Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Tarian Tulang di Atas Bukit Karang
Mo Gui tidak menunggu.
Tombak tulangnya melesat lebih cepat dari yang seharusnya dimiliki seorang lelaki berusia lebih dari satu abad. Bukan kecepatan kultivator yang mengandalkan Qi—tapi kecepatan mentah, seperti binatang buas yang telah berburu selama puluhan tahun dan tahu persis kapan harus menerkam.
Xiao Chen menghindar ke kiri, tapi ujung tombak itu tetap menggores lengan jubahnya. Kain hitam Jubah Perang itu robek sedikit—cukup untuk membuatnya sadar bahwa tombak tulang itu bukan senjata biasa.
"Hati-hati," peringat Yue Que. "Tulang-tulang itu direndam dalam racun Laut Mati. Satu goresan dalam bisa melumpuhkanmu."
Mo Gui menyeringai, giginya yang ompong berkilat di bawah sinar matahari sore. "Kau cepat, Pewaris. Tapi kecepatan saja tidak cukup."
Ia memutar tombaknya, menciptakan lingkaran angin yang membawa bau anyir laut. Tanah di sekitarnya bergetar pelan. Xiao Chen merasakan sesuatu melalui tulang punggungnya—Mo Gui tidak menggunakan Qi, tapi ada energi aneh yang mengalir dari simbol kutukan di dadanya ke seluruh tubuhnya.
Dia bukan kultivator. Dia adalah sesuatu yang lain.
Xiao Chen memutuskan untuk tidak bertahan terus. Energi Chaos dari tulang dadanya mengalir ke lengan kanan, melewati sembilan retakan yang kini menjadi jalur sempurna. Yue Que diayunkan dari bawah ke atas, menciptakan gelombang keemasan yang melesat ke arah Mo Gui.
SWOOSH!
Mo Gui tidak menghindar. Ia malah menancapkan tombaknya ke tanah, dan dari tanah itu muncul dinding tulang—ratusan tulang-tulang kecil yang menyembul seperti duri landak, membentuk perisai di hadapannya. Gelombang Energi Chaos Xiao Chen menghantam dinding itu, menghancurkan sebagian tulang, tapi tidak mencapai Mo Gui.
"Bagus!" seru Mo Gui. "Kau memang punya kekuatan. Tapi kau masih terlalu mengandalkan pedangmu."
Ia mencabut tombaknya, dan kali ini ia melompat. Tubuh tuanya yang ringkih ternyata bisa melesat seperti peluru. Tombaknya menusuk dari atas ke bawah, mengarah tepat ke ubun-ubun Xiao Chen.
Xiao Chen mengangkat Yue Que untuk menangkis.
TING!
Benturan itu menghasilkan percikan cahaya keemasan dan ungu. Xiao Chen merasakan lututnya hampir tekuk. Mo Gui mungkin tua, tapi kekuatan di balik serangannya seperti batu karang yang dihantam badai—kokoh dan tak tergoyahkan.
"Kau tahu kenapa aku masih hidup selama ini, Pewaris?" desis Mo Gui, wajahnya kini hanya beberapa inci dari wajah Xiao Chen. "Karena kutukan ini membuatku tidak bisa mati. Aku sudah ditusuk, ditenggelamkan, dibakar, bahkan dipenggal. Tapi aku selalu bangkit lagi. Kau pikir pedang patahmu bisa melukaiku?"
"Kalau begitu," jawab Xiao Chen, "aku tidak perlu melukaimu. Aku hanya perlu membuatmu mengakui kekuatanku."
Ia mendorong tombak Mo Gui ke samping, lalu membalas dengan serangan cepat. Bukan ayunan besar—hanya tusukan-tusukan kecil ke arah bahu, pinggang, dan kaki. Setiap tusukan disertai semburan kecil Energi Chaos.
Mo Gui menangkis dengan mudah, tapi Xiao Chen tidak berhenti. Ia terus menyerang, semakin cepat, semakin bervariasi. Sembilan retakan di lengan kanannya membuat aliran Energi Chaos begitu lancar sehingga ia bisa mengubah arah serangan dalam sekejap mata.
Ting! Tang! Tung!
Suara benturan tulang dan logam patah memenuhi halaman. Hui di pinggir halaman menonton dengan mata merah menyala, ekornya bergoyang-goyang mengikuti ritme pertarungan.
Lima puluh jurus berlalu. Seratus jurus.
Mo Gui mulai terdesak. Bukan karena ia lebih lemah—tapi karena Xiao Chen terus belajar. Setiap serangan yang ditangkis, setiap gerakan yang dihindari, dipelajarinya. Tulang punggungnya merekam setiap pola, setiap kebiasaan, setiap celah kecil dalam pertahanan Mo Gui.
Dan akhirnya, ia melihatnya.
Saat Mo Gui mengayunkan tombak dari kanan ke kiri, ada jeda sepersekian detik di mana simbol kutukan di dadanya berkedip. Seolah-olah energi dari kutukan itu butuh waktu untuk mengisi ulang.
Xiao Chen tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Saat simbol itu berkedip lagi, ia menerjang masuk ke dalam jangkauan tombak Mo Gui—terlalu dekat untuk tombak itu efektif. Yue Que ia arahkan bukan ke tubuh Mo Gui, tapi ke kalung gigi hiu di lehernya.
TING!
Kalung itu putus. Gigi-gigi hiu berhamburan ke tanah.
Mo Gui terbelalak. Ia melangkah mundur, tangannya menyentuh lehernya yang kosong. Wajahnya yang tadinya penuh semangat berubah menjadi... kosong. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Pertarungan berhenti.
Xiao Chen menurunkan pedangnya, napas tersengal. "Aku... minta maaf. Aku tidak bermaksud merusak—"
"Tidak." Suara Mo Gui tiba-tiba lembut. Ia berlutut, memunguti gigi-gigi hiu yang berserakan. "Kau tidak perlu minta maaf. Ini... ini adalah tanda."
"Tanda apa?"
Mo Gui menatap gigi-gigi itu di telapak tangannya. "Kalung ini adalah jimat yang diberikan istriku sebelum dia meninggal. Dia bilang, selama aku memakainya, aku akan selalu pulang dengan selamat dari lautan. Tapi sekarang..." Ia menatap Xiao Chen, dan untuk pertama kalinya, ada air mata di mata tuanya. "Sekarang mungkin sudah waktunya aku benar-benar pulang."
Xiao Chen tidak tahu harus berkata apa.
Mo Gui bangkit, memasukkan gigi-gigi hiu itu ke sakunya. "Kau lulus syarat pertama, Pewaris. Kau tidak hanya kuat—kau juga jeli. Kau melihat kelemahan di balik kekuatan. Itu yang dibutuhkan untuk bertahan di Laut Mati."
Ia menepuk bahu Xiao Chen. "Sekarang, syarat kedua. Mutiara Kegelapan. Teluk Tanpa Bulan berjarak setengah hari berjalan kaki ke selatan. Kau akan menemukan gua bawah laut di sana. Ular Laut Bermata Satu menjaganya. Kalahkan ular itu, ambil mutiaranya."
"Ada yang perlu kuketahui tentang ular itu?"
Mo Gui menyeringai lagi, kali ini lebih lemah. "Dia buta. Tapi pendengarannya luar biasa. Jangan membuat suara. Dan jangan gunakan Energi Chaos-mu sembarangan—ular itu sensitif pada energi kuno. Dia akan mengamuk jika merasakannya."
Xiao Chen mengangguk. "Aku akan kembali dengan mutiara itu."
"Kuharap begitu. Karena kalau kau mati di Teluk Tanpa Bulan, aku akan sangat kecewa." Mo Gui berbalik, berjalan kembali ke kursi goyangnya. "Pergilah sekarang. Malam adalah waktu terbaik untuk mendekati ular itu. Dia tidur lebih nyenyak saat bulan tidak ada."
Xiao Chen memberi hormat singkat, lalu berbalik dan keluar dari halaman bertulang paus itu. Hui mengikutinya.
Saat mereka berjalan menuruni bukit, Xiao Chen menatap matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Setengah hari ke selatan. Teluk Tanpa Bulan. Ular laut buta. Dan mutiara kegelapan.
"Kita tidak akan tidur malam ini, Hui."
Hui menggeram, seolah berkata, "Sejak kapan kita tidur nyenyak?"
Xiao Chen tersenyum tipis. "Benar juga."
Mereka mempercepat langkah, menuju selatan, menuju ujian berikutnya.