Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Herman
Sore itu hujan turun dengan derasnya. Bambang berdiri di teras blok satpam sambil memandangi air yang jatuh dari langit kelabu. Genangan air di halaman semakin luas. Rumput-rumput tinggi terlihat terkulai basah. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan angin yang bertiup membawa bau tanah basah serta sesuatu yang lain. Bau yang mulai familiar di hidungnya. Bau anyir.
Seharian ini dia tidak bisa berhenti memikirkan buku harian Dul. Setiap kata yang ditulis Dul terpatri di kepalanya. Tentang mimpi buruk. Tentang suara yang memanggil dari hutan. Tentang perubahan perlahan yang terjadi pada diri sendiri tanpa bisa dihentikan. Bambang bertanya-tanya, apakah dia juga mulai berubah? Apakah kalimat tentang darah manusia yang tiba-tiba muncul di kepalanya adalah tanda bahwa makhluk-makhluk itu sudah mulai masuk ke pikirannya?
Joni duduk di sofa ruang tamu dengan selimut menutupi separuh badannya. Sejak kembali dari kamar Dul, Joni tidak banyak bicara. Wajahnya pucat. Matanya sayu. Kadang-kadang bibirnya bergerak-gerak seperti bicara pada seseorang, tapi tidak ada suara yang keluar. Bambang memperhatikan Joni dari kejauhan. Dia ingat tulisan Dul tentang Joni yang mulai bicara sendiri malam-malam. Sekarang Joni melakukannya di siang hari. Itu pertanda buruk.
Ucok tidak terlihat seharian. Pintu kamarnya tertutup rapat. Sesekali terdengar suara radio menyala dari dalam, tapi tidak ada suara Ucok. Bambang sempat mengetuk pintu kamar Ucok setelah makan siang, tapi tidak ada jawaban. Mungkin Ucok sedang tidur. Atau mungkin Ucok sedang tidak ingin diganggu. Atau mungkin Ucok sedang berubah.
Herman menghilang setelah kejadian di kamar Dul. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Bambang curiga Herman sedang mempersiapkan sesuatu untuk pertemuan malam ini. Atau mungkin Herman sedang melapor pada seseorang. Pada Pak Toni. Atau pada siapa pun yang sebenarnya mengendalikan pabrik ini dari balik bayang-bayang.
Hujan mulai reda saat magrib tiba. Bambang makan malam sendirian di kantin. Mbah Yem menyajikan nasi goreng dengan telur mata sapi. Porsinya lebih banyak dari biasanya. Seperti Mbah Yem tahu bahwa Bambang butuh tenaga ekstra untuk malam ini.
"Mbah," panggil Bambang sambil mengunyah nasi.
"Iya, Nak."
"Mbah sudah berapa lama di sini?"
Mbah Yem mengelap meja di sebelah Bambang. Gerakannya lambat. Tangannya keriput dan sedikit gemetar. "Dua puluh tahun lebih. Mbah ikut suami pindah ke sini waktu pabrik baru buka."
"Suami Mbah meninggal di sini, kan?"
Mbah Yem berhenti mengelap. Matanya menatap Bambang sejenak, lalu kembali ke meja. "Iya. Jatuh dari atap kantin. Waktu itu lagi benerin bocor. Pekerja lain bilang dia jatuh karena terpeleset. Tapi Mbah tahu... ada yang mendorongnya."
Bambang meletakkan sendoknya. "Maksud Mbah?"
"Malam sebelum suami Mbah meninggal, dia cerita mimpi aneh. Dia bilang ada suara panggil namanya dari hutan. Dia hampir ikut. Tapi dia ingat aturan nomor dua. Jadi dia tidak jawab. Tapi suara itu terus datang. Setiap malam. Setiap malam dia panggil nama suami Mbah. Sampai suatu malam, suara itu berubah jadi suara anak kami yang sudah meninggal. Suami Mbah nggak kuat. Dia jawab."
Bambang menelan ludah. "Setelah dia jawab?"
"Setelah dia jawab, dia berubah. Nggak langsung. Perlahan. Mulai sering lupa. Lupa nama Mbah. Lupa nama anak-anak. Lupa namanya sendiri. Suatu hari, dia naik ke atap kantin untuk benerin bocor. Dan dia... dia lupa kalau dia sedang di atap. Dia pikir dia sedang di tanah. Dia melangkah. Dan jatuh."
Mbah Yem mengusap matanya dengan ujung kain lap. "Dokter bilang itu kecelakaan. Tapi Mbah tahu. Itu karena dia sudah berubah. Tubuhnya masih manusia. Tapi pikirannya sudah jadi... sesuatu yang lain. Dan sesuatu yang lain itu tidak tahu cara berdiri di atap."
Bambang tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menatap Mbah Yem dengan perasaan campur aduk. Kasihan. Takut. Marah. Semuanya bercampur jadi satu.
"Mbah, kenapa Mbah masih di sini? Kenapa tidak pulang?"
Mbah Yem tersenyum pahit. "Pulang ke mana, Nak? Anak-anak Mbah sudah besar. Mereka punya keluarga sendiri. Mbah tidak mau jadi beban. Lagipula... di sini Mbah masih bisa jaga mereka."
"Jaga siapa?"
"Jaga kalian. Kalian anak-anak muda yang terjebak di sini. Mbah tidak bisa berbuat banyak. Cuma masak. Cuma dengar curhatan. Cuma kasih makan sebelum kalian... pergi."
Mbah Yem berbalik dan berjalan ke dapur. Pintu dapur ditutup pelan. Bambang duduk sendirian di kantin dengan piring kosong di depannya. Nasi goreng itu habis, tapi rasanya tidak terasa sama sekali di lidahnya.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika Bambang kembali ke blok satpam. Joni sudah tidur di sofa. Selimutnya terlepas, memperlihatkan tubuhnya yang menggigil meskipun udara tidak terlalu dingin. Bambang mengambil selimut itu dan menutupkan kembali ke tubuh Joni. Joni bergumam sesuatu dalam tidurnya. Nama seseorang. Perempuan. Mungkin ibunya. Mungkin kekasihnya. Bambang tidak tahu.
Herman muncul dari lorong. Wajahnya serius. Matanya merah, seperti orang yang baru saja menangis atau baru saja tidak tidur semalaman. Dia mengangguk ke arah Bambang, lalu berjalan menuju pintu. Bambang mengikutinya.
Mereka berjalan melewati halaman basah menuju kantin. Air hujan masih menggenang di beberapa tempat. Sepatu pantofel Bambang basah kuyup, tapi dia tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada apa yang akan Herman katakan.
Kantin gelap ketika mereka tiba. Herman menyalakan lampu minyak tanah di meja pojok. Cahayanya redup, hanya cukup untuk menerangi wajah mereka berdua. Di luar, hujan mulai turun lagi. Rintik-rintik kecil terdengar di atap seng.
Herman duduk di kursi kayu. Bambang duduk di seberangnya. Lampu minyak tanah di antara mereka membuat bayangan-bayangan aneh di dinding kantin.
"Sebelum aku cerita, aku mau kamu janji sesuatu," kata Herman.
"Apa?"
"Jangan cerita ke siapapun kecuali Joni dan Ucok. Ini rahasia. Kalau sampai ke Pak Toni, kita semua mati."
Bambang mengangguk. "Aku janji."
Herman menarik napas panjang. Tangannya yang memegang cangkir kopi gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena takut.
"Dua belas tahun lalu, aku bekerja di pabrik tekstil di Jawa Tengah. Pabrik itu milik perusahaan yang sama. PT. Nusantara Gelap. Namanya beda, tapi pemiliknya sama. Waktu itu aku jadi mandor produksi. Pabriknya ramai. Pekerjanya ratusan. Mesin-mesinnya hidup dua puluh empat jam. Tidak ada aturan aneh seperti di sini. Tidak ada larangan malam. Semua normal."
Herman berhenti sejenak. Matanya menerawang ke kejauhan, seperti sedang melihat masa lalu yang tidak ingin dia ingat.
"Suatu malam, ada kecelakaan. Mesin utama meledak. Bukan karena ledakan biasa. Ada yang aneh. Beberapa pekerja yang berada di dekat mesin itu... berubah. Kulit mereka mengeras. Menghitam. Seperti karet. Mereka tidak bisa bergerak. Hanya bisa berdiri diam. Matanya kosong. Mulutnya terbuka. Tidak ada suara."
"Kami pikir mereka mati. Tapi malam harinya, mereka bergerak. Mereka keluar dari ruang produksi. Berjalan menuju hutan di belakang pabrik. Kami tidak bisa menghentikan mereka. Tubuh mereka keras seperti karet. Tidak mempan dipukul. Tidak mempan ditembak."
"Perusahaan menutup pabrik itu. Semua pekerja diberhentikan. Tapi tidak ada satu pun dari kami yang mau bicara. Kami diberi uang tutup mulut. Banyak. Cukup untuk hidup sampai tua. Tapi aku... aku tidak bisa diam. Aku tahu ada yang salah dengan mesin itu. Aku tahu kecelakaan itu bukan kecelakaan. Itu eksperimen yang gagal."
Herman meneguk kopinya. Tangannya masih gemetar.
"Aku mulai menyelidiki. Butuh waktu bertahun-tahun. Aku ikut pindah dari satu pabrik ke pabrik lain. Semua milik PT. Nusantara Gelap. Pabrik pupuk di Jatim. Pabrik kertas di Riau. Dan sekarang pabrik karet di sini. Semua punya pola yang sama. Mesin utama meledak. Pekerja berubah jadi makhluk karet. Perusahaan tutup pabrik. Pekerja yang selamat diberi uang tutup mulut."
"Tapi kenapa perusahaan terus membuka pabrik baru kalau tahu akan meledak?" tanya Bambang.
"Karena mereka sengaja membuatnya meledak."
Bambang terkejut. "Apa?"
"Mesin-mesin itu dirancang untuk menghasilkan sesuatu. Bukan karet. Bukan tekstil. Bukan pupuk. Tapi... makhluk-makhluk itu. Setiap ledakan menghasilkan makhluk baru. Makhluk yang bisa dikendalikan. Makhluk yang bisa dijadikan tentara. Atau budak. Atau apapun yang mereka mau."
"Tapi kenapa makhluk-makhluk itu menyerang kita?"
"Karena mereka tidak sempurna. Mereka masih lapar. Mereka butuh... kesadaran manusia untuk bertahan. Makanya perusahaan menyediakan satpam. Satpam seperti kita. Umpan. Mereka menggoda kita. Memasuki mimpi kita. Memakan ingatan kita. Perlahan. Sampai kita berubah seperti mereka. Lalu perusahaan mengambil kita. Menjadikan kita bagian dari... koleksi."
Bambang merasakan mual di perutnya. "Jadi Dul... Dul sekarang sudah jadi koleksi?"
Herman mengangguk pelan. "Dul sudah berubah minggu lalu. Aku lihat dia berdiri di tepi hutan. Bersama yang lain. Dua belas orang sebelumnya. Semua berdiri di sana. Menatap pabrik. Menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu giliran kita."
Bambang diam. Kata-kata Herman terasa seperti palu yang menghantam kepalanya berulang-ulang. Dia ingin muntah. Tapi perutnya kosong. Nasi goreng tadi sudah dicerna. Yang tersisa hanya asam lambung yang naik ke tenggorokan.
"Kenapa kamu cerita ini semua padaku?" tanya Bambang akhirnya.
Karena aku tidak kuat lagi. Aku sudah dua belas tahun hidup dalam ketakutan. Aku sudah lihat puluhan orang berubah jadi makhluk. Aku sudah bantu perusahaan menjebak mereka. Aku sudah jadi penjaga penjara untuk sesama manusia."
Herman menunduk. Air matanya jatuh ke meja kayu. Lampu minyak tanah berkedip-kedip, hampir padam.
"Luka di dadamu itu... dari mana?" tanya Bambang.
Herman membuka kemejanya. Bekas luka bakar itu terlihat jelas di dadanya. Kulit mengerut. Merah kehitaman. Seperti terbakar sesuatu yang bukan api.
"Aku coba bakar gudang produksi tiga tahun lalu. Aku kumpulkan bensin dari drum-drum di gudang belakang. Aku siram ke lantai gudang. Aku nyalakan korek api. Tapi sebelum api jatuh ke tanah, kolam di tengah gudang itu menyemburkan cairan hitam ke arahku. Cairan itu panas. Lebih panas dari api. Membakar kulitku. Tapi tidak membakarku sampai mati. Hanya... membuatku begini. Sebagai peringatan."
"Kolam? Kolam apa?"
"Kolam lateks. Di tengah gudang produksi. Itu sumbernya. Mesin utama sebenarnya adalah kolam itu. Kolam itu hidup. Bernapas. Bergerak. Dari kolam itu makhluk-makhluk itu lahir. Kalau kolam itu mati, semua makhluk itu mati."
"Tapi kolam itu tidak bisa dibakar?"
Herman menggeleng. "Tidak. Aku sudah coba. Ucok sudah coba. Dul sudah coba. Semua gagal. Kolam itu terlalu kuat. Tapi aku yakin ada cara. Hanya belum ketemu."
Bambang teringat kalimat yang muncul di kepalanya. Darah manusia biasa adalah racun bagi mereka. Apakah itu petunjuk? Atau hanya halusinasi?
"Herman, pernah dengar bahwa darah manusia bisa jadi racun bagi makhluk-makhluk itu?"
Herman menatap Bambang dengan mata terbelalak. "Siapa yang bilang?"
"Aku... aku tidak tahu. Tiba-tiba muncul di kepalaku."
Herman terdiam lama. Matanya berkedip cepat. Dadanya naik turun.
"Itu... itu bisa jadi petunjuk. Tapi dari mana? Siapa yang bisikkan itu ke kamu?"
Bambang menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Kalau itu dari makhluk, itu jebakan. Mereka ingin kamu mendekat. Mereka ingin kamu percaya bahwa kamu bisa membunuh mereka dengan darahmu. Tapi begitu kamu mendekat, mereka akan menyambar."
"Tapi kalau itu petunjuk dari tempat lain?"
Herman menghela napas. "Kita tidak tahu. Dan kita tidak bisa ambil resiko. Untuk sekarang, ikuti aturan. Jaga diri. Jangan bicara dengan pengunjung malam. Jangan lihat terlalu lama ke monitor. Dan jangan coba-coba hal bodoh seperti yang aku lakukan."
Herman berdiri. Lampu minyak tanah hampir padam. Hujan di luar sudah reda. Hanya suara tetesan air dari atap yang terdengar.
"Aku sudah cerita semuanya. Sekarang terserah kamu. Kamu mau percaya atau tidak. Kamu mau bertahan atau menyerah. Tapi ingat, Bambang. Apapun yang kamu pilih, jangan pernah lupakan satu hal."
"Apa?"
"Kita masih manusia. Selama kita masih ingat siapa kita, selama kita masih ingat orang-orang yang kita cintai, selama itu kita masih punya kesempatan. Jangan biarkan mereka mengambil itu dari kamu."
Herman berjalan keluar dari kantin. Langkahnya berat. Tubuhnya yang dulu terlihat tegap sekarang tampak bungkuk. Seperti orang tua yang sudah kehabisan harapan.
Bambang duduk sendirian di kegelapan. Lampu minyak tanah mati. Yang tersisa hanya bau asap dan kegelapan yang menyelimuti.
Dia meraba sakunya. Buku harian Dul masih ada. Masih hangat karena dekat dengan tubuhnya. Bambang memegangnya erat-erat. Itu satu-satunya petunjuk yang dia miliki sekarang.
Dia harus mencari tahu tentang darah manusia. Apakah itu benar atau hanya jebakan.
Tapi bagaimana caranya?
Ponselnya tidak punya sinyal. Tidak ada internet. Tidak ada perpustakaan. Hanya ada dia dan kegelapan dan makhluk-makhluk yang menunggu di hutan.
Bambang berdiri. Kaki terasa berat melangkah. Dia keluar dari kantin dan berjalan menembus halaman basah menuju blok satpam. Hujan rintik-rintik masih mengguyur. Air membasahi rambut dan bajunya. Tapi dia tidak merasa dingin. Yang dia rasa hanya satu.
Rasa takut yang begitu dalam sehingga dingin pun tidak terasa lagi.