NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Tetua Abu dan Liontin Ketiga

Liontin berbentuk bintang di tangan Tetua Abu berpendar dengan cahaya keemasan yang sama persis dengan simbol di puncak gerbang batu. Cahaya itu memantul di kabut tipis lembah, menciptakan bayangan menari di permukaan danau kecil yang terbentuk dari pertemuan tiga sungai. Pria berjubah abu-abu itu tersenyum—senyuman dingin yang tidak mencapai matanya yang kelabu.

"Kalian terkejut," katanya. Suaranya tenang, hampir seperti seorang guru yang sedang menjelaskan pelajaran pada murid-muridnya. "Wajar. Kalian mengira pecahan bintang masih tersembunyi di menara itu, bukan?"

Arga menegang. Di sampingnya, Darmaji mengangkat tongkatnya, siap bertarung. Sinta mencabut pedangnya, matanya tidak lepas dari Tetua Abu.

"Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Arga. "Gerbang ini hanya bisa dibuka dengan ketiga liontin. Jika kau belum memilikinya sebelumnya, kau tidak mungkin masuk."

Tetua Abu tertawa kecil. "Benar. Gerbang ini hanya bisa dibuka dengan ketiga liontin—atau oleh darah Penjaga." Ia menatap Arga dengan mata yang seolah bisa melihat menembus kulit dan daging. "Sayangnya, aku bukan keturunan Penjaga. Tapi aku punya... cara lain."

Ia mengangkat liontin bintang itu tinggi-tinggi. Cahayanya semakin terang.

"Pecahan bintang tidak pernah berada di dalam lembah ini, bocah. Itu hanya jebakan. Umpan yang ditinggalkan para Penjaga untuk menyesatkan para pemburu seperti kita." Ia menunjuk menara batu hitam di kejauhan. "Menara itu kosong. Sudah kosong sejak ribuan tahun lalu. Pecahan bintang yang asli kudapatkan dari makam Penjaga di utara—makam yang sama dari mana kami mencuri kitab kuno tentang lokasi pecahan bulan sabit."

Darmaji menggeram. "Jadi kau sudah memiliki pecahan bintang sejak awal. Kau membiarkan kami mengambil pecahan bulan sabit di Lembah Batu Tujuh."

"Tentu saja." Tetua Abu tersenyum lebar. "Aku butuh seseorang untuk membawa pecahan bulan sabit ke sini. Seseorang yang bisa membuka gerbang tanpa aku harus menggunakan liontin bintang dan berisiko merusaknya. Lalu kau muncul, keturunan Penjaga." Ia menatap Arga. "Kau adalah kunci yang kutunggu-tunggu."

Arga merasakan liontin di dadanya—pecahan lingkaran—berdenyut keras. Begitu juga liontin bulan sabit yang dibawa Darmaji. Keduanya seolah merespons kehadiran pecahan ketiga, bergetar dengan frekuensi yang semakin tinggi.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Arga. "Membuka gerbang ke Langit Kesepuluh? Membebaskan makhluk yang dikurung di sana?"

Tetua Abu menurunkan liontinnya. Senyumnya memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang anehnya terlihat lebih menakutkan.

"Kau tahu tentang makhluk itu?" Ia memiringkan kepala. "Menarik. Pengetahuanmu jauh melampaui usiamu, keturunan Penjaga. Tapi kau salah paham." Ia melangkah maju, dan Darmaji segera mengangkat tongkatnya lebih tinggi, siap menyerang. Tetua Abu berhenti.

"Aku tidak ingin membebaskan makhluk itu," lanjutnya. "Aku ingin menghancurkannya."

Arga mengernyit. "Apa?"

"Makhluk yang dikurung di Langit Kesepuluh—yang kalian sebut 'ancaman'—adalah monster yang bahkan para Dewa tidak bisa membunuhnya. Mereka hanya bisa mengurungnya. Tapi kurungan itu melemah seiring waktu. Suatu hari nanti, ia akan bebas dengan sendirinya. Dan saat itu terjadi, dunia akan berakhir." Mata Tetua Abu menyala dengan intensitas yang aneh. "Satu-satunya cara untuk mencegahnya adalah dengan membuka gerbang sekarang, selagi ia masih lemah, dan menghancurkannya untuk selamanya."

Darmaji mendengus. "Omong kosong. Lingkaran Naga Hitam bukan organisasi penyelamat dunia. Kalian pemburu pusaka, pembunuh, pencuri. Apa keuntunganmu menyelamatkan dunia?"

Tetua Abu tersenyum lagi. "Keuntungan? Tentu saja ada. Makhluk itu—ia disebut 'Pemangsa Langit' dalam kitab-kitab kuno—memiliki inti. Inti yang terbuat dari energi murni penciptaan. Siapa pun yang menyerap inti itu akan menjadi makhluk terkuat yang pernah ada. Melampaui para Dewa. Melampaui Kaisar Abadi." Matanya berkilat serakah. "Aku akan menjadi penguasa baru alam semesta."

"Kau gila," desis Sinta.

"Mungkin." Tetua Abu mengangkat bahu. "Tapi kegilaanku akan menyelamatkan dunia. Itu lebih dari yang bisa dikatakan oleh para Dewa yang hanya duduk di singgasana mereka."

Arga mencerna informasi ini. Pemangsa Langit. Ia belum pernah mendengar nama itu, bahkan sebagai Kaisar Langit. Tapi jika makhluk itu benar-benar ada, dan jika intinya memiliki kekuatan yang digambarkan Tetua Abu...

"Kau tidak akan bisa mengendalikan kekuatan itu," kata Arga. "Inti makhluk sekuat itu akan menghancurkanmu sebelum kau sempat menyerapnya."

"Ah, di situlah peranmu." Tetua Abu menatap Arga dengan seringai. "Keturunan Penjaga seperti dirimu diciptakan untuk menjadi wadah. Tubuhmu dirancang untuk menampung energi dari Langit Kesepuluh. Kau akan menyerap inti itu untukku, lalu aku akan mengambilnya darimu."

Ia melangkah maju lagi. Kali ini, Darmaji tidak tinggal diam.

BZZZT!

Sinar energi dari tongkatnya melesat ke arah Tetua Abu. Tapi pria itu hanya mengangkat liontin bintang, dan sinar itu terserap ke dalamnya, menghilang tanpa bekas.

"Percuma," kata Tetua Abu. "Di lembah ini, di dekat menara para Penjaga, liontin bintang memberiku kendali atas semua energi di sekitarnya. Kalian tidak bisa melukaiku."

Ia mengangkat liontin itu tinggi-tinggi. Cahaya keemasan meledak, memenuhi seluruh lembah.

Arga merasakan tubuhnya terkunci. Darmaji dan Sinta juga—mereka tidak bisa bergerak.

"Sekarang," suara Tetua Abu menggema, "serahkan dua liontin lainnya. Atau aku akan mengambilnya dari mayat kalian."

Arga merasakan Benang Emas di Dantian-nya berdenyut liar. Liontin di dadanya—pecahan lingkaran—tiba-tiba memanas. Bukan karena diperintah Tetua Abu. Tapi karena ia merespons sesuatu yang lain. Sesuatu di dalam menara batu hitam.

Panggilan.

1
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!