NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paviliun Bela Diri

Bab 25: Paviliun Bela Diri dan Telapak Penghancur Matahari

Paviliun Bela Diri Puncak Luar adalah sebuah bangunan pagoda kayu berlantai tiga yang tampak kusam jika dibandingkan dengan kemegahan tata bangunan Puncak Utama. Meski begitu, bagi puluhan ribu Murid Luar, tempat ini adalah satu-satunya gerbang menuju keabadian.

Di depan pintu masuk paviliun, dua patung singa batu raksasa memancarkan aura formasi pelindung. Antrean panjang murid berjubah abu-abu mengular hingga ke pelataran berbatu.

Chu Chen dan Meng Fan berdiri di barisan tengah. Tatapan Chu Chen dengan tenang menyapu bangunan tersebut. Niat Spiritualnya yang diam-diam menyebar langsung membentur sebuah penghalang tak kasat mata.

Formasi pengunci tingkat tinggi. Ada seorang ahli Alam Istana Jiwa yang tertidur di lantai paling atas untuk menjaga tempat ini, batin Chu Chen. Ia segera menarik kembali Niat Spiritualnya agar tidak memicu kewaspadaan. Ia tidak datang ke sini untuk mencari masalah dengan sesepuh sekte. Ia hanya butuh ilmu serangan luar untuk menyalurkan Lautan Qi-nya.

Setelah menunggu hampir satu jam, giliran mereka tiba.

Di meja penjaga pintu, duduk seorang pria paruh baya berwajah masam dengan kumis tipis. Di dadanya terukir lambang awan perak, menandakan ia adalah seorang Pengawas tingkat rendah.

"Plakat pengenal," ucap Pengawas itu tanpa mengangkat wajah dari buku catatannya.

Chu Chen dan Meng Fan menyerahkan plakat perak mereka.

"Baru lulus dari Jalur Asura beberapa hari lalu? Lapis Kelima dan Keenam Penempaan Raga," Pengawas itu mendengus meremehkan. "Murid Luar hanya diizinkan naik ke Lantai Pertama. Kalian punya waktu satu jam untuk memilih satu salinan ilmu bela diri. Jika kalian berani naik ke lantai dua, formasi akan memotong kedua kaki kalian. Masuk."

Begitu melewati pintu kayu tebal, udara di dalam paviliun terasa jauh lebih kuno dan berdebu. Lantai Pertama dipenuhi oleh puluhan rak kayu jati yang menjulang hingga ke langit-langit. Ribuan gulungan bambu, perkamen, dan kepingan giok tua tersusun rapat.

"Banyak sekali..." Meng Fan menelan ludah, matanya berbinar rakus. "Teknik Pedang Pembelah Angin, Tinju Pemecah Batu, Langkah Bayangan Hantu... Ini semua adalah ilmu yang diperebutkan dengan darah di dunia fana!"

"Itu hanya ilmu kelas sampah," potong Chu Chen dingin, mematahkan kegembiraan Meng Fan. "Ilmu-ilmu itu hanya mengajarkan cara menyalurkan kekuatan otot dan sedikit olah udara. Jika kau melawan seseorang di Alam Lautan Qi dengan itu, kau hanya akan mati lebih cepat."

Chu Chen melangkah melewati rak-rak terdepan yang dipenuhi oleh murid-murid baru yang saling sikut. Matanya yang tajam menyisir setiap gulungan.

Seni Kaisar Naga Penelan Semesta adalah fondasi mutlaknya, sebuah ilmu olah napas dalam yang paling menentang surga. Namun, Chu Chen tidak memiliki ilmu serangan luar. Ia tidak bisa selalu menggunakan Pusaran Ketiadaan atau memercikkan Api Teratai Merah secara langsung di depan umum jika ia tidak ingin diburu oleh seluruh ahli di benua ini. Ia membutuhkan sebuah teknik fisik yang bisa menutupi dan mewadahi ledakan Api Teratai Merah miliknya.

Ia berjalan terus hingga ke sudut paling belakang Lantai Pertama. Tempat itu gelap, berdebu, dan sarang laba-laba menutupi sebagian besar rak yang sudah reyot. Ini adalah bagian "Ilmu Cacat"—kumpulan jurus yang tidak lengkap, terlalu berbahaya untuk dipelajari, atau terbukti membunuh penggunanya.

"Hei, sampah. Minggir. Jangan menghalangi jalan Perkumpulan Harimau Hitam."

Sebuah suara angkuh terdengar dari belakang. Chu Chen tidak menoleh, namun ia mengenali bau kesombongan itu. Tiga orang pemuda melangkah mendekat. Pemimpinnya adalah seorang pemuda jangkung dengan luka codet di bibirnya, memancarkan gejolak Lapis Kedelapan Penempaan Raga.

Pemuda codet itu sengaja menabrak bahu Chu Chen.

Tuk.

Pemuda codet itu terhuyung mundur sambil meringis, memegangi bahunya yang terasa seperti baru saja menghantam pilar besi berduri. Ia menatap Chu Chen dengan marah. "Tubuhmu keras juga untuk ukuran Lapis Kelima! Kau tidak punya mata?!"

Chu Chen mengabaikannya sepenuhnya. Tatapannya terkunci pada sebuah kepingan giok berwarna merah kusam yang tergeletak di rak paling bawah, tertutup debu setebal satu cun. Darah naganya bereaksi samar, seolah merasakan sisa-sisa keganasan dari masa lalu yang terperangkap di dalam giok tersebut.

Chu Chen berjongkok, mengambil kepingan giok itu, dan mengusap debunya. Ada empat aksara kuno yang terukir di sana: Telapak Penghancur Matahari.

Pemuda codet dari Harimau Hitam itu tertawa terbahak-bahak saat melihat apa yang dipegang Chu Chen. "Hahaha! Lihat orang dungu ini! Dia mengambil Telapak Penghancur Matahari! Hei, apa kau bosan hidup?"

Beberapa murid lain di sekitar rak menoleh dan ikut berbisik-bisik mencemooh.

"Itu ilmu bunuh diri," bisik seorang murid kepada temannya. "Syaratnya mengharuskan pengguna memusatkan seluruh energi Yang pada tingkat puncak ke satu titik di telapak tangan untuk meledakkan musuh. Tapi ilmu ini cacat. Tidak ada tata cara penyaluran baliknya. Siapapun yang mencobanya, meridian di lengan kanan mereka langsung hangus terbakar menjadi abu."

"Sepuluh tahun lalu ada seorang Kakak Seperguruan yang berbakat mencoba menyempurnakannya. Lengan kanannya meledak dan ia menjadi cacat seumur hidup. Sejak saat itu, kepingan giok itu dibuang ke sudut sampah."

Chu Chen tidak mendengarkan ejekan mereka. Ia menyalurkan sedikit Niat Spiritualnya ke dalam kepingan giok tersebut.

Untaian keterangan mengalir ke dalam benaknya. 'Telapak Penghancur Matahari. Ilmu Serangan Puncak. Membakar energi api murni, memampatkannya hingga batas kehancuran, dan melepaskannya dalam satu ledakan telapak tangan. Bahaya: Jika tubuh fisik tidak cukup tangguh untuk menahan suhu yang terlampau tinggi, pengguna akan terbakar menjadi abu bersama musuhnya.'

Di bawah bayangan tudungnya, bibir Chu Chen melengkung membentuk seringai buas.

Meridian yang terbakar? Tubuh fisik yang tidak tangguh menahan suhu yang terlampau tinggi? Syarat-syarat mematikan yang menjadi mimpi buruk bagi manusia fana ini adalah lelucon di hadapan Zirah Tulang Naga Hitam dan pemulihan mutlak Darah Naga Primordialnya. Terlebih lagi, ia memiliki Api Teratai Merah di dalam Dantiannya—sumber api paling murni di dunia ini.

Ilmu cacat ini bagaikan pedang dewa yang diciptakan khusus untuk tangannya.

"Aku ambil ini," ucap Chu Chen pelan, memasukkan giok itu ke balik jubahnya dan berdiri.

Pemuda codet itu merasa diabaikan untuk kedua kalinya. Harga dirinya sebagai Kakak Seperguruan Lapis Kedelapan mendidih. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Chu Chen.

"Aku sedang berbicara padamu, sampah!" bentak si codet, meletakkan tangannya ke gagang pedang. "Kudengar kau memberikan sepuluh Inti Kalajengking pada Adik-adik Seperguruanku tempo hari. Tampaknya kau cukup kaya di Jalur Asura. Serahkan giok itu, dan bayar dua puluh Batu Roh padaku sekarang, atau aku akan mengajarimu aturan kedudukan di Puncak Luar!"

Meng Fan, yang baru saja memilih teknik pedang dari rak lain, bergegas mendekat dengan wajah panik. "Kakak Senior, tolong jangan marah! Kami baru lulus, kami tidak punya—"

"Tutup mulutmu, anjing tua!" Si codet menendang perut Meng Fan hingga pria itu terjerembab ke lantai, labu araknya terlempar dan isinya tumpah membasahi kayu.

Suasana di Paviliun Lantai Pertama mendadak hening. Semua orang menatap ke arah keributan itu, menanti hiburan pertumpahan darah cuma-cuma.

Chu Chen menatap Meng Fan yang terbatuk di lantai, lalu pandangannya beralih dengan sangat lambat menuju wajah pemuda codet itu. Ketenangan yang sedingin kedalaman samudra es kembali menyelimuti mata Chu Chen.

Dua hari, batin Chu Chen menghitung dengan akal sehat pembunuhnya. Sudah dua hari sejak pembunuhan Lu Jian. Sekte belum menemukan apa-apa. Pengawasan terhadap Puncak Luar mulai mengendur. Dan jika aku terus bersikap seperti pengecut, sampah-sampah ini tidak akan pernah berhenti menghalangi jalanku.

Sikap tunduk hanya berguna untuk menghindari tatapan naga. Tapi untuk mengusir lalat, kau hanya perlu menamparnya sekali.

"Kau..." suara Chu Chen memecah keheningan, mengalir pelan namun menusuk langsung ke gendang telinga si codet. "Menendang temanku."

Si codet mendengus remeh. "Lalu kenapa? Kau mau menangis lapor pada Penatua? Serang aku jika kau bera—"

BAM!

Tidak ada yang melihat Chu Chen bergerak. Tidak ada bayangan, tidak ada hembusan angin. Kecepatan fisik murni dari Lapis Kesembilan Puncak miliknya merobek udara.

Tangan kanan Chu Chen telah mencengkeram wajah pemuda codet itu dengan kekuatan jepitan baja yang mutlak.

Sebelum si codet bisa menjerit, Chu Chen membanting wajah pemuda itu lurus ke lantai kayu jati yang tebal.

KRAAAAK!

Lantai paviliun hancur berantakan. Kepala si codet amblas menembus papan kayu hingga ke batas leher. Darah menyembur mewarnai serpihan kayu di sekitarnya. Pemuda Lapis Kedelapan yang ditakuti itu kejang-kejang sesaat, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran sepenuhnya dengan tulang hidung yang hancur lebur.

Dua anak buah Perkumpulan Harimau Hitam di belakangnya membelalakkan mata dengan ngeri. Mereka bahkan tidak sempat berkedip, apalagi mencabut senjata.

"S-Siluman!" salah satu dari mereka mundur dengan kaki gemetar. "K-Kau menyerang sesama murid di Paviliun Bela Diri! Kau akan dihukum mati!"

Chu Chen melepaskan cengkeramannya dari wajah musuhnya yang tak sadarkan diri, lalu perlahan berdiri. Ia menepuk debu dari jubah abu-abunya, menatap tajam ke arah kedua anak buah yang ketakutan itu, dan sengaja membiarkan aura Lapis Kesembilan Puncak miliknya—tanpa setetes pun gejolak Lautan Qi atau Api Teratai Merah—meledak menyapu seluruh lantai pertama.

WUUUSH!

Tekanan fisik yang ganas membuat semua Murid Luar di ruangan itu sesak napas. Lutut mereka lemas.

"L-Lapis Kesembilan Puncak?! Bagaimana mungkin dia punya Akar Roh Cacat?!" jeritan tertahan terdengar dari sudut rak.

Chu Chen melangkah melewati tubuh si codet yang berdarah, menghampiri Meng Fan, dan mengulurkan tangannya untuk membantu pria itu berdiri. Ia lalu menatap ke arah pintu masuk paviliun, tempat Pengawas penjaga tadi kini berdiri dengan wajah memucat.

"Aturan sekte menyatakan dilarang membunuh sesama murid," ucap Chu Chen dengan nada dingin yang bergema di seluruh ruangan. "Dia masih bernapas. Aku hanya mengajarinya cara menghormati lantai paviliun suci ini."

Chu Chen menatap berkeliling, memastikan setiap pasang mata di ruangan itu mengukir wajahnya ke dalam ingatan ketakutan mereka.

"Beri tahu Ketua Perkumpulan Harimau Hitam kalian," ucap Chu Chen, nadanya tenang namun dipenuhi kewibawaan mutlak. "Gubuk nomor 4044 bukan lagi ladang perburuan. Siapapun yang berani mengetuk pintuku lagi tanpa undangan, aku akan mematahkan lehernya dan menjadikannya pakan anjing liar."

Meninggalkan keheningan yang mencekam, Chu Chen membawa giok Telapak Penghancur Matahari dan melangkah keluar dari Paviliun Bela Diri, siap untuk menggabungkan dua kekuatan paling mematikan yang pernah ada dalam satu telapak tangannya.

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!