NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Umpan Bayangan

Hujan abu berbau belerang turun rintik-rintik dari langit kelabu, melapisi tanah gersang di luar Kota Debu. Tiga sosok berjalan menyusuri jalan setapak yang diapit oleh tebing-tebing batu tajam, menjauh dari peradaban kumuh itu menuju utara.

"Kakiku... kakiku mau putus rasanya," ratap Bao Tuo, menyeka keringat yang membanjiri wajah bundarnya. Ia terengah-engah sambil memegang perutnya. "Nona Xiaoyu, kau bilang kau tahu jalan pintas! Kenapa kita malah mendaki bukit batu yang isinya sarang kalajengking mutan?!"

Lin Xiaoyu yang berjalan ringan di depannya memutar bola mata, mengepang kembali rambutnya yang berantakan. "Tuan Gemuk yang manja, jalan utama sedang dijaga ketat oleh Kultivator Liar yang memungut 'pajak nyawa' bagi siapa pun yang menuju Akademi Jiannan. Lewat sini memang banyak tebing, tapi sepi! Setidaknya kalajengking tidak akan merampok Kristal Roh di balik bajumu itu!"

Mendengar kata 'Kristal Roh', Bao Tuo buru-buru memeluk dadanya dan melirik ke arah Zeng Niu dengan panik.

Zeng Niu berjalan di paling belakang. Ekspresinya sedingin batu nisan. Ia tidak ikut campur dalam pertengkaran sepele mereka. Matanya yang gelap terus bergerak, menyapu setiap bayangan, setiap celah batu, dan setiap hembusan angin. Di dunia ini, rasa aman adalah ilusi yang paling mematikan.

Tiba-tiba, langkah Bao Tuo terhenti kaku.

Si gendut itu mematung, wajahnya yang tadi merah karena kelelahan seketika memucat. "S-Saudara Niu..." bisiknya dengan suara bergetar. Tangannya gemetar menunjuk ke arah celah tebing sempit di depan mereka. "Bulu kudukku berdiri semua. Firasatku... ada bau darah yang sangat pekat di depan sana. Bukan monster. Manusia."

Insting Bao Tuo tidak pernah berbohong. Zeng Niu seketika mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka berhenti.

Zeng Niu berjongkok, menempelkan telinganya ke tanah bebatuan yang dingin. Di bawah getaran angin, ia bisa mendengar detak jantung samar dan gesekan kain jubah dari atas tebing di kanan dan kiri celah sempit tersebut.

"Ada empat orang. Menyergap di atas tebing," bisik Zeng Niu, matanya menyipit memancarkan niat membunuh yang tertahan. "Mereka menekan fluktuasi Qi mereka. Bandit kultivator."

Xiaoyu menelan ludah, wajah polosnya memancarkan kepanikan sejati. "Geng Pasir Hitam? Atau Kultivator Liar? Saudara Niu, kita harus putar balik! Jika mereka berempat setidaknya berada di Pengumpulan Qi Tahap 4 atau 5, kita akan dicincang!"

"Putar balik berarti mati di jalan terbuka," desis Zeng Niu datar. Ia menatap celah tebing itu. Menghadapi musuh yang memiliki Qi, ia tidak bisa maju membabi buta. Ia butuh umpan.

Zeng Niu menoleh ke arah Xiaoyu. "Berapa lama kau bisa mempertahankan ilusi dari tiga orang yang berjalan?"

Xiaoyu terkesiap. "I-ilusi bergerak? Tanpa medium darah monster, itu akan sangat menguras Dantianku! Paling lama... lima belas tarikan napas!"

"Itu lebih dari cukup," kata Zeng Niu. Ia mencabut belati berburunya. "Buat bayangan kita bertiga berjalan masuk ke celah itu. Begitu mereka menyerang bayangan itu, formasinya akan pecah. Saat itu terjadi..."

Zeng Niu menatap Bao Tuo yang sudah gemetar mencari tempat sembunyi. "Gendut, siapkan satu Jimat Peledak Elemen Api. Saat kuberi aba-aba, lempar ke atas tebing sebelah kiri. Paham?"

"M-melempar jimat harganya satu Kristal Roh! B-baik! Demi nyawaku, akan kulempar!" isak Bao Tuo sambil merogoh dadanya.

Zeng Niu bergerak seperti bayangan, memanjat dinding tebing sebelah kanan dengan kecepatan dan keheningan seekor laba-laba raksasa, mengandalkan kekuatan murni Penempatan Tubuh Tahap 4. Kulitnya yang keabu-abuan menyatu sempurna dengan batu karang.

Di bawah, Xiaoyu menggigit jarinya hingga berdarah, mengoleskannya ke sebuah perkamen kosong, dan merapalkan segel tangan dengan cepat. "Seni Ilusi: Bayangan Fana!"

Kabut tipis menyelimuti tubuh Xiaoyu dan Bao Tuo, menyembunyikan mereka di balik sebuah batu besar. Dari kabut itu, muncullah tiga sosok yang sangat mirip dengan Zeng Niu, Bao Tuo, dan Xiaoyu, berjalan perlahan memasuki celah tebing yang diapit tebing tinggi.

Di atas tebing, empat Kultivator Liar berpakaian compang-camping sedang menyeringai. Pemimpin mereka, seorang pria bermata satu dengan fluktuasi Pengumpulan Qi Tahap 5, mengangkat tangannya.

"Mangsa datang. Tiga pengembara miskin, tapi si gendut itu kelihatannya empuk. Serang!"

Keempat bandit itu melompat turun dari tebing seperti burung nasar, senjata mereka memancarkan Qi mematikan. Pemimpin bermata satu menebaskan pedang besarnya tepat ke leher "Zeng Niu" yang sedang berjalan.

TRAASH!

Namun, alih-alih darah, pedang itu hanya membelah udara kosong. Sosok "Zeng Niu", "Bao Tuo", dan "Xiaoyu" hancur berkeping-keping menjadi pecahan cahaya seperti cermin yang retak.

"Ilusi murahan?!" teriak pemimpin bermata satu itu terkejut. "Sial! Kita dijebak!"

"Sekarang!" Suara serak dan dingin menggema dari atas tebing kanan.

WOOOOSH!

Sebuah kertas kuning melesat dari balik batu di bawah. Bao Tuo, dengan mata terpejam rapat sambil menjerit ketakutan, melempar Jimat Peledak Elemen Api tepat ke tengah kelompok bandit yang sedang kebingungan.

BLAAARRR!

Ledakan api merah menyapu celah sempit itu. Dua bandit berpangkat Tahap 3 langsung terpental dengan tubuh hangus terbakar, menjerit kesakitan sebelum mati.

Pemimpin bermata satu dan satu anak buahnya yang berada di Tahap 4 berhasil menahan ledakan menggunakan perisai Qi, meski jubah mereka terbakar. Asap tebal menutupi pandangan mereka.

Dari balik asap itulah, Kematian menjemput.

Zeng Niu melesat turun dari dinding tebing bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai algojo. Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Sebelum bandit Tahap 4 sempat memulihkan pandangannya, Zeng Niu sudah berada di belakangnya.

Tangan kiri Zeng Niu mencengkeram rambut bandit itu dan menarik kepalanya ke belakang, mengekspos lehernya. Tangan kanannya menusukkan belati besi miring ke atas, masuk tepat dari pangkal tenggorokan hingga menembus dasar tengkorak.

KREK.

Zeng Niu mencabut belatinya, membiarkan mayat itu jatuh tanpa sempat menjerit.

"Siapa di sana?!" raung pemimpin bermata satu. Matanya yang tersisa memerah karena marah. Ia mengayunkan pedang besarnya ke arah bayangan Zeng Niu. Pedang itu dilapisi Qi elemen angin yang setajam silet.

Zeng Niu menunduk, bilah pedang itu memotong beberapa helai rambutnya. Ia tahu, menangkis serangan kultivator Tahap 5 dengan belati fana hanya akan membuat senjatanya hancur. Ia tidak mundur, melainkan menerjang masuk ke dalam jangkauan pedang lawan.

Pemimpin bandit itu menyeringai kejam. Tangan kirinya tiba-tiba memancarkan cahaya merah. “Tapak Api Pembakar Hati!”

Sebuah telapak tangan yang diselimuti api Qi menghantam dada kiri Zeng Niu dengan telak.

BUM! Bau daging terbakar menyeruak. Jika itu adalah manusia fana biasa atau bahkan kultivator Pengumpulan Qi Tahap 3, jantung mereka pasti sudah meledak.

Namun Zeng Niu tidak terpental. Otot dan tulangnya yang telah ditempa oleh darah mutan dan Qi kacau menahan benturan itu. Ia memuntahkan seteguk darah hitam, membiarkan dadanya hangus terbakar, namun matanya menatap tajam ke mata sang bandit.

Senyum bandit itu membeku. "T-Tubuh Fisik?!"

Zeng Niu menggunakan momen sepersekian detik di saat lawannya terkejut. Menahan rasa sakit yang akan membuat orang waras pingsan, ia membuang belatinya yang tidak bisa menembus perisai Qi, dan menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram pergelangan tangan kiri sang bandit yang masih menempel di dadanya.

Dengan brutal, Zeng Niu memelintir lengan itu hingga tulang sikunya mencuat keluar menembus kulit.

"AAAARRGHH!" bandit itu melolong histeris.

Tanpa belas kasihan, Zeng Niu menendang lutut bandit itu hingga patah, membuatnya jatuh berlutut. Zeng Niu lalu melingkarkan lengannya yang sekeras besi dari belakang leher bandit tersebut, menguncinya dalam sebuah cekikan maut.

Bandit itu meronta, mencoba menebaskan pedangnya ke belakang, namun Zeng Niu mematahkan pergelangan tangan kanannya dengan satu hantaman lutut. Dalam tiga tarikan napas, suara keretakan tulang leher terdengar bergema di celah tebing yang sunyi.

Tubuh pemimpin bandit itu merosot lemas, matanya mendelik kosong ke atas langit.

Zeng Niu berdiri terengah-engah. Darah merembes dari sudut bibirnya, dan dada kirinya melepuh parah. Namun ekspresinya tetap datar. Ia membungkuk, menjarah kantong penyimpanan bandit itu, memungut belatinya, dan berjalan keluar dari kepulan asap.

Di balik batu, Bao Tuo dan Xiaoyu duduk gemetar, saling berpelukan karena ketakutan melihat pembantaian brutal dan efisien yang baru saja terjadi.

Zeng Niu melempar sebuah kantong kecil berisi beberapa keping koin perak ke pangkuan Xiaoyu. "Kompensasi untuk darahmu," ucapnya dingin. Lalu matanya beralih ke Bao Tuo. "Kerja bagus. Jimatmu tepat sasaran."

Bao Tuo menangis lega, meski lututnya masih lemas. "S-Saudara Niu... dadamu berlubang! Kau menahan Tapak Api murni dengan dagingmu! Dewa... kau lebih mengerikan dari monster..."

"Berjalanlah," potong Zeng Niu, mengusap darah dari bibirnya, mengabaikan luka bakarnya sama sekali. Rasa sakit adalah sahabat terlamanya. "Kita sudah dekat."

Mereka keluar dari celah tebing tersebut, dan pemandangan di depan mereka seketika membuat napas ketiganya tercekat.

Di ujung cakrawala, di bawah langit yang mulai dihiasi oleh garis-garis merah dari fenomena Bulan Darah yang akan segera tiba, sebuah lembah raksasa membentang luas. Di tengah lembah itu, terdapat dua gunung karang yang terbelah rapi di tengahnya, seolah dipotong oleh pedang dewa yang jatuh dari surga. Di antara celah itulah, Formasi Pelindung bersinar redup dengan warna keemasan, menjaga sekumpulan bangunan megah bergaya kuno yang belum tersentuh oleh Bencana.

Itulah Akademi Jiannan.

Di dataran luas di depan lembah tersebut, ribuan tenda telah didirikan. Puluhan ribu pengembara, kultivator muda, jenius dari klan yang tersisa, hingga pengemis beruntung dari seluruh penjuru benua utara telah berkumpul, menatap gerbang raksasa yang tertutup rapat.

Zeng Niu menatap lautan manusia itu. Di tempat ini, tidak ada lagi monster liar, namun intrik, kesombongan, dan hukum rimba antar manusia akan jauh lebih mematikan.

Ia meremas belatinya. Perjalanan neraka baru saja membawanya ke depan pintu gerbang neraka yang sesungguhnya.

1
eka suci
si gendut SDN gadis ilusi di ajak ngga🤔
eka suci
paling brutal woy🤭
Xiao Bar
lnjut
Xiao Bar
ada kaitan nya kah ini? pedang Zhao xuan
Xiao Bar
ngeri 💪
eka suci
ini perpaduan Shen yu yg merangkak dari nol juga Zhao xuan yg di yg di hinggapi jiwa licik dan arogan 👍
eka suci
Lei Ling kau itu nasibnya ngga lebih baik dari kakek gu yg dulu bersemayam di Zhao xuan😄
saniscara patriawuha.
lanjutttt keunnnnn....
i
jangan kendor
i
gas niu
k
gasss
k
lanjut thor😍
p
lanjut thor👍
1
lanjut kan thor👍
eka suci
MC mu semuanya di luar nurul😄 lanjutkan 💪
p: kwkwk
total 1 replies
eka suci
pedang nya masuk cincin kah🤔
saniscara patriawuha.
gasssds keunnnnn...
eka suci
pedang yg angkuh 😄 takut Zhao xuan tapi nyari pewaris 😥
saniscara patriawuha.
gasssdddd polllll
eka suci
pedang yg kabur dari Zhao xuan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!