Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balada Sawah Virtual
"Dimas! Celana ini kebesaran! Sepatu sandal yang mana yang cocok dengan blouse motif bunga ini? Astaga, aku benci bunga!" Ekantika berbisik cepat, suaranya melengking tertahan. Tubuhnya gemetar di balik meja rapat megah yang kini tampak seperti meja setrika raksasa. Di atas meja, ia mengenakan blus longgar bermotif bunga ala liburan, rambutnya diikat longgar, senyum palsu tersungging di bibir. Di bawah meja, celana bahan warna abu-abu gelapnya yang kebesaran itu melorot, tersangkut di lututnya yang gemetar.
"Bu, tenang!" Dimas, yang bersimpuh di lantai di belakang meja, hanya bisa menahan tawa geli. Tangannya sibuk menyinkronkan webcam kedua yang diposisikan rendah, memastikan hanya bagian atas tubuh Ekantika yang terlihat di layar Zoom. "Itu blouse yang paling murah dan 'santai' yang bisa saya temukan di toko online dalam dua jam, Bu. Fokus pada rapat!"
Layar laptop di depannya menampilkan wajah-wajah serius dewan direksi. Pak Doni, dengan raut wajahnya yang selalu curiga, terpampang di tengah layar utama. Ekantika bisa merasakan tatapan pria itu, menusuk langsung ke balik layar virtualnya yang kini menampilkan pemandangan sawah hijau yang memukau. Sawah rekaan Dimas, tentu saja. Ia sedang berada di kantornya, di lantai teratas gedung pencakar langit di pusat Jakarta, bukan di pedesaan asri.
"Bagaimana saya bisa fokus kalau celana saya melorot dan saya harus pura-pura menghirup udara segar sawah palsu ini?" Ekantika mendesis, jemarinya meremas kain blouse yang terasa asing di kulitnya. Ini semua demi Riton, pria yang dikenalnya di sebuah aplikasi kencan. Pria yang ia bohongi habis-habisan tentang identitas dan usianya. Pria yang kini sedang menunggu pesan darinya, mengira Ekantika sedang rapat dari "villa pribadi di luar kota."
"Baik, Bu Ekantika," suara Pak Doni memecah konsentrasi. "Bisa kita mulai presentasi laporan keuangan kuartal ini? Saya lihat Anda punya pemandangan yang... menarik di belakang Anda."
Ekantika buru-buru menegakkan punggung. "Oh, maaf, Pak Doni. Tentu saja. Udara pedesaan memang sangat menginspirasi." Ia mencoba tersenyum sealami mungkin, tetapi rasanya bibirnya kaku. Ugh, akting macam apa ini? Ia benci berbohong, apalagi di hadapan dewan direksi. Profesionalismenya dipertaruhkan demi kencan virtual.
"Dimas, putar audio suara burung. Yang paling jernih," bisik Ekantika.
Dimas mengangguk, jarinya menari di atas keyboard. Seketika, suara kicauan burung pipit yang merdu memenuhi ruang rapat virtual. Ada anggukan-anggukan kecil dari beberapa anggota dewan. Aman. Untuk sementara.
Ekantika menarik napas, mengatur ekspresi. "Baik. Jadi, untuk kuartal ini, kita melihat peningkatan... "
Ia mulai mempresentasikan angka-angka, data, dan proyeksi, otaknya berputar dengan kecepatan kilat. Di sinilah ia unggul. Angka, strategi, visi bisnis. Itu adalah dirinya yang asli. CEO Garuda yang tangguh, yang bisa menghancurkan lawan bisnisnya dengan satu tatapan. Bukan "Nana," desainer lepas 26 tahun yang suka bunga dan suasana pedesaan.
Tiba-tiba, suara klakson bus antar kota yang begitu nyaring dan berulang-ulang memecah keheningan virtual. Tiinn! Tooon! Tiin!
Ekantika tersentak, mata terbelalak. Wajahnya seketika memerah. Ia melirik Dimas, yang kini tampak membeku, matanya membesar karena panik.
"Dimas!" desis Ekantika, suaranya nyaris tanpa volume.
Suara klakson itu terus meraung, mengalahkan kicauan burung. Bahkan, seolah-olah, ada suara kenek bus yang berteriak, "KE CIKAMPEK! KE CIKAMPEK!"
Wajah-wajah dewan direksi di layar Zoom kini menatap Ekantika dengan tatapan penuh tanda tanya, bercampur geli, dan tentu saja, kecurigaan. Pak Doni, terutama, tersenyum sinis.
"Saya kira Anda bilang di pedesaan, Bu Ekantika?" tanya Pak Doni, suaranya mengandung nada mengejek. "Apa itu kebetulan ada terminal bus di tengah sawah Anda?"
Jantung Ekantika berdebar kencang. Panik. Memalukan. Profesionalismenya... hancur! Ia merasa seolah semua topeng yang ia pakai—topeng CEO yang dingin, topeng Nana yang ceria—kini retak dan akan segera hancur berkeping-keping.
"Maaf, Pak Doni. Ada sedikit... gangguan teknis. Dimas!" Ekantika berbisik keras, nyaris tidak lagi peduli dengan volume suaranya.
Dimas dengan cepat mematikan semua audio. Keheningan kembali merayap, kali ini jauh lebih tegang dari sebelumnya.
"A-apa yang terjadi, Dimas?" tanya Ekantika, matanya memancarkan amarah dan ketakutan sekaligus.
"Maaf, Bu! Tadi saya mau ganti suara. File-nya ketukar! Saya ambil folder simulasi suara jalan raya untuk proyek game," jawab Dimas, wajahnya pucat pasi. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sial!" gumam Ekantika. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam. "Baik, dewan direksi yang terhormat, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas insiden yang tidak profesional ini. Tampaknya koneksi internet saya di sini sedang tidak stabil, sehingga mengakibatkan audio lag dan... gangguan suara yang tidak diinginkan." Ia mengarang cerita secepat kilat.
Pak Doni mendengus. "Saya harap 'gangguan' ini tidak memengaruhi kinerja perusahaan kita, Bu Ekantika." Suaranya penuh ancaman terselubung. Ia selalu mencari celah untuk menjatuhkan Ekantika.
Wanita senior di dewan, Ibu Indri, yang selama ini mendukung Ekantika, menatapnya dengan raut khawatir. Apa yang sebenarnya kau lakukan, Ekantika? tatapan itu seolah bertanya.
Ekantika mencoba fokus lagi. Dengan sisa-sisa profesionalismenya, ia melanjutkan presentasinya. Ia berbicara lebih cepat, lebih lugas, mencoba mengubur insiden klakson bus di bawah tumpukan angka-angka fantastis. Kali ini, ia memastikan Dimas tidak menyentuh audio lagi. Tidak ada suara burung, tidak ada suara apa pun. Hanya keheningan.
Satu jam kemudian, rapat selesai. Ekantika segera menekan tombol leave meeting. Layar Zoom meredup, dan wajah-wajah dewan direksi menghilang. Ia bersandar di kursinya, mengembuskan napas panjang, lemas. Celananya benar-benar sudah melorot ke pergelangan kaki. Ia menendang celana itu dengan kesal.
"Dimas, kau hampir membuatku dipecat!" Ekantika berkata, suaranya lelah.
"Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja," Dimas meminta maaf, masih dengan wajah pucat. "Tapi setidaknya, rapatnya selesai, kan? Aman, Bu. Aman."
Ekantika memejamkan mata. Aman? Tidak ada yang aman. Kebohongan selalu meninggalkan jejak, dan setiap jejak adalah bom waktu.
Ia mengambil ponselnya, memeriksa notifikasi. Tidak ada pesan dari Riton. Bagus, pikirnya. Mungkin dia sedang sibuk juga. Ia memutuskan untuk tidak langsung membalas pesan Riton demi menjaga alibi "di luar kota" yang sibuk.
"Baiklah, Dimas. Singkirkan sawah virtual ini. Aku butuh kopi. Yang pahit," kata Ekantika, mencoba bangkit dari kursinya.
"Siap, Bu!" Dimas dengan cekatan mematikan proyektor dan merapikan kabel.
Ekantika berjalan ke jendela, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta yang gemerlap. Sebentar lagi kencan pertamanya dengan Riton. Atau, lebih tepatnya, kencan pertamanya sebagai Nana. Ia harus bersiap. Jiwanya lelah berpura-pura, tapi hatinya menginginkan pria itu. Pria yang membuat ia merasa ringan, muda, dan dicintai. Tanpa embel-embel "CEO Garuda" atau "janda kaya raya."
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Riton. Ekantika membuka pesan itu, jantungnya berdebar kencang.
Riton: "Na, aku penasaran, kamu di mana persisnya? Aku punya kenalan di daerah itu, bisa nitip sesuatu kalau kamu butuh."
Ekantika membaca pesan itu lagi. Dan lagi. Kenalan? Nitip sesuatu? Riton menanyakan lokasi spesifik?
Ia menatap layar ponselnya yang berkedip, lalu mendongak menatap Dimas, yang kini tengah menyingkirkan green screen sawah virtual. Tatapan mata Ekantika tajam, penuh kepanikan yang kembali meluap.
"Dimas," katanya, suaranya rendah dan sarat ancaman, "Lakukan sihirmu sekarang atau kita mati."