NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI ANTAR PULANG

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Suara nyaring itu memenuhi seluruh koridor, disambut kursi yang bergeser, tas yang diseret, dan obrolan siswa yang langsung pecah seperti bendungan yang dibuka.

Senja menutup bukunya perlahan, tidak seperti yang lain, ia tidak pernah terburu-buru pulang. selalu memberi waktu beberapa menit sampai kelas sedikit sepi, Keramaian setelah bel berbunyi selalu terasa terlalu penuh baginya.

Arelina sudah berdiri lebih dulu.

"Ayo pulang!" katanya semangat sambil memakai tas nya.

Senja mengangguk kecil, memasukkan botol minum pastel itu ke dalam tasnya. Tanpa sadar, jemarinya sempat berhenti sebentar di sana.

Pikirannya kembali ke kejadian tadi.

Keano datang hanya untuk mengembalikan botol.

Hal sederhana, tapi kenapa rasanya tidak sederhana sama sekali?

Jangan kepikiran terus… dia cuma baik.( isi pikiran Senja)

Senja menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Mereka keluar kelas bersama, Koridor sekolah dipenuhi siswa yang saling bercanda, beberapa berlari menuju gerbang, sebagian lagi berhenti membeli jajanan di kantin, langit sore terlihat hangat, Cahaya matahari jatuh miring, membuat bayangan memanjang di lantai sekolah.

"Aku yakin ya," Arelina mulai berbisik conspiratorial. "Dia naksir lo."

Senja langsung menggeleng cepat.

"Nggak mungkin."

"Lah terus ngapain dia nyari lo segala?"

"Balikin botol."

Arelina menatapnya datar.

"Senja… satu sekolah bisa aja nitip ke siapa kek. Tapi dia datang sendiri."

Senja tidak menjawab.

Karena diam-diam… ia juga memikirkan hal yang sama, mereka berjalan menuju gerbang sekolah.

Suara kendaraan mulai terdengar dari luar. Beberapa orang tua sudah menunggu, motor berjejer rapi di pinggir jalan.

Dan saat itulah—langkah Senja sedikit melambat.

Di dekat pohon ketapang besar depan gerbang… seseorang berdiri sambil bersandar santai pada motor hitamnya.

Seragamnya sedikit kusut. Tas selempang tergantung di bahu. Dan ekspresi santai yang terlalu

mudah dikenali.

Keano.

Jantung Senja langsung melonjak.

Dia… nunggu siapa?

Arelina mengikuti arah pandangan Senja.

Lalu matanya membesar dramatis.

"OH. MY. GOOD."

Senja ingin pura-pura tidak melihat,benar-benar ingin, namun terlambat.

Keano sudah lebih dulu menegakkan tubuhnya.

Tatapannya langsung menemukan Senja di antara keramaian.

Seolah sejak awal memang hanya menunggu satu orang, ia mengangkat tangan sedikit.

Isyarat kecil, menyapa.

Langkah Senja otomatis berhenti

"Kenapa dia di sini…?

Arelina hampir menjerit pelan.

"Gue duluan ya!" bisiknya cepat. "Ini momen lo!"

"Arel—" panggil Senja

Terlambat.

Arelina sudah kabur dengan senyum kemenangan.

Senja berdiri sendirian.

Dan sekarang… tidak ada alasan untuk menghindar.

Keano berjalan pelan mendekat.

Setiap langkah terasa terlalu terdengar di telinganya sendiri, keano tersenyum kecil saat ia sudah cukup dekat.

"Lo lama banget keluarnya."

Senja mengerjap.

"…Lo nunggu?"

"Iya."

Jawaban itu terlalu cepat, terlalu jujur.

Angin sore lewat pelan, membuat rambut Senja sedikit berantakan. Ia merapikan ujung rambutnya gugup.

"Kenapa?"

Keano mengangkat bahu ringan.

"Gak tau juga, pengen aja." ia tertawa kecil

Jawaban itu membuat Senja kehilangan kata-kata.

Tidak ada alasan besar. Tidak ada kalimat romantis.

Hanya… Ah sudahlah....

Dan anehnya, justru itu yang membuat dadanya terasa hangat, beberapa siswa melewati mereka sambil melirik penasaran.

Keano tampak tidak peduli sama sekali.

"Lo pulang naik apa?"

"Angkot… biasanya."

Keano mengangguk pelan, lalu menepuk jok motornya.

"Gue anterin."

Senja langsung panik kecil.

"Nggak usah! Deket kok."

Ia menatap Senja sebentar, lebih lembut dari sebelumnya.

"Gue cuma pengen nemenin."

Sunyi sejenak.

Senja bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Ia bukan tipe orang yang mudah menerima orang baru dalam ruang pribadinya, biasanya ia akan menolak, biasanya ya.

Namun entah kenapa… kali ini terasa berbeda.

Tidak memaksa. Tidak membuatnya tidak nyaman.

Hanya terasa… aman.

Senja menatap jalan sebentar, lalu kembali ke arah Keano.

"...Boleh."

Senyum Keano langsung muncul, kecil tapi nyata.

Ia mengambil helm cadangan dari gantungan motor.

"Pegang yang kenceng ya."

Kalimat sederhana itu membuat Senja tersenyum tipis tanpa sadar.

Saat motor mulai berjalan meninggalkan sekolah, angin sore menyentuh wajahnya.

Untuk pertama kalinya…

pulang sekolah tidak terasa sepi.

Senja duduk di belakang, ragu beberapa detik sebelum akhirnya memegang ujung jaket Keano pelan, tidak erat, tidak berani terlalu dekat.

Namun cukup untuk membuat Keano tersenyum kecil tanpa ia lihat.

Di tengah suara jalanan sore, Senja menyadari sesuatu—

Hari ini bukan hanya tentang seseorang yang mengembalikan botol minum.

Hari ini adalah hari pertama…

ia merasa ada seseorang yang benar-benar memilih untuk tinggal, bukan karena kebetulan tapi karena ia ingin.

Dan tanpa ia sadari…

cerita mereka perlahan mulai berjalan ke arah yang tidak lagi bisa disebut biasa.

Motor Keano melaju pelan meninggalkan area sekolah.

Senja duduk kaku di belakang.

Tangannya sempat menggantung canggung beberapa detik sebelum akhirnya memegang ujung jaket Keano dengan hati-hati.

Tidak berani terlalu dekat, tidak juga benar-benar menjauh.

Angin sore menyapu wajahnya, membawa aroma jalanan dan sedikit wangi parfum yang samar dari Keano, dan entah kenapa—

itu membuatnya semakin sadar dengan jarak mereka, terlalu dekat untuk ukuran seseorang yang baru ia kenal.

Jangan aneh-aneh, Senja… ini cuma dianter pulang (isi pikiran Senja)

Ia menatap punggung Keano diam-diam.

Bahunya terlihat santai. Tangannya stabil di setang motor. Sesekali ia memperlambat laju kendaraan saat melewati jalan ramai, seperti memastikan orang di belakangnya nyaman.

Tanpa sadar, pegangan Senja sedikit menguat.

Keano melirik lewat spion.

Senyumnya tipis. "Lo takut jatuh?"

Suara itu hampir tenggelam oleh angin.

"Enggak…" jawab Senja pelan.

"Hmm… tapi pegangan lo makin kenceng."

Senja langsung melepaskan sedikit tangannya, wajahnya memanas di balik helm.

"Gue cuma—"

"Gue bercanda."

Nada Keano ringan, tidak mengejek.

Justru terdengar menenangkan, motor kembali melaju, beberapa detik mereka hanya ditemani suara angin dan mesin kendaraan.

Tidak ada percakapan panjang.

Tapi juga tidak terasa canggung, justru nyaman.

Senja biasanya membenci perjalanan pulang. Baginya itu hanya waktu kosong untuk kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Namun hari ini…ia tidak merasa sendirian.

Motor berhenti di depan gang kecil.

"Rumah lo sini?"

"Iya."

Keano mematikan mesin.

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi.

Tanpa suara motor, tanpa angin yang menutupi rasa gugup mereka.

Senja turun perlahan, membuka helm lalu mengembalikannya.

"Thanks ya…"

Keano menerima helm itu sambil menatapnya sebentar, tidak buru-buru pergi.

Seolah masih ingin tinggal beberapa detik lagi.

"Senja."

"Iya?"

"Besok… lo duduk di tempat biasa lagi?"

Senja tersenyum kecil tanpa sadar.

"Iya."

Keano mengangguk puas.

"Oke. Berarti gue gak bakal nyasar."

Kalimat itu sederhana.

Namun membuat dada Senja hangat, ia tertawa kecil, pelan sekali.

Dan mungkin itu pertama kalinya Keano melihat Senja tertawa tanpa terlihat menahan diri.

Mata Keano sedikit melembut.

"Lo kalo ketawa… beda ya."

Senja langsung salah tingkah.

"Apa sih…"

"Beneran."

Tidak ada nada menggoda, hanya jujur.

Dan itu justru membuatnya semakin gugup.

Senja mengalihkan pandangan ke arah rumahnya.

"Udah sore…"

"Iya," jawab Keano pelan.

Namun ia belum juga menyalakan motor.

Seolah sama-sama menunda perpisahan kecil itu.

Akhirnya Senja melangkah mundur sedikit.

"Hati-hati di jalan."

Keano tersenyum.

"Iya. Lo juga… hati-hati mikirin gue terus."

Senja membeku.

"Keano!"

Tawanya pecah ringan.

Ia langsung menyalakan motor.

"Oke, sampai besok, Senja."

Motor itu perlahan menjauh dari gang, Senja berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Menatap jalan kosong, jantungnya masih berdetak cepat, kenapa dia bikin aku bingung sih…

Ia masuk ke rumah, melepas tas dan duduk di tepi ranjang.

Sunyi.

Namun kali ini pikirannya bukan dipenuhi kecemasan seperti biasanya.

Melainkan satu wajah, satu senyum.

Satu suara yang terus terulang di kepalanya.

Tanpa sadar, Senja mengambil ponselnya.

Tidak ada pesan, tidak ada notifikasi, ia tersenyum kecil, hari ini terasa berbeda.

Seperti ada bagian kecil dari hidupnya yang mulai berubah arah.

Dan untuk pertama kalinya—

Senja menunggu hari esok datang lebih cepat.

Hmmmm....udah mulai menggoda nih ya, bocah tampan ini...🫣

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!