Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Lorong rumah sakit terasa begitu panjang dan dingin. Suara roda brankar yang didorong cepat bergema di dinding keramik putih, memecah kesunyian malam yang mencekam. Aeryn berlari di samping brankar itu, mengabaikan rasa perih di kakinya sendiri. Tangannya yang masih menghitam karena jelaga menggenggam erat tangan Xavier yang terkulai lemas.
"Cepat! Pasien kehilangan banyak darah! Siapkan ruang operasi satu!" teriak salah satu petugas medis kepada rekannya.
Aeryn terpaksa berhenti di depan pintu ruang tindakan darurat saat seorang perawat menahan bahunya. "Mohon maaf, Nyonya. Anda harus menunggu di sini."
Aeryn berdiri mematung saat lampu merah di atas pintu menyala. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini berlumuran darah Xavier. Bajunya robek di beberapa bagian, rambutnya berantakan, dan wajahnya dipenuhi sisa abu ledakan. Namun, ia tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada satu adegan yang terus berputar di kepalanya: bagaimana Xavier membalikkan badan, memeluknya erat, dan membiarkan punggungnya dihantam balok kayu yang terbakar demi melindunginya.
Beberapa jam kemudian, pintu terbuka. Dokter keluar dengan wajah lelah, melepas masker bedahnya. "Nyonya Arkananta?"
Aeryn langsung berdiri. "Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Luka di punggungnya cukup dalam akibat hantaman benda tumpul dan serpihan material yang terbakar. Kami sudah menjahitnya dan membersihkan sisa jelaga di paru-parunya. Kabar baiknya, organ dalamnya aman. Namun, dia kehilangan banyak cairan dan darah. Dia butuh istirahat total dan pemantauan intensif," jelas dokter itu.
Aeryn mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Setelah mengurus administrasi dengan tangan gemetar, ia diperbolehkan masuk ke ruang rawat privat tempat Xavier dipindahkan.
Suasana kamar itu sangat sunyi, hanya ada bunyi teratur dari mesin monitor jantung yang menandakan kehidupan. Xavier terbaring telungkup untuk menghindari tekanan pada luka di punggungnya. Aeryn mendekat, duduk di kursi samping tempat tidur. Ia mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil yang disediakan perawat.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia mulai menyeka sisa-sisa kotoran di bahu dan leher Xavier. Saat ia membuka perban sementara untuk menggantinya dengan kompres yang lebih bersih sesuai instruksi perawat, Aeryn tertegun.
Di bawah cahaya lampu kamar yang terang, ia melihat luka jahitan baru yang memanjang kemerahan di punggung suaminya. Namun, di sekitar luka baru itu, terdapat beberapa bekas luka lama—jaringan parut yang sudah memudar namun tetap terlihat jelas bentuknya. Ada bekas luka bakar yang tidak merata dan sayatan memanjang yang tampak permanen.
"Luka apa ini?" bisik Aeryn pada dirinya sendiri. "Kapan dia mendapatkan ini semua?"
Tiba-tiba, pintu terbuka pelan. Hugo masuk dengan wajah yang sangat pucat. Ia melihat Aeryn yang sedang menatap punggung bosnya dengan tatapan nanar.
"Nyonya, biarkan suster yang melakukannya. Anda juga perlu membersihkan diri," ucap Hugo sopan.
"Hugo," Aeryn menoleh, matanya menuntut jawaban. "Katakan padaku. Apa ini? Ini bukan luka dari ledakan di pabrik tadi. Ini luka lama yang sudah bertahun-tahun."
Hugo terdiam cukup lama, berdiri kaku di dekat pintu. Ia melihat ke arah Xavier yang masih memejamkan mata, lalu kembali menatap Aeryn dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tuan Xavier tidak pernah ingin Nyonya tahu hal-hal seperti ini. Beliau benci terlihat lemah."
"Katakan padaku, Hugo. Sekarang juga," tuntut Aeryn, suaranya bergetar. "Aku berhak tahu siapa pria yang baru saja hampir mati untukku."
Hugo menghela napas, pundaknya merosot sedikit. "Itu terjadi delapan tahun lalu, Nyonya. Saat itu Tuan Xavier baru saja mengambil alih sedikit kendali di Arkananta. Dia pergi ke Kalimantan sendirian, mencoba mencari jejak Nyonya setelah berita Maryam meninggal dunia sampai ke telinganya."
Aeryn membeku. "Ke Kalimantan? Delapan tahun lalu?"
"Ya. Dia dikeroyok oleh anak buah Baskara di sebuah daerah terpencil. Mereka tidak ingin rahasia keluarga Valerine atau keberadaan Nyonya terbongkar. Tuan Xavier hampir mati di sebuah gudang tua. Punggungnya disiksa hanya untuk mendapatkan informasi di mana Nyonya disembunyikan oleh Kaelan dan Baskara saat itu," Hugo bercerita dengan suara merendah.
Aeryn menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang. "Dia ke sana... untuk mencariku?"
"Tuan selalu mengawasimu, Nyonya. Bahkan saat dia terluka parah dan harus dirawat berbulan-bulan, dia menolak untuk pulang ke Jakarta sebelum memastikan Nyonya masih hidup. Foto di dompetnya itu... dia mendapatkannya dari rumah lama Maryam di tengah hutan saat dia mempertaruhkan nyawanya malam itu. Dia menyimpannya sebagai pengingat bahwa dia harus menjadi cukup kuat untuk membawa Nyonya pulang suatu hari nanti."
Aeryn kembali menatap punggung Xavier. Rasa bersalah menghantamnya begitu hebat, lebih sakit daripada ledakan di pabrik. Pria ini, yang ia maki-maki sebagai pengatur hidup dan pria tanpa hati, ternyata telah menanggung luka fisik yang nyata demi dirinya jauh sebelum kontrak pernikahan itu ada.
"Kenapa dia tidak pernah mengatakannya?" tanya Aeryn, air matanya kini jatuh membasahi sprei. "Kenapa dia membiarkanku membencinya?"
"Bagi Tuan Xavier, luka adalah tanda kegagalan, Nyonya," jawab Hugo pahit. "Dia merasa gagal melindungimu delapan tahun lalu karena dia tidak bisa langsung membawamu pergi. Jadi dia menutupi rasa sakit itu dengan kekuasaan, harta, dan sikap dingin. Dia hanya ingin memastikan tidak ada lagi yang bisa menyentuhmu, meskipun itu artinya Nyonya harus membencinya karena dia terlalu protektif."
Hugo membungkuk pelan lalu keluar, meninggalkan Aeryn dalam keheningan yang menyesakkan.
Aeryn kembali menyeka punggung Xavier dengan sangat lembut, seolah sentuhannya bisa menghapus rasa sakit dari masa lalu itu. "Maafkan aku, Xavier," bisiknya parau di dekat telinga pria itu. "Maaf aku begitu buta dan hanya mementingkan egoku."
Malam semakin larut. Suara hujan mulai terdengar rintik-rintik di luar jendela rumah sakit. Aeryn tidak beranjak. Ia tertidur dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur, tangannya masih menggenggam erat tangan Xavier yang dingin.
Tengah malam, Xavier mulai bergerak gelisah. Napasnya memburu, dan keringat dingin bercucuran di keningnya yang pucat. Efek obat bius mulai berkurang, digantikan oleh rasa sakit yang menusuk.
"Aeryn... lari..." gumam Xavier pelan dalam tidurnya.
Aeryn langsung terbangun. Ia segera berdiri dan mengusap dahi Xavier dengan handuk basah. "Aku di sini, Xavier. Aku tidak ke mana-mana. Kita sudah aman."
Xavier tidak membuka mata, namun wajahnya tampak tegang. Ia menggenggam tangan Aeryn dengan sisa tenaganya, genggamannya begitu kuat seolah-olah Aeryn adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra.
"Jangan pergi..." gumam Xavier lagi, suaranya terdengar sangat rapuh, sangat berbeda dari kaisar Arkananta yang angkuh. "Jangan tinggalkan aku..."
Aeryn mendekatkan wajahnya, membelai rambut Xavier dengan kasih sayang. "Aku tidak akan pergi. Aku janji."
Xavier merintih pelan, wajahnya tampak kesakitan bukan karena luka fisiknya, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih dalam di alam bawah sadarnya.
"Jangan pergi... Aeryn..." suara Xavier melemah, namun terdengar sangat jelas di keheningan kamar. "Jangan tinggalkan aku sendirian lagi... jangan pergi seperti dia. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi... cukup sekali aku melihat dunia runtuh..."
Aeryn membeku di tempatnya. "Seperti dia?"
Siapa yang dimaksud Xavier? Apakah itu Maryam Valerine? Ataukah ada orang lain di masa lalu Xavier yang pergi dan meninggalkan lubang besar di hatinya? Seseorang yang membuat Xavier tumbuh menjadi pria yang sangat takut akan kehilangan hingga ia terobsesi untuk mengendalikan segalanya?