NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelisah

Sudah hampir petang ketika Nia tiba di kamar kosnya. Sketsa keluarga Mahendra sudah terpasang di easel kamar kosnya. Sudah pasti mamanya yang membawanya kesana. Padahal Nia sengaja meninggalkannya di kediaman Nyonya Lestari agar akhir pekan saat dia pulang, dia bisa menyelesaikannya disana seharian.

"Untung lukisan punggung Aang udah aku simpan kemarin," gumam Nia saat menatap sketsa lukisan keluarga Mahendra.

Nia meletakkan tasnya di meja belajarnya. Lalu merebahkan diri di kasur, melepas lelah sebelum nanti kembali mengerjakan tugas kuliah Sketsa Aktivitas Kehidupan tentang aktivitas malam di kota.

Nia menatap langit-langit kamar kosnya, teringat kejadian di kampus siang tadi. Dia tidak menyangka Nyonya Mahendra akan begitu ramah padanya. Nyonya Mahendra juga terlihat peduli pada Angkasa.

"Lalu... kenapa dia sedingin itu?" gumam Nia.

Nia menghela napas panjang, merasa lelah memikirkan perubahan sikap Angkasa padanya.

"Tunggu," gumam Nia sambil bangkit dari posisi rebahannya, seolah teringat sesuatu.

"Kenapa nama kontak Nyonya Mahendra di ponsel Angkasa dinamai Nyonya Besar bukan Mama?" tanya Nia, heran, baru menyadari bahwa nama yang tertera pada ponsel Angkasa saat Nyonya Mahendra melakukan panggilan video bukan nama yang lumrah.

Nia jadi memikirkan bagaimana sebenarnya hubungan Angkasa dengan orangtua asuhnya. Menurut Nia, sikap dan perlakuan Tuan dan Nyonya Mahendra saat di acara jamuan semalam cukup normal. Angkasa pun terlihat bersikap selayaknya seorang putera yang baik dan penurut.

Dering ponsel Nia menyadarkan Nia dari lamunannya. Nia segera merogoh ponsel di dalam tasnya yang penuh dengan peralatan menggambar yang belum sempat dia masukkan ke dalam pouchnya. Nia mengerutkan alisnya melihat nomor asing meneleponnya.

"Siapa?" gumam Nia tanpa menjawab panggilan telepon yang masih berdering.

Dering ponsel Nia berhenti digantikan sebuah chat masuk di aplikasi obrolannya.

Angkat. Mama mau ngomong.

"Eh? Aang?"

Ponsel Nia kembali berbunyi. Nia segera menjawab panggilan teleponnya.

"Halo?"

"Aku kira kamu kasih nomor palsu,"

Bahkan di telepon, suara Angkasa terdengar dingin dan datar.

"Mana mungkin? Nyonya yang minta," kata Nia.

"Jadi, kalo bukan Mama yang minta, kamu kasih nomor palsu?"

"Eh?"

Hening.

"Kamu bilang... Nyonya mau ngomong," kata Nia memecah keheningan yang tak nyaman.

Tak ada jawaban.

Kembali hening.

"Mama nggak di rumah," jawab Angkasa setelah diam cukup lama.

"Eh?"

"Cuma ngecek nomor aja. Sorry," kata Angkasa. Nia tersenyum lalu melirik kanvas berisi coretan sketsanya.

"Kamu di rumah sendirian?" tanya Nia.

"Hm,"

"Sepi mesti,"

"Udah biasa,"

Hening.

Angkasa bahkan tak tahu mengapa dia menelepon Nia. Sejak pulang dari tes seleksi penerimaan mahasiswa baru, Angkasa terus saja menatap kontak nama Nia di layar ponselnya.

"Duh! Maaf, Ang. Aku harus ke kampus lagi. Ada tugas. Maaf ya,"

Suara Nia terlihat tergesa-gesa.

"Hm,"

Angkasa menutup sambungan teleponnya dengan dingin.

"Kampus? Tugas?" gumam Angkasa. Angkasa melirik jam dinding kamarnya. 18.17.

Angkasa segera menyambar kunci motor sportnya lalu bergegas keluar rumah.

"Kalo mama nanya, bilang, ketemu Nia," pesan Angkasa pada Pak Ujang sebelum melajukan motornya. Pak Ujang mengangguk ramah.

Motor sport Angkasa melaju cepat menyibak jalanan yang masih padat sisa rush hour. Pikiran Angkasa melayang pada Nia yang tengah berada di kampus malam hari bersama Bumi. Meskipun Angkasa tahu, Nia tidak sepenuhnya berdua saja. Namun, gelisah yang Angkasa rasakan sejak siang tadi masih belum juga menghilang.

'Bukankah aku nggak mau dia berada di dekat ku? Kenapa aku begitu gelisah hanya dengan memikirkannya saja?'

***

Nia sudah duduk di area gerbang utama kampusnya dengan sketch book dan pensil HBnya. Dia mengamati jalan di depan kampus yang sibuk. Beberapa container-container street food menghiasi area gerbang utama kampus. Tak sedikit mahasiswa penghuni kos yang sedang sibuk membeli jajanan disana.

Setelah cukup lama mengamati, Nia mengikat rambutnya sembarang dan siap membuat tugas mata kuliah Sketsa Aktivitas Kehidupan.

Nia membuka sketch book yang sudah hampir habis. Di bawah temaram lampu gerbang utama kampus, Nia menggoreskan pensil HBnya dengan lincah di atas sketch book di pangkuannya. Sesekali mata Nia menatap jalanan, lalu kembali fokus pada buku sketsanya. Lalu, melemparkan pandangan pada kedai street food yang berjajar rapi di tepi jalan, dekat gerbang utama kampus, kemudian kembali fokus mengguratkan pensilnya pada buku sketsanya. Begitu khusyuk.

Sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit. Hampir satu jam berlalu. Nia masih menggoreskan pensil HBnya di atas buku sketsanya. Begitu fokus, hingga tak menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya dari balik kaca helm.

Angkasa sudah berada dekat sekali dengan Nia yang sedang fokus menggambar di buku sketsanya sejak empat puluh menit yang lalu. Angkasa hampir saja melaju menuju Fakultas Seni saat matanya menatap sosok Nia yang bertengger di dekat gerbang utama kampus.

Angkasa memutuskan untuk menghentikan motornya tak jauh dari tempat Nia duduk, mengamati bagaimana wajah Nia saat sedang menggambar. Seperti semalam, saat Nia membuat sketsa lukisan keluarganya, mata Angkasa tak bisa lepas dari wajah Nia yang... indah.

Satu setengah jam berlalu begitu saja. Nia terlihat meregangkan tubuhnya sesaat, menyeruput minuman yang terlihat seperti kopi susu, lalu kembali melanjutkan membuat sketsa.

"Dia benar-benar tenggelam dalam dunianya selama ada pensil dan kertas," gumam Angkasa dari balik helmnya.

Hampir dua jam berlalu. Nia masih sibuk menggoreskan pensilnya di sisi atas dan bawah buku sketsanya. Matanya masih fokus pada titik-titik tertentu.

"Kenapa nggak kamu foto trus kerjain di rumah aja?" tanya sebuah suara yang membuat fokus Nia seketika menguap. Nia menoleh, memastikan dia tidak sedang berhalusinasi mendengar suara Angkasa.

"Aang? Ngapain disini?" tanya Nia heran. Angkasa hanya diam tak menjawab. Dia menatap lurus ke arah buku sketsa di pangkuan Nia. Nia menatap Angkasa dengan penuh tanda tanya.

"Bentar ya. Dikit lagi selesai," kata Nia, lalu kembali fokus pada titik horizon paling jauh dari matanya. Angkasa duduk tak jauh dari Nia.

Setelah sepuluh menit, Nia menutup buku sketsanya, meregangkan tubuh lalu melepas ikat rambutnya. Rambut Nia yang panjang dan sedikit bergelombang, melorot turun perlahan.

"Akhirnya selesai," kata Nia penuh kelegaan.

Angkasa beranjak lalu berjalan menuju motor yang terparkir tak jauh dari mereka duduk.

"Mau kemana, Ang?" tanya Nia bingung. Angkasa berhenti, lalu menoleh.

"Aku anter pulang," kata Angkasa sambil kembali berjalan menuju motornya.

"Eh? Nggak usah. Kos ku cuma deket situ. Kamu lupa?" kata Nia. Angkasa mengerutkan alis.

"Kos?" tanya Angkasa sambil mengerutkan alis. Nia mengangguk.

"Awal kita ketemu lagi kan di samping kampus situ. Waktu aku mau nyebrang, mau balik ke kos. Kos aku cuma sekitaran depan kampus situ. Deket. Nggak perlu kamu..."

"Aku anter," kata Angkasa memotong kalimat Nia sambil berjalan menuju motor. Nia menatap punggung Angkasa dengan tatapan heran dan bingung menjadi satu.

'Waktu di Mbok Jum, dia dingin. Di perjamuan juga. Kenapa sekarang tiba-tiba muncul dan mau anter ke kos?'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!