NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Suara dari Dalam Tulang

Cahaya emas pucat di dada Xiao Chen perlahan meredup. Namun kehangatan yang ditinggalkannya tidak hilang. Kehangatan itu merambat seperti aliran sungai bawah tanah, menyusuri setiap retakan di tulang-tulangnya yang patah, menjahit luka-luka dari dalam.

Serigala Bumi Beracun masih berlutut. Nafasnya yang tadinya panas dan beringas kini berubah menjadi embusan patuh. Mata merahnya tidak lagi menatap Xiao Chen sebagai mangsa, melainkan sebagai... tuan.

Xiao Chen berusaha bangkit. Lengannya gemetar. Tanah di bawahnya licin oleh campuran darah dan embun beracun. Tapi sesuatu telah berubah. Rasa sakit di tulang rusuknya tidak lagi melumpuhkan. Bahkan, ia bisa merasakan tulang-tulang itu mulai menyambung—perlahan, seperti ranting kering yang direkatkan oleh getah pohon kuno.

Apa yang terjadi padaku?

Suara yang tadi bergema di benaknya kini diam. Tapi simbol retak di dadanya masih ada. Xiao Chen meraba dadanya dengan tangan gemetar. Kulit di atas tulang dada itu terasa hangat, sedikit menonjol, seperti ada ukiran yang tertanam di bawah daging.

"Tulang Patah Surga... Pewaris Terakhir..."

Apa maksudnya? Xiao Chen tidak mengerti. Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia hanyalah seorang pelayan. Anak yatim piatu yang ditemukan Tetua Sekte di pinggir hutan saat masih bayi. Tidak ada yang istimewa darinya. Akar spiritualnya retak sejak lahir—kata para Tabib Sekte, itu adalah cacat bawaan yang membuatnya tidak akan pernah bisa mencapai Alam Pemurnian Qi sekalipun.

Tapi sekarang... simbol kuno di dadanya mengatakan hal yang berbeda.

Krrrk...

Suara batu bergeser terdengar dari kedalaman gua di balik kabut racun ungu. Serigala Bumi Beracun menegakkan telinganya, tapi tidak menggeram. Ia hanya menoleh ke arah suara, lalu kembali menundukkan kepala pada Xiao Chen.

Xiao Chen mengikuti arah pandangan monster itu. Di sana, di balik kabut yang mulai menipis, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di dasar jurang pembuangan mayat.

Sebuah gerbang batu.

Tingginya sekitar tiga kali tubuh manusia dewasa. Permukaannya dipenuhi lumut hitam dan ukiran-ukiran usang yang nyaris tak terbaca. Tapi di tengah gerbang itu, ada sebuah cekungan—berbentuk sama persis dengan simbol retak di dada Xiao Chen.

Tulang Patah Surga.

Xiao Chen menatap gerbang itu, lalu menatap dadanya sendiri. Simbol di dadanya berdenyut pelan, seolah merespons keberadaan gerbang tersebut.

"Kau... tahu tempat ini?" tanyanya pada Serigala Bumi Beracun. Entah mengapa, ia merasa monster itu bisa mengerti.

Serigala itu menggeram pelan, lalu berjalan ke arah gerbang. Ia duduk di sampingnya, ekornya bergerak-gerak seperti anjing penjaga yang menunggu perintah.

Xiao Chen menghela napas. Ia tidak punya pilihan lain. Jurang ini terlalu dalam untuk didaki dengan tubuh yang baru setengah pulih. Dan di atas sana, Sekte Langit Pedang mungkin sudah menganggapnya mati. Kalaupun ia berhasil naik, apa yang akan ia lakukan? Kembali menjadi pelayan yang ditampar dan dihina?

Tidak. Sesuatu telah berubah malam ini. Dan ia harus mencari tahu apa.

Dengan langkah gontai, Xiao Chen mendekati gerbang batu itu. Semakin dekat ia melangkah, semakin panas simbol di dadanya. Ketika ia akhirnya berdiri tepat di depan gerbang, simbol itu mengeluarkan cahaya keemasan lagi—kali ini lebih terang.

Cekungan di gerbang merespons. Cahaya yang sama muncul dari ukiran-ukirannya. Xiao Chen mengangkat tangan, ragu-ragu, lalu meletakkan telapak tangannya di atas cekungan itu.

DUG!

Satu detak. Bukan dari jantungnya. Tapi dari gerbang.

DUG! DUG!

Detakan itu semakin cepat, seirama dengan denyut simbol di dadanya. Batu mulai bergeser. Debu berjatuhan dari langit-langit gua. Serigala Bumi Beracun mundur beberapa langkah, merintih pelan.

Lalu gerbang itu terbuka.

Di baliknya, bukanlah gua gelap seperti yang Xiao Chen bayangkan. Di baliknya ada sebuah ruangan besar yang diterangi oleh bola-bola cahaya melayang—biru, ungu, dan emas pucat. Udara di dalamnya tidak pengap seperti dasar jurang. Justru segar, seperti udara pagi di puncak gunung.

Xiao Chen melangkah masuk dengan hati-hati. Lantainya terbuat dari batu hitam mengkilap yang memantulkan cahaya bola-bola itu. Di tengah ruangan, ada sebuah altar sederhana. Di atas altar, hanya ada dua benda: sebuah gulungan kitab kuno dan sebuah cincin hitam polos.

Suara itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas, seolah datang dari altar itu sendiri.

"Kau telah datang... darah terakhir dari Ras Dewa Patah..."

Xiao Chen meneguk ludah. "Siapa kau? Apa yang terjadi padaku?"

"Aku adalah sisa-sisa kehendak Leluhur Pertama. Aku ditempatkan di sini untuk menunggumu... atau siapa pun yang cukup beruntung—atau cukup terkutuk—untuk mewarisi Tulang Patah Surga."

"Terkutuk?" Xiao Chen mengulangi kata itu dengan waspada.

"Tulang Patah Surga adalah anomali. Di mata Surga, kau adalah kesalahan yang harus dihapus. Di mata para kultivator, kau adalah monster yang tidak bisa dikendalikan. Tapi di mata Ras Dewa Patah... kau adalah harapan terakhir."

Cahaya di atas altar berkumpul, membentuk sosok transparan seorang lelaki tua berjubah putih. Matanya kosong, tapi tatapannya terasa menusuk.

"Ras Dewa Patah telah dimusnahkan oleh Surga seratus ribu tahun lalu," lanjut sosok itu. "Kami menolak tunduk pada Hukum Dao yang ditulis oleh para Penguasa Surga. Kami menciptakan jalan kami sendiri—jalan yang menggunakan tubuh sebagai alam semesta, bukan Dantian. Tapi Surga tidak menyukai pemberontak. Mereka mengirim Bencana Surgawi untuk menghancurkan kami. Semua keturunan kami diburu. Akar spiritual mereka dihancurkan. Tulang-tulang mereka dipatahkan."

Xiao Chen mendengarkan dengan napas tertahan.

"Tapi satu garis keturunan selamat. Tersembunyi. Terlupakan. Dan sekarang... garis keturunan itu ada di dalam dirimu."

"Aku... keturunan Ras Dewa Patah?" Suara Xiao Chen nyaris tak terdengar.

"Kau adalah yang terakhir. Tulang Patah Surgamu tidak retak karena cacat. Ia retak karena itulah bentuk sejati dari kekuatan kami. Kami tidak menyimpan Qi. Kami memecahnya, menyebarkannya ke setiap butir tulang, setiap serat otot, setiap tetes darah. Semakin retak tulang kami, semakin banyak energi yang bisa kami simpan."

Xiao Chen menatap tangannya sendiri. Jadi selama ini... ia bukanlah sampah. Ia hanyalah makhluk yang tidak cocok dengan sistem kultivasi yang diciptakan Surga.

Sosok lelaki tua itu menunjuk gulungan kitab di altar.

"Di dalam gulungan itu ada Teknik Tubuh Naga Chaos—warisan terakhir Ras Dewa Patah. Dan di dalam cincin itu... adalah semua yang tersisa dari peradaban kami."

Sosok itu mulai memudar.

"Waktuku hampir habis, pewaris terakhir. Dengarkan baik-baik: Surga mengawasi. Selama kau menggunakan metode kultivasi biasa, kau akan selalu dianggap sampah. Tapi begitu kau mulai menapaki jalan kami... mereka akan datang. Para Penguasa Surga tidak akan membiarkan Ras Dewa Patah bangkit lagi."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Xiao Chen.

Sosok itu tersenyum tipis—senyum yang penuh kesedihan dan harapan sekaligus.

"Bertahan hidup. Menjadi kuat. Dan ketika waktunya tiba... patahkan Langit itu."

Cahaya menghilang. Ruangan kembali hening. Hanya bola-bola cahaya yang masih melayang, dan Serigala Bumi Beracun yang kini duduk diam di samping altar.

Xiao Chen berdiri mematung. Di kepalanya, semua informasi baru ini berputar seperti badai. Ras kuno yang dimusnahkan. Surga yang mengawasi. Dan dia—seorang pelayan rendahan yang bahkan tidak bisa menyimpan Qi—adalah pewaris terakhir dari peradaban yang hilang.

Perlahan, ia melangkah ke altar. Tangannya terulur, bukan ke gulungan kitab dulu, tapi ke cincin hitam polos itu.

Begitu ujung jarinya menyentuh cincin, sebuah energi hangat mengalir ke dalam tubuhnya. Cincin itu tiba-tiba melesat dan melingkar di jari manis tangan kanannya, mengecil dengan sendirinya hingga pas.

Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun hidupnya, Xiao Chen merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!