Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Bom dan Kabel Warna Pink
Kota Tua Jakarta pada tengah malam adalah labirin bayangan yang mencekam. Di balik kemegahan gedung-gedung kolonial yang memudar, tersimpan rahasia yang lebih gelap dari sekadar sejarah penjajahan. Di bawah Museum Fatahillah, dalam sebuah bunker beton sisa peninggalan perang yang telah direnovasi menjadi pusat komando darurat, Don Lorenzo duduk dengan napas yang dibantu tabung oksigen. Pria itu tampak seperti mayat hidup yang menolak untuk dikubur.
Di depannya, sebuah monitor besar menampilkan denah kawasan Monas. Di tengah ruangan, sebuah kotak hitam berukuran koper besar berdetak dengan ritme yang mengerikan. Ini bukan sekadar bom; ini adalah The Doomsday Device, senjata pemusnah yang dirancang oleh insinyur pembelot Soviet, yang jika meledak, akan menciptakan gelombang elektromagnetik dan ledakan termal yang meratakan jantung Jakarta.
Aiden Volkov dan Ziva berhasil menyusup melalui saluran udara yang sempit. Aiden bergerak seperti predator yang terluka—cepat namun penuh kehati-hatian. Bahunya yang tertembak di pelabuhan masih terasa nyut-nyutan, namun adrenalin membuatnya tetap tegak. Di belakangnya, Ziva merayap dengan sandal jepit Swallow birunya yang kini dibungkus kain agar tidak mengeluarkan suara.
"Bang... baunya kayak tikus mati dicampur kabel kebakar," bisik Ziva saat mereka sampai di jeruji ventilasi terakhir.
"Itu bau maut, Ziva. Diamlah," balas Aiden.
Aiden menendang jeruji besi itu hingga jebol dan melompat turun dengan anggun, langsung menodongkan senjatanya ke arah Lorenzo. Ziva menyusul di belakang, hampir terjatuh jika Aiden tidak menangkap pinggangnya.
"Lorenzo! Berhenti sekarang atau aku akan memastikan peluru ini menembus satu-satunya paru-parumu yang masih berfungsi!" raung Aiden.
Lorenzo perlahan memutar kursi rodanya. Seringai mengerikan menghiasi wajahnya yang keriput. "Volkov... kau selalu tepat waktu untuk menyaksikan akhir dunia. Tapi sayangnya, kau terlambat untuk menghentikannya."
Lorenzo menekan sebuah tombol di remot kontrol yang ia pegang. Seketika, penutup kotak hitam di tengah ruangan terbuka, memunculkan ribuan kabel yang saling melilit dengan layar digital yang mulai menghitung mundur dari angka 05:00.
"Lima menit, Volkov. Cukup untuk kau berdoa, tapi tidak cukup untuk kau melarikan diri," ucap Lorenzo sambil terbatuk-batuk hebat.
"Marco! Lumpuhkan pengawalnya!" perintah Aiden melalui interkom. Suara tembakan pecah di lorong luar bunker saat tim elit Volkov mulai merangsek masuk. Namun, di dalam ruangan ini, hanya ada Aiden, Ziva, Lorenzo, dan bom yang berdetak.
Aiden segera menghampiri bom tersebut. Ia membuka panel kontrolnya. Wajahnya yang biasanya tenang seketika pucat. "Sial... ini sirkuit asimetris. Ada mekanisme jebakan di setiap lapisan."
Aiden mencoba memotong kabel merah, namun sensor pada bom itu langsung berbunyi tit-tit-tit lebih cepat, dan waktu berkurang drastis menjadi 02:00.
"Bang! Jangan asal potong! Lu bukan lagi motong pita peresmian gedung!" teriak Ziva panik.
"Ziva, ini teknologi militer Rusia tahun 90-an yang dimodifikasi. Aku tahu strukturnya, tapi Lorenzo mengganti semua kode warnanya!" Aiden berkeringat dingin. Tangan yang biasanya stabil saat memegang senapan, kini bergetar saat memegang tang pemotong.
Ziva mendekat, menyipitkan matanya ke arah kerumunan kabel itu. Di antara kabel merah, biru, kuning, dan hijau yang membingungkan, ada satu kabel kecil yang letaknya sangat tersembunyi di pojok bawah. Kabel itu tidak mengikuti pola jalur sirkuit lainnya.
Dan warnanya sangat tidak biasa.
"Bang... itu kabel warna apa?" tanya Ziva menunjuk ke pojok.
Aiden melihatnya. "Itu... Pink? Merah muda?"
"Mana ada bom militer pake kabel warna pink, Bang! Itu pasti kabel tambahan yang dipasang si kakek peyot ini buat nipu lu!" Ziva mulai menggunakan logika jalanannya. "Di pasar loak, kalau ada barang rusak terus diservis pake kabel warna-warni nggak jelas, biasanya itu kabel bypass atau kabel bodong."
Waktu menunjukkan 01:10.
Aiden ragu. "Ziva, kalau kita salah potong kabel pink ini, bunker ini akan menjadi makam kita semua dalam radius lima kilometer."
"Bang Don, liat deh," Ziva menunjuk ke arah Lorenzo yang tampak gelisah saat Ziva menyebut kabel pink tersebut. "Si kakek itu mukanya langsung pucat pas gue tunjuk kabel itu. Dia pasti sengaja naruh kabel pink itu sebagai 'nyawa' cadangan bomnya biar nggak bisa dijinakin pake cara standar."
Lorenzo berteriak parau, "Jangan sentuh itu, gadis bodoh! Kau akan membunuh kita semua!"
"Tuh kan! Kalau dia marah, berarti bener!" seru Ziva yakin.
Aiden menatap Ziva, lalu menatap kabel pink itu. Ia teringat ciuman mereka di atap gedung tadi—sebuah momen hidup di tengah ancaman maut. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu terpaku pada aturan dan logika perang, sementara Ziva selalu melihat dunia dengan cara yang jujur dan apa adanya.
"Ziva, kau yakin?" tanya Aiden, matanya menatap tajam ke dalam mata Ziva.
"Yakin banget, Bang! Kayak yakinnya gue kalau sandal Swallow itu aslinya awet asal nggak dicolong orang di masjid!"
Aiden menarik napas panjang. "Baiklah. Jika kita mati, setidaknya kita mati dalam warna merah muda."
Waktu: 00:15.
Aiden memposisikan tang pemotongnya pada kabel pink tersebut. Keringat menetes dari ujung hidungnya, jatuh tepat ke atas panel bom.
00:10.
00:09.
"Ziva, kalau ini meledak... aku ingin kau tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu," bisik Aiden.
"Gue juga, Bang! Tapi jangan mati sekarang, gue belum dapet transferan bulanan pertama dari lu!"
00:05.
00:04.
KLIK!
Aiden memotong kabel pink itu dengan satu gerakan mantap.
Layar digital itu mendadak mati. Suara detak yang mengerikan itu berhenti. Keheningan seketika menyelimuti bunker tersebut, hanya menyisakan suara napas Aiden dan Ziva yang memburu.
Lorenzo merosot di kursi rodanya, wajahnya penuh kekalahan. "Tidak mungkin... seorang kurir rendahan mengalahkan mahakarya kematianku..."
"Ini Jakarta, Kek! Di sini kabel pink itu biasanya buat jemuran atau ikat rambut, bukan buat mainan bom!" teriak Ziva sambil terduduk lemas di lantai bunker, kakinya yang memakai sandal biru gemetar hebat.
Namun, Lorenzo belum selesai. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia menarik sebuah granat dari bawah kursi rodanya. "Jika aku tidak bisa meledakkan Monas... maka aku akan membawa kalian ke neraka bersamaku!"
Aiden bereaksi lebih cepat. Ia menerjang Lorenzo, merebut granat itu, dan menendang kursi roda Lorenzo ke arah lubang pembuangan limbah yang terbuka di sudut bunker.
"Selamat tinggal, Lorenzo. Kembali ke tempat asalmu," ucap Aiden dingin.
BOOM!
Ledakan granat itu teredam di bawah saluran limbah, mengakhiri riwayat Don Lorenzo untuk selamanya. Aiden segera menarik Ziva berdiri dan membawa mereka keluar dari bunker sebelum sistem keamanan otomatis mengunci tempat itu.
Saat mereka keluar ke area terbuka Museum Fatahillah, fajar mulai menyingsing. Pasukan polisi Jakarta dan tim Marco sudah mengepung area tersebut. Marco berlari menghampiri mereka dengan wajah lega.
"Tuan! Anda berhasil! Bomnya sudah mati!"
Aiden hanya mengangguk lemas, ia menyandarkan tubuhnya pada salah satu tiang lampu kuno. Ia menatap Ziva yang sedang sibuk membersihkan debu dari sandal jepit Swallow-nya.
"Bang Don," panggil Ziva.
"Ya?"
"Tadi lu beneran bilang cinta sama gue pas mau mati, atau cuma taktik pengalihan lagi?" Ziva menatap Aiden dengan mata yang berbinar di bawah cahaya fajar.
Aiden tersenyum—senyuman yang paling hangat yang pernah Ziva lihat. Ia menarik Ziva ke dalam pelukannya, menghiraukan semua mata kamera dan polisi di sekitar mereka. "Kabel pink itu mungkin palsu, Ziva. Tapi apa yang kukatakan tadi adalah hal paling nyata yang pernah kuucapkan dalam hidupku."
Ziva tersenyum lebar, membalas pelukan Aiden. "Gitu dong. Jadi naga itu jangan kaku-kaku amat. Sekali-kali harus pake perasaan, biar warnanya pink kayak kabel tadi."
Satu minggu kemudian, Jakarta kembali ke rutinitasnya yang macet dan bising. Di sebuah ruko kecil di daerah pinggiran, Aiden Volkov duduk di depan meja kayu, sibuk mengetik di laptopnya. Ia telah mengubah seluruh operasional Volkov Corp menjadi perusahaan logistik legal berskala internasional yang berpusat di Jakarta.
Ziva masuk membawa dua mangkuk seblak yang pedasnya tercium hingga ke teras.
"Bang! Makan dulu! Ini seblak spesial, pake krupuk yang tadi nggak jadi kita peledakin!" canda Ziva.
Aiden menutup laptopnya, menarik Ziva untuk duduk di pangkuannya. Di bawah meja, sepasang sepatu bot mahal Aiden bersanding dengan sandal jepit Swallow biru milik Ziva yang sudah dicuci bersih dan diberi hiasan berlian kecil di bagian talinya—hasil karya pengrajin Italia yang dikirim khusus oleh Marco.
"Ziva, aku sedang berpikir," ucap Aiden sambil menyuapkan sesendok seblak ke mulutnya (dan langsung tersedak karena pedas).
"Mikir apa, Bang? Mau bikin bom lagi?"
"Tidak. Aku sedang berpikir untuk mengganti warna logo perusahaan baruku."
"Jadi warna apa?"
Aiden menatap Ziva dengan tatapan penuh arti. "Warna pink. Untuk mengingatkan aku bahwa keselamatan duniaku bergantung pada seorang gadis yang tahu cara memotong kabel warna merah muda."
Ziva tertawa terpingkal-pingkal. "Gila lu, Bang! Entar dikira perusahaan katering lamaran!"
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, Sang Naga dan Bunga Mataharinya akhirnya menemukan kedamaian yang mereka cari. Tidak ada lagi peluru, tidak ada lagi racun dalam wine, yang ada hanyalah aroma terasi yang menyengat dan cinta yang tumbuh di antara kabel warna pink dan sepasang sandal jepit.
Aiden mencium dahi Ziva, menyadari bahwa takdir paling indah bukanlah saat ia menguasai Eropa, melainkan saat ia memilih untuk menetap di sebuah gang sempit di Jakarta bersama gadis yang paling ia cintai.
"Aku mencintaimu, Bunga Matahariku."
"Gue juga, Bang Bambang."
Aiden hanya bisa menghela napas, menerima nama "Bambang" itu sebagai gelar barunya yang paling mulia.