NovelToon NovelToon
The Don & The Disaster

The Don & The Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabur dari Kejaran Pembunuh Bayaran

Suasana di dalam helikopter penyelamat yang baru saja meninggalkan wilayah Il Bosco Proibito seharusnya tenang, namun ketenangan itu hancur saat sebuah peringatan sensor berbunyi nyaring di kokpit. Sinyal yang baru saja kembali normal kini menampilkan titik-titik merah yang mendekat dengan kecepatan tinggi dari arah lembah tetangga.

​"Tuan! Dua helikopter tak dikenal mendekat! Mereka mengunci radar kita!" teriak pilot.

​Aiden Volkov segera berdiri, matanya berkilat tajam. "Bukan otoritas udara. Itu The Crimson Fang. Mereka tidak menyerah di gudang kemarin."

​Belum sempat Aiden memberikan perintah lanjutan, sebuah guncangan hebat menghantam badan helikopter. Sebuah rudal pencari panas meledak tepat di dekat ekor pesawat, membuat helikopter itu berputar liar di udara.

​"Ziva, pakai sabuk pengamanmu!" teriak Aiden sambil menarik tuas darurat.

​"BANG DON! KITA MAU JADI BALING-BALING BAMBU APA GIMANA?!" Ziva menjerit sambil memeluk tas ranselnya yang berisi ulekan batu legendaris itu erat-erat.

​Pilot berhasil melakukan pendaratan darurat di sebuah lapangan terbuka di pinggiran desa terpencil dekat perbatasan Italia-Swiss. Begitu roda menyentuh tanah, Aiden menyeret Ziva keluar.

​"Lari ke arah hutan pinus! Sekarang!"

Begitu mereka masuk ke dalam rimbunnya pohon pinus, dua helikopter pengejar mendaratkan belasan pria bersenjata lengkap. Mereka adalah tim pembersih profesional—pembunuh bayaran yang disewa khusus untuk memastikan Aiden Volkov tidak pernah kembali ke Milan.

​"Mereka menggunakan pemindai termal, Tuan," bisik Marco yang ikut melompat keluar dengan senapan mesin di tangannya. "Kita tidak bisa sembunyi lama di bawah pohon."

​Aiden menatap Ziva yang napasnya tersengal-sengal. Wajah gadis itu pucat, tapi matanya menunjukkan tekad untuk bertahan hidup. "Ziva, kau harus mengikuti instruksiku tanpa tapi. Kita akan memancing mereka ke area tebing."

​"Oke, Bang! Tapi kalau kita mati, gue mau dikubur bareng stok permen jahe gue ya!" seru Ziva dengan sisa-sisa keberaniannya.

​Mereka berlari menembus salju yang setinggi lutut. Suara tembakan mulai terdengar, merobek batang-batang pohon di sekitar mereka. Aiden membalas tembakan sambil terus bergerak, melindungi punggung Ziva dengan tubuhnya sendiri.

​"Di sana! Ada gubuk tua!" Ziva menunjuk ke arah sebuah bangunan kayu kecil yang hampir tertutup salju di pinggir jurang.

​"Itu jebakan, Ziva. Mereka akan mengepung kita di sana," ucap Aiden. Namun, ia melihat sebuah kereta gantung tua (cable car) yang sudah berkarat di samping gubuk tersebut. Kereta itu menghubungkan tebing ini dengan puncak seberang. "Tapi itu bisa jadi satu-satunya jalan keluar kita."

Para pembunuh bayaran mulai mendekat. Tim Marco berusaha menahan mereka di garis belakang, sementara Aiden dan Ziva berlari menuju stasiun kereta gantung yang sudah ditinggalkan puluhan tahun itu.

​"Bang, ini talinya udah karatan semua! Kalau putus gimana?!" Ziva menatap kabel baja yang merentang di atas jurang sedalam ratusan meter.

​"Lebih baik putus bersama daripada mati di tangan mereka, Ziva. Masuk!" Aiden mendorong Ziva ke dalam kabin besi kecil yang berderit.

​Aiden menarik tuas manual yang ada di stasiun. Mesin tua itu terbatuk, mengeluarkan asap hitam, dan mulai bergerak perlahan. Saat kabin mulai meluncur menjauh dari tepi tebing, para pembunuh bayaran sampai di stasiun.

​"Tembak kabelnya!" perintah pemimpin pembunuh bayaran itu.

​Peluru mulai menghujani kabin besi tersebut. Aiden memaksa Ziva untuk tiarap di lantai kabin yang dingin. "Tetap di bawah, Ziva!"

​Aiden membalas tembakan melalui jendela kabin yang pecah. Suasana menjadi sangat kacau. Kabin bergoyang hebat setiap kali peluru menghantam dinding besinya.

​"Bang Don! Ada satu orang lompat ke atap kabin!" teriak Ziva saat ia mendengar suara gedubrak keras di atas kepala mereka.

​Seorang pembunuh bayaran berhasil melompat ke atas kabin sebelum kereta itu meluncur terlalu jauh. Ia mencoba memecahkan kaca atap untuk menembak ke dalam. Aiden segera berdiri, membuka pintu samping kabin yang macet, dan memanjat keluar.

​"BANG! LU MAU NGAPAIN?! JANGAN JADI SPIDERMAN SEKARANG!" Ziva histeris melihat Aiden bergelantungan di atas jurang yang menganga.

​Aiden tidak menghiraukan teriakan Ziva. Ia naik ke atap dan langsung disambut dengan serangan pisau komando. Duel maut terjadi di atas kabin yang sedang meluncur di ketinggian 300 meter. Angin kencang gunung menerpa mereka, membuat keseimbangan menjadi mustahil.

​Di dalam kabin, Ziva melihat pistol pembunuh bayaran itu terjatuh melalui celah atap ke lantai kabin. Ia mengambilnya, tapi tangannya gemetar. "Gue nggak bisa nembak... gue nggak bisa nembak..."

​Ia melihat ke atas. Aiden sedang dipiting oleh si pembunuh bayaran yang badannya jauh lebih besar. Pisau itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari leher Aiden.

​"BANG DON! AWAS!"

​Ziva tidak menggunakan pistol itu. Ia meraih tas ranselnya, mengeluarkan ulekan batu legendarisnya, dan dengan sisa tenaga ia melemparkannya ke arah tangan si pembunuh bayaran melalui celah atap.

​PLAK!

​Ulekan batu itu menghantam pergelangan tangan si pembunuh dengan telak hingga pisaunya terlepas dan jatuh ke jurang. Aiden memanfaatkan momen itu untuk memberikan tendangan maut yang membuat musuhnya terlempar dari atap kabin, jatuh menghilang di balik kabut jurang.

Aiden kembali masuk ke dalam kabin dengan napas terengah-engah. Bajunya sobek, dan tangannya berdarah karena mencengkeram kabel baja. Begitu masuk, ia langsung dipeluk erat oleh Ziva yang menangis sesenggukan.

​"Lu gila! Lu bener-bener gila, Bang! Jangan pernah ngelakuin itu lagi!" tangis Ziva di dada Aiden.

​Aiden mengusap rambut Ziva dengan tangan yang masih gemetar. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, Ziva. Bahkan maut sekalipun harus mengantre."

​Kabin itu akhirnya sampai di stasiun seberang dengan suara benturan yang keras. Mereka melompat keluar tepat saat sebuah rudal dari helikopter pengejar menghantam stasiun yang baru saja mereka tinggalkan, memutuskan kabel baja hingga kabin yang mereka tumpangi tadi jatuh terjun bebas ke jurang.

​"Kita belum aman," ucap Aiden sambil melihat helikopter musuh yang mulai berputar balik ke arah mereka.

​Mereka berlari menuju sebuah terowongan tua di balik puncak gunung. Di sana, Marco sudah menunggu dengan kendaraan taktis yang ia dapatkan dari unit bayangan Volkov yang berhasil menembus blokade.

​"Tuan! Masuk sekarang!" teriak Marco.

​Mobil itu melesat menembus jalanan setapak yang ekstrem, menghindari rentetan tembakan dari udara. Ziva menutup matanya, memegang tangan Aiden erat-erat.

​"Bang... kalau kita selamat, gue mau makan seblak level 100. Gue butuh adrenalin yang lebih waras daripada ini," gumam Ziva.

​Aiden tersenyum tipis, meski wajahnya penuh luka. "Aku akan membelikanmu pabrik kerupuknya sekalian, Ziva."

Setelah aksi kejar-kejaran selama dua jam yang menegangkan melalui jalanan pegunungan yang berkelok, mereka akhirnya sampai di sebuah pangkalan militer rahasia milik relasi Aiden. Helikopter musuh tidak berani mendekat karena area tersebut dilindungi oleh sistem pertahanan udara.

​Aiden turun dari mobil, membantu Ziva yang kakinya sudah lemas seperti jeli. Ia menatap ke arah pegunungan Alpen yang kini mulai tertutup kegelapan malam. Kejaran pembunuh bayaran itu berakhir untuk sementara, namun perang besar baru saja dimulai.

​"Ziva," panggil Aiden saat mereka duduk di dalam bunker yang aman.

​"Apa, Bang?"

​Aiden mengambil ulekan batu Ziva yang tadi sempat ia ambil kembali dari lantai kabin sebelum melompat. Ia menyerahkannya pada Ziva. "Senjata ini... sudah menyelamatkan nyawaku dua kali hari ini. Mungkin aku harus mempertimbangkan untuk mengganti standar persenjataan pasukanku dengan batu gunung ini."

​Ziva tertawa, kali ini tawa yang tulus dan lega. "Tuh kan! Kekuatan emak-emak Indonesia itu nggak bisa diremehin, Bang!"

​Aiden menarik Ziva ke dalam dekapannya, membiarkan gadis itu beristirahat di bahunya. Di tengah bunker yang dingin dan bau mesiu itu, Sang Raja Mafia menyadari bahwa harta terbesarnya bukanlah emas atau wilayah kekuasaan, melainkan nyawa seorang gadis semprul yang baru saja mengalahkan pembunuh bayaran kelas dunia hanya dengan alat dapur.

​"Istirahatlah, Ziva. Besok, kita akan kembali ke Milan dan membuat mereka membayar setiap air mata yang kau keluarkan hari ini," bisik Aiden dengan nada yang menjanjikan kehancuran bagi musuh-musuhnya.

​Ziva pun tertidur, kelelahan namun merasa aman dalam dekapan pria yang ia sebut "Monster" namun selalu menjadi pelindungnya. Perjalanan mereka mungkin penuh dengan peluru dan darah, tapi selama mereka bersama, tidak ada pembunuh bayaran mana pun yang mampu memisahkan Sang Naga dari Bunga Mataharinya.

1
Dessy Lisberita
athoor mereka berdua so sweet banget suruh siva belajar menembak dan bela diri thoor
Farida 18: Ziva bisa bela diri ko ya walau absurd caranya😄dan masalah nembak dah suka suka Ziva aja deh dari pada abis vas aiden yang harga ratusan/milyaran dolar jadi sasaran peluru nyasar Ziva
total 1 replies
Dessy Lisberita
sandal jepit mana bisa bergerak cepat mending pake sepatu ziva
Dessy Lisberita
so sweet
Farida 18
sekali2 serius🤭 jangan comedi terus🤭
Vie Desta
jangan serius” tor sesekali comedi biar gak garing 🤭
Vie Desta
lanjut torrr… suka lah sama ceritanya gak monoton tp muncul dengan nuansa baru comedi jd asik baca sambil ketawa😍
Farida 18
salam sejahtera juga beb
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
shabiru Al
haddeuh makin gak masuk akal 🤣
shabiru Al
nah kaaan beneran berasa d indo bukan d milan...😄
shabiru Al
agak gak masuk akal sih,, kan ceritanya d milan ya... kok berasa d jakarta gitu berantem sama preman tpi ya sudahlah,, seru juga...
Farida 18: maaf kan autor ya kak🥺, akan autor usahakan memperdalam suasana kota milannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!