Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Terasi di Mansion Mewah
Mansion Volkov biasanya memiliki aroma yang sangat spesifik dan mahal: perpaduan antara wangi kayu cendana, lilin aroma terapi impor dari Prancis, dan aroma besi dingin dari koleksi senjata Aiden. Namun, pagi ini, protokol penciuman di bangunan megah itu mengalami anomali besar. Sebuah aroma yang menyengat, tajam, dan sangat "berani" mulai merayap keluar dari dapur utama, melewati koridor marmer, hingga menembus ruang kerja sang Raja Dingin di lantai dua.
Aiden Volkov sedang berada di tengah panggilan video penting dengan para petinggi sindikat pelabuhan saat hidungnya menangkap gelombang aroma tersebut. Ia mengerutkan kening, mencoba tetap fokus pada grafik keuntungan logistik yang ditampilkan di layar.
"Volkov, kau dengar?" tanya salah satu rekan bisnisnya. "Ada masalah dengan pengiriman dari Asia?"
Aiden tidak menjawab. Ia mengendus udara di sekitarnya. Aroma ini... aromanya seperti sesuatu yang sudah mati, kemudian difermentasi, lalu digoreng dengan cabai dalam jumlah yang tidak masuk akal.
"Maaf, sepertinya ada gangguan teknis di sistem ventilasiku," ucap Aiden kaku sebelum mematikan sambungan secara sepihak.
Ia berdiri, menyambar jasnya, dan melangkah keluar dengan rahang yang mengeras. Di koridor, ia bertemu dengan Marco yang sedang menutup hidungnya menggunakan sapu tangan sutra.
"Marco, jelaskan padaku. Apakah ada kebocoran pipa limbah di bawah mansion?" tanya Aiden dengan nada yang sangat berbahaya.
Marco menggeleng pasrah. "Bukan pipa, Tuan. Ini... kiriman dari Indonesia yang datang semalam. Nona Ziva sedang mengeksekusi kiriman tersebut di dapur."
Aiden memejamkan mata sejenak. "Terasi?"
"Tepat sekali, Tuan. Dan sepertinya beliau juga menambahkan petai."
Aiden sampai di pintu dapur utama. Pemandangan di dalamnya benar-benar di luar nalar seorang penguasa mafia Italia. Para koki bintang lima milik Aiden—pria-pria yang biasanya memasak foie gras dan truffle—kini berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat, memegang spatula mereka seolah-olah itu adalah senjata pertahanan diri.
Di tengah ruangan, Ziva sedang berdiri di depan kompor gas besar dengan wajan penggorengan yang mengepulkan asap hitam. Ia mengenakan celemek bergambar kucing, ikat kepala kain perca, dan di tangannya ada ulekan batu yang entah dari mana ia dapatkan.
"Ayo dong, Bang Terasi! Wangi lu harus sampai ke surga! Biar Bang Don tahu apa itu kenikmatan hakiki!" teriak Ziva sambil mengulek cabai dengan penuh semangat.
"ZIVANNA!" suara Aiden menggelegar, namun suaranya sedikit sengau karena ia terpaksa menahan napas.
Ziva menoleh dengan wajah ceria yang berlumuran noda cabai merah. "Eh, Bang Don! Sini, Bang! Pas banget sambel terasinya baru mau mateng. Ini resep rahasia emak gue, namanya 'Sambal Terasi Peruntuh Takhta'. Sekali colek, musuh lu langsung minta damai karena saking enaknya!"
Aiden melangkah mendekat, namun aroma menyengat itu menyerang paru-parunya seperti gas air mata. "Ziva, kau sadar apa yang kau lakukan? Seluruh mansion ini berbau seperti... seperti bangkai laut yang terbakar!"
"Hush! Mulutnya dijaga ya, Pak Bos! Ini namanya aroma eksotis. Ini terasi udang asli dari Cirebon, Bang! Jauh-jauh terbang pake pesawat cuma buat nemuin lidah lu yang kaku itu," Ziva mengambil sesendok kecil sambal dan menyodorkannya ke arah Aiden. "Ayo, buka mulut! Aaaa..."
"Tidak akan," tolak Aiden tegas.
"Dikit aja! Kalau lu nggak suka, gue janji bakal ngepel seluruh mansion pakai parfum paling mahal lu selama sebulan. Tapi kalau lu suka, lu harus bolehin gue masak ginian tiap minggu."
Aiden menatap sambal merah kecokelatan yang berminyak itu dengan skeptis. Di sisi lain, para koki menatapnya dengan penuh harap, seolah-olah meminta sang tuan rumah untuk menghentikan kegilaan ini. Namun, tantangan di mata Ziva adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan oleh Aiden.
Dengan penuh keraguan, Aiden membuka mulutnya sedikit. Ziva memasukkan sesendok sambal itu ke lidah sang Raja Mafia.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aiden Volkov. Pertama, rasa pedas yang membakar langsung menghantam saraf-saraf di mulutnya. Kemudian, rasa gurih yang dalam, asin, dan sedikit manis mulai menyebar. Dan terakhir, aroma terasi yang tadinya ia benci, mendadak berubah menjadi pelengkap yang memberikan karakter kuat pada rasanya.
Mata Aiden membelalak. Ia tidak pernah merasakan ledakan rasa sehebat ini sebelumnya. Kuliner Italia adalah tentang kelembutan dan harmoni, tapi sambal ini adalah tentang pemberontakan dan kekuatan.
"Gimana, Bang? Enak kan? Lu ngerasa kayak lagi ada naga lagi nari-nari di lidah lu kan?" tanya Ziva penuh kemenangan.
Aiden menelan ludah, wajahnya mulai memerah karena rasa pedas yang mulai bekerja. "Ini... ini sangat... agresif."
"Tapi nagih kan?"
Aiden tidak menjawab, tapi ia mengambil sepotong roti sourdough di meja, mencocolnya ke dalam wajan sambal Ziva, dan memakannya lagi. Para koki bintang lima itu jatuh pingsan secara metaforis melihat bos mereka menikmati sambal terasi dengan roti mahal.
"Marco," panggil Aiden dengan suara serak.
"Ya, Tuan?" Marco muncul dari balik pintu, masih dengan sapu tangannya.
"Siapkan nasi putih. Banyak nasi putih. Dan batalkan semua pertemuanku sampai sore ini. Aku punya urusan penting dengan... 'naga' di dapur ini."
Satu jam kemudian, meja makan panjang yang biasanya digunakan untuk jamuan formal, kini dipenuhi dengan piring-piring berisi nasi putih, ayam goreng, tahu, tempe, dan mangkuk besar sambal terasi buatan Ziva.
Aiden duduk di ujung meja, jasnya sudah dilepas, kemejanya digulung sampai siku. Di sampingnya, Ziva duduk sambil mengangkat satu kakinya ke atas kursi (kebiasaan makan di warung yang tidak bisa hilang).
"Bang, makan sambel itu nggak boleh pakai sendok perak lu itu. Harus pakai tangan! Biar sensasinya meresap sampai ke pori-pori," instruksi Ziva.
Aiden, yang biasanya sangat menjaga etiket, entah mengapa menurut saja. Ia mencuci tangannya di mangkuk porselen, lalu mulai menyuap nasi dan sambal dengan jemarinya. Rasanya luar biasa. Ketegangan yang ia rasakan selama berminggu-minggu seolah luntur oleh rasa pedas yang memicu adrenalin.
"Ziva," ucap Aiden di sela-sela suapannya. "Kenapa kau membawa benda berbau tajam ini ke sini?"
Ziva terdiam sejenak, senyumnya sedikit memudar. "Soalnya... gue kangen rumah, Bang. Di rumah, kalau lagi sedih atau capek, emak gue selalu bikinin sambal ini. Bau terasi itu buat gue adalah bau 'pulang'. Gue ngerasa aman kalau udah nyium bau ini."
Aiden menatap Ziva. Ia menyadari bahwa di balik keceriaan dan kekonyolan gadis ini, ada rasa rindu yang mendalam pada tanah kelahirannya. Mansion mewah ini mungkin memiliki segalanya, tapi bagi Ziva, kemewahan itu terasa dingin tanpa aroma terasi yang mengingatkannya pada kasih sayang seorang ibu.
Aiden meletakkan tangannya di atas tangan Ziva yang berlumuran sambal. "Kau tidak perlu khawatir, Ziva. Selama kau di sini, tempat ini adalah rumahmu. Kau boleh memasak apa pun, bahkan jika itu harus membuat seluruh Milan berbau terasi."
Ziva tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. "Makasih ya, Bang Don. Lu emang mafia paling pengertian sedunia. Tapi nanti kalau tagihan laundry lu bengkak karena gordennya bau terasi semua, jangan marahin gue ya?"
Aiden tertawa pendek. "Akan kusuruh Marco membeli pabrik parfum untuk menetralkannya."
Ketenangan makan siang mereka terganggu ketika alarm pintu depan berbunyi. Marco masuk dengan wajah panik. "Tuan! Konsul Jenderal Prancis, Monsieur Dupont, sudah sampai di depan gerbang! Saya lupa memberitahu bahwa jadwal pertemuannya dimajukan!"
Aiden membeku. Monsieur Dupont adalah pria yang sangat terobsesi dengan kebersihan dan aroma wangi. Ia dikenal sebagai kolektor parfum langka dan sangat benci pada bau yang menyengat.
"Sial! Cepat bersihkan meja ini! Buka semua jendela! Nyalakan seluruh penyaring udara!" perintah Aiden panik.
Ziva ikut panik. "Aduh! Gimana nih? Bau terasinya masih nempel banget di udara!"
Ziva melihat sekeliling, lalu matanya tertuju pada koleksi parfum mahal milik Aiden yang ada di rak pajangan ruang tengah. Tanpa pikir panjang, ia mengambil botol-botol itu dan mulai menyemprotkannya ke udara secara membabi buta, bercampur dengan uap sambal yang masih tersisa.
Hasilnya? Aroma mansion kini menjadi perpaduan antara Chanel No. 5, Oud Wood, dan terasi goreng. Sebuah aroma yang jika dideskripsikan, mungkin mirip seperti "seorang putri kerajaan yang baru saja terjatuh ke dalam kolam udang busuk".
Monsieur Dupont masuk ke ruangan dengan langkah angkuh. Ia segera berhenti di tengah ruangan, hidungnya kembang kempis.
"Mon Dieu..." gumam Dupont, wajahnya berubah menjadi hijau. "Volkov, apa yang terjadi dengan kediamanmu? Apakah kau sedang menyimpan mayat di dalam tembok?"
Aiden berdiri dengan tegap, mencoba menjaga martabatnya. "Selamat datang, Monsieur. Ini adalah... aroma terapi terbaru dari Timur Jauh. Sangat bagus untuk detoksifikasi jiwa."
Dupont menutup hidungnya dengan sapu tangan sutranya. "Detoksifikasi? Ini lebih mirip seperti percobaan pembunuhan massal menggunakan senjata kimia! Saya tidak bisa bernapas di sini!"
Ziva muncul dari balik punggung Aiden, masih memegang botol parfum. "Waduh, Monsieur! Jangan gitu dong. Ini namanya 'Le Terasi De La Cirebon'. Sangat eksklusif! Mau coba?"
Ziva menyemprotkan parfum ke arah Dupont. Sialnya, botol yang ia pegang tadi sempat tercelup sedikit ke sisa minyak sambal di meja.
PSSST!
Cairan parfum bercampur minyak cabai itu mengenai jas putih bersih milik Dupont.
"ARGH! MATA SAYA! PANAS!" Dupont berteriak sambil memegangi matanya yang terkena uap pedas.
"ADUH! MAAF MONSIEUR! SINI SAYA LAP PAKAI CELEMEK KUCING GUE!" Ziva mencoba membantu, namun justru membuat jas Dupont semakin merah karena noda cabai.
Aiden hanya bisa menepuk dahinya sendiri. Pertemuan diplomatik itu berakhir dalam waktu kurang dari lima menit dengan Dupont lari keluar mansion sambil berteriak-teriak dalam bahasa Prancis yang tidak senonoh.
Setelah kekacauan mereda dan Dupont sudah dikirim ke rumah sakit untuk dibilas matanya, Aiden dan Ziva duduk di balkon mansion. Udara malam Milan mulai membantu menghilangkan aroma terasi yang legendaris itu.
"Bang... maaf ya. Gue kayaknya emang pembawa sial buat bisnis lu," ucap Ziva lesu.
Aiden menyesap kopinya, yang entah mengapa kini terasa ada sedikit sisa rasa pedas di bibirnya. "Jangan dipikirkan. Dupont memang orang yang terlalu sensitif. Lagipula, aku baru saja mendapat laporan bahwa dia sebenarnya adalah informan untuk keluarga Moretti. Gara-gara insiden terasimu, dia ketakutan dan membocorkan semua rencananya pada Marco saat di ambulans tadi."
Ziva mendongak. "Hah? Serius, Bang?"
"Ya. Jadi, secara teknis, sambal terasimu baru saja menyelamatkan satu rute pengirimanku dari pengkhianatan."
Ziva tertawa lebar. "Tuh kan! Terasi itu sakti, Bang! Lebih ampuh dari pistol lu!"
Aiden tersenyum kecil. Ia melihat ke arah langit malam. "Mungkin kau benar. Terkadang, kita butuh sesuatu yang 'berbau tajam' untuk mengusir orang-orang bermuka dua."
Aiden menarik Ziva ke dalam dekapannya. Ia tidak peduli lagi jika rambutnya bau terasi atau bajunya terkena noda sambal. Baginya, aroma Ziva—dengan segala kekacauan dan kehangatannya—adalah satu-satunya aroma yang ingin ia hirup selamanya.
"Bang Don," panggil Ziva pelan.
"Ya?"
"Besok gue mau masak jengkol. Boleh nggak?"
Aiden terdiam selama sepuluh detik, lalu ia menghela napas panjang yang penuh kepasrahan. "Asal kau tidak menyemprotkannya ke wajah duta besar negara mana pun, Ziva. Silakan saja."
"ASIAP, BOS! LU EMANG YANG TERBAIK!"
Malam itu, Mansion Volkov mungkin masih sedikit berbau terasi, tapi di dalamnya, Sang Raja Dingin telah menemukan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu beraroma parfum mahal. Kadang, ia beraroma pedas, tajam, dan berasal dari sebuah ulekan batu milik seorang gadis semprul yang ia cintai.