NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Neraka Dibalik Hutan

Matahari baru saja menampakkan semburat merahnya di cakrawala, namun Arlan sudah berada di tengah hutan dengan napas yang memburu. Tubuh kecilnya yang baru berusia tujuh tahun terlihat sangat kontras dengan beban yang dia pikul. Sebuah batu besar yang diikat dengan akar pohon melilit di punggungnya, membuat kulit bahunya yang tipis mulai lecet dan mengeluarkan darah. Namun, tidak ada rintihan yang keluar dari mulut Arlan. Matanya tetap fokus menatap jalan setapak yang penuh dengan akar pohon dan bebatuan tajam.

Kakek tua yang menyebut dirinya sebagai Dewa Pengembara itu duduk dengan santai di atas dahan pohon tinggi, mengawasi setiap gerak gerik Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tidak memberikan kata-kata penyemangat. Sebaliknya, setiap kali langkah Arlan melambat, kakek itu akan melempar kerikil kecil dengan kecepatan tinggi yang menghantam titik saraf di kaki Arlan, memberikan rasa sakit seperti tersengat listrik.

"Kenapa langkahmu melambat, bocah? Jika hanya karena beban seberat ini kamu sudah menyerah, sebaiknya kamu kembali ke desa dan biarkan orang-orang meludahi mu selamanya," teriak kakek itu dari atas pohon.

Arlan berhenti sejenak, mengatur napasnya yang terasa seperti membakar paru-parunya. Dia menengadah, menatap kakek itu dengan tatapan dingin yang tidak berubah. "Aku tidak akan berhenti. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit saat aku dikhianati hingga mati."

Kakek itu sedikit terkejut mendengar jawaban Arlan. Dia tahu bahwa anak ini memiliki rahasia besar di dalam jiwanya, namun dia tidak peduli. Baginya, semakin besar rasa benci dan dendam yang dimiliki seorang murid, semakin cepat mereka akan menguasai teknik Taijutsu terlarang miliknya. Karena teknik ini bukan didasarkan pada kasih sayang dewa, melainkan pada kehendak murni manusia untuk bertahan hidup.

Latihan terus berlanjut hingga tengah hari. Arlan dipaksa untuk melakukan seribu pukulan ke arah batang pohon besar yang kulitnya sangat keras. Setiap kali tinjunya menghantam pohon, Arlan bisa merasakan tulang tangannya bergetar hebat. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah seorang pria yang terbiasa memegang pena dan dokumen, bukan seseorang yang menghancurkan tangannya pada benda mati. Namun, setiap kali dia merasa ingin menyerah, bayangan wajah Siska dan Rendra muncul di pikirannya. Bayangan pengkhianatan itu menjadi bahan bakar yang membakar rasa lelahnya.

"Cukup untuk pemanasan hari ini," ucap kakek itu sambil melompat turun. "Duduklah. Aku akan menjelaskan apa yang sedang kamu pelajari."

Arlan duduk bersila di tanah yang lembap, mengabaikan luka di tangannya yang mulai membiru. Kakek itu berdiri di hadapannya dengan wajah serius.

"Dunia ini sangat bergantung pada apa yang mereka sebut Mana. Mereka mengambil energi dari alam melalui berkah dewa dan menggunakannya untuk menciptakan api, air, atau petir. Tapi mereka lupa satu hal. Tubuh manusia adalah sebuah alam semesta kecil yang memiliki energinya sendiri. Energi itu disebut sebagai Tenaga Dalam atau Prana Tubuh. Taijutsu yang aku ajarkan padamu bukan sekadar bela diri biasa. Ini adalah seni untuk membuka gerbang-gerbang energi di dalam tubuhmu."

Kakek itu menyentuh titik di tengah dada Arlan. "Ada tujuh gerbang utama dalam tubuh manusia. Orang-orang di dunia ini menutup gerbang itu karena mereka lebih suka meminjam kekuatan luar. Tapi kamu, karena kamu tidak memiliki berkah, kamu akan membuka gerbang ini satu per satu. Saat gerbang pertama terbuka, kekuatan fisikmu akan meningkat sepuluh kali lipat. Saat gerbang terakhir terbuka, kamu bisa menghancurkan seorang dewa hanya dengan jentikan jari."

Arlan mendengarkan dengan saksama. Ini adalah pengetahuan yang belum pernah dia dengar. "Bagaimana cara membukanya?"

"Dengan rasa sakit dan latihan yang melampaui batas," jawab kakek itu dengan senyum tipis. "Tubuhmu harus hancur terlebih dahulu sebelum bisa dibangun kembali menjadi lebih kuat. Sekarang, bersiaplah. Kita akan mulai melatih teknik pernapasan internal."

Selama sisa hari itu, Arlan diajarkan cara mengatur aliran darahnya melalui pernapasan. Dia harus belajar bagaimana memusatkan seluruh tenaganya pada satu titik di ujung tinjunya. Kakek itu menyebutnya sebagai teknik Pukulan Penghancur Saraf. Teknik ini tidak membutuhkan sihir, melainkan tekanan udara dan kecepatan yang diciptakan oleh kontraksi otot yang sempurna.

Saat matahari mulai terbenam, Arlan kembali ke gubuknya dengan tubuh yang sangat lemah. Dia berjalan tertatih tatih, mencoba menyembunyikan lukanya agar tidak membuat ibunya, Elena, semakin sedih. Namun, saat dia sampai di depan desa, dia melihat sekelompok anak laki-laki yang lebih tua sedang menunggu di jalan setapak. Mereka adalah anak-anak dari kepala desa yang selalu merasa berkuasa karena memiliki berkah peringkat menengah.

"Hei, lihat siapa yang baru pulang dari hutan," ejek salah satu dari mereka yang bernama Bram. Bram memiliki berkah elemen tanah yang memungkinkannya mengeraskan kulit tangannya. "Si pengkhianat tanpa berkah sedang mencoba mencari perhatian dewa di hutan? Atau kamu sedang mencari tempat untuk mengakhiri hidupmu?"

Arlan tidak menoleh. Dia terus berjalan, mencoba melewati mereka seolah-olah mereka adalah udara kosong. Namun, Bram merasa tersinggung dengan sikap dingin Arlan. Dia menarik bahu Arlan dengan kasar dan mendorongnya hingga terjatuh ke tanah.

"Jangan berani-berani mengabaikan ku, sampah! Kamu harus tahu posisimu di desa ini," bentak Bram. Tangannya mulai berubah warna menjadi kecokelatan, tanda bahwa dia sedang mengaktifkan kekuatannya.

Arlan bangkit perlahan. Dia menatap Bram dengan mata yang sangat tenang, namun di balik ketenangan itu, ada aura yang membuat Bram merasa merinding secara tidak sadar. Arlan ingat janji pada dirinya sendiri. Dia tidak akan menjadi orang baik yang naif lagi. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menginjaknya, bahkan jika musuhnya adalah anak-anak.

"Lepaskan tanganmu jika kamu masih ingin menggunakannya besok," ucap Arlan dengan suara yang sangat rendah namun sangat jelas.

Anak-anak lain yang melihat itu tertawa terbahak-bahak. "Dengar itu! Si sampah ini sedang mengancam kita! Ayo Bram, tunjukkan padanya kekuatan Berkah Tanahmu!"

Bram yang merasa tertantang langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Arlan. Di mata anak-anak lain, gerakan Bram sangat cepat dan kuat. Namun, di mata Arlan yang sudah dilatih oleh kakek misterius itu seharian penuh, gerakan Bram terasa sangat lambat. Arlan bisa melihat setiap celah dalam gerakan Bram.

Arlan tidak menghindar dengan jauh. Dia hanya menggeser kepalanya sedikit, lalu dengan gerakan kilat, dia menghantamkan telapak tangannya ke arah pergelangan tangan Bram yang sedang mengeras. Arlan tidak menggunakan tenaga besar, dia hanya menggunakan teknik pernapasan yang baru saja dipelajarinya untuk menekan titik saraf di sana.

Plakk!

Suara benturan kecil terdengar. Seketika, Bram berteriak kesakitan. Kekuatan tanah yang menyelimuti tangannya langsung hancur seperti kaca yang retak. Dia jatuh berlutut sambil memegang tangannya yang tiba-tiba mati rasa dan membiru.

"Tangan... tanganku! Apa yang kamu lakukan padaku?!" teriak Bram penuh ketakutan.

Teman-teman Bram terdiam. Mereka tidak melihat Arlan menggunakan sihir, tapi mereka melihat bagaimana kekuatan Bram dipatahkan begitu saja hanya dengan satu sentuhan ringan. Arlan menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang membuat nyali mereka menciut.

"Aku tidak melakukan apa-apa. Kamu sendiri yang terlalu lemah," ucap Arlan dingin. Dia kemudian berjalan melewati mereka tanpa menoleh lagi.

Arlan tahu bahwa tindakannya hari ini mungkin akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari. Kepala desa pasti tidak akan tinggal diam jika tahu anaknya terluka. Namun, Arlan tidak peduli. Dia sudah mati sekali, dan dia tidak akan membiarkan ketakutan mengatur hidupnya lagi. Jika dunia ini ingin menindasnya, maka dia akan menghancurkan dunia ini dengan tangannya sendiri.

Sesampainya di rumah, Elena menyambutnya dengan wajah cemas. Dia melihat luka-luka di tubuh Arlan, namun Arlan hanya memberikan alasan bahwa dia terjatuh saat mencari kayu bakar. Elena memberikan sepotong roti kecil dan sup encer kepada Arlan. Saat makan, Arlan menyadari betapa miskinnya kehidupan mereka sekarang. Dia bersumpah di dalam hati bahwa suatu saat nanti, dia akan memberikan kemewahan pada ibunya, bukan dari hasil belas kasihan orang lain, melainkan dari hasil kemenangannya.

Malam itu, saat semua orang sudah tidur, Arlan kembali berlatih di dalam ruangan sempit itu. Dia mencoba bermeditasi, merasakan aliran darah di dalam tubuhnya. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang tersumbat di dekat jantungnya. Itu adalah Gerbang Pertama.

"Aku akan membukanya," gumam Arlan. "Apa pun harganya."

Di tengah kegelapan malam, Arlan terus berusaha memusatkan energinya. Dia merasa tubuhnya mulai memanas. Rasa sakit kembali datang, namun kali ini rasa sakit itu terasa seperti teman lama yang menyapanya. Arlan tahu, di dunia yang kejam ini, hanya kekuatan yang bisa menjamin keselamatan. Dia tidak akan lagi percaya pada persahabatan, dia tidak akan lagi percaya pada cinta yang palsu. Hanya otot, tulang, dan teknik yang dia miliki sekarang adalah satu-satunya kenyataan yang bisa dia andalkan.

Jauh di tengah hutan, kakek tua itu tersenyum sambil menatap bulan. Dia bisa merasakan getaran energi dari arah gubuk Arlan. "Anak itu... dia benar-benar gila. Dia mencoba membuka gerbang pertama tanpa bantuan obat obatan penawar rasa sakit. Jika dia berhasil, dia akan menjadi monster yang paling ditakuti oleh kerajaan ini."

Arlan terus berjuang di dalam kegelapan. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Setiap detak jantungnya terasa seperti hantaman palu besar. Namun, dia tidak berhenti. Dia terus mendorong energinya hingga akhirnya...

BOOM!

Sebuah ledakan energi yang hanya bisa dirasakan oleh Arlan terjadi di dalam tubuhnya. Rasa lelah yang dia rasakan sepanjang hari tiba-tiba hilang, digantikan oleh kekuatan yang meledak ledak. Gerbang Pertama: Gerbang Pembuka, telah terbuka.

Arlan membuka matanya. Matanya kini bersinar dengan cahaya biru redup yang tajam. Dia mengepalkan tangannya, dan dia bisa merasakan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu hanya dengan satu remasan.

"Langkah pertama telah selesai," bisik Arlan pada kegelapan. "Sekarang, biarkan mereka datang. Aku akan menunjukkan pada mereka apa artinya berhadapan dengan seseorang yang tidak memiliki apa-apa untuk dipertaruhkan."

Bab ini berakhir dengan Arlan yang berdiri tegak di tengah ruangan, siap menghadapi segala badai yang akan datang besok hari. Dia bukan lagi Arlan yang lemah, dia adalah predator yang baru saja terbangun dari tidurnya.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!