NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tombak Perak

Kawah Mata Air Yin-Yang mendadak diselimuti oleh aura pembunuhan yang mencekik.

Pemuda bertombak perak itu tertawa, tawanya menggema memantul di dinding-dinding kristal raksasa, terdengar sangat merdu namun dipenuhi ejekan mutlak. Ia menatap Chu Chen seolah sedang melihat orang sinting yang baru saja lepas dari pasungan.

"Kau ingin menjadikan kami makananmu?" Pemuda itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Murid Luar memang selalu memupuk khayalan yang menyedihkan. Kau berhasil membunuh harimau bodoh itu, dan sekarang kau pikir kau adalah penguasa dunia? Dengarkan aku baik-baik, Sampah. Namaku adalah Li Yun, Murid Inti Kubu Penatua Agung. Di hadapan Alam Lautan Qi Lapis Kedua, kekuatan fisikmu yang membanggakan itu hanyalah kertas basah."

Li Yun mengangkat tangannya dengan malas, memberi isyarat pada enam orang anak buahnya yang berada di Lapis Kesembilan Puncak. "Potong kedua lengan dan kakinya. Aku ingin melihat apakah dia masih bisa melantur saat lidahnya kucabut."

"Baik, Tuan Muda Li!"

Keenam Murid Dalam pilihan itu melesat serempak. Mereka bergerak dalam sebuah barisan tempur berbentuk bintang enam sudut, pedang-pedang mereka memancarkan Qi tajam yang menyegel seluruh ruang gerak Chu Chen.

"Mati!"

Enam bilah pedang menebas dari enam arah berbeda, menargetkan leher, dada, punggung, dan kaki Chu Chen. Kecepatannya jauh melampaui Hantu Berdarah yang pernah dihadapi Chu Chen.

Namun, di mata naga vertikal Chu Chen, kepungan mematikan itu tampak sangat lambat, dipenuhi celah seukuran gerbang kota.

"Terlalu lambat."

BAM!

Lantai batu di bawah kaki Chu Chen meledak menjadi debu. Bukan menghindari tebasan, Chu Chen justru melontarkan tubuhnya langsung ke arah mata pedang murid yang berada tepat di depannya.

Murid itu terkejut, namun pedangnya tak bisa ditarik kembali. KRAAAK! Pedang spiritual itu patah menjadi tiga bagian saat berbenturan dengan dada Chu Chen yang dilindungi Zirah Tulang Naga Hitam.

Sebelum murid itu bisa berteriak, tangan kanan Chu Chen menembus dadanya seperti pisau panas membelah mentega. Jantung murid itu digenggam dan dihancurkan dalam sepersekian tarikan napas.

Pusaran Ketiadaan!

Daya hisap Lautan Qi Chu Chen meledak di jarak dekat. Mayat murid pertama seketika mengerut menjadi sekam kering. Tanpa menghentikan lajunya, Chu Chen menggunakan mayat kering itu sebagai perisai hidup untuk menangkis dua tebasan pedang dari belakang, lalu memutar tubuhnya dengan tendangan berputar yang menyapu udara.

DUAARR!

Tendangan fisik Chu Chen yang dilapisi Qi merah darah menghantam dua murid di sisinya. Tubuh mereka meledak di udara, berubah menjadi kabut darah yang langsung disedot oleh pusaran tak kasat mata dari telapak tangan Chu Chen.

Tiga tewas dalam satu tarikan napas!

"A-Apa yang terjadi?!" Tiga murid tersisa menghentikan langkah mereka, wajah mereka pucat pasi melihat rekan-rekan mereka menguap menjadi debu darah. "Dia... dia bukan manusia! Dia siluman!"

"Siluman? Aku adalah leluhur dari segala mimpi buruk kalian," bisik Chu Chen yang tiba-tiba sudah berada di belakang salah satu dari mereka.

Dua tangan Chu Chen menempel di kepala dua murid, dan dengan satu hentakan, Pusaran Ketiadaan menyedot saripati jiwa dan Lautan Qi mereka hingga kering. Murid terakhir yang mencoba lari, ditusuk punggungnya oleh seberkas Api Teratai Merah sebesar kuku yang ditembakkan Chu Chen dari telunjuknya, mengubahnya menjadi abu putih sebelum sempat berteriak.

Hening.

Enam ahli Lapis Kesembilan Puncak musnah dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas.

Di tepi kolam, senyum angkuh Li Yun membeku. Mata pemuda bertombak perak itu membelalak lebar, urat-urat di dahinya menonjol. Ia baru saja menyadari gejolak energi yang dipancarkan Chu Chen saat membunuh anak buahnya.

"Lautan Qi... Kau berada di Alam Lautan Qi?!" Li Yun berteriak, suaranya melengking karena campuran antara rasa terkejut dan amarah yang merendahkan. "Pantaskah seorang ahli Lautan Qi menyusup sebagai Murid Luar?! Siapa yang mengirimmu?!"

Chu Chen mengusap sisa darah di tangannya. Ia bisa merasakan energi Qi manusiawi dari enam orang tadi mengisi sudut Dantiannya, siap digunakan sebagai 'tumbal penyeimbang' untuk melahap Mata Air Yin-Yang.

"Tidak ada yang mengirimku. Aku datang ke sini murni untuk menelan apa yang menjadi milik kalian," jawab Chu Chen tenang, melangkah perlahan mendekati Li Yun. "Sekarang, giliran hidangan utamanya."

"SOMBONG!"

Li Yun meraung. Keangkuhannya sebagai Murid Inti meledak. Seluruh Lautan Qi Lapis Keduannya mendidih. Tombak perak di tangannya memancarkan cahaya perak yang menyilaukan mata, diiringi oleh suara derak petir.

Seni Tombak Naga Perak Pembelah Laut!

Li Yun melesat maju, mengubah dirinya menjadi badai perak yang mematikan. Tombaknya berputar ribuan kali dalam sedetik, menciptakan bayangan kepala naga perak yang mengaum ke arah Chu Chen. Ini adalah ilmu bela diri tingkat tinggi yang tidak akan pernah bisa diraih oleh Murid Luar.

Angin yang dihasilkan oleh putaran tombak itu memotong bebatuan kristal di sekitar kawah layaknya lilin yang diiris belati panas.

"Mati dan jadilah debu di bawah tombakku!" teriak Li Yun.

Menghadapi badai perak tersebut, Chu Chen tidak mencabut senjata. Ia hanya menarik napas dalam-dalam. Di dalam Dantiannya, Api Teratai Merah bergejolak, memompa suhu yang setara dengan inti matahari ke lengan kanannya.

Naga Perak? Kau berani memamerkan nama itu di hadapan dewa yang sesungguhnya? batin Chu Chen dengan senyum kejam.

Telapak Penghancur Matahari!

Lengan kanan Chu Chen berubah menjadi merah menyala, memancarkan panas yang membuat ruang beriak hebat. Ia tidak menghindar dari ujung tombak perak yang mengarah ke jantungnya. Sebaliknya, ia menyongsong ujung tombak itu dengan telapak tangannya yang terbuka!

BUMMMMM!!!

Ledakan dahsyat terjadi saat telapak tangan yang membara itu berbenturan tepat dengan ujung mata tombak pusaka tingkat tinggi milik Li Yun.

Gelombang kejut menyapu kawah, meniup Meng Fan yang bersembunyi hingga bergulingan puluhan tombak ke belakang.

"K-Kau menangkap tombak pusakaku dengan tangan kosong?!" Li Yun menjerit panik. Ia merasakan daya dorong tombaknya berhenti mutlak, seolah menabrak dinding langit.

Lebih mengerikan lagi, hawa panas dari telapak tangan Chu Chen mulai melelehkan mata tombak perak itu! Logam spiritual yang dikabarkan tidak bisa dihancurkan itu mulai meneteskan cairan perak mendidih.

"Senjatamu rapuh, dan kultivasimu penuh dengan kotoran fana," suara Chu Chen terdengar di balik tirai uap panas.

Tangan Chu Chen meremas ujung tombak itu. KRAAAK! Pusaka itu patah menjadi dua.

Sebelum Li Yun bisa membuang gagang tombaknya yang meleleh dan mundur, tangan kiri Chu Chen melesat mencengkeram lehernya, mengangkat pemuda sombong itu dari lantai kawah.

"Lepas—"

Pusaran Ketiadaan.

Chu Chen tidak memberi ampun. Daya hisap penuh diaktifkan. Saripati murni dari Lautan Qi Lapis Kedua milik Li Yun ditarik paksa keluar dari Dantiannya, mengalir deras ke lengan Chu Chen. Li Yun menggelepar hebat, matanya melotot menatap monster berjubah abu-abu di depannya, sebelum akhirnya tubuhnya menyusut, mengering, dan hancur menjadi debu yang tersapu angin merah.

Chu Chen menyingkirkan debu di tangannya. Ia telah mengumpulkan cukup banyak Qi fana di Dantiannya sebagai peredam.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Chu Chen melangkah menuju bibir kolam Mata Air Yin-Yang Purba. Air berwarna hitam pekat dan putih susu yang berputar itu memancarkan godaan yang tak tertahankan bagi dasar pijakannya.

"Jika aku meminumnya sedikit demi sedikit, itu akan memakan waktu sebulan. Aku tidak punya waktu selama itu," gumam Chu Chen.

Ia melepaskan jubah abu-abunya yang sudah robek, memperlihatkan otot-otot perunggunya yang keras bagai pahatan dewa. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengambil langkah besar dan melompat langsung ke tengah-tengah Mata Air Yin-Yang Purba.

BYUURR!

Begitu tubuhnya tenggelam ke dalam kolam tersebut, penderitaan yang melampaui batas nalar fana langsung menghantamnya.

Sisi hitam kolam itu membekukan darah, tulang, dan jiwanya hingga ia merasa mati rasa mutlak, sementara sisi putihnya merebus sumsum tulangnya dengan rasa sakit yang mencabik-cabik. Dua energi purba yang terlampau mematikan ini berusaha merobek tubuh fana Chu Chen menjadi serpihan debu terkecil.

"AARRRGGHH!" Chu Chen melolong di dasar kolam. Air bergolak hebat.

Namun, di dalam Dantiannya, Api Teratai Merah yang liar akhirnya menemukan penyeimbangnya. Qi fana dari Li Yun dan para ahli yang baru ia telan tadi bertindak sebagai jembatan, menyatukan energi Yin-Yang dari mata air dengan Api Surgawi miliknya.

Di bawah kulit baja legamnya, Zirah Tulang Naga Hitam menyerap energi air itu dengan rakus, merajut dan memperkuat setiap inci urat nadi Chu Chen.

Dantian Chu Chen, yang tadinya hanya sebuah danau kecil, kini meluas, mendobrak batas, dan benar-benar berubah menjadi lautan energi tanpa tepi.

Satu jam berlalu. Dua jam berlalu.

Kolam yang tadinya dipenuhi energi bergejolak, kini mulai tenang. Permukaan air perlahan menurun, warnanya yang hitam putih memudar menjadi air bening biasa. Seluruh saripati purba di mata air itu telah dihisap kering.

BUM! BUM! BUM!

Tiga suara ledakan teredam terdengar dari kedalaman kolam.

Permukaan air meledak. Sosok Chu Chen melesat terbang dari dasar kolam, mendarat dengan anggun di tepian bebatuan.

Tubuhnya kini sempurna. Kulitnya memancarkan pendaran mutiara perunggu, tidak ada lagi jejak luka atau kecacatan fana. Rambut hitamnya berkibar pelan, dan saat ia membuka matanya, sepasang mata itu benar-benar menyerupai mata dewa naga purba—dingin, angkuh, dan menyimpan alam semesta di dalamnya.

Ia mengepalkan tangannya pelan. Ruang di sekitar kepalannya beriak.

"Alam Lautan Qi... Lapis Keempat Puncak," Chu Chen menghela napas panjang, menghembuskan uap yang membentuk pola naga. Ia telah melompati tiga tingkat sekaligus tanpa ada satupun cacat pada dasar pijakannya. Mata Air Yin-Yang telah membersihkan tubuhnya secara sempurna.

Ia melirik ke arah Meng Fan yang mengintip dengan gemetar dari balik batu kristal.

"Waktu untuk bersembunyi sudah habis," ucap Chu Chen, mengenakan kembali jubah abu-abunya. Ia memandang jauh ke arah utara Wilayah Terbengkalai, tempat langit merah terlihat semakin pekat. "Wanita berkerudung salju itu pasti sedang melakukan pergerakannya. Mari kita lihat pusaka apa yang berani ia ambil di saat aku sedang sibuk menjadi bidaknya."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!