah Dewa Barata. Di tangannya, ia memegang sebuah jantung yang masih berdetak." jantung dari energi inti dunia."
"Sekarang, mari kita lihat apakah kau cukup kuat untuk menyaksikan ayahmu mati di depan matamu sendiri," tantang Barata.
Raka mengepalkan tinjunya hingga darah menetes dari sela jarinya. Matahari Keenam di punggungnya berputar semakin cepat, menciptakan badai gerhana yang mulai menghancurkan fragmen-fragmen memori di sekitarnya.
Pertempuran antara Paman dan Keponakan, antara Kegelapan dan Gerhana."
"Kehampaan di Dimensi Tanpa Ruang mendadak bergetar hebat. Dewa Barata berdiri tegak di atas kepala Sang Hyang Jagat yang merintih kesakitan.
Barata tidak lagi tampak seperti manusia, kulitnya berwarna abu-abu besi dengan mata yang memancarkan api hitam pekat. Jubahnya yang terbuat dari jalinan bayangan arwah berkibar meski tak ada angin.
Duar! Duar! Duar!
Petir hitam menyambar dari tangan Barata, menghantam permukaan kaca dimensi di bawah kaki Raka.
"Kau datang untuk menyelamatkannya, Raka?" tawa Barata menggelegar, suaranya mengandung frekuensi yang bisa menghancurkan gendang telinga manusia biasa.
Tinggg... "Lihatlah ayahmu. Dia dulu adalah raja dari segala raja, kini dia hanyalah baterai bagiku untuk menguasai inti jagat!"
Raka tidak banyak bicara. Amarahnya sudah melampaui kata-kata. Ia melesat maju dengan kecepatan cahaya.
Matahari Keenam (Matahari Gerhana) di punggungnya berputar dengan liar, menciptakan pusaran energi emas gelap yang menghisap kegelapan di sekitarnya.
Blar!
Tinju Raka menghantam perisai bayangan Barata. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang melempar fragmen-fragmen memori di sekitar mereka hingga hancur menjadi debu.
Boom! Boom! Boom!
Raka melepaskan serangkaian serangan membabi buta. Setiap pukulannya mengandung kekuatan untuk menghancurkan sebuah planet, namun Barata hanya menangkisnya dengan satu tangan.
"Terlalu lemah!" teriak Barata. Ia mengibaskan tangannya, dan sebuah cakar bayangan raksasa muncul dari kegelapan, mencengkeram tubuh Raka dan membantingnya ke lantai dimensi.
Braakkk!
Raka terbatuk darah kebiruan. Ia merasakan tulang-tulangnya retak. Kekuatan Matahari Gerhana ternyata belum cukup untuk menyentuh kulit dewa yang telah memakan ribuan sukma itu.
Ritual Pengorbanan
Nisala berlari mendekati Raka yang terkapar. Ia melihat kondisi Raka yang mulai kritis. Barata sedang bersiap melepaskan "Tombak Penghancur Sukma" untuk mengakhiri nyawa keponakannya itu.
"Raka, dengarkan aku!" bisik Nisala sambil memeluk tubuh Raka yang bergetar.
"Gerhana hanyalah perpaduan sementara. Kau tidak akan bisa mengalahkannya jika kau masih memiliki batas antara dirimu dan kehampaan ini. Kau harus mencapai Matahari Ketujuh... Matahari Atma."
"Bagaimana... caranya?" tanya Raka dengan napas yang satu-satu.
Nisala menatap mata emas Raka dengan penuh kasih sayang yang mendalam.
"Kau harus menelan sukmaku sepenuhnya. Bukan hanya energi, tapi seluruh eksistensiku. Kita harus menjadi satu entitas yang tidak terpisahkan."
Nisala menarik tubuh Raka, mendudukkannya. Di tengah medan perang yang mengerikan itu, Nisala melepaskan sisa kain hitamnya. Ia memeluk Raka dengan sangat erat, membiarkan kulit mereka yang kontras bersentuhan.
Aura panas Raka dan aura dingin Nisala menciptakan uap mistis yang menyelimuti mereka, melindungi mereka sejenak dari pandangan Barata.
"Jangan ragu, Raka. Lakukan sekarang," desah Nisala. Ia mencium bibir Raka dengan penuh gairah dan kepasrahan."
Raka merespons dengan naluri terdalamnya. Tangan kekarnya merengkuh punggung halus Nisala, menariknya masuk ke dalam inti energinya.
Suara desahan Nisala perlahan berubah menjadi senandung gaib saat tubuhnya mulai berpendar perak keunguan. Raka merasakan sensasi luar biasa, seolah seluruh memori, kesedihan, dan kekuatan Nisala mengalir masuk ke dalam darahnya.
Penyatuan itu bukan lagi sekadar fisik, melainkan peleburan dua jiwa di tingkat molekuler.
Raka merasakan nikmat yang menyakitkan, sebuah kepuasan spiritual yang membuatnya berteriak ke langit kehampaan.
Nggghhh...
Perlahan, tubuh Nisala mulai memudar menjadi butiran cahaya perak yang terserap ke dalam tanda naga di dada Raka.
Ciuman terakhir mereka terasa begitu manis namun pahit oleh perpisahan. Saat Nisala benar-benar lenyap, sebuah ledakan energi murni meletus dari tubuh Raka."
Bersambung....