NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bandung lautan api

Sidik bertugas di barisan belakang untuk memastikan evakuasi warga berjalan lancar dan melakukan sabotase terakhir. Ia memimpin penghancuran objek-objek vital agar tidak ada satu pun fasilitas yang bisa digunakan oleh Sekutu dan NICA saat mereka masuk nanti.

"Bapak melihat rakyat membakar rumah mereka sendiri dengan air mata, Ahmad," kenang Mbah Sidik dengan suara parau. "Mereka lebih rela kehilangan harta benda daripada melihat bendera Belanda berkibar lagi di atas atap mereka. Itulah pengorbanan tanpa pamrih yang sebenarnya."

Malam itu, Bandung tidak jatuh ke tangan musuh sebagai kota pemenang, melainkan sebagai reruntuhan yang perkasa. Sekutu hanya mendapati puing-puing dan asap, sebuah tamparan keras bagi keangkuhan militer mereka.

Di Jepara Kutinggalkan jabang bayi

Demi memenuhi janji yang tertanam di dalam hati

Bandung memanggil di tengah malam yang sunyi

Saat ultimatum musuh terasa begitu menyakiti.

Obor dinyalakan, api mulai menari di udara,

Membakar segala kenangan di balik jendela.

Lebih baik jadi abu daripada jadi jajahan,

Begitulah prinsip yang kami pegang dalam perjuangan.

Ahmad, lihatlah betapa mahalnya arti kedaulatan

Dibayar dengan rumah yang hancur dalam pembakaran.

Kita mundur bukan karena kita kalah nyali,

Tapi agar musuh tahu, tanah ini tak bisa mereka miliki.

*

Mbah Sidik menarik napas dalam, seolah aroma asap dari tahun 1946 itu masih tersisa di ingatannya. "Peristiwa itu membuktikan pada dunia, Ahmad, bahwa orang Indonesia tidak bisa diatur dengan gertakan. Bandung lebih pilih membumihanguskan tempat tinggal mereka sendiri daripada melihat orang asing duduk di kursi tuan rumah."

"Lalu, ke mana Bapak setelah Bandung terbakar habis?" tanya Ahmad dengan mata berbinar.

"Bapak kembali ke jalur gerilya, Ahmad. Menunggu di balik bukit, menunggu saat yang tepat untuk membalas mereka dari tengah kegelapan," jawab Mbah Sidik sambil mengelus lencana veteran di dadanya.

Mbah Sidik menunduk, tangannya yang sudah keriput gemetar saat menyentuh cangkir tehnya. Bayangan malam itu—malam di mana langit Bandung seolah tumpah ke bumi dalam bentuk api—tergambar sangat jelas di pelupuk matanya.

"Kau tahu, Ahmad," suaranya serak namun dalam, "membakar rumah sendiri itu lebih sakit daripada tertembak peluru musuh. Setiap rumah yang ku bakar bersama anak buahku malam itu punya cerita. Ada rumah tempat seorang ibu melahirkan, ada rumah tempat anak kecil belajar mengaji, ada rumah tempat tawa keluarga berkumpul. Namun, malam itu, semua harus menjadi tumbal."

**

"Kami tidak membakar dengan kebencian, Ahmad. Kami membakar dengan air mata. Saat obor pertama dilemparkan ke gudang mesiu, suara ledakannya seolah menjadi salam perpisahan kota itu.

Kami berjalan keluar Bandung Selatan dengan kaki yang terperosok di tanah becek, sementara di belakang kami, Bandung berubah menjadi lautan api yang murka."

Sidik teringat saat ia dan anak buahnya harus membakar sebuah gedung pabrik tua. Mereka sempat ragu, namun melihat tekad rakyat yang menggotong sendiri kasur dan lemari keluar rumah untuk dibakar, keraguan itu musnah. "Rakyat Bandung tidak menangis karena kehilangan harta, mereka menangis karena mereka tahu, api inilah satu-satunya cara untuk membunuh penjajahan di tanah ini."

***

"Perjalanan menuju Garut adalah perjalanan tanpa ujung. Ribuan manusia berjalan beriringan, menyerupai semut yang keluar dari sarang yang terbakar.

Anak-anak kecil menangis, orang tua dipapah, sementara kami—para tentara—berjaga di sisi kiri dan kanan jalan, memastikan tidak ada tentara NICA yang berani mendekat."

Sidik menceritakan bagaimana ia harus menggendong seorang nenek yang kakinya bengkak selama tiga kilometer hanya agar wanita tua itu tidak tertinggal dan tertangkap musuh.

Di sepanjang jalan, lagu-lagu perjuangan terus dikumandangkan. Suara mereka parau, namun lantang, memecah kesunyian malam yang seharusnya kelam. Mereka menyanyi untuk menutupi suara ledakan gedung-gedung yang runtuh.

****

"Bandung Lautan Api bukan tentang kehancuran kota, Ahmad. Itu adalah pernyataan tegas bahwa bangsa ini tidak bisa dikendalikan oleh ultimatum siapapun. Kami memilih untuk tidak punya apa-apa, daripada memiliki segalanya namun harus sujud di bawah kaki Belanda."

Sidik menatap Ahmad lekat-lekat. "Malam itu, di bawah langit yang memerah, aku bersumpah dalam hati: jika kelak aku punya anak atau cucu, aku tidak akan membiarkan mereka hidup sebagai pengemis di tanah sendiri. Itulah sebabnya, sampai hari ini, Bapak masih berdiri tegak meski luka-luka itu terkadang masih terasa ngilu saat cuaca dingin."

Langit malam dipinjam warna neraka,

Saat Bandung terbakar demi harga diri merdeka.

Kami bukan pemusnah yang mencintai kehancuran,

Kami adalah penjaga yang sedang melakukan pembersihan.

Api menyambar pabrik, gudang, dan papan,

Menghapus jejak musuh agar tak lagi punya harapan.

Di antara asap hitam dan serpihan bara,

Kami berjanji: tanah ini milik kita, bukan milik mereka.

Ahmad, ribuan kaki melangkah menuju Garut yang jauh,

Meninggalkan Bandung yang kini menjadi abu yang luluh.

Biarlah sejarah mencatat, kami pernah membakar rumah sendiri,

Hanya agar anak cucu kami bisa tidur dengan tenang di sini.

***

"Setelah itu, Ahmad," Mbah Sidik menghela napas panjang, "Bapak kembali ke Jepara. Bapak melihat kambing-kambing putih Bapak yang sedang merumput dengan tenang di belakang rumah. Saat itu, Bapak tersadar: inilah alasan kenapa kita berperang. Kita berperang agar yang kecil bisa tetap hidup, agar yang lemah bisa tetap berlindung, dan agar kedamaian itu tetap ada."

Ahmad terdiam, merasakan beratnya beban yang dipikul Bapaknya. "Apakah Bapak tidak menyesal, Pak? Kehilangan rumah, kehilangan waktu bersama Ibu Maryam, dan harus melihat kehancuran kota?"

"Menyesal itu untuk orang yang berjuang demi keserakahan," jawab Mbah Sidik dengan senyum yang menenangkan. "Bagi seorang prajurit, setiap keping kenangan yang terbakar adalah investasi bagi kemerdekaanmu hari ini."

***

Mbah Sidik terdiam lama setelah menyebut nama itu. Ia meletakkan cangkir tehnya, lalu perlahan berdiri dan menatap ke arah cakrawala, seolah ingatannya sedang terbang rendah melintasi Dayeuhkolot.

"Mohammad Toha," bisik Mbah Sidik dengan nada penuh takzim. "Bapak melihatnya sendiri, Ahmad. Dia bukan sekadar pemuda, dia adalah nyawa dari perlawanan kami malam itu."

"Malam itu, suasana di pos koordinasi sangat mencekam. Kabar tentang gudang amunisi besar milik Sekutu di Dayeuhkolot menjadi momok bagi kami. Jika gudang itu tetap utuh, mereka akan menggunakannya untuk membantai rakyat yang sedang mengungsi. Seseorang harus menghentikannya, dan Toha melangkah maju tanpa ragu."

Sidik mengenang pertemuan singkatnya dengan Toha sebelum aksi itu dilakukan. Toha tampak tenang, tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya ada binar tekad yang murni. Bersama Ramdan, ia membawa peledak menuju jantung pertahanan musuh.

"Ledakan itu, Ahmad... Bapak belum pernah mendengar suara sekeras itu seumur hidup. Tanah Bandung seperti berguncang hebat. Cahaya apinya membubung tinggi, menembus awan hitam. Di detik itulah, Bapak tahu bahwa Toha dan Ramdan sudah kembali ke pangkuan Gusti Allah. Mereka tidak hanya menghancurkan amunisi musuh, mereka menghancurkan kesombongan Sekutu."

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!