Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 : Kekesalan Raya
Kursi-kursi ditarik pelan.
Suara gesekan kaki kursi dengan lantai marmer terdengar halus, nyaris tenggelam dalam sunyi pagi itu.
Nayra duduk tepat di seberang Arsen. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh meja makan panjang dengan hidangan yang sudah di tata rapi.
Raya duduk di samping Nayra. Punggungnya tegak, tangannya berada di pangkuan sebelum akhirnya perlahan mengambil sendok. Matanya sempat menyapu ruangan, lalu berhenti sejenak pada Arsen… sebelum kembali ke piringnya.
Alea berbeda. Begitu duduk, matanya langsung berbinar. Tangannya bergerak cepat, mengambil roti, lalu mencicipi satu per satu lauk yang ada di dekatnya.
“Hmm…” pipinya sedikit mengembang saat mengunyah. “Enak banget…” Ia menelan, lalu terkikik kecil.
“Kalau aku makan kayak gini terus…” Alea melirik ke Nayra dengan mata polos, "aku bisa jadi gemuk nanti.”
Sendok Nayra berhenti sebentar di udara. Lalu, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia tidak langsung menjawab. Hanya menggeser sedikit piring Alea agar lebih dekat, lalu merapikan rambut anak itu yang sedikit berantakan.
“Pelan-pelan makannya, sayang,” ucapnya lembut.
Alea mengangguk cepat, meski tangannya tetap sibuk.
Berbeda dengan Alea, Nayra sendiri hampir tidak menyentuh makanannya. Ia hanya mengambil sedikit, memotongnya kecil-kecil, lalu mengunyah tanpa benar-benar terlihat menikmati. Tatapannya sesekali terangkat… lalu kembali turun.
Sementara di seberangnya, Arsen duduk tenang. Punggungnya lurus, ia makan tanpa suara dan tidak terburu-buru. Sesekali gelas di tangannya terangkat, lalu diletakkan kembali dengan presisi.
Beberapa saat berlalu. Arsen akhirnya meletakkan sendoknya. Bunyi kecil itu terdengar jelas.
Ia mengangkat wajah, menatap Nayra. “Setelah sarapan, kamu siap-siap,” ucapnya datar.
Nayra menatap Arsen penuh tanya, “memangnya kita mau ke mana?”
“Kita akan menjemput keluargaku di bandara," jawabannya singkat.
Namun begitu kalimat itu jatuh, Raya yang sejak tadi diam, perlahan mengangkat wajahnya. Sendok di tangannya berhenti. Sedangkan Alea masih mengunyah, tapi gerakannya melambat.
Dan Nayra, jemarinya yang tadi berada di atas meja... perlahan menegang.
Raya yang sejak tadi diam, tiba-tiba meletakkan sendoknya sedikit lebih keras dari seharusnya.
“Aku ikut.”
Nayra menoleh pelan. Alea berhenti mengunyah, matanya berpindah dari kakaknya dan Arsen.
Arsen tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Raya beberapa detik.
“Tidak.”
Raya mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Aku hanya menjemput,” jawab Arsen singkat. “Tidak perlu semua ikut.”
Raya tidak langsung duduk kembali. Tangannya mengepal di atas meja.
“Aku mau ikut,” ulangnya, kali ini lebih tegas.
Arsen mengalihkan pandangan sebentar, lalu menoleh ke arah samping.
“Martha.”
Wanita itu segera mendekat. “Ya, Tuan.”
“Tolong siapkan kamar mandi. Mandikan Alea, dan siapkan pakaian yang pantas untuk mereka berdua.” Perintah itu diucapkan tanpa ragu.
Raya langsung menoleh tajam. “Aku belum setuju.”
Arsen kembali menatapnya. Tidak ada perubahan di wajahnya. “Kalian di rumah.”
Raya berdiri dari kursinya. “Kenapa sih harus diatur terus?!”
Nayra langsung menoleh. “Raya…”
Namun Arsen lebih dulu bicara. “Karena nanti kalian akan bertemu mereka.” Nada suaranya tetap datar, tapi kali ini lebih dalam.
Raya terdiam sesaat.
Arsen melanjutkan, “Dan aku tidak ingin ada kesalahan kecil sekalipun.”
Ia berdiri perlahan dari kursinya. Posturnya tegak, tatapannya turun sedikit ke arah Raya.
“Jadi... jaga sikapmu,” tegasnya.
Mendengar ucapan Arsen, Raya langsung terdiam.
“Di depan keluargaku,” lanjutnya, “termasuk di depan kakekku.”
Suasana hening sesaat.
Raya menggigit bibir bawahnya. Tatapannya masih menantang, tapi kini bercampur ragu.
Di sisi lain, Alea yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya mengangkat tangan kecilnya.
“Om...” suaranya pelan, ragu memotong, “Memangnya kita mau ketemu siapa sih?”
Semua mata beralih padanya.
Arsen tidak menjawab. Ia hanya diam, menatap Alea sejenak, lalu mengalihkan pandangannya.
Nayra menarik napas pelan. Ia menoleh ke Alea, lalu mengusap pelan kepala anak itu.
“Kalian akan bertemu kakek dan nenek,” ucapnya lembut.
Alea berkedip, lalu matanya langsung berbinar. “Beneran, Ma?”
Nayra mengangguk kecil.
Senyum Alea langsung melebar. “Aku punya kakek sama nenek?” suaranya naik sedikit, penuh tidak percaya.
Tidak ada yang langsung menjawab. Namun Alea tidak menunggu. Ia langsung menepuk pelan tangannya sendiri, wajahnya bersinar penuh antusias.
“Waaah… nanti aku dipeluk nggak ya?” gumamnya polos. “Terus… mereka baik nggak? Mereka suka nggak ya sama aku?”
Pertanyaan-pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa beban. Tanpa tahu, betapa rumitnya kenyataan yang akan mereka hadapi.
Nayra hanya terdiam. Tangannya masih di kepala Alea, tapi kini jemarinya sedikit menegang.
Sementara Arsen, ia memalingkan wajahnya. Tatapannya lurus ke depan. Tidak ada yang langsung menjawab pertanyaan Alea.
Suara kecil itu menggantung di udara, lalu perlahan tenggelam dalam diam. Alea masih menatap Nayra, menunggu. Senyumnya belum hilang, meski mulai ragu di ujungnya.
Nayra mengusap pelan rambut anak itu sekali lagi. Jemarinya bergerak lebih lambat dari biasanya, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
“Iya,” ucapnya akhirnya, pelan. “Mereka pasti ingin bertemu kalian.”
Alea mengangguk cepat, seolah tidak menangkap celah kecil dalam suara ibunya.
“Kalau gitu aku harus pakai baju yang cantik!” katanya tiba-tiba, matanya kembali berbinar. Ia langsung menoleh ke Martha. “Boleh ya, Tante?”
Martha tersenyum hangat. “Tentu, Nona kecil.”
Alea langsung bangkit dari kursinya dengan semangat, lalu turun sambil hampir berlari kecil ke arah Martha.
“Yuk, Kak!” serunya, menarik tangan Raya.
Namun Raya tidak langsung bergerak. Ia masih berdiri di tempatnya. Tatapannya lurus ke depan… ke arah Arsen.
Beberapa detik. Lalu perlahan ia menarik tangannya dari genggaman Alea.
“Kamu duluan aja,” ucapnya pelan.
Alea mengerutkan kening, tapi akhirnya tetap mengikuti Martha, langkah kecilnya menjauh sambil sesekali menoleh ke belakang. Langkah kaki mereka menghilang di ujung koridor.
Kini… hanya tersisa tiga orang. Raya. Nayra. Arsen. Dan suasana yang kembali menegang. Raya melipat kedua tangannya di depan dada.
“Aku nggak suka ini,” ucapnya tiba-tiba.
Nayra menoleh. “Raya...”
“Aku nggak suka diatur kayak gini,” lanjut Raya, kali ini lebih jelas. Tatapannya tidak lagi menghindar. “Kita bahkan belum kenal mereka.”
Hening sejenak.
Arsen tidak langsung memotong. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Raya tanpa berkedip.
“Aku juga nggak kenal kamu,” tambah Raya pelan, tapi tajam. Kalimat itu jatuh begitu saja.
Nayra langsung berdiri. Kursinya sedikit bergeser ke belakang. “Raya, cukup.”
Namun Raya tidak mundur. Ia tetap menatap Arsen, seolah menunggu jawaban.
Arsen akhirnya bergerak, satu langkah. “Kamu tidak perlu mengenalku,” ucapnya datar. “Yang perlu kamu tahu… aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada kalian.”
Raya terdiam. Tatapannya sedikit goyah, hanya sesaat.
Arsen melanjutkan, lebih pelan, “Dan untuk itu… kamu harus dengar apa yang aku katakan.”
Raya menghela napas keras, lalu memalingkan wajah. Bukan tanda setuju, tapi juga… bukan penolakan sepenuhnya.
Nayra memperhatikan keduanya. Tatapannya berpindah dari Raya ke Arsen… lalu kembali lagi.
Perlahan, ia mengembuskan napas. “Kita tidak punya banyak waktu,” ucapnya pelan. “Raya… susul Alea.”
Raya tidak langsung bergerak. Namun beberapa detik kemudian… ia berbalik. Langkahnya berat, tapi akhirnya menjauh juga. Suara langkahnya menghilang di koridor yang sama. Dan kini, ruangan itu kembali hening.
semangat, lanjut thoor😄👍