Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Mutiara dan Mata yang Terbuka
Lima belas langkah.
Xiao Chen melesat seperti bayangan. Telapak kakinya nyaris tidak menyentuh lantai gua yang basah. Energi Chaos di tulang punggung dan sembilan retakan di lengan kanannya bekerja dalam harmoni sempurna, mendorong tubuhnya maju dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa diikuti mata manusia biasa.
Sepuluh langkah.
Ia sudah bisa melihat Mutiara Kegelapan dengan jelas. Bola hitam itu melayang sekitar setengah meter di atas altar batu, berputar pelan tanpa suara. Cahaya hitam yang dipancarkannya bukan menerangi—melainkan menyedot cahaya di sekitarnya, menciptakan lingkaran kegelapan absolut di sekitar altar.
Lima langkah.
Ular itu masih tidur. Kepala raksasanya tergeletak di atas gulungan tubuhnya sendiri, napasnya pelan dan teratur. Insang di sisi lehernya membuka dan menutup seperti kipas.
Tiga langkah.
Xiao Chen mengulurkan tangan kanannya. Jari-jarinya meregang, siap menggenggam mutiara itu.
Satu langkah.
Sentuh.
BZZZZZZT!
Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan Mutiara Kegelapan, seluruh gua bergetar. Bukan getaran fisik—melainkan getaran energi. Energi Chaos di tubuh Xiao Chen beresonansi dengan mutiara itu, dan tiba-tiba ia melihat.
Bukan dengan matanya. Tapi dengan sesuatu yang lebih dalam.
Ia melihat pertempuran kuno. Laut Mati belum menjadi laut—ia adalah daratan subur dengan kota-kota megah. Pasukan Ras Dewa Patah bertempur melawan makhluk-makhluk cahaya dari langit. Leluhur Pertama berdiri di puncak gunung, mengayunkan pedang utuhnya—Yue Que sebelum patah—dan membelah langit menjadi dua.
Dan di tengah pertempuran itu, seekor ular raksasa—lebih besar dari Ular Laut Bermata Satu—bertarung di sisi Ras Dewa Patah. Ular itu memiliki dua mata yang bersinar keemasan. Ia adalah peliharaan Leluhur Pertama. Ia adalah Naga Laut Chaos.
Penglihatan itu menghilang secepat datangnya.
Xiao Chen kembali ke kenyataan. Tangannya sudah menggenggam Mutiara Kegelapan. Tapi ia tidak lagi sendirian di dalam kepalanya. Ada sesuatu yang baru—sebuah kesadaran kuno yang terbangun di dalam mutiara itu, dan kini beresonansi dengan Energi Chaos-nya.
"Pewaris..." suara itu bukan kata-kata, lebih seperti perasaan. "Kau datang... akhirnya..."
Tapi tidak ada waktu untuk memprosesnya.
SSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHHH!
Suara desisan yang memekakkan telinga. Ular Laut Bermata Satu terbangun.
Kepala raksasa itu terangkat dari gulungan tubuhnya. Satu matanya—bola putih susu yang buta—terbuka lebar. Meskipun tidak bisa melihat, ular itu bisa merasakan. Ia merasakan Energi Chaos yang baru saja meledak dari tubuh Xiao Chen. Ia merasakan mutiaranya telah disentuh.
Dan ia marah.
HROOOOOOOOONK!
Raungan ular itu mengguncang seluruh gua. Stalaktit-stalaktit berjatuhan dari langit-langit. Air di kolam bergolak hebat. Tubuh raksasa itu mulai bergerak, melingkar-lingkar, mencoba menemukan penyusup.
Xiao Chen tidak menunggu. Ia memasukkan Mutiara Kegelapan ke dalam Ruang Warisan di cincin hitamnya, lalu berbalik dan berlari.
Tapi ular itu lebih cepat dari yang ia kira.
Ekor raksasanya menyapu dari samping, menghantam dinding gua tepat di depan Xiao Chen. Batu-batu berjatuhan, memblokir jalan keluar yang tadi ia lewati.
"Jalanmu tertutup!" seru Yue Que. "Cari jalan lain!"
Xiao Chen melihat ke atas. Langit-langit gua memiliki celah-celah kecil yang mungkin bisa ia lewati. Tapi ia harus memanjat. Cepat.
Ia melompat, meraih stalaktit yang menggantung. Energi Chaos di lengan kanannya memberinya kekuatan untuk menarik seluruh tubuhnya ke atas hanya dengan satu tangan. Ia mulai memanjat, berpindah dari satu stalaktit ke stalaktit lainnya.
Di bawahnya, ular itu mengamuk. Ia tidak bisa melihat Xiao Chen, tapi ia bisa mendengar. Setiap kali tangan Xiao Chen menyentuh batu, setiap kali kerikil jatuh, ular itu mengarahkan kepalanya ke sumber suara.
HAP!
Rahang raksasa mengatup di udara, hanya beberapa inci dari kaki Xiao Chen. Bau busuk dari mulut ular itu—campuran ikan busuk dan racun kuno—membuat Xiao Chen hampir muntah.
Ia terus memanjat. Lebih tinggi. Lebih cepat.
Akhirnya, ia mencapai celah di langit-langit gua. Celah itu sempit, hanya cukup untuk tubuhnya yang ramping. Ia menyelipkan diri masuk, merangkak secepat mungkin.
Di belakangnya, ular itu tidak bisa mengikuti. Tubuhnya terlalu besar untuk celah itu. Tapi ia tidak menyerah. Kepalanya menghantam langit-langit gua berulang kali, menciptakan getaran yang membuat seluruh gua terasa akan runtuh.
Xiao Chen terus merangkak. Tangannya berdarah tergores batu-batu tajam. Lututnya lecet. Tapi ia tidak berhenti.
Celah itu semakin sempit. Semakin gelap. Ia tidak tahu ke mana arahnya. Ia hanya tahu ia harus terus bergerak.
Dan akhirnya... ia melihat cahaya.
Bukan cahaya hitam Mutiara Kegelapan. Tapi cahaya perak alami—cahaya bintang.
Ia merangkak keluar dari celah, dan mendapati dirinya berada di sisi lain tebing. Jauh dari teluk. Jauh dari gua. Jauh dari ular yang masih mengamuk di dalam.
Xiao Chen ambruk di atas rumput, napasnya tersengal-sengal. Seluruh tubuhnya gemetar. Tangannya masih menggenggam erat—kosong, karena Mutiara Kegelapan sudah aman di dalam Ruang Warisan.
Hui muncul dari balik semak-semak. Serigala hitam itu menjilati wajah Xiao Chen, ekornya bergoyang-goyang. Rupanya ia sudah menunggu di sini, entah bagaimana tahu bahwa Xiao Chen akan keluar dari celah ini.
"Kau... kau tahu jalan pintas?" tanya Xiao Chen di sela-sela napasnya.
Hui menggeram puas.
Xiao Chen tertawa kecil. Tawa yang lega. "Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
Hui hanya menatapnya dengan mata merah yang polos.
Xiao Chen menghela napas, lalu bangkit perlahan. Ia menatap ke arah teluk di kejauhan. Dari sini, ia masih bisa mendengar suara ular yang mengamuk, meskipun teredam oleh jarak dan dinding batu.
"Aku dapat mutiaranya," katanya pada Hui. "Tapi ada sesuatu yang lain. Mutiara itu... berbicara padaku."
Hui memiringkan kepala.
"Bukan hanya mutiara itu," kata Yue Que. "Tempat ini... Teluk Tanpa Bulan... adalah medan perang kuno. Mutiara itu mungkin adalah sisa-sisa dari Naga Laut Chaos, peliharaan Leluhur Pertama. Dan jika kesadarannya masih ada di dalam mutiara itu..."
"Maka aku baru saja membawa pulang sepotong masa lalu Ras Dewa Patah," selesaikan Xiao Chen. "Secara harfiah."
Ia menatap ke arah utara, ke arah rumah Mo Gui. Satu syarat sudah ia penuhi. Tinggal satu lagi—janji untuk membantu Mo Gui mati. Tapi itu nanti, setelah ia menyelesaikan urusannya di Laut Mati.
Sekarang, ia harus kembali ke bukit karang. Menyerahkan Mutiara Kegelapan. Dan mendapatkan Kapal Tulang.
"Pulanglah dulu, Hui. Kita istirahat sebentar. Besok pagi kita kembali ke Mo Gui."
Mereka berjalan menjauhi teluk, meninggalkan suara amukan ular yang perlahan memudar. Di atas, awan pengawas masih berputar. Tapi malam ini, Xiao Chen tidak memedulikannya.
Ia telah mendapatkan lebih dari sekadar mutiara.
Ia telah mendapatkan sepotong jiwa leluhurnya..