NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Dari Gunung Kematian

Kesadaran Arlan perlahan lahan kembali saat dia merasakan aroma tajam dari tanaman obat yang dibakar. Matanya terbuka sedikit demi sedikit, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang yang berasal dari api unggun kecil di tengah sebuah gua batu. Hal pertama yang dia rasakan bukanlah kekuatan yang meledak ledak, melainkan rasa sakit yang sangat tumpul dan berat di sekujur tubuhnya. Rasanya seolah olah setiap tulang di tubuhnya telah dilebur dan disusun kembali secara paksa. Arlan mencoba menggerakkan jari tangan kanannya, namun sarafnya terasa seperti tersengat aliran listrik yang sangat panas.

Arlan menoleh ke samping dan melihat kakek tua itu sedang sibuk menumbuk sesuatu di dalam sebuah lumpang batu kecil. Kakek itu tidak menoleh, namun dia tahu bahwa Arlan sudah bangun. Suasana di dalam gua itu sangat sunyi, hanya terdengar suara retakan kayu bakar dan desiran angin badai yang masih menderu di luar sana. Puncak Gunung Es masih belum melepaskan cengkeraman dinginnya, namun di dalam gua ini, kehangatan api unggun memberikan sedikit kenyamanan bagi tubuh Arlan yang hampir hancur.

"Jangan mencoba untuk duduk dulu, bocah," ucap kakek itu dengan suara yang tenang namun penuh dengan wibawa. "Kamu telah memaksakan wadah anak kecilmu untuk menampung energi yang seharusnya hanya dimiliki oleh pria dewasa berotot baja. Gerbang Ketiga telah membuka aliran energi kehidupanmu secara paksa. Jika bukan karena teknik pernapasan batin yang aku ajarkan, jantungmu mungkin sudah berhenti berdetak saat kamu pingsan tadi."

Arlan menarik napas dalam-dalam. Paru-parunya terasa sangat sensitif, seolah olah dia sedang menghirup uap yang mendidih. Dia memejamkan mata dan mencoba memeriksa kondisi internal tubuhnya. Di dalam batinnya, dia melihat jalur energinya tidak lagi sempit dan kaku. Jalur itu sekarang lebih lebar, namun di beberapa bagian terdapat memar energi yang harus segera dipulihkan. Arlan menyadari bahwa pembukaan Gerbang Ketiga adalah sebuah lompatan besar, namun juga merupakan sebuah beban yang luar biasa bagi fisiknya yang baru berusia tujuh tahun.

"Berapa lama aku pingsan?" tanya Arlan dengan suara yang masih sangat serak.

"Dua hari penuh," jawab kakek itu sambil menghampiri Arlan dan memberikan semangkuk cairan kental berwarna cokelat gelap. "Minum ini. Ini adalah sari pati jantung beruang es dicampur dengan akar kehidupan yang aku temukan di bawah tebing. Ini akan membantu menutup luka dalam di pembuluh darahmu."

Arlan menerima mangkuk itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia meminumnya tanpa ragu meskipun rasanya sangat amis dan pahit. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia sering meminum suplemen kesehatan mahal untuk menjaga staminanya saat bekerja lembur, namun cairan di tangan kakek ini jauh lebih efektif meskipun rasanya sangat buruk. Sesaat setelah meminumnya, Arlan merasakan sensasi hangat yang menyebar dari perutnya menuju ke ujung-ujung jari kaki dan tangannya. Rasa kaku yang menyiksa mulai perlahan lahan memudar.

Setelah merasa sedikit lebih baik, Arlan memaksakan dirinya untuk duduk bersila. Dia menatap kakek itu dengan tatapan yang sangat serius. "Ksatria Bayangan itu. Mereka dikirim oleh kerajaan. Itu berarti keberadaan ku bukan lagi sekadar masalah bagi kepala desa Gort. Kerajaan Astra menganggap ku sebagai ancaman."

Kakek tua itu mengangguk sambil membersihkan lumpang batunya. "Tentu saja. Keluarga Vandermir adalah keturunan jenderal perang terhebat yang pernah dimiliki kerajaan ini. Meskipun ayahmu dituduh berkhianat, mereka tahu bahwa darah jenderal itu tidak akan pernah hilang. Saat mereka mendengar ada seorang anak dari keluarga pengkhianat yang tidak memiliki berkah namun bisa menjatuhkan pengguna sihir, mereka tidak akan tinggal diam. Ketakutan adalah motivasi terbesar para penguasa."

Arlan mengepalkan tangannya. Di kehidupan sebelumnya, dia hancur karena dia tidak menyadari bahwa kesuksesannya telah memicu kecemburuan dan ketakutan dari para pesaingnya. Kali ini, dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Dia akan menjadikan ketakutan mereka sebagai senjata untuk menghancurkan mereka kembali.

"Tiga bulan menuju ujian akademi," gumam Arlan. "Aku butuh lebih dari sekadar kekuatan fisik. Aku butuh identitas baru atau cara untuk menyembunyikan kekuatan sejati ini sampai saat yang tepat."

"Itu adalah pemikiran yang cerdas, Arlan," kakek itu tersenyum puas. "Di akademi nanti, kamu tidak bisa terus menerus menggunakan Gerbang Ketiga. Jika kamu melakukannya, semua penyihir tingkat tinggi di sana akan langsung menyadari bahwa kamu adalah praktisi teknik terlarang. Kamu harus belajar cara menyamarkan serangan fisikmu seolah olah itu adalah hasil dari sisa-sisa mana yang lemah."

Selama dua hari berikutnya di dalam gua, kakek itu tidak mengajarkan teknik baru, melainkan mengajarkan cara mengendalikan pancaran energi. Arlan harus belajar bagaimana menyembunyikan aura kuat dari Gerbang Kehidupan di balik lapisan energi yang tenang. Ini adalah latihan kontrol saraf yang sangat rumit. Arlan harus membayangkan energinya sebagai sebuah sumur yang sangat dalam; di permukaan airnya terlihat tenang, namun di dasar sumur tersebut terdapat kekuatan yang sangat dahsyat.

Setelah kondisi tubuh Arlan pulih sekitar delapan puluh persen, mereka memulai perjalanan turun dari gunung. Perjalanan turun ternyata tidak kalah sulitnya dengan saat mendaki. Arlan harus menggunakan teknik kontrol sarafnya untuk menjaga keseimbangan di atas jalur es yang sangat licin. Namun, kali ini Arlan merasa jauh lebih ringan. Setiap langkahnya terasa sangat stabil, seolah olah kakinya memiliki daya hisap pada permukaan es.

Saat mereka sudah mencapai lereng bawah pegunungan, Arlan melihat Kota Oksis dari kejauhan. Namun kakek itu tidak membawanya kembali ke kota. Mereka mengambil jalan memutar melewati hutan-hutan terpencil yang jarang dilalui manusia. Kakek itu ingin Arlan menghindari mata-mata kerajaan yang mungkin masih berkeliaran di sekitar kota untuk mencari jejak para ksatria bayangan yang hilang.

"Kita akan kembali ke desa Oakhaven melalui jalur belakang," ucap kakek itu. "Ibumu pasti sudah sangat khawatir. Tapi ingat, saat kamu sampai di desa nanti, jangan tunjukkan perubahan apa pun. Tetaplah menjadi Arlan si anak pengkhianat yang lemah di mata mereka. Biarkan mereka terus meremehkan mu sampai hari ujian tiba."

Arlan mengangguk paham. Dia tahu pentingnya sebuah kejutan dalam sebuah peperangan. Jika musuh tahu seberapa kuat kamu, mereka akan mengirim pasukan yang lebih besar. Tapi jika musuh berpikir kamu adalah sampah, mereka akan mengirim anjing kecil yang sangat mudah untuk dipatahkan lehernya.

Setelah berjalan selama hampir tiga hari menembus hutan, akhirnya mereka sampai di pinggiran desa Oakhaven. Arlan melihat gubuk kecilnya dari kejauhan. Di depan gubuk itu, Elena sedang berdiri sambil menatap ke arah hutan dengan tatapan penuh kecemasan. Saat melihat sosok kecil Arlan muncul dari balik pepohonan, Elena langsung berlari dengan air mata yang bercucuran.

"Arlan! Anakku! Kamu kembali!" teriak Elena sambil memeluk Arlan dengan sangat erat.

Arlan merasakan kehangatan pelukan ibunya. Dia mencium aroma keringat dan debu dari pakaian Elena yang kasar. Meskipun jiwanya sudah sangat dingin, Arlan tidak bisa menahan rasa haru di hatinya. Elena adalah satu-satunya alasan kenapa dia masih ingin memiliki sisi kemanusiaan di dunia yang kejam ini.

"Aku baik-baik saja, Ibu," bisik Arlan sambil menepuk nepuk punggung ibunya. "Aku hanya tersesat di hutan sedikit lebih lama karena mencari kayu bakar yang bagus."

Kakek tua itu hanya berdiri di kejauhan, memperhatikan pertemuan ibu dan anak itu dengan senyum tipis di wajahnya. Dia kemudian menghilang di tengah kerumunan pepohonan tanpa pamit, seolah olah dia tidak pernah ada di sana sejak awal. Namun Arlan tahu, kakek itu akan selalu mengawasinya dari kegelapan.

Malam itu, Arlan duduk di dalam gubuknya yang gelap setelah Elena tertidur lelap. Dia mengeluarkan kantong koin emas yang dia dapatkan dari Kota Oksis. Dia menyembunyikan koin-koin itu di bawah lantai kayu gubuknya. Dia belum bisa menggunakan uang itu secara terang-terangan karena akan menimbulkan kecurigaan. Untuk saat ini, dia harus tetap hidup dalam kemiskinan yang terlihat secara fisik, namun dia memiliki kekayaan kekuatan dan rencana di dalam batinnya.

Arlan membuka telapak tangannya. Dia melihat tanda merah kecil di tengah telapak tangannya, simbol bahwa Gerbang Ketiga sudah aktif secara permanen di dalam sistem energinya. Dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.

"Gort, Julian, dan para penguasa kerajaan yang memfitnah keluargaku," gumam Arlan pelan. "Nikmatilah masa tenang kalian yang terakhir ini. Karena saat aku melangkah ke akademi nanti, itu adalah awal dari kehancuran kalian semua."

Di kehidupan keduanya ini, Arlan bukan lagi Adit yang berusaha membangun perusahaan secara legal. Dia adalah seorang pendekar bayangan yang akan membangun takhtanya di atas tumpukan tulang belulang musuhnya. Dia menyadari bahwa jalan di depannya masih sangat panjang. Babak latihan dasar telah selesai, dan kini dia harus memasuki babak di mana politik, sihir, dan kekuatan akan bercampur menjadi satu.

Arlan memejamkan matanya, memasuki meditasi rutin untuk memurnikan energinya. Dia tidak akan membiarkan satu detik pun terbuang sia-sia. Setiap detak jantungnya sekarang adalah persiapan untuk hari di mana dia akan menuntut balas atas semua ketidakadilan yang dia terima. Kegelapan malam di desa Oakhaven seolah menjadi pelindung bagi monster kecil yang sedang menyempurnakan taringnya di balik dinding gubuk yang rapuh.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!