Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga dengan Arini
Suasana perpustakaan tua di lantai tiga SMA Wijaya Kusuma itu sebenarnya sangat estetis jika kamu mengabaikan fakta bahwa ada kuntilanak yang sedang asyik stretching di atas lemari arsip. Rak-rak kayu jati yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit penuh dengan buku-buku tebal bersampul kulit yang sudah mulai mengelupas. Debu beterbangan di antara sinar matahari yang menerobos masuk dari celah jendela besar bergaya Gotik, menciptakan pemandangan yang seharusnya puitis.
Namun, bagi Satria, ini adalah medan perang.
"Satria? Kok bengong di ambang pintu? Ayo masuk," ajak Arini. Gadis itu melangkah masuk dengan santai, mengabaikan hawa dingin yang seharusnya membuat orang normal merinding.
Satria menelan ludah. Ia melihat sosok wanita berbaju putih di atas rak itu mulai merosot turun dengan gerakan yang tidak manusiawi—patah-patah seperti gerakan penari breakdance yang sedang mengalami kejang otot.
"I-iya, Rin. Gue cuma... lagi mengagumi arsitekturnya. Klasik ya," sahut Satria sambil masuk dengan langkah kaku. Ia berusaha menjaga jarak aman dari si kuntilanak yang kini sudah berdiri di balik punggung Arini, mencoba ikut membaca daftar inventaris yang dipegang gadis itu.
"Ini daftar buku yang harus kita rapikan. Pak Broto bilang koleksi sejarah di bagian pojok sana sering berantakan sendiri. Aneh, padahal jarang ada siswa yang ke sini," ujar Arini heran.
Ya iyalah berantakan, itu kuntilanaknya lagi nyari resep skincare biar wajahnya nggak pucat banget, batin Satria dongkol.
Saat mereka berjalan menuju pojok perpustakaan, Satria merasakan kehadiran sosok lain yang lebih dominan. Si Meneer tanpa kepala yang tadi mengikutinya dari ruang Kepala Sekolah kini berdiri di depan pintu perpustakaan, seolah-olah menjadi penjaga gawang agar tidak ada laki-laki lain yang masuk mengganggu mereka. Namun, si Meneer tampak sangat tidak suka dengan kehadiran kuntilanak itu. Ia mengayun-ayunkan pedangnya ke udara, memberi isyarat agar si hantu wanita menjauh dari Arini.
"Rin, lo... lo nggak ngerasa dingin apa?" tanya Satria basa-basi, sambil matanya melirik tajam ke arah kuntilanak yang sekarang sedang mencoba memainkan rambut kuncir kuda Arini.
Arini berhenti, lalu menatap Satria dengan mata cokelatnya yang jernih. "Dingin? Hmm, dikit sih. Mungkin karena sirkulasi udara di gedung tua memang begini. Kenapa? Kamu takut ya?"
Satria tertawa sumbang. "Takut? Hahaha! Satria Pratama nggak kenal kata takut, Rin. Yang ada cuma... waspada level dewa."
Satria kemudian melihat sebuah buku besar berjudul Sejarah Hindia Belanda yang tergeletak di lantai. Ia membungkuk untuk mengambilnya. Saat jemarinya menyentuh buku itu, sebuah kilasan memori mendadak menghantam kepalanya.
Seorang anak perempuan menangis di bawah pohon kamboja karena es krimnya jatuh. Seorang anak laki-laki culun datang membawa susu kotak cokelat sebagai pengganti.
"Satria? Kamu oke?"
Sentuhan tangan Arini di bahunya membuat Satria tersentak kembali ke realita. Arini menatapnya dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran yang tulus. Jarak mereka sangat dekat—begitu dekat hingga Satria bisa mencium aroma sabun bayi dan sedikit wangi melati (yang ia harap itu berasal dari parfum Arini, bukan dari hantu di belakangnya).
"Rin, jujur ya... lo beneran nggak ingat gue?" suara Satria melunak. Keberaniannya mendadak muncul, mengalahkan rasa ngeri pada gangguan astral di sekitarnya.
Arini terdiam. Ia menatap wajah Satria dengan seksama, seolah sedang mencari kepingan puzzle yang hilang di antara lingkaran hitam di bawah mata Satria dan rambutnya yang berantakan.
"Sebenarnya... nama Satria itu banyak banget, Sat. Tapi cara kamu natap aku tadi di lapangan, dan sekarang... itu bikin aku ngerasa dejavu. Kamu... bukan anak kecil yang dulu suka nangis kalau lihat kucing hitam di TK Kasih Bunda, kan?"
Satria merasa jantungnya meledak kegirangan. "Itu gue, Rin! Tapi gue nangis bukan karena kucingnya, tapi karena ada kakek-kakek duduk di atas kepala kucing itu sambil narik kumisnya!"
Arini tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sama. Tawa yang sepuluh tahun lalu menjadi alasan Satria untuk tetap berani berangkat sekolah. "Ya ampun! Jadi itu beneran kamu? Si Satria 'Penunggu Perosotan'?"
"Gelar yang sangat tidak estetik, tapi ya, itu gue," Satria tersenyum lebar.
Kegembiraan mereka terganggu oleh suara rak buku yang bergetar. Si Meneer tanpa kepala rupanya cemburu melihat kemesraan yang mulai terbangun. Ia menendang sebuah kursi kayu hingga terseret beberapa sentimeter.
KREEEET!
Arini tersentak. "Tuh kan, aneh. Angin dari mana coba yang bisa geser kursi seberat itu?"
Satria melihat si kuntilanak ikut-ikutan. Ia mulai menjatuhkan buku-buku dari rak secara beruntun, seperti efek domino. Brak! Brak! Brak!
"Wah, ini mah bukan angin lagi, Rin. Ini namanya perundungan dari alam sebelah," gumam Satria.
Ia tahu ia harus bertindak. Jika ia tidak segera "menenangkan" para penghuni ini, kencan nostalgianya dengan Arini akan berubah jadi film horor berdarah-darah. Satria melirik sebuah vas bunga kosong di atas meja. Dengan gerakan cepat yang ia pelajari dari film-film kungfu (yang gagal ia praktekkan di kehidupan nyata), Satria mengambil vas itu dan meletakkannya tepat di jalur jatuhnya buku-buku.
"Rin, mundur dikit," perintah Satria dengan nada otoriter yang jarang ia gunakan.
"Ada apa, Sat?"
Satria tidak menjawab. Ia fokus pada si kuntilanak. Dengan suara yang sangat pelan, hampir berupa bisikan yang hanya bisa didengar oleh makhluk astral, ia berkata, "Neng, tolong ya... saya lagi reuni sama cinta pertama. Kalau Neng nggak berhenti, saya laporin ke Pak Broto biar upeti kemenyan Neng bulan depan dipotong!"
Kuntilanak itu berhenti seketika. Ia menatap Satria dengan mulut menganga—yang sayangnya mengeluarkan bau bangkai tikus. Ia tampak tersinggung, tapi juga takut dengan ancaman soal upeti dari Pak Broto. Dengan wajah cemberut (yang tetap terlihat menyeramkan), ia kembali melayang naik ke langit-langit dan menghilang di balik kegelapan atap.
Sementara itu, si Meneer tanpa kepala masih berdiri tegak. Ia mengarahkan pedangnya ke dada Satria.
“KAU... ANAK MANUSIA YANG TIDAK TAHU DIRI...” suara gaib itu menggelegar di telinga Satria.
Satria menatap area di mana seharusnya mata si Meneer berada. "Meneer, dengar ya. Anda itu sudah veteran. Harusnya istirahat dengan tenang, bukan jadi pengawal pribadi siswi SMA. Arini ini teman lama saya. Kami cuma mau merapikan buku, bukan mau menjajah Belanda lagi!"
Arini menatap Satria dengan mulut terbuka. "Sat... kamu... kamu bicara sama siapa?"
Satria tersadar. Ia langsung mengubah posisinya menjadi seolah-olah sedang mengomel pada buku di tangannya. "Ini, Rin! Buku sejarah ini! Masa dibilang Belanda menjajah kita cuma karena mau cari rempah-rempah? Padahal mereka cuma mau cari bumbu mi instan yang nggak ada di sana! Gue lagi... meluapkan jiwa nasionalisme gue!"
Arini mengerjipkan mata, lalu tertawa sampai air mata keluar dari sudut matanya. "Kamu beneran nggak berubah, ya. Tetap aneh, tetap ajaib. Tapi jujur, aku kangen kegilaan kamu yang kayak gini."
Emosi di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat hangat. Satria bisa merasakan bahwa meski sepuluh tahun telah berlalu, ikatan batin itu masih ada. Arini mendekat, mengambil buku dari tangan Satria, dan secara tidak sengaja, jari-jari mereka bersentuhan lagi.
Kali ini, tidak ada gangguan dari si Meneer. Rupanya, hantu perwira itu sedang sibuk berdebat dengan kucing hitam milik Pak Broto yang tiba-tiba muncul di jendela perpustakaan.
"Sat," panggil Arini pelan. "Kenapa waktu itu kamu pindah nggak pamit? Aku nungguin kamu di perosotan itu sampai sore, tahu."
Hati Satria mencelos. Ada rasa bersalah yang amat sangat merayap di dadanya. "Maafin gue, Rin. Waktu itu orang tua gue harus pindah mendadak karena... ya, karena 'kemampuan' gue ini bikin tetangga satu komplek mikir gue penyembah aliran sesat. Gue nggak sempat ke rumah lo."
Arini menunduk, memainkan ujung bukunya. "Aku sempat mikir kamu benci sama aku. Aku sampai nangis semalaman tahu."
"Gue nggak mungkin benci sama lo, Rin. Lo itu satu-satunya orang yang bikin dunia gue yang 'berisik' ini jadi tenang," ucap Satria tulus. Ia menatap Arini dengan penuh perasaan, memperdalam emosi yang selama ini terkunci rapat dalam memorinya.
Arini mendongak, matanya berkaca-kaca. "Benaran?"
"Iya. Dan sekarang gue di sini. Gue nggak akan pindah lagi. Walaupun sekolah ini isinya lebih banyak hantu daripada siswanya, gue bakal tetap di sini selama ada lo."
Momen itu begitu sempurna. Wajah mereka semakin mendekat, udara di sekitar terasa seperti berhenti mengalir. Namun, ini adalah novel romantis horor komedi, dan hukum alam menyatakan bahwa momen romantis harus dihancurkan secepat mungkin.
BZZZZTTTT!
Speaker di sudut perpustakaan berbunyi nyaring.
“PENGUMUMAN! KEPADA SELURUH SISWA, HARAP SEGERA MENUJU LAPANGAN UNTUK UPACARA PENUTUPAN MOS. DAN UNTUK SATRIA PRATAMA, JANGAN PACARAN DI PERPUSTAKAAN! PAK BROTO BISA LIHAT LEWAT CCTV GHAIB!”
Suara itu ternyata bukan suara Pak Broto, melainkan suara si tuyul Ucok yang entah bagaimana bisa menggunakan mikrofon.
Wajah Arini mendadak merah padam seperti kepiting rebus. Ia langsung menjauh dari Satria dan merapikan seragamnya dengan gugup. "A-ayo, Sat. Kita harus ke lapangan."
Satria mengumpat dalam hati. Tunggu lo, Cok! Gue sumpel mulut lo pakai koin gopekan!
Mereka berjalan keluar perpustakaan dengan suasana canggung yang menggemaskan. Saat melewati pintu, Satria melirik si Meneer tanpa kepala yang kini tampak tertawa (meski tanpa mulut, suaranya terdengar seperti saringan santan yang diguncang).
"Puas lo, Meneer?" bisik Satria pedas.
Si Meneer hanya memberikan hormat militer dengan gaya mengejek, lalu menghilang ke dalam tembok.
Pertemuan tak terduga dengan Arini ini tidak berakhir dengan ciuman romantis ala film Hollywood, melainkan dengan teguran dari tuyul administrasi. Namun bagi Satria, ini adalah awal yang luar biasa. Ia sudah menemukan cintanya kembali, dan ia bersumpah, kali ini ia tidak akan membiarkan siapa pun—baik manusia, hantu Belanda, maupun tuyul berkacamata—memisahkan mereka lagi.
"Sat, tunggu!" panggil Arini saat mereka menuruni tangga.
"Ya?"
"Makasih ya... sudah kembali," ujar Arini sambil memberikan senyuman termanis yang pernah Satria lihat seumur hidupnya.
Satria terpaku di tangga. Dunianya yang penuh bayangan hitam mendadak penuh dengan warna-warni pelangi. Gue bakal lindungin senyum itu, Rin. Walaupun gue harus jadi Indigo Semprul selamanya.
Tapi baru saja ia membatin puitis, kakinya tersangkut anak tangga karena ada hantu anak kecil yang sengaja mengikat tali sepatunya.
"ADUHHH!" Gubrak!
Satria berguling-guling menuruni tangga sampai ke lantai dasar. Arini menjerit kaget, sementara dari atas plafon, terdengar suara tawa kuntilanak yang puas melihat penderitaan Satria.
"Sial... romantisnya cuma bertahan lima detik," keluh Satria sambil memegangi pinggangnya yang encok.
Inilah hidup Satria. Penuh cinta, penuh tawa, dan tentu saja, penuh dengan kejutan dari alam baka yang tidak pernah absen merusak suasana.