NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Cinta Yang Tak Ku Pahami

Danendra mengeluarkan saputangan bersih dari sakunya, lalu membasahinya sedikit dengan air mineral yang ia bawa. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah aku adalah barang pecah belah yang paling berharga, ia menyeka sudut mataku.

"Tahan sebentar, Zal. Jangan ditutup matanya," bisiknya. Napasnya yang hangat menerpa wajahku, membuat detak jantungku kembali berpacu liar mengalahkan bising suara alat berat di sekitar kami.

Begitu rasa perih itu mereda dan aku bisa membuka mata sepenuhnya, hal pertama yang kutangkap adalah binar kelegaan yang luar biasa di matanya. Namun, sedetik kemudian, aku tersadar. Posisi kami terlalu intim. Tangan Danendra masih bertengger di daguku, dan matanya menatapku dengan cara yang seolah-olah ingin menembus masuk ke dalam jiwaku.

Kesadaranku kembali menghantam. Aku segera menepis tangannya pelan dan bergeser menjauh, menciptakan jarak aman yang selama ini kupertahankan mati-matian.

"Terima kasih, Pak. Saya sudah lebih baik," ucapku, kembali ke mode formal. Suaraku terdengar serak dan asing di telingaku sendiri.

Danendra mematung. Tangannya yang baru saja kusemprot masih menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia kepalkan dan turunkan ke samping tubuhnya. Kekecewaan itu kembali muncul di wajahnya, lebih nyata dari sebelumnya.

"Sama-sama, Azzalia," sahutnya dingin. Ia berdiri tegak, merapikan kemejanya yang sedikit kotor terkena debu, dan kembali memasang topeng eksekutifnya yang tak tersentuh. "Ambil buku catatanmu. Kita selesaikan tinjauan ini dalam sepuluh menit. Saya tidak mau membuang waktu lebih lama karena 'insiden' kecil."

Aku menelan ludah. Perubahan sikapnya yang mendadak dingin justru terasa lebih menyakitkan daripada debu yang masuk ke mataku tadi. Aku memungut buku catatanku yang kotor di tanah, membersihkannya dengan telapak tangan, dan berdiri mengikuti langkah lebarnya menuju area proyek lainnya.

Sepanjang sisa waktu di lapangan, aku kembali menjadi robot. Aku mencatat setiap instruksinya tanpa membantah, tanpa menoleh, dan tanpa perasaan. Aku memaksa diriku untuk percaya bahwa panggilan "Nen" yang terucap dari bibirku tadi hanyalah efek samping dari rasa sakit fisik, bukan karena hatiku yang diam-diam merindukan panggilannya.

Aku harus tetap di sini di balik zirah ini. Karena Danendra pantas mendapatkan wanita yang masa depannya secerah matahari siang ini, bukan seseorang yang membawa badai di dalam kepalanya sepertiku.

"Tinjauan selesai. Kamu boleh kembali ke kantor dengan vendor, saya ada urusan lain," ucap Danendra datar saat kami sampai di depan mobil proyek. Ia tidak menatapku sama sekali, langsung masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu dengan dentuman yang cukup keras.

Aku berdiri mematung di pinggir jalanan berdebu, menatap mobil hitamnya yang melaju pergi meninggalkan kepulan asap. Rasanya sesak. Aku berhasil mendorongnya pergi lagi, tapi kenapa rasanya kali ini akulah yang tertinggal dalam kehancuran?

Kepulan asap dari knalpot mobil Danendra perlahan menipis, menyisakan keheningan yang menyesakkan di tengah bisingnya alat berat. Aku masih berdiri mematung. Ingatanku terseret paksa ke sore itu—sore enam tahun lalu yang menjadi titik balik kehancuran segalanya.

Saran Valerie masih terngiang jelas saat itu, “Buka pintu hati lo dikit aja buat Danendra, Zal. Kadang cinta itu perlu dipancing lewat kebiasaan.”

Aku pun mencoba. Aku berangkat ke sekolahnya tanpa memberi tahu, menggenggam keberanian yang selama ini kusimpan di balik wajah dinginku. Aku ingin bilang kalau aku bersedia memberikan kami kesempatan. Aku ingin mencoba menjadi pacar yang "normal" untuknya.

Namun, yang kutemukan justru pemandangan yang menghancurkan harapanku.

Di depan gerbang sekolahnya, aku melihat Danendra berjalan dengan seorang perempuan. Mereka tertawa, terlihat begitu ringan dan hangat—sebuah kehangatan yang tidak pernah bisa ia dapatkan dariku. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan, merasa seperti orang asing yang mencoba masuk ke sebuah pesta yang tidak mengundangku.

"Mungkin dia sudah lelah," batinku saat itu. "Lelah menghadapi gadis dingin yang bahkan tidak paham cara membalas genggaman tangannya."

Aku sadar, selama ini aku menerima cintanya hanya karena kata orang "cinta bisa datang karena terbiasa". Tapi nyatanya? Perasaan itu tetap menjadi teka-teki bagiku. Aku tidak paham rasanya berdebar, aku tidak paham rasanya menginginkan seseorang. Dan melihatnya bersama perempuan lain membuatku yakin bahwa Danendra memang pantas mendapatkan seseorang yang "hidup", bukan seseorang yang "mati" seperti aku.

Dan seolah semesta belum puas menghancurkanku, di hari yang sama, dunia benar-benar runtuh.

Ayah ditangkap. Berita penahanannya menjadi berita utama yang mencoreng nama baik keluarga kami. Antara rasa sakit melihat Danendra dengan wanita lain dan rasa malu atas kehancuran keluarga, aku mengambil keputusan paling pengecut namun paling aman: menghilang.

Aku menarik diri seutuhnya. Aku menghapus diriku dari dunianya agar dia tidak perlu ikut terseret ke dalam hidupku yang sudah berantakan. Aku ingin dia membenciku sebagai orang yang pergi tanpa alasan, daripada dia harus kasihan melihatku sebagai anak seorang narapidana.

Kini, berdiri di bawah matahari proyek yang menyengat, rasa perih di mataku kembali muncul. Bukan lagi karena debu material, tapi karena kenyataan pahit yang kini berdiri tepat di hadapanku.

Aku berhasil mendorongnya pergi lagi hari ini. Aku berhasil membuatnya kembali membenciku dengan topeng profesionalku. Tapi kenapa dadaku terasa sangat sesak? Kenapa rasanya aku sedang menghukum diriku sendiri dengan kerinduan yang seharusnya sudah mati enam tahun lalu?

Aku menghela napas panjang, menatap jalanan kosong yang tadi dilewati mobilnya. "Kamu memang sudah benar-benar menemukan duniamu yang cerah, Nen. Dan aku tetap di sini, membusuk bersama zirah besiku sendiri," gumamku lirih, nyaris tak terdengar di antara deru angin lapangan.

Langkahku memasuki lobi kantor terasa sangat berat, sepatu kerjaku meninggalkan jejak debu proyek di atas lantai marmer yang mengkilap. Aku tidak memedulikan tatapan beberapa rekan kerja yang heran melihat penampilanku yang sedikit berantakan. Fokusku hanya satu: meja kubikel, laporan, dan pulang.

Aku duduk dan langsung menyalakan komputer. Jemariku bergerak lincah di atas keyboard, menyusun ulang data volume material dan catatan teknis dari lapangan tadi. Aku bekerja dengan kecepatan penuh, seolah-olah jika aku berhenti sedetik saja, bayangan Danendra yang mengobati mataku tadi akan kembali menyerang pertahananku.

Tatapan mataku kembali datar, kosong, dan dingin—zirah besi yang sempat retak di lapangan tadi kini aku tambal kembali dengan paksa.

"Zal, lo nggak apa-apa?" suara Danesha memecah keheningan di kubikelku.

Aku tidak menoleh. "Nggak apa-apa, Nesh. Cuma mau nyelesein laporan biar bisa pulang cepat."

Nesha memutar kursi rodanya, mendekat ke arahku. Ia menopang dagu, memperhatikanku dengan dahi berkerut. "Muka lo pucat banget. Terus itu... mata lo merah sebelah. Tadi di lapangan ada kejadian apa? Pak Danendra mana? Kok lo balik bareng vendor?"

"Nggak ada kejadian apa-apa. Pak Danendra ada urusan lain," jawabku singkat, suaranya sedatar mesin yang sedang kuketik.

"Zal, gue temen lo dari awal magang," suara Nesha melunak, penuh selidik. "Gue tahu gimana muka lo kalau lagi bohong. Lo kayak orang yang habis ngelihat hantu atau... habis ketemu masa lalu yang belum kelar. Ini ada hubungannya sama cowok di taman kemarin, kan? Pak Danendra itu orangnya?"

Gerakan jemariku terhenti. Kursor di layar berkedip-kedip, seolah menertawakan kebisuanku. Aku menarik napas panjang, mencoba menguasai diri sebelum menoleh ke arah Nesha dengan senyum tipis yang dipaksakan.

"Jangan bahas itu sekarang ya, Nesh? Gue cuma capek."

Nesha menghela napas, ia tahu kapan harus berhenti menekan, tapi matanya masih memancarkan rasa khawatir yang besar. "Oke, gue nggak nanya lagi. Tapi kalau lo butuh tempat buat tumpah, lo tahu di mana gue."

Aku hanya mengangguk pelan dan kembali pada laporanku. Namun, saat aku hendak melanjutkan ketikan, sebuah memo internal muncul di layar komputerku.

From: Danendra Aditama

Subject: Laporan Lapangan

"Setelah selesai, antarkan laporannya ke ruangan saya. Jangan pulang sebelum saya tinjau. Saya sudah kembali ke kantor."

Tanganku mengepal di bawah meja. Dia benar-benar tidak memberiku ruang untuk bernapas. Dia tahu aku sudah kembali, dan dia sengaja menungguku untuk kembali masuk ke dalam "kandangnya".

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!