Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu di Atas Motor
Setelah hiruk-pikuk pesta rakyat di Menara Alfarezel yang menguras energi dan emosi, Adrian dan Zeva secara mengejutkan menghilang dari radar publik. Media menduga mereka terbang ke pulau pribadi di Maladewa atau menyewa kastil di pedalaman Prancis. Namun, kenyataannya jauh lebih berdebu, lebih bising, dan jauh lebih "Zeva".
Di sebuah pelabuhan kecil di Merak, saat fajar menyingsing dengan warna ungu kemerahan, dua buah motor touring bergaya adventure keluar dari perut kapal feri. Yang satu adalah motor BMW R1250GS hitam legam yang dikendarai Adrian, dan yang lainnya adalah motor kustom berbasis Kawasaki W650 yang telah dimodifikasi total oleh tangan Zeva sendiri.
"Selamat datang di tanah Sumatra, Bos Robot!" teriak Zeva lewat intercom helm. Suaranya terdengar ceria di balik deru angin selat Sunda.
Adrian, yang terbungkus jaket riding kelas premium namun masih tampak sedikit kaku di atas motor besarnya, tertawa kecil. "Aku masih tidak percaya kau berhasil meyakinkan Kakek Wijaya untuk mengizinkan kita melakukan ini. Dia pikir kita akan mati dirampok di lintas Sumatra."
"Kakek cuma khawatir karena dia belum tahu kalau cucu mantunya ini adalah penguasa aspal," balas Zeva sambil memacu gasnya, membelah jalanan aspal Lampung yang mulai ramai oleh truk-truk logistik. "Dan ingat janji kita: No pengawal, no hotel bintang lima, no asisten. Cuma kita, dua motor, dan jalanan."
Perjalanan hari pertama membawa mereka melintasi perkebunan karet yang luas. Udara pagi yang lembap berubah menjadi panas menyengat saat matahari naik ke puncak kepala. Bagi Adrian, ini adalah pengalaman sensorik yang luar biasa. Selama ini, ia melihat dunia dari balik kaca mobil antipeluru yang kedap suara dan ber-AC. Kini, ia bisa merasakan perubahan suhu udara di kulitnya, aroma tanah basah setelah hujan singkat, dan bau asap knalpot truk yang menyesakkan.
"Zeva, aku lapar! Dan bokongku mulai terasa seperti mati rasa!" seru Adrian setelah empat jam berkendara tanpa henti.
Zeva tertawa terbahak-bahak. Ia menepi di sebuah warung nasi pinggir jalan yang sangat sederhana—sebuah bangunan kayu dengan atap seng dan deretan bangku panjang yang catnya sudah mengelupas. Di depannya, terparkir beberapa truk fuso besar yang berdebu.
"Makan di sini?" tanya Adrian sambil membuka helmnya, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan karena keringat.
"Ini namanya Rumah Makan Lintas, Adrian. Masakannya lebih enak daripada katering hotel kalau lu tahu apa yang harus dipesan. Ayo, jangan manja," ujar Zeva sambil menarik tangan Adrian masuk.
Di dalam warung, mereka menjadi pusat perhatian. Para sopir truk menatap aneh pada dua pengendara motor dengan perlengkapan mahal itu. Namun, Zeva dengan mudah mencairkan suasana. Ia menyapa para sopir dengan logat jalanan yang akrab, memesan dua porsi rendang jengkol dan ayam pop dengan suara lantang.
Adrian duduk di bangku kayu yang goyang, mencoba menyesuaikan diri. Saat makanan datang, ia ragu sejenak melihat piring plastik yang sedikit berminyak. Namun, saat suapan pertama masuk ke mulutnya, matanya membelalak.
"Ini... pedas sekali, tapi luar biasa," gumam Adrian sambil menyeka keringat di dahinya.
"Itu namanya bumbu kejujuran, Bos," sahut Zeva sambil melahap makanannya dengan tangan kosong. "Di sini nggak ada yang peduli lu CEO atau bukan. Yang penting lu doyan makan dan sopan sama orang."
Setelah makan siang, mereka melanjutkan perjalanan menuju arah utara. Namun, insting Zeva yang terasah di jalanan mulai menangkap sesuatu yang tidak beres. Sejak mereka keluar dari pelabuhan Merak, ada sebuah mobil SUV berwarna perak dengan kaca gelap yang selalu terlihat di spionnya dalam jarak yang cukup jauh.
Awalnya Zeva mengira itu hanya sesama pelancong. Namun, setelah ia sengaja berputar-putar di sebuah pasar tradisional dan mobil itu tetap muncul beberapa menit kemudian, ia tahu mereka sedang diikuti.
"Adrian, dengar aku," ujar Zeva lewat intercom, suaranya mendadak serius. "Ada SUV perak di belakang kita. Dia sudah mengikuti sejak Lampung Selatan. Jangan menoleh, tetap fokus pada jalan."
Tubuh Adrian menegang. "Pengawal dari kantorku? Siska bilang dia tidak mengirim siapa pun atas perintahku."
"Bukan. Cara mereka berkendara terlalu rapi untuk sekadar pengawal. Mereka menjaga jarak aman tapi konstan. Itu teknik pengintaian profesional," jelas Zeva. "Kita akan belok ke jalur alternatif di depan. Jalanannya lebih sempit dan rusak. Kalau mereka terus ikut, berarti mereka memang punya niat buruk."
Zeva membanting stang motornya masuk ke jalanan tanah berbatu yang membelah hutan sawit. Adrian mengikuti dengan susah payah, motor besarnya tidak dirancang untuk kelincahan di medan sempit seperti ini. Benar saja, SUV perak itu ikut berbelok, memacu kecepatannya hingga menciptakan debu tebal.
"Mereka mengejar!" seru Adrian.
"Pacu gasmu, Adrian! Ikuti jalurnya!" teriak Zeva.
Aksi kejar-kejaran terjadi di tengah hutan sawit yang sepi. Zeva memimpin dengan lincah, melompati akar-akar pohon dan kubangan air. SUV itu mulai mendekat, mencoba memepet motor Adrian. Zeva melihat celah di antara dua pohon besar yang hanya bisa dilewati motor.
"Adrian, lewat tengah! Sekarang!"
Mereka melesat melewati celah sempit itu. Mobil SUV di belakang mereka mencoba melakukan hal yang sama, namun bagian sampingnya menghantam pohon dengan keras, menyebabkan ban depannya terperosok ke parit drainase.
Zeva menghentikan motornya beberapa puluh meter di depan, namun tidak mematikan mesin. Ia melihat dua orang pria keluar dari mobil tersebut. Mereka mengenakan pakaian kasual namun membawa kamera dengan lensa panjang dan alat perekam.
"Detektif?" gumam Adrian saat ia ikut berhenti di samping Zeva.
"Atau paparazi kelas berat," sahut Zeva. "Tapi liat perlengkapan mereka. Itu bukan buat berita gosip. Mereka lagi nyari sesuatu yang spesifik."
Malam itu, mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke kota besar. Zeva memilih sebuah losmen tua di pinggiran sebuah desa kecil yang tersembunyi. Bangunannya terbuat dari batu bata merah tanpa plesteran, dengan lampu neon yang berkedip-kedip di depannya.
"Kenapa kita tidak melapor polisi saja?" tanya Adrian saat mereka berada di dalam kamar yang hanya berisi satu tempat tidur dan sebuah kipas angin yang berderit.
Zeva sedang sibuk membongkar tas motornya. "Polisi butuh waktu, Adrian. Dan kita nggak tahu siapa yang nyewa mereka. Kalau itu Robert Tan, mereka pasti bakal main fisik. Tapi ini? Mereka cuma ngintip. Itu artinya ada orang di lingkaran dalem lu yang lagi nyari 'borok' gue."
Zeva menatap Adrian dengan serius. "Helena. Ibu tiri lu. Dia bilang semalem kalau dia mau cari tahu soal masa lalu gue. Dan dia nggak main-main."
Adrian terduduk di pinggir ranjang, memijat pelipisnya. "Aku tahu Ibu Helena ambisius, tapi mengirim orang ke tengah hutan Sumatra untuk membuntuti bulan madu anak tirinya sendiri... itu sudah melewati batas."
"Dia bukan nyari kesalahan lu, Adrian. Dia nyari kesalahan gue buat dipake ngancem lu," ujar Zeva. Ia berjalan mendekati Adrian dan duduk di sampingnya. "Adrian, ada hal-hal tentang masa lalu gue yang mungkin bakal dia pake. Soal bokap gue..."
Kalimat Zeva menggantung. Adrian memegang tangan Zeva. "Aku tidak peduli apa yang terjadi sepuluh tahun lalu, Zeva. Aku sudah bilang, aku mencintaimu apa adanya."
"Tapi dunia bisnis nggak se-simpel itu, Bos," bisik Zeva. "Kalau dia tahu soal insiden kebakaran bengkel bokap gue... kalau dia tahu kalau secara teknis gue yang ada di sana saat itu... dia bisa muter balik faktanya dan bilang kalau gue yang nyebabin kematian bokap gue buat dapet asuransi. Padahal kenyataannya nggak gitu."
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar kecil itu. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar. Adrian menarik Zeva ke dalam pelukannya. "Maka kita harus lebih cepat darinya. Kita tidak boleh hanya lari. Kita harus cari tahu siapa yang dia sewa dan apa yang sudah mereka dapatkan."
Tengah malam, saat Adrian sudah tertidur karena kelelahan, Zeva keluar dari kamar dengan sangat pelan. Ia menuju ke arah parkiran motor. Namun, ia tidak menuju motornya. Ia berjalan ke arah semak-semak di seberang losmen.
Nalurinya benar. Salah satu pria dari SUV tadi sedang bersembunyi di sana, mencoba mengambil foto melalui jendela kamar mereka.
Dengan gerakan cepat yang ia pelajari dari dunia balap liar yang keras, Zeva menyergap pria itu dari belakang, menjatuhkannya ke tanah, dan merebut kamera serta ponselnya.
"Siapa yang nyewa lu?!" desis Zeva sambil menekan lututnya ke punggung pria itu.
"Ampun, Nona! Saya cuma kerja!" rintih pria itu.
Zeva membuka ponsel pria itu menggunakan wajah sipemilik paksa. Ia melihat riwayat panggilan dan pesan. Ada satu nama yang tersimpan dengan kode: H.A. - Emerald.
"Emerald itu nama sandi buat ibu tiri gue di lingkungan internal keluarga," bisik Zeva. Ia melihat sebuah folder foto berjudul 'Project Phoenix'. Di dalamnya ada foto-foto dokumen lama dari kantor polisi di Jakarta—dokumen kasus kebakaran bengkel ayahnya.
"Jadi ini yang kalian cari," gumam Zeva. Ia menghapus semua data di ponsel dan memori kamera pria itu, lalu merusaknya hingga tidak bisa diperbaiki.
"Pergi. Kasih tahu bos lu, kalau dia mau main kotor, gue bakal bakar seluruh kebun Emerald-nya sampe nggak bersisa," ancam Zeva sebelum melepaskan pria itu.
Pagi harinya, saat matahari mulai mengintip dari balik bukit, Zeva sudah siap di atas motornya. Wajahnya tampak lebih segar, seolah beban berat baru saja terangkat.
Adrian keluar dari losmen, tampak bingung melihat Zeva yang sudah rapi. "Kau bangun awal sekali. Dan... apa itu di tanganmu?"
Zeva menunjukkan sisa-sisa kartu memori yang sudah hancur. "Oleh-oleh buat Ibu Helena. Kita nggak bisa lanjutin touring ini sesuai rencana, Adrian. Kita harus balik ke Jakarta. Tapi bukan lewat jalur biasa."
"Kenapa?"
"Karena kita harus nemuin orang yang nyimpen dokumen asli kebakaran itu sebelum Helena dapet salinannya. Kakek Wijaya punya brankas rahasia di rumah lama, kan? Gue baru inget, Bokap gue dulu pernah nitipin sesuatu ke Kakek sebelum dia meninggal."
Adrian menatap istrinya dengan rasa kagum yang tak henti-hentinya tumbuh. "Kau benar-benar bukan sekadar mekanik, Zevanya. Kau adalah seorang jenderal."
"Gue cuma cewek yang nggak suka mainannya dirusak orang lain," sahut Zeva sambil memakai helmnya. "Ayo, Bos Robot. Kita tunjukin ke mereka gimana cara 'orang jalanan' main catur."
Mereka memacu motor mereka kembali menuju arah selatan, menantang angin dan debu Sumatra sekali lagi. Namun kali ini, mereka bukan lagi pasangan yang sedang berlibur. Mereka adalah sebuah unit tempur yang sedang bergerak menuju medan perang yang sesungguhnya: rumah mereka sendiri.
Di spion motor Zeva, SUV perak itu tidak lagi terlihat. Namun ia tahu, di Jakarta, Helena Alfarezel sedang menunggu dengan belati yang sudah diasah tajam. Dan Zeva sudah menyiapkan perisainya—sebuah rahasia yang terkunci dalam jurnal Nenek dan memori masa kecilnya yang menyakitkan.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan