NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kelinik rembulan malam

*Tahun 1980-an*

Pada masa ini, dwifungsi militer berada di puncak kekuatannya. Militer tidak hanya jadi alat pertahanan. Mereka juga duduk di kursi pemerintahan dan politik. Fungsi sosial-politik itu nyata. Banyak perwira aktif rangkap jabatan: gubernur, bupati, menteri, sampai anggota parlemen. Seragam loreng bisa tiba-tiba duduk di balik meja birokrasi.

Diperparah lagi dengan budaya “kursi warisan”. Jabatan sering turun ke anak, menantu, atau kerabat. Bukan pada orang yang dipilih rakyat. Garis darah lebih penting dari suara rakyat.

Karena itu, tukar-menukar pernikahan antar keluarga militer jadi hal lumrah. Dijodohkan, dikawinkan, disatukan. Semua demi satu tujuan: kekuasaan yang makin kuat, makin mengakar, makin mendominasi.

Tak heran para petinggi punya banyak istri dan anak. Itu simbol. Semakin banyak, semakin menegaskan takhta. Di era ini, perempuan dinilai dari jabatan keluarganya. Orang kaya harus menikah dengan orang kaya lagi. Yang miskin? Hanya boleh bermimpi menikahi yang semiskin dirinya.

Yang kaya makin kaya. Yang miskin tetap miskin. Gesekan si kaya dan si miskin inilah yang jadi sumbu. Sedikit percik, kerusuhan meledak di tengah masyarakat. Seperti kemarin.

"Bu, apa kejadian kemarin tidak akan terjadi lagi?" Cikal mendongak, matanya menatap ibunya lekat.

Ibu dan anak itu berjalan di tengah kota yang masih porak-poranda. Kaca pecah belum semua disapu. Beberapa ruko masih menutup setengah daun pintu. Bau asap tipis masih tertinggal di udara.

Anna meremas jemari kecil Cikal. "Ibu harap tidak akan ada lagi, Sayang. Nanti kalau Ibu di dalam, diam di sini saja ya. Jangan jauh-jauh dari Ibu."

Keduanya berhenti di depan bangunan kecil bercat putih. Papan namanya sederhana: *Klinik Rembulan Malam*. Tempat praktik tersembunyi Anna selama lima tahun ini.

Cikal mengangguk patuh. Bocah itu lalu duduk di kursi kayu depan klinik. Kakinya mengayun, matanya mengamati warga yang bahu-membahu membereskan puing kerusuhan.

Anna mengusap kepala putranya sekali, lalu masuk. Meninggalkan Cikal sendirian di halaman.

Yang tidak Anna dan Cikal sadari, sepasang mata elang sedang mengawasi dari balik tiang telepon di seberang jalan. Sorotnya tajam, tak berkedip.

"Perhatikan anak itu sampai ia dan ibunya pulang. Cari tahu tujuan mereka ke mana. Gali sekecil apa pun informasi tentang anak itu dan ibunya," suara berat itu terdengar pelan, tapi tiap katanya seperti perintah yang diukir di batu.

"Baik, Jendral!" Bagas mengangguk, lalu melebur ke keramaian dengan langkah santai yang terlatih.

Di dalam klinik, aroma alkohol dan minyak kayu putih menyambut Anna.

"Nyonya, akhirnya Anda sampai," seru seorang gadis muda, perawat yang Anna latih sendiri. Ia berhamburan menghampiri, lega.

"Apa kalian terluka setelah kejadian kemarin?" tanya Anna. Tangannya melepas cadar hitam. Seketika wajah itu terbuka. Cantik, rupawan, bersih seperti porselen. Siapapun yang memandang sekali pasti sulit berpaling.

"Tidak ada, Nyonya. Kami semua baik-baik saja," sahut perawat lain sambil membereskan kotak P3K.

"neng , aku yang tidak baik-baik saja. Kamu hampir membuat bangsawan ini mati karena menunggumu seharian!" sela suara lain. Tirai pembatas ruang periksa tersibak.

Muncul seorang wanita paruh baya. Usianya mungkin hampir kepala tujuh, tapi kulitnya masih halus kencang. Uban di rambutnya nyaris tak kelihatan. Auranya kuat, langkahnya tegap. Seperti bangsawan 40 tahun lebih muda.

Anna terkesiap, lalu tertawa kecil. "Baiklah, Ibu Bangsawan. Apa yang membuatmu penasaran sampai rela menungguku terlalu lama?" goda Anna. Ia berjalan mendekat, menyalami wanita itu dengan takzim.

"Kalau tak ada mutiara di tempat ini, tak mungkin aku menginjakkan kaki di tempat kumuh seperti ini. Sayang, bangunlah klinik di tengah kota yang besar dan lebih bagus. Kalau kau tak ada modal, biar aku yang bangunkan!" Wanita itu menggoyang lengan Anna cukup keras. Merengek seperti anak kecil minta dibelikan boneka. Tak ingat umur!

Anna terkekeh. "Sudah kubilang, tempat ini jangan sampai ada orang yang tahu. Kalau aku bangun klinik besar lalu terkenal, aku tak bisa lagi menjadi perawat pribadimu."

Kalau dia muncul ke publik, bahkan dengan cadar sekalipun, Anna tak bisa jamin identitasnya aman. Satu wajah dikenal, seluruh rencananya runtuh.

"Betul juga," sahut wanita tua itu, mengangguk-angguk lalu duduk di ranjang periksa. "Kau ini terlalu pintar untuk ukuran perempuan. Bahaya."

"Ibu... Ibu..."

Teriakan Cikal menyela. Bocah itu menerobos masuk dengan napas memburu. "Ibu, ada paman tinggi yang terus memelototiku dari tadi."

Alis Anna terangkat. Instingnya langsung siaga. "Benarkah? Kalau Ibu lihat dia, akan Ibu cungkil matanya sampai tak bisa melihatmu lagi," sahutnya setengah bercanda, setengah serius. Cikal mengangguk-angguk puas.

Bocah itu lalu menoleh ke wanita tua di ranjang. Tangannya melambai kecil. "Hai, Bibi Cantik."

Wanita bangsawan itu terdiam. Matanya menyipit, meneliti lekuk wajah Cikal. Dagu, garis mata, bentuk alis. Otaknya memutar album lama. "Bocah ini... mirip sekali dengan Cancan saat masih kecil," batinnya. Familiar. Terlalu familiar.

"Bocah kecil ini memanggilku wanita cantik, padahal usiaku sudah seperti nenek buyutnya," ucapnya gemas. Tangannya mengelus kepala Cikal.

Lalu matanya beralih ke Anna. Tajam. Menilai. "neng, anakmu masih kecil? Apa kau punya suami?"

"Tidak. Ayah sudah meninggal," Cikal menyahut spontan, polos.

Wajah wanita bangsawan itu sedikit terkejut, lalu seketika berubah cerah. "Benarkah? Pas sekali kalau begitu. Menikahlah dengan cucuku. Dia sudah lima tahun menikah, punya sepuluh istri, namun belum juga punya anak. Kau masih muda, cantik, dan berbakat. Pasti bisa memberikan banyak keturunan yang tampan dan pintar seperti anak ini."

Anna mendelik. Darahnya mendidih. _Suaminya saja sudah menikah 10 kali. Semua pria memang sama saja. Satu istri tidak bisa melahirkan, cari istri baru. Siapa yang tahu kalau sebenarnya suaminya yang mandul? Suami zaman ini memang patriarki. Tak punya anak salah istri, punya banyak anak menyusahkan istri. Menyebalkan._ Hatinya bergemuruh, tapi wajahnya tetap datar.

"Tidak, Bu. Suamiku tak meninggal. Dia pelaut dan jarang pulang. Cikal tadi hanya bercanda," sahut Anna halus, mengalihkan pembicaraan sebelum amarahnya tumpah.

"Ya sudah, terserah padamu," wanita itu mendengus, tapi tak tersinggung. "Namun ingat, kalau sampai terjadi apa pun padamu, bilang padaku. Aku sudah menganggapmu seperti cucu sendiri."

"Baik, Bu," Anna mengangguk. Hatinya hangat, meski otaknya berhitung. _Cucu? Cancan? Mirip saat kecil?_ Jangan-jangan...

Di luar klinik, Bagas mencatat dalam hati: _Target: Wanita bercadar, anak laki-laki usia 4 tahun, cerdas, panggil wanita tua itu “Bibi Cantik”. Wanita tua itu bangsawan. Punya cucu jendral. Sepuluh istri. Tidak punya anak._

Bagas menelan ludah. Potongan puzzle ini kalau disatukan... bisa bikin gempa di kediaman jendral.

Gimana? Mau lanjut ke *“Bagas lapor Chandra: wanita itu manggil bangsawan dengan sebutan Ibu”* atau *“Anna sadar dia lagi diobservasi dan pasang jebakan balik”*?

Kalau suka chapter ini, traktir author kopi ya ☕❤ Biar Cikal bisa upgrade “bom cabai” jadi “bom mercon asap warna-warni” edisi nyambut nenek tiri 😏

1
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
supyani: makasih onty, yang betah ya sampe cikal gede.
total 1 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!