NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satria dan Ritual Pemanggil Jodoh yang Gagal

Setelah menemukan petunjuk tentang brankas rahasia di Lab Biologi, Satria merasa level kerennya naik beberapa tingkat. Namun, di SMA Wijaya Kusuma, setiap kali seseorang merasa di atas angin, alam semesta—atau setidaknya penghuni alam ghaibnya—selalu punya cara untuk menjatuhkannya kembali ke bumi dengan cara yang paling memalukan.

​Semua bermula dari desas-desus yang dibawa oleh Siska. Gadis itu berlari ke meja Satria dan Arini saat jam istirahat dengan napas tersengal-sengal. "Kalian tahu nggak? Malam Jumat Kliwon besok itu adalah hari 'Penyelarasan Sukma'. Katanya, kalau kita melakukan ritual di sumur tua belakang aula, kita bisa melihat siapa jodoh masa depan kita di permukaan airnya!"

​Arini tertawa kecil. "Siska, hari gini masih percaya ramalan jodoh di sumur? Itu kan cuma mitos."

​"Bukan mitos, Rin! Kakel tahun lalu ada yang coba, dan dia beneran lihat wajah cowok yang sekarang jadi pacarnya!" Siska bersikeras, matanya berbinar.

​Satria, yang biasanya skeptis, tiba-tiba merasa tertantang. Bukan karena ia tidak tahu siapa yang ia sukai—jelas itu Arini—tapi karena ia ingin memastikan apakah "takdir" juga setuju dengannya. Selain itu, ia ingin membuktikan pada Arini bahwa ia bisa menangani ritual apa pun tanpa berakhir dengan kerusuhan.

​"Oke, gimana kalau kita buktikan?" tantang Satria. "Gue, Arini, Budi, sama Siska. Besok malam kita ke sumur itu."

Malam Jumat Kliwon tiba. Suasana sekolah sangat mencekam. Kabut tipis menyelimuti lapangan basket, dan suara burung hantu terdengar sahut-sahutan. Satria membawa perlengkapan yang disarankan oleh Ucok si tuyul, yang katanya "ahli" dalam urusan perjodohan dunia astral.

​"Cok, lo yakin ini bahannya?" tanya Satria sambil menatap isi tasnya: kembang tujuh rupa, lilin merah, parfum laundry aroma vanila, dan satu bungkus kerupuk kulit.

​“Yakin, Semprul! Parfum vanila itu untuk menarik sukma yang manis, kerupuk kulit itu untuk camilan penunggu sumur supaya dia nggak ganggu,” bisik Ucok yang bertengger di bahu Satria.

​Di sumur tua belakang aula, Arini sudah menunggu bersama Budi dan Siska. Sumur itu tertutup lumut tebal, dan aura dingin yang keluar dari dalamnya membuat bulu kuduk Budi berdiri tegak.

​"Sat, lo beneran mau mulai?" tanya Budi ragu. "Gue denger sumur ini dulunya tempat pembuangan cinta yang ditolak."

​"Tenang, Bud. Gue sudah konsultasi sama ahlinya," jawab Satria mantap.

​Meneer Van De Berg muncul di samping sumur, melipat tangan di dada. “Anak muda, kau sedang bermain dengan energi yang tidak stabil. Sumur ini bukan layar bioskop. Ini adalah portal emosi.”

​Satria mengabaikan peringatan sang Meneer. Ia mulai menyusun bunga di pinggir sumur, menyalakan lilin merah, dan menyemprotkan parfum vanila secara brutal ke udara. Ia kemudian membacakan mantra yang diberikan Ucok: "Wahai penunggu sumur yang baik hati, tunjukkanlah wajah belahan jiwa yang sejati. Jangan yang menyeramkan, jangan yang bau, tunjukkan yang cantik dan setia selalu!"

Tiba-tiba, air di dalam sumur mulai bergejolak. Suara gelembung besar terdengar, dan asap putih keluar dari lubang sumur.

​"Lihat! Airnya berubah!" teriak Siska antusias.

​Satria mendekat ke bibir sumur, jantungnya berdebar. Ia berharap melihat wajah Arini di sana. Arini pun ikut mendekat, penasaran. Namun, bukannya wajah manusia yang muncul, permukaan air justru menampilkan wajah sesosok makhluk dengan rambut gimbal, mata melotot, dan taring yang keluar dari bibir bawahnya.

​“SIAPA... YANG MEMANGGILKU DENGAN BAU VANILA MURAHAN INI?!”

​Sesosok Buto Ijo mini (atau mungkin lebih tepatnya Genderuwo remaja yang sedang puber) melompat keluar dari sumur. Tubuhnya hijau lumut, mengenakan kalung dari tutup botol, dan ia tampak sangat marah.

​"LOH! KOK JODOH GUE BEGINI?!" teriak Satria spontan sambil melompat mundur.

​“JODOH?! SIAPA YANG MAU JADI JODOHMU, MANUSIA SEMPRUL?!” makhluk itu berteriak. “Aku adalah 'Penjaga Sumur Kesunyian'! Kamu sudah mengganggu tidur siangku yang tenang dengan bau parfum laundry ini! Dan apa ini? Kerupuk kulit? Kamu pikir aku ini penonton layar tancap?!”

​Budi dan Siska langsung lari tunggang langgang menuju aula, meninggalkan Satria dan Arini menghadapi kemarahan sang penjaga sumur.

"Sori, Bang Buto! Ini salah paham! Ucok yang bilang kalau—"

​“UCOK?! Tuyul koruptor itu lagi?!” Sang Buto Ijo mengeluarkan gada kecil dari pinggangnya. “Akan kuhancurkan ritual konyol ini!”

​Ia mulai mengamuk, menendang kembang tujuh rupa dan meniup lilin merah hingga padam. Keadaan menjadi gelap gulita, hanya dibantu oleh cahaya senter ponsel Arini yang terjatuh di tanah.

​"Sat! Lakuin sesuatu!" teriak Arini.

​Satria mencoba merogoh tasnya. Ia mencari sesuatu yang bisa menenangkan makhluk ini. Ia menemukan botol sisa "ramuan sains ghaib" dari Lab Biologi tempo hari, tapi ia sadar itu tidak akan mempan. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Ucok pernah bilang kalau makhluk sumur itu sebenarnya sangat kesepian karena tidak pernah ada yang mengajaknya bicara secara normal.

​"BANG! BERHENTI!" Satria berdiri tegak di depan Buto Ijo itu. "Abang marah karena nggak punya jodoh juga, kan?"

​Makhluk itu berhenti mengayunkan gadanya. Matanya yang merah berkedip. “Apa maksudmu?”

​"Ya lihat aja. Abang tinggal di sumur tua, sendirian, nggak ada yang ngajak ngobrol kecuali lumut. Abang mengamuk karena iri melihat kami yang mencoba cari jodoh, padahal Abang sendiri belum pernah kencan!"

​Buto Ijo itu terdiam. Bahunya yang besar perlahan merosot. “...Memang benar. Terakhir kali ada yang mengajakku bicara adalah tahun 1992, itu pun cuma anak pramuka yang minta izin buang air di dekat sini.”

​Arini perlahan mendekat. Ia mengambil kerupuk kulit yang tadi dilempar Satria dan menyodorkannya pada makhluk itu. "Bang Buto, jangan sedih. Kita nggak bermaksud ngejek. Gimana kalau kita temenin ngobrol sebentar? Kerupuk kulitnya enak kok, gurih."

Suasana yang tadinya horor berubah menjadi sangat aneh. Satria, Arini, dan sang Penjaga Sumur kini duduk melingkar di pinggir sumur tua. Sang Buto Ijo tampak asyik mengunyah kerupuk kulit sambil menceritakan keluh kesahnya sebagai hantu sumur.

​“Kalian tahu, jadi penjaga sumur itu membosankan. Orang-orang cuma datang kalau mau minta nomor togel atau cari jodoh. Nggak ada yang tanya, 'Bang Buto, gimana kabarnya hari ini?' atau 'Bang Buto, ubin sumurnya sudah disikat belum?'”

​Satria mengangguk-angguk prihatin. "Gue paham, Bang. Dunia memang makin individualis, bahkan buat para penghuni astral."

​"Jadi, Bang," Arini bertanya dengan lembut. "Sebenarnya sumur ini beneran bisa tunjukin jodoh nggak?"

​“Bisa... tapi bukan pakai mantra ngaco si Ucok. Sumur ini cuma memantulkan apa yang ada di hati terdalam kalian. Kalau kalian ragu, airnya bakal keruh. Kalau kalian tulus, airnya bakal jernih.”

​Sang Buto Ijo mengusap air di permukaan sumur dengan tangannya yang besar. “Lihatlah sekarang.”

​Satria dan Arini melihat ke dalam sumur. Airnya kini tenang dan jernih seperti cermin. Di sana, mereka tidak melihat wajah orang asing atau masa depan yang jauh. Mereka hanya melihat pantulan diri mereka sendiri yang sedang duduk berdampingan, sangat dekat, dengan tangan yang tanpa sadar saling bersentuhan di pinggiran sumur.

​“Kalian tidak butuh ramalan,” ujar sang Buto Ijo sambil berdiri. “Kalian hanya butuh keberanian untuk mengakui apa yang sudah kalian lihat setiap hari.”

Sang Penjaga Sumur kemudian kembali masuk ke dalam sumur dengan suara byur yang pelan. Suasana kembali sunyi. Lilin-lilin sudah mati, dan kembang-kembang sudah berantakan.

​Meneer Van De Berg muncul di belakang mereka, tampak sedikit tersenyum (sejauh yang bisa dilakukan oleh wajah pucatnya). “Sepertinya pelajaran malam ini lebih berharga daripada ramalan mana pun, Satria.”

​Satria menoleh ke arah Arini. "Rin... sori ya. Ritualnya gagal total. Malah jadi sesi curhat ghaib."

​Arini tertawa, suaranya terdengar sangat manis di tengah kegelapan. "Gagal? Menurut aku ini berhasil banget, Sat. Aku jadi tahu kalau kriteria jodoh aku itu bukan cowok yang sakti mandraguna, tapi cowok semprul yang bisa bikin Buto Ijo makan kerupuk kulit."

​Arini berdiri dan menarik tangan Satria. "Ayo balik ke kelas. Kasihan Budi sama Siska, mungkin mereka sekarang lagi lapor ke Pak Broto kalau kita dimakan monster sumur."

​Saat mereka berjalan meninggalkan aula, Satria merasakan kehangatan di tangannya yang masih digenggam Arini. Ia tidak perlu lagi bertanya pada sumur tua, pada hantu, atau pada ramalan mana pun.

​Namun, saat mereka melewati mading, Ucok muncul dari balik kotak surat. “Gimana Sat? Sukses kan? Jangan lupa komisi saya satu bungkus kerupuk kulit lagi ya!”

​"SUKSES NDASMU, COK!" teriak Satria sambil melempar tas kosongnya ke arah si tuyul.

​Malam itu, Satria belajar satu hal penting: takdir tidak perlu dicari di dasar sumur yang gelap. Kadang, takdir sedang duduk di sampingmu, menertawakan betapa bodohnya kamu saat mencoba mencarinya lewat cara-cara yang aneh. Dan bagi Satria, itu adalah hasil ritual yang paling memuaskan, meskipun ia harus kehilangan satu bungkus kerupuk kulit kesukaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!