Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Ruang pemeriksaan kantor polisi tidak besar.
Cat dindingnya putih kusam. Sebuah meja, kursi-kursi, dan monitor menampilkan potongan rekaman CCTV dari mansion. Suara dari rekaman disetel cukup pelan, tetapi jelas.
Polisi bernama Armand membuka berkas.
"Nama?"
"Anne," jawab Anne, duduk gelisah. Pipi kanan kirinya memerah dan sedikit bengkak. Mira dan Siska duduk di sisi, menahan tangis.
"Saudari Anne," kata Armand tenang, "rekaman ini menunjukkan Anda memberi makanan yang tampak basi kepada anak berusia tiga setengah tahun. Kemudian pada tanggal lain, Anda terdengar meninggikan suara dan menyebutnya 'nakal' sambil mengunci pintu kamar selama 45 menit. Betul?"
Anne mengangkat dagu. "Itu hanya... disiplin, Pak. Anak itu sulit diatur. Dan bubur itu tidak basi, hanya kurang hangat."
Armand memutar rekaman lain. Terlihat Anne menoleh ke dapur sambil berbisik, "Biar saja. Anak ini kalau kelaparan, baru tahu rasa." Tanggal dan jam tercantum di sudut layar.
Armand menatap Anne. "Ini apa?"
Anne kehilangan kata-kata. "Itu... saya sedang emosional."
Mira menyela cepat, "Pak, kami hanya mengikuti perintah Kepala Pelayan."
Siska mengangguk cepat, "Benar, Pak. Anne yang suruh."
Anne memekik, "Jangan lempar semua ke saya!"
Armand mengetuk meja, memberi isyarat tenang. "Kalian akan diperiksa satu per satu. Namun, berdasar Undang-Undang Perlindungan Anak, memperlakukan anak secara tidak layak-termasuk memberi makanan tidak layak, membentak, dan mengurung-dapat masuk kategori kekerasan psikis dan penelantaran. Sanksinya jelas."
Anne mulai menangis. "Pak, saya khilaf. Saya sudah lama bekerja. Saya... saya butuh pekerjaan ini. Saya tidak mau di penjara. Saya tidak bersalah"
"Pekerjaan tidak menjadi alasan melanggar hukum," jawab Arman. "Pengakuan Anda akan dicatat. Bukti sudah ada. Untuk proses penyelidikan, kalian bertiga kami tahan sementara."
Anne berdiri setengah memohon. "Pak, saya tidak bersalah! Nyonya itu... dia menampar saya! Lihat muka saya!"
Armand menoleh pada BAP. "Saudari Anne, Anda yang memulai tindakan yang berpotensi membahayakan anak. Tamparan akan dinilai sebagai pembelaan proporsional di wilayah kediaman, melihat situasi darurat melindungi anak. Lagi pula, pelapor bersedia menjalani proses hukum bila diperlukan. Intinya, fokus kami adalah keselamatan anak."
Anne merosot di kursi, menangis keras.
"Tolonglah, Pak!"
Dua polwan masuk. "Silakan ikut," kata salah satunya. Mira dan Siska berdiri lemas, mengikuti langkah polwan menuju ruang tahanan sementara. Anne dibimbing terakhir. Di ambang pintu, ia menoleh ke Armand. "Saya difitnah..."
Armand kembali memutar rekaman tanpa melihatnya lagi. Pintu menutup. Suara gembok terdengar jelas. Tangis Anne meredup jauh di koridor.
Sore di Mansion
Langit mulai jingga. Thalia duduk di teras belakang yang menghadap taman. Danau buatan memantulkan warna langit. Liam duduk di sampingnya dengan kaus santai, memegang es krim vanila yang sudah setengah lumer. Ada noda kecil di bibirnya.
"Pelan-pelan makannya," kata Thalia. "Nanti batuk."
Liam tertawa kecil. "Mama... lucu."
"Lucu kenapa?"
"Karena... tadi plak plak," ia menirukan suara tamparan. "Kaya' di pilem."
Thalia tersenyum. "Mama tidak bangga menampar orang. Tetapi kalau ada yang jahat, kita tidak boleh diam. Kamu juga begitu. Kalau ada teman yang nakal nanti, bilang. Jangan dipendam."
Liam mengangguk. "Kalo' Mama ga' ada... Liam bilang ke Lina?"
"Boleh. Rina orang baik." Thalia menoleh; Rina berdiri tidak jauh, memastikan jarak aman. "Rina, mulai besok, susun menu untuk Liam: ada sayur, protein, buah, dan susu. Variasikan agar ia tidak bosan. Aku akan cek setiap pagi."
"Siap, Nyonya," sahut Rina mantap.
"Dan sampaikan ke semua staf: tidak ada lagi yang memperlakukan Liam atau siapapun semena-mena. Aturannya sederhana-yang baik diperlakukan baik, yang jahat berurusan dengan hukum."
"Baik."
Thalia memandang taman. Angin sore membawa aroma rumput. Dalam hati, ia menandai satu hal: rumah ini harus terasa aman bagi Liam. Tanpa rasa takut, tanpa bisik-bisik yang merendahkan.
ini?" "Liam," panggilnya. "Mau main bola setelah
"Mau!" Liam melonjak kecil. "Tapi... bola di mana?"
"Kita cari. Kalau tidak ada, kita beli." Thalia mengacak rambutnya. "Hari ini hari baik. Kita rayakan sedikit."
Liam mengangguk bersemangat.
Usai makan malam-kali ini sup ayam, tumis sayur, dan puding mangga-Thalia menerima telepon dari kantor polisi. Suaranya formal namun ramah.
"Nyonya Thalia, kami sudah menahan tiga pelayan itu untuk penyelidikan. Rekaman dan keterangan saksi cukup kuat. Jika tidak ada halangan, berkas akan segera naik. Untuk sementara, Anda bisa tenang."
"Terima kasih, Pak," ujar Thalia. "Kami akan kooperatif."
"Baik. Jika Anda membutuhkan pendamping hukum, kami bisa menyarankan lembaga terkait."
"Terima kasih, saya akan pertimbangkan."
Telepon ditutup. Thalia menoleh pada Rina yang menunggu kabar. "Mereka ditahan."
Rina menghela napas lega. "Syukurlah."
"Besok umumkan lowongan untuk beberapa pelayan baru. Syaratnya jelas: tegas, rapi, dan tidak sok berkuasa. Sementara, struktur kerja di dapur diawasi bergilir oleh dua staf senior. Buat jadwalnya malam ini."
"Siap."
Thalia berdiri. "Dan pastikan uang makan staf tidak dipotong seenak kepala. Aku ingin catatan rinci keluar masuk bahan. Transparan."
Rina mencatat cepat. "Baik, Nyonya."
Di tangga menuju kamar, Thalia berpapasan dengan dua pelayan muda yang tadi mengintip di dapur. Mereka menunduk sopan, takut-takut.
Thalia berhenti sejenak. "Kalau kalian bekerja dengan baik, kalian aman. Kalau ikut-ikutan membully, kalian tahu konsekuensinya."
"Kami mengerti, Thal-eh, Nyonya," jawab mereka hampir bersamaan.
Thalia meneruskan langkah, membuka pintu kamar, dan berhenti di depan cermin. Ia melihat pantulan dirinya: rambut masih sederhana, kacamata tebal, wajah muda yang belum dirawat sepenuhnya. Namun, di balik itu, ada sorot mata yang tegas. Bukan korban. Bukan juga penonton. Ia adalah pemeran utama di panggung ini.
"Anne selesai," gumamnya pendek.
"Berikutnya... Masih banyak yang harus aku mintai balasan"
Setelah seharian penuh menghadapi Anne, rasa penasarannya justru semakin kuat. Musuh yang lebih licik mungkin sudah menunggu.
Thalia melirik jam. Lampu kamar diredupkan. Dari koridor, suara langkah kecil berlari-Liam.
"Mamaa!" Ia muncul di ambang pintu, menguap. "Liam mau bilang... makacih."
Thalia mendekat, berlutut agar sejajar. "Untuk apa?"
"Untuk... plak plak," ia berbisik, lalu tertawa geli. "Dan... sup ena'."
Thalia memeluknya singkat. "Sama-sama. Tidur yang nyenyak ya."
Liam mengangguk, lalu berlari kecil ke kamar dengan pengasuh sementara. Pintu tertutup. Sunyi yang tersisa kali ini bukan sunyi yang menakutkan, melainkan tenang-tenang yang lahir dari kendali.
Thalia naik ke ranjang, menarik selimut. Ia menutup mata, bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menyimpan tenaga. Besok, babak baru dimulai. Anne sudah selesai-dan itu menjadi peringatan bagi siapa pun yang berniat bermain kotor di rumah ini.
Di balik kelopak matanya, satu kalimat muncul jelas: siapa pun yang menyentuh aku dan anakku-akan berhadapan denganku.
lanjuttttt/Kiss/