NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Aku melangkah keluar dari lobi megah Abiwangsa Group dengan kepala tegak. Sinar matahari sore yang mulai meredup memantul di kaca gedung-gedung tinggi, tapi tak ada satu pun dari kemegahan itu yang sanggup mengusik ketenanganku lagi. Kalimat Farez yang tadi sempat membuatku goyah, kini hanya kusempurnakan sebagai angin lalu.

Aku masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan membiarkan udara dingin dari AC menerpa wajahku. Saat aku mulai mengemudi menjauhi wilayah Farez, sebuah perasaan lega yang luar biasa menyelimuti hatiku.

Selama lima tahun ini, aku sudah membuktikan pada dunia dan pada diriku sendiri bahwa aku bisa. Aku sudah menata kembali kepingan hidupku yang dulu hancur berkeping-keping. Aku berhasil menyelesaikan kuliah lebih awal, membangun karier yang solid, dan yang terpenting, aku berhasil memberikan kehidupan yang tenang untuk Ibu.

"Laki-laki hanya akan menipu," bisikku pada pantulan diriku di spion tengah. Mataku kini terlihat lebih tajam, tanpa ada sisa-sisa keraguan.

Ingatanku kembali pada wajah Ayah yang tersenyum di persimpangan itu, lalu pada wajah Farez yang mencoba masuk kembali ke hidupku dengan kata-kata lembutnya. Keduanya memiliki pola yang sama: mereka menawarkan kehangatan yang sebenarnya adalah jerat. Aku tidak akan membiarkan diriku terjerat untuk kedua kalinya.

Sesampainya di gedung kantorku, aku berjalan melewati koridor dengan langkah yang mantap. Sapaan dari rekan-rekan kerja kubalas dengan anggukan sopan namun berjarak. Inilah zona nyamanku. Di sini, aku adalah Rana Anindita Putri yang memegang kendali. Tidak ada ruang untuk perasaan yang menyele-nyele, tidak ada celah untuk rindu yang tak berguna.

Fokusku sekarang hanya dua: bekerja sekeras mungkin untuk mencapai posisi yang lebih tinggi, dan menjaga agar senyum di wajah Ibu di butik itu tidak pernah luntur. Kebahagiaan Ibu adalah harga mati bagiku. Jika untuk menjaganya aku harus tetap menjadi wanita "dingin" yang tak tersentuh, maka aku akan melakukannya dengan senang hati.

Aku duduk di meja kerjaku, membuka kembali map proyek dari Wira Pratama. Meskipun ada nama Bagaskara di sana, aku tidak lagi merasa mual. Aku akan menghadapi Bagas, Ayah, maupun Farez sebagai tantangan profesional semata.

"Jangan beri mereka celah, Rana," gumamku sambil mulai mengetik laporan.

Duniaku sudah lengkap. Aku punya Ibu, aku punya karier, dan aku punya ketenangan yang sudah kubayar mahal dengan air mata di masa lalu. Biarkan Farez dengan luapan rasa sakitnya, dan biarkan masa lalu tetap menjadi sejarah yang tak perlu diulang. Karena bagiku, kebahagiaan sejati bukan terletak pada pundak laki-laki, melainkan pada kemandirian yang kuraih dengan tangan sendiri.

Sore itu, aku memutuskan untuk pulang lebih awal. Setelah memastikan semua laporan untuk proyek Wira Pratama berada di jalur yang benar, aku segera mengemasi barang-barangku. Rasanya, aroma kantor yang kaku perlu segera kuganti dengan aroma kain dan benang di tempat Ibu.

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung masuk ke dalam gedung utama. Aku melangkah menuju bangunan di sampingnya, tempat papan nama "Butik Anindita" berpendar lembut tertimpa cahaya matahari sore yang keemasan.

Gemerincing.

Suara bel di atas pintu menyambut kedatanganku. Di dalam, aku menemukan Ibu sedang sibuk membantu seorang pelanggan mencocokkan warna kain sutra. Wajahnya tampak bercahaya, sebuah pemandangan yang jauh lebih berharga daripada semua angka di saldo rekeningku.

"Rana? Sudah pulang, Sayang?" Ibu menyapa dengan senyum lebar setelah pelanggannya pergi.

"Sudah, Bu. Rana ingin membantu Ibu sore ini," jawabku sambil meletakkan tas dan mulai merapikan gulungan kain yang sedikit berantakan di rak pajangan.

Ibu berjalan mendekat, mengambil sebuah kain tenun berwarna biru laut. "Tadi ada banyak pesanan masuk, Rana. Sepertinya koleksi baru kita benar-benar diminati. Ibu senang sekali melihat butik ini semakin hidup."

Aku tersenyum tulus. Di sinilah letak kebahagiaanku yang sesungguhnya. Melihat Ibu yang dulu hanya bisa menangis diam-diam di pojok kamar, kini menjadi wanita yang berdaya dan dikagumi banyak orang. Kesuksesan butik ini adalah tamparan telak bagi Ayah; bukti bahwa kami tidak hanya bertahan hidup setelah ia buang, tapi kami berkembang melampaui ekspektasinya.

Sembari membantu Ibu melipat kain, pikiranku kembali pada rutinitas pekerjaanku yang penuh tekanan. Namun, saat tanganku menyentuh tekstur kain yang lembut dan melihat ketenangan di wajah Ibu, semua beban itu seolah luruh.

"Kamu terlihat lebih tenang hari ini, Rana," ucap Ibu tiba-tiba, matanya menatapku lembut namun tajam. "Pertemuan dengan klien-klien besar itu tidak mengganggumu lagi?"

Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk mantap. "Rana sudah tahu apa yang harus dilakukan, Bu. Rana hanya fokus pada pekerjaan dan Ibu. Sisanya... biarlah menjadi angin lalu."

Ibu mengusap pundakku pelan. "Baguslah. Selama kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan, Ibu akan selalu ada di belakangmu."

Kami menghabiskan sisa sore itu dengan bekerja berdampingan. Aku membantu mencatat inventaris, sementara Ibu fokus pada desain barunya. Di tengah kesibukan sederhana ini, aku kembali memantapkan hati. Tidak akan kubiarkan siapa pun baik itu laki-laki dari masa lalu maupun hantu dari keluarga Ayah merusak ketenangan yang ada di dalam ruangan ini.

Inilah duniaku yang sebenarnya. Dunia tanpa kebohongan, tanpa pengkhianatan. Hanya ada aku, Ibu, dan masa depan yang kami jahit sendiri dengan tangan kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!