Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
"Apa yang kamu lakukan?" seruan dari Rayandra membuat Elvara kaget.
Elvara menelan ludah kasar, saat melihat bagaimana wajah Rayandra di penuhi rasa curiga, matanya memicing penuh selidik padanya.
"Apa?" tanyanya dia butuh jawaban pasti.
"Aku tidak melakukan apapun, Ray," jawab Elvara takut-takut.
"Bohong! Jelas desain ini berubah dalam mataku," desaknya dengan menunjuk gambar di tangannya.
"Ray, ak-aku han-hanya," suara Elvara terbata, dia tercekat dengan wajah takut.
"Hey, kau jangan mendesak dan memarahi Kakak ku ya!" bentak Ayasha, dia tidak suka orang membentak Kakanya yang baik ini.
"Diam saja! Sejak kapan kamu mau repot-repot membela Elvara? Dan sejak kapan kalian dekat? Mencurigakan sekali!" tuduh Ardhanaya dengan mata menatap penuh curiga.
"Kenapa? Dia kan Kakak ku lalu apa masalahnya?" jawabnya masuk akal, dia tak mau di intimidasi oleh sng suami.
Ardhanaya hanya mendengus sinis, dia tidak membenci Ayasha hanya saja kelakuan gadis itu kadang membuat dia naik darah.
"Non, ini ada kiriman paket," hingga suara pelayan membuat atensi mereka semua menoleh.
"Gawat, makanan kita!" bisik Ayasha saat melihat makanan cepet saji yang mereka pesan sudah datang di waktu yang tidak tepat.
Elvara menarik napas pelan, dia senang karena ia pikir pelayan itu menyelamatkan dia dari desakan Rayandra. Namun, dirinya salah sebab ternyata pelayan itu membawa sesuatu yang sama saja membuat keduanya dalam bahaya.
"Makanan milik siapa itu?" tanya Ardhanaya.
"Yang memesan kedua Nyonya!" ucap pelayan itu.
Rayandra dan Ardhanaya langsung menoleh menatap pada istri masing-masing dan seolah menuntut jawaban.
"Itu, bukan milik kami!" elak Ayasha.
"Kalau bukan? Apa di rumah ini akan memesan makanan itu?" Ardhanaya menatap penuh kecurigaan.
"Mungkin itu milik pelayan di sini," jelas Ayasha.
"Jelas in-"
"Aduh sudah, ini punya kami!" Elvara langsung menarik Ayasha untuk pergi dari sana dengan menyambar cepat makanan itu dari tangan pelayan.
"Hey, kami belum selesai bicara!" seru Ardhanaya.
"Sudah, biarkan mereka!"
Ardhanaya mendengus sinis. Dia menatap pada laci dan malah melupakan berkas itu.
"Lupa, berkasnya!" seruan Ardhanaya membuat Rayandra kaget.
Rayandra segera berlalu, dia melangkah mendekat dan membuka laci, dia akan benar-benar menghukum seluruh keluarga Gunawan jika Elvara berani menyentuh berkas itu.
KRIET!
DEGH!
Rayandra terkejut dan wajah itu membuat Ardhanaya kebingungan sebab melihat sang Kakak terdiam melihat kedalam laci.
"Apa hilang?" tanya Ardhanaya penasaran.
Tidak ada jawaban dan Ardhanaya yang penasaran mendekat, dia mendelik saat melihat kearah laci meja.
"Ini?" Mata itu mendelik dengan wajah tak percaya,"Tidak mungkin kan?" tanyanya penuh kebingungan.
Keduanya tak percaya saat berkas itu ada di sana, pada posisi yang sama dan di sudut yang sama pula, Rayandra dan Ardhanaya sengaja meletakkan berkas itu di sana agar keduanya bisa mencuri dengan mudah dan akhirnya mereka bisa menghukum kedua wanita itu karena berani mencari masalah dengan mahatara.
Tapi apa yang mereka lihat ini tidak sesuai rencana, berkas masih ada dan utuh pada tempat yang sama.
'Apa yang keduanya rencanakan sekarang?' pikir keduanya.
...****************...
Di lantai satu, Elvara dan Ayasha duduk berhadapan di meja makan, menyantap hidangan yang sudah lama mereka rindukan.
Ayam goreng crispy berbalur renyah dan cumi goreng tepung yang gurih, diselingi sambal pedas menggigit, membuat lidah mereka menari dalam kenikmatan.
Segelas lemon tea dingin menyegarkan tenggorokan, menambah kenikmatan malam itu.
"Hmmmm... Enak banget! Rasanya sudah lama aku tak merasakan ini," Elvara berseru, kepalanya bergoyang-goyang penuh puas, matanya berbinar penuh kebahagiaan.
Ayasha ikut tersenyum lebar, "Iya, Kak. Ternyata di sini rasanya jauh lebih mantap, ya." Ia mencomot sepotong cumi lalu mengunyah dengan penuh nikmat, kepala ikut bergoyang-goyang kecil seakan menari mengikuti rasa.
Namun, tanpa mereka sadari, di lantai dua, dua pasang mata tajam mengawasi mereka dengan penuh pertanyaan dan kejanggalan.
Ada keheningan berat yang sulit diartikan, menebal di antara empat pasang bola mata yang menatap penuh curiga.
'Sejak kapan kamu tahu tentang desain?' bisik Rayandra, suaranya bergetar dalam hati, penuh rasa penasaran sekaligus curiga.
Sementara di sisi lain, Ardhanaya menahan napas, pikirannya bergolak, 'Sejak kapan kalian bisa sedekat ini?' Sebuah tanya yang menggantung, menambah berat suasana yang mulai menyelimuti malam itu.
Setelah itu keduanya kembali ke kamar masing-masing dengan banyak pertanyaan di benak mereka tentang istri mereka.
...****************...
Keesokan paginya
Suasana jauh lebih tenang daripada pagi sebelum-sebelumnya yang penuh dengan teriakan keributan akan pertengkaran.
Di kamar milik Rayandra dan Elvara masih terlihat tenang, meski di landa kecanggungan.
"Selamat pagi," sapa Elvara dengan senyum kikuk yang berusaha disembunyikan di balik wajahnya.
Semalam, sebenarnya dia ingin menghindar dan beristirahat di kamar tamu bersama adiknya Ayasha. Tapi suami mereka, dengan tegas memaksa mereka kembali untuk tidur di kamar mereka masing-masing.
Dulu saat pemilik asli Elvara dan Ayasha masih ada, meski mereka membenci pernikahan tersebut, mereka tetap tidur di kamar yang sama.
Kembali ke pasangan yang masih canggung itu, Rayandra menatap Elvara dengan mata penuh tanda tanya, rasa aneh menyelimuti kesunyian pagi itu.
Ini pertama kalinya Elvara menyapanya di pagi hari, tapi jawabannya hanya dingin dan datar, "Pagi."
Tanpa kata lain, Rayandra bangkit dari kasur, langkahnya dengan tegas menapaki lantai, lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Elvara hanya duduk terpaku di atas kasur, tangannya menggaruk-garuk pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal karena canggung, ia bingung harus bagaimana bersikap antara kehangatan yang tak pernah ada dan dinginnya kenyataan.
Hatinya berbisik lirih, menyambut pagi yang mungkin takkan pernah cerah bagi dirinya dan adiknya.
...****************...
Sedangkan di kamar sebelah, suasana pagi itu berbeda dengan kedamaian, pasangan itu malah justru saling tatap tajam dan menggerutu.
Ayasha menatap tajam Ardhanaya, bibirnya mengerucut menahan amarah yang membara. "Dasar suami nggak peka! Bangun tidur itu ngucapin selamat pagi kek atau kasih morning kiss, ini malah natap aku tajam" gerutu Ayasha dengan suara bergetar mengirimkan gelombang dingin ke udara pagi itu.
Ardhanaya menoleh, matanya menyipit penuh dingin. "Mimpi" sahutnya dingin, napasnya berat seperti menahan badai yang tak terlihat.
Kedua mata itu beradu, panasnya perseteruan menggantung di udara, seolah kamar itu jadi medan perang tanpa pedang tapi penuh dendam yang siap meledak kapan saja.
Pagi yang seharusnya membawa hangat justru terperangkap dalam sunyi yang mengancam meledak kapan pun.