SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Meminta Bayaran
Pintu Ruang Musik itu tertutup rapat dengan bunyi bantingan pelan namun bergema panjang di seluruh ruangan, seolah-olah dinding kayu itu baru saja menelan mereka hidup-hidup ke dalam perut sebuah instrumen raksasa yang kelaparan.
Aroma bunga melati yang tadi menyengat kini bercampur kuat dengan bau kayu lama yang lembap, debu halus, dan aroma resin biola yang khas. Cahaya di dalam ruangan ini sangat temaram, hanya diterangi oleh beberapa lampu dinding kuning yang berkedip-kedip tidak menentu, menciptakan bayangan-bayangan panjang menjulang dari jajaran kursi lipat yang tersusun rapi menghadap ke sebuah panggung kecil di ujung sana.
Di tengah panggung itu, sebuah piano grand piano berwarna hitam legam berdiri megah dan angker. Tutup depannya terbuka lebar, dan tuts-tuts hitam putihnya bergerak-gerak sendiri seolah ada tangan tak kasat mata yang memainkannya, menekan nada-nada rendah berat yang menciptakan melodi sedih Requiem of the Lost.
Dada Arga terasa sesak luar biasa. Melodi itu bukan sekadar suara yang masuk ke telinga, melainkan getaran halus yang mencoba membongkar paksa kenangan-kenangan paling menyakitkan dan luka lama yang selama ini ia simpan rapat-rapat di dasar hati.
"Jangan menatap pianonya terlalu lama, Arga," suara Lintang terdengar samar seolah terhalang oleh lapisan air tebal. "Fokus pada tujuan kita. Peta menuju Menara Jam tidak ada di panggung. Itu tersembunyi di antara meja-meja latihan di sudut ruangan sana."
Arga memaksakan dirinya untuk memalingkan wajah dari pesona piano berhantu itu. Ia menyeret kakinya yang terasa berat seperti ditimbah besi menuju barisan meja kayu panjang yang biasa digunakan murid untuk menulis partitur musik.
Meja-meja itu tampak sangat tua dan kusam, permukaannya penuh dengan coretan-coretan tangan dari generasi ke generasi murid yang pernah duduk di sana. Di sekolah normal, coretan di meja hanyalah simbol kebosanan, namun di SMA Nusantara, setiap goresan itu adalah satu-satunya cara bagi mereka yang telah dilupakan untuk meninggalkan jejak keberadaan mereka sebelum hilang selamanya.
Urat-urat hitam di lengan Arga tiba-tiba berdenyut kencang dan terasa panas membara saat ia mendekati sebuah meja di baris paling belakang meja bernomor 13. Tinta takdir di bawah kulitnya seolah bereaksi hebat, seolah ditarik magnet kuat oleh benda di atas meja itu.
"Meja ini..." bisik Arga pelan. Ia menyentuh permukaan kayu yang kasar dan bergelombang itu.
Seketika, melodi piano di panggung berubah drastis menjadi dentuman-dentuman sumbang yang memekakkan telinga dan menyakitkan gendang telinga.
DERRR! TING! DRANG!
Lampu-lampu dinding satu per satu meledak dan pecah berkeping-keping, menyisakan kegelapan total yang pekat. Hanya ada dua sumber cahaya yang tersisa: cahaya ungu redup dari senter Lintang, dan pendar merah gelap yang keluar dari lengan Arga yang tertutup tinta hitam.
"Arga, lihat! Coretannya bergerak!" seru Lintang dengan napas tertahan.
Di bawah telapak tangan Arga, ukiran-ukiran kasar yang tadinya hanya gambar acak mulai bergeser dan berubah bentuk. Nama-nama murid yang pernah tertulis di sana terhapus seolah dilupakan, digantikan oleh goresan-goresan baru yang muncul tajam seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang sedang memahat kayu itu dengan kuku tajam.
Kriiiet... kriiiet...
Bunyi gesekan itu terdengar sangat mengerikan persis seperti bunyi gigi yang dikertakkan keras-keras. Perlahan namun pasti, sebuah pesan mulai terbentuk jelas di atas meja kayu itu.
"Waktu tidak berjalan maju di sini. Ia melingkar seperti jerat. Jika kau ingin jantungnya, kau harus memberikan detakmu sendiri. Lihat ke bawah, ke tempat di mana suara tangisan berakhir."
"Memberikan detakku sendiri?" Arga mengernyitkan dahi bingung. "Apa maksudnya?"
Tiba-tiba, suara denting piano berhenti total secara mendadak. Keheningan yang menyusul setelahnya justru terasa jauh lebih menyakitkan dan mencekam daripada musik tadi.
Dari kegelapan pekat di bawah meja nomor 13, muncul sebuah tangan kurus kering yang hanya terdiri dari tulang putih dibalut kulit tipis yang mengerut. Tangan itu bergerak cepat dan mencengkeram pergelangan kaki Arga dengan kuat luar biasa.
"ARGA, AWAS!" teriak Lintang.
Dengan sigap Lintang menghantamkan belati peraknya ke arah tangan tulang itu, namun anehnya bilah tajam itu justru memantul keras seolah ia menghantam papan baja keras.
Lantai di bawah kaki Arga tiba-tiba berubah wujud. Zat padat yang tadinya keras berubah menjadi lunak dan cair, berubah menjadi lumpur hitam pekat yang lengket dan berat. Dalam sekejap mata, tubuh Arga terperosok turun hingga sebatas pinggang.
Ia berjuang mati-matian menarik tubuhnya keluar, namun semakin ia meronta dan bergerak, semakin kuat pula daya hisap dari lumpur hitam itu menariknya masuk ke bawah.
"Lintang! Ambilkan buku harian Raka! Cepat!" teriak Arga panik.
Saat Lintang sibuk merogoh tas untuk mengambilkan buku itu, sebuah sosok besar muncul perlahan dari balik bayangan gelap di atas mereka.
Bukan hantu pemusik biasa. Itu adalah sesosok makhluk tinggi yang tubuhnya terbuat dari ribuan kawat-kawat senar piano yang saling melilit dan membelit rapat. Wajahnya hanyalah sebuah topeng porselen putih yang retak besar di bagian tengah, dan dari mulutnya yang terbuka lebar, keluar ratusan senar-senar tajam yang bergetar menghasilkan suara melengking tinggi.
Itu adalah Sang Konduktor Kematian.
Ia mengangkat tangannya yang panjang kurus ke udara. Seketika itu juga, ribuan senar kawat turun dari langit-langit mengepung Lintang. Senar-senar itu melilit tubuh dan tangannya dengan cepat hingga belati perak di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.
"Kau... tidak bisa... pergi... tanpa... membayar... iuran..." suara Sang Konduktor terdengar parau dan sumbang persis seperti gesekan biola yang tidak bertangga nada.
Arga yang masih terperosok di dalam lumpur hitam kini menyadari segalanya. Pesan di atas meja tadi bukan hanya teka-teki, melainkan instruksi sekaligus peringatan.
Ia menatap tinta hitam di lengannya yang bersinar sama persis dengan cahaya goresan di meja. Tinta takdir itu bukan hanya kutukan, tapi ternyata juga merupakan kunci pembuka.
"Lintang! Jangan dilawan senarnya! Biarkan dia menyentuhmu, tapi jangan biarkan dia mengambil napas dan nyawamu!" teriak Arga memberi komando.
Dengan sekuat tenaga, Arga memasukkan tangannya lebih dalam ke dalam lumpur hitam di bawah meja. Jari-jarinya meraba-raba mencari sesuatu hingga akhirnya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah tuas besi tua yang tersembunyi.
Tanpa ragu, Arga menarik tuas itu sekuat tenaga.
BRAAAK!
Seluruh permukaan meja nomor 13 terbelah dua menjadi bagian, menyingkap sebuah ruang rahasia berukuran kecil di dalamnya.
Di sana, tergeletak sebuah kotak musik kecil yang terbuat dari perak murni. Di tutupnya terdapat ukiran detail gambar Menara Jam sekolah. Namun yang aneh, kotak itu tidak memiliki kenop atau kunci putar biasa. Di bagian atasnya, terdapat sebuah lekukan kecil yang bentuknya sangat detail menyerupai lekukan telapak tangan manusia.
Arga teringat pesan tadi: Kau harus memberikan detakmu sendiri.
Tanpa berpikir dua kali, Arga menekan dan menempelkan telapak tangannya yang terluka dan penuh tinta hitam itu tepat ke atas permukaan kotak musik tersebut.
Darah segar bercampur cairan tinta hitam dari lukanya mengalir masuk tersedot ke dalam mekanisme kotak itu.
TUK... TUK... TUK...
Seketika kotak musik itu mulai bergerak. Namun bunyinya bukanlah denting musik indah, melainkan suara detak jantung manusia yang sangat keras dan nyata.
Suara detak jantung dari kotak musik itu beresonansi kuat dan menyatu dengan detak jantung Arga sendiri. Gelombang kejut dahsyat terpancar keluar dari benda itu, menerjang Sang Konduktor Kematian hingga tubuhnya yang terbuat dari kawat-kawat itu hancur lebur berantakan menjadi tumpukan besi tak bernyawa di lantai.
Lumpur hitam yang menghisap Arga pun seketika mengeras kembali menjadi lantai padat, mendorong tubuh Arga naik kembali ke permukaan.
Lintang yang kini terbebas dari jeratan senar segera berlari menghampiri Arga.
"Kau tidak apa-apa, Arga? Wajahmu pucat sekali!" tanyanya cemas melihat kondisi temannya.
Arga mengatur napasnya yang tersengal. Ia merasa sebagian besar energinya dan nyawanya seolah tersedot masuk dan tertinggal di dalam kotak musik itu. Namun ia berhasil. Tutup kotak itu terbuka, dan di dalamnya terdapat sebuah gulungan peta kulit yang sangat tua dan rapuh.
Di peta itu tergambar jelas jalur menuju Menara Jam. Jalur itu tidak melewati pintu keluar biasa, melainkan menembus dinding belakang Ruang Musik yang selama ini tertutup rapat oleh cermin besar antik. Namun, ada satu catatan penting yang tertulis dengan tinta merah basah di sudut peta.
"Hati-hati dengan Asrama Sayap Barat. Dia yang menunggu di sana bukan lagi kakakmu, melainkan rasa bersalahmu yang diberi nyawa."
"Asrama Sayap Barat..." gumam Lintang pelan dengan wajah ketakutan. "Itu memang jalan terpendek menuju Menara Jam, tapi itu adalah wilayah paling terlarang di seluruh sekolah ini. Bahkan para anggota Osis Malam sekalipun tidak ada yang berani berpatroli ke sana setelah jam sepuluh malam."
Arga menutup kotak musik itu dan menyimpannya dengan aman di balik seragamnya. Ia bisa merasakan benda itu berdenyut hangat di dadanya, seolah ia baru saja membagi separuh nyawanya untuk benda tersebut.
"Kita tidak punya pilihan lain, Lintang. Waktu hampir jam dua belas malam," kata Arga tegas sambil menatap ke arah cermin besar di dinding belakang ruangan. "Raka ada di sana menungguku, dan aku tidak akan membiarkan rasa bersalah atau ketakutan apa pun menghentikanku."
Arga berjalan mendekati cermin besar itu. Saat ia semakin dekat, ia menyadari sesuatu yang aneh. Bayangannya di dalam kaca tidak mengikuti gerakannya. Bayangan Arga di sana justru tampak berdiri diam sambil menangis tersedu-sedu, dengan air mata hitam yang mengalir deras membasahi pipi. Dan di belakang punggung bayangan itu, samar-samar terlihat sosok Raka yang berdiri menunjuk ke arah kedalaman kegelapan.
Dengan tangan gemetar namun penuh keyakinan, Arga menyentuh permukaan kaca cermin itu.
Alih-alih terasa keras dan dingin, tangannya justru menembus masuk permukaan itu seolah-olah itu hanyalah lapisan air dingin yang tenang.
"Ayo," ajak Arga singkat.
Mereka berdua melangkah maju menembus permukaan cermin itu, meninggalkan Ruang Musik yang kini kembali sunyi senyap.
Di belakang mereka, piano besar hitam itu perlahan mulai memainkan nada terakhirnya, sebuah nada panjang dan mendalam yang terdengar seperti lagu perpisahan bagi siapa pun yang berani melangkah ke Sayap Barat, tempat di mana batas antara kenyataan pahit dan mimpi buruk yang mengerikan sudah tidak lagi bisa dibedakan.