Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Teror di Pohon Mangga
Malam di Gedangan yang seharusnya tenang mendadak berubah mencekam. Suara gesekan daun pohon mangga di halaman rumah Simbok terdengar seperti bisikan ribuan lintah yang haus darah. Faris Arjuna, yang baru saja hendak memejamkan mata, tiba-tiba terduduk tegak. Firasatnya sebagai mantan penguasa terminal bergejolak hebat.
"Ada yang tidak beres," gumam Faris sambil menyambar sarungnya.
Ia keluar kamar dengan langkah tanpa suara. Di ruang tengah, ia melihat Kangmas Arjuna Hidayat juga sudah berdiri mematung di dekat jendela, tangannya memegang tasbih dengan erat. Mereka saling pandang, sebuah kode bisu bahwa ada penyusup gaib yang sedang mencoba menembus pagar batin rumah mereka.
Srattt... Srattt...
Suara itu terdengar lagi, kali ini dari atas atap. Tiba-tiba, dari sela-sela dahan pohon mangga, muncul sosok wanita dengan rambut putih panjang yang menjuntai sampai ke tanah. Wajahnya pucat pasi dengan mata yang hanya berupa lubang hitam. Itulah Nini Blorong, kaki tangan kepercayaan Ki Ageng Blorong yang dikirim khusus untuk mencuri Keris Kyai Jalak Suro.
"Faris Arjuna... serahkan pusaka itu, atau rumah ini akan menjadi kuburan bagi keluargamu!" suara Nini Blorong melengking, membuat kaca jendela bergetar hebat.
Faris melangkah keluar ke halaman tanpa rasa takut sedikit pun. "He, Nenek Lampir! Sampeyan salah alamat kalau mau pamer ilmu hitam di sini. Ini rumah orang yang tiap malam sujud, bukan tempat sampah buat jin kiriman!" teriak Faris menantang.
Nini Blorong menggeram marah. Ia mengibaskan rambut putihnya yang seketika berubah menjadi ribuan jarum beracun yang melesat ke arah Faris. Namun, sebelum jarum-jarum itu menyentuh kulit Faris, sebuah cahaya keemasan muncul dari arah pintu rumah.
Simbok berdiri di sana, hanya dengan memegang tasbih dan segelas air putih. "Le, jangan dilawan dengan emosi. Bacakan Sholawat Jibril, biarkan Gusti Allah yang mengirimkan tentaranya," ucap Simbok dengan suara tenang yang luar biasa.
Faris memejamkan mata, ia mulai melantunkan Sholawat dengan nada yang rendah namun bertenaga. Shallallahu 'Ala Muhammad... Shallallahu 'Ala Muhammad...
Seketika, aura panas yang dibawa Nini Blorong meredup. Jarum-jarum itu jatuh ke tanah berubah menjadi daun kering. Arjuna Hidayat ikut membantu dengan menghentakkan kaki ke bumi, menciptakan gelombang energi yang membuat Nini Blorong terpental dari dahan pohon mangga.
"Kurang ajar! Sampeyan semua akan menyesal!" teriak Nini Blorong sambil menghilang dalam kepulan asap hijau yang berbau amis.
Suasana kembali hening, namun Faris tahu ini hanyalah gertakan awal. Di pojok halaman, Brewok ternyata pingsan dengan posisi memeluk pohon mangga karena saking takutnya. Sementara Jono hanya bisa melongo sambil memegang sapu lidi.
"Mas Faris, itu tadi... itu tadi setan beneran ya? Kok rambutnya lebih panjang dari utang saya?" tanya Jono dengan bibir gemetar setelah suasana tenang.
Faris menarik napas panjang dan menatap langit malam Sidoarjo. "Ini peringatan, Jon. Ki Ageng Blorong sudah mulai berani main api di rumah kita. Kita harus lebih waspada."
Simbok mendekati Faris dan memberikan segelas air putih tadi. "Minumlah, Le. Ini ujian buat keteguhan imanmu. Jangan pernah takut pada makhluk, takutlah hanya pada Dia yang menciptakan makhluk itu."
Faris meminum air itu dan merasakan ketenangan luar biasa mengalir di tubuhnya. Peperangan ini sudah bukan lagi soal budaya, tapi soal menjaga keselamatan orang-orang tercinta.
Faris Arjuna menatap pohon mangga yang baru saja menjadi singgasana Nini Blorong dengan tatapan tajam. Sisa asap hijau berbau amis masih tertinggal di dahan-dahannya, membuat daun-daun mangga yang hijau mendadak layu kehitaman. Faris tahu, jika dibiarkan, energi negatif ini akan merusak ketenangan batin Simbok dan keluarganya.
"Brewok! Bangun! Jangan cuma pingsan sambil meluk pohon, nanti kamu malah dikira penghuni baru di sini!" teriak Faris sambil menepuk pipi Brewok dengan keras.
Brewok tersentak kaget, matanya melotot ke arah dahan pohon. "Ampun Nenek Rambut Putih! Cicilan motor saya belum lunas, jangan dibawa dulu!" racau Brewok dengan wajah pucat. Begitu sadar di depannya adalah Faris, ia langsung memeluk kaki bosnya itu. "Waduh Mas Faris, saya kira saya sudah dibawa ke alam gaib tadi!"
Faris hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak buahnya itu. Ia menoleh ke arah Jono. "Jon, ambilkan garam kasar sama air sisa wudhu di masjid tadi. Kita bersihkan tempat ini sebelum energinya merembet ke dalam rumah."
Jono dengan sigap berlari mengambil peralatan yang diminta. Sementara itu, Arjuna Hidayat berdiri di tengah halaman, tangannya terangkat ke atas seolah sedang menarik energi dari langit malam Sidoarjo. "Dikmas Faris, gunakan getaran suara sampeyan. Suara adalah senjata paling murni untuk mengusir kegelapan," bisik Arjuna Hidayat memberikan petunjuk.
Faris Arjuna kemudian duduk bersila di tanah, tepat di bawah pohon mangga itu. Ia mulai melantunkan sebuah kidung kuno dengan nada yang sangat rendah namun bergetar hebat. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah menciptakan gelombang transparan yang menyapu seluruh halaman rumah.
"Hong... Gusti Kang Moho Suci... resikono jagad cilik iki... (Tuhan Yang Maha Suci... bersihkanlah alam kecil ini...)"
Saat Faris melantunkan kidung itu, Jono mulai menaburkan garam di sekeliling pagar rumah. Keajaiban terjadi; setiap butir garam yang menyentuh tanah mengeluarkan percikan cahaya kecil seperti kembang api, membakar sisa-sisa jejak kaki gaib Nini Blorong.
Simbok memantau dari teras rumah sambil terus memutar tasbihnya. Beliau tersenyum melihat kekompakan anak-anaknya. "Laku yang benar itu bukan menghancurkan, tapi mengembalikan semuanya ke tempat asalnya. Biarkan kegelapan kembali ke lubangnya, dan biarkan cahaya tetap berdiam di rumah ini," ucap Simbok pelan.
Setelah kidung terakhir selesai diucapkan, aroma amis yang tadi menyengat mendadak hilang, berganti dengan wangi melati yang sangat lembut. Pohon mangga yang tadi layu perlahan mulai tampak segar kembali. Faris menarik napas panjang, merasa batinnya semakin menyatu dengan tanah kelahirannya.
"Sudah bersih, Mas Faris? Apa saya sudah boleh melepas pelukan di pohon ini?" tanya Brewok yang ternyata masih mematung karena takut bergerak.
Faris tertawa lepas, ketegangan tadi mencair begitu saja. "Lepaskan, Wok! Kamu itu bodyguard apa monyet, kok hobinya meluk pohon terus? Ayo masuk, kita rapatkan barisan. Kalau Nini Blorong saja sudah berani datang, berarti bos besarnya, Ki Ageng Blorong, pasti sedang merencanakan sesuatu yang lebih gila di Terminal Sidoarjo besok pagi!"
Faris berjalan masuk ke rumah dengan langkah gagah. Ia sadar, serangan di rumahnya hanyalah pengalihan isu. Perang yang sesungguhnya mungkin akan terjadi di tempat ia mencari nafkah: Terminal.
Malam semakin larut, namun mata Faris Arjuna justru semakin terang. Setelah membersihkan halaman rumah dari energi negatif Nini Blorong, ia tidak langsung beristirahat. Faris duduk di meja kayunya, membuka laptop yang stiker terminalnya sudah mulai terkelupas. Di layar itu, ribuan komentar dari pembaca setia novelnya terus mengalir.
"Ki Ageng Blorong boleh mengirim setan, tapi aku punya kata-kata untuk membongkar kebusukannya," gumam Faris sambil tersenyum sinis.
Ia mulai mengetik dengan kecepatan tinggi. Setiap kalimat yang ia tulis bukan sekadar cerita fiksi, melainkan sebuah pesan terselubung untuk membangunkan kesadaran rakyat Sidoarjo agar tidak mudah ditipu oleh dukun-dukun politik dan penjual agama yang bersembunyi di balik jubah hitam.
Arjuna Hidayat masuk ke kamar membawa secangkir kopi hitam pahit. Ia melihat adiknya begitu fokus, seolah jemari Faris sedang menari di atas panggung wayang. "Ingat, Dikmas. Tulisanmu itu sekarang adalah 'sabetan' wayangmu. Satu paragraf yang benar bisa merobohkan seribu pasukan kegelapan," ucap sang kakak sambil meletakkan kopi di meja.
Faris mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Saya mengerti, Kangmas. Kalau mereka main kasar di alam gaib, saya lawan dengan kesadaran di alam nyata. Besok di terminal, saya akan pastikan tidak ada satu pun anak buah kita yang terhasut oleh janji-janji palsu Ki Ageng."
Di luar, suasana rumah Gedangan kini benar-benar tenang. Tidak ada lagi bisikan jahat atau hawa dingin yang menusuk. Doa Simbok dan keteguhan batin Faris telah menciptakan benteng yang tak kasat mata.
Faris menarik napas panjang, menekan tombol 'Publish' untuk bab terbaru novelnya. Ia lalu menatap ke arah jendela, menatap langit Sidoarjo yang mulai menampakkan semburat fajar. Perang di terminal sudah menunggu, dan Faris Arjuna sudah siap dengan keris di pinggang dan pena di tangan.
"Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti. Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan sampai fajar benar-benar menyingsing," ucap Faris lirih namun penuh penekanan.
Ia menyeruput kopi hitamnya yang pahit, meresapi setiap rasa yang masuk ke kerongkongannya. Semangatnya kini menyala, melebihi bara api mana pun. Perjalanan sang Dalang Piningit baru saja memasuki babak yang paling menentukan.