NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Pabrik

Perjalanan dalam mobil box terasa seperti tidak pernah berakhir. Bambang sudah kehilangan hitungan waktu. Dia hanya bisa merasakan getaran mesin yang konstan, guncangan saat mobil melewati jalan rusak, dan sesekali suara klakson dari mobil lain yang terdengar samar dari luar. Gelap. Selalu gelap. Kadang ada cahaya tipis yang masuk dari celah pintu, tapi itu hanya sesaat lalu menghilang lagi.

Bambang mencoba tidur. Tidak berhasil. Punggungnya sakit karena duduk di lantai mobil yang keras. Dia mencoba meregangkan kaki, tapi ruangnya sempit. Tas ranselnya dia jadikan bantalan, tapi itu hanya mengurangi rasa tidak nyaman sedikit saja. Udara di dalam mobil terasa panas dan pengap. Bau apek yang dia cium sejak awal semakin menyengat. Bau seperti kain basah yang terlalu lama tidak dijemur. Atau seperti sesuatu yang membusuk perlahan.

Beberapa kali Bambang mencoba mengetuk dinding mobil untuk menarik perhatian supir. Tidak ada respons. Mungkin supirnya tidak mendengar. Atau mungkin supirnya sengaja tidak menghiraukan. Bambang tidak tahu mana yang lebih buruk.

Dia mulai berpikir tentang hal-hal yang tidak seharusnya dia pikirkan. Tentang berita-berita di televisi. Tentang orang hilang. Tentang penculikan. Tentang organ dalam yang dijual ke luar negeri. Tangannya meremas tas ranselnya lebih erat. Jangan paranoid, katanya pada diri sendiri. Ini pekerjaan resmi. Ada kontrak. Ada Pak Toni. Ada perusahaan karet. Semua resmi.

Tapi kenapa mobil box? Kenapa tidak ada yang menjemput dengan mobil biasa? Kenapa supirnya tidak bicara sepatah kata pun? Kenapa pintunya ditutup dari luar?

Bambang menghela napas panjang. Dia mencoba menenangkan diri. Mungkin memang begini caranya. Mungkin jalan ke pabrik memang hanya bisa dilewati mobil box. Mungkin supirnya sedang tidak mood bicara. Mungkin banyak kemungkinan yang tidak perlu dia khawatirkan.

Lama kelamaan, Bambang mulai merasakan perubahan. Guncangan mobil menjadi lebih jarang. Jalanan terasa lebih mulus. Getaran mesin juga berubah nadanya. Lebih rendah. Lebih stabil. Seperti mobil yang sedang melaju di jalan yang bagus setelah sekian lama di jalan rusak.

Kemudian mobil berhenti.

Bambang mendengar suara pintu depan terbuka dan tertutup. Langkah kaki di tanah. Suara orang bicara, tapi terlalu samar untuk dia pahami. Kemudian pintu belakang mobil box terbuka.

Cahaya matahari menyilaukan mata Bambang yang sudah berjam-jam dalam gelap. Dia mengerjapkan mata berkali-kali sampai pandangannya jelas. Seorang pria berdiri di depan pintu mobil. Bukan supir tadi. Pria lain. Lebih muda. Dengan seragam satpam lengkap. Topi, kemeja lengan panjang, celana hitam, sepatu pantofel hitam mengkilap. Tapi wajahnya pucat. Pucat seperti orang yang jarang terkena matahari.

"Bapak Bambang?" tanya pria itu.

"Iya."

"Silakan turun."

Bambang mengangkat tas ranselnya dan turun dari mobil box. Kakinya terasa lemas setelah berjam-jam duduk. Dia hampir jatuh, tapi berpegangan pada pintu mobil. Pria berseragam satpam itu tidak membantunya. Dia hanya berdiri di samping dengan tangan di belakang punggung.

Bambang akhirnya bisa berdiri tegak. Dia melihat sekeliling. Mereka berada di depan sebuah gerbang besi besar. Tingginya sekitar tiga meter. Cat hitamnya mulai mengelupas di beberapa bagian, memperlihatkan karat di bawahnya. Di puncak gerbang, terpasang kawat berduri yang melingkar rapat. Di samping gerbang, ada papan besar bertuliskan PT. KARET NUSANTARA. Huruf-hurufnya dicat merah, tapi warnanya sudah pudar. Di bawah tulisan itu, ada lambang perusahaan yang tidak bisa Bambang pahami bentuknya.

Di balik gerbang, Bambang bisa melihat bangunan-bangunan. Ada bangunan utama yang besar dengan atap seng gelombang. Ada beberapa bangunan lebih kecil di sekitarnya. Semuanya terlihat tua. Dindingnya kusam. Beberapa jendela bahkan tutup dengan papan kayu. Tidak ada cerobong asap. Tidak ada suara mesin. Tidak ada tanda-tanda pabrik yang beroperasi.

Kecuali satu hal. Kamera CCTV.

Bambang baru menyadarinya setelah beberapa saat. Ada kamera CCTV di setiap sudut. Di atas gerbang, setidaknya ada empat kamera menghadap ke arah berbeda. Di sepanjang pagar besi, setiap sepuluh meter ada tiang dengan kamera menghadap ke jalan. Di atap bangunan utama, ada deretan kamera yang berjejer rapi seperti mata-mata yang tidak pernah berkedip.

Selusin kamera. Mungkin lebih. Semuanya mengawasi.

"Bapak ikut saya," kata pria berseragam satpam itu.

Pria itu berjalan menuju pintu kecil di samping gerbang utama. Bambang mengikutinya. Pria itu mengetuk pintu besi tiga kali. Ada suara baut dibuka dari dalam. Pintu terbuka.

Di balik pintu, seorang pria lain berdiri dengan seragam yang sama. Wajahnya juga pucat. Matanya sayu. Dia mengamati Bambang dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu mengangguk pelan.

"Silakan masuk."

Bambang melangkah masuk ke area pabrik. Begitu kakinya menginjak tanah di dalam, dia merasakan sesuatu yang aneh. Suasana di sini terlalu sunyi. Tidak ada suara orang. Tidak ada suara mesin. Tidak ada suara apa pun kecuali angin yang berdesir di antara bangunan-bangunan kosong.

Dia berjalan melewati halaman yang luas. Rumput di halaman tidak terawat. Tinggi dan kering di beberapa tempat. Ada genangan air di sudut-sudut halaman meskipun tidak sedang hujan. Bau tanah dan lumut menyengat hidungnya.

Pria satpam yang menjemputnya berjalan di depan tanpa bicara. Pria satpam di pintu gerbang mengikuti dari belakang. Bambang seperti sedang dikawal. Atau diawasi. Dia tidak tahu.

Mereka berhenti di depan sebuah bangunan kecil. Warnanya putih dulu, sekarang kusam keabuan. Di pintu bangunan itu ada tulisan: BLOK SATPAM. Di bawah tulisan itu, ada daftar nama yang ditulis dengan spidol di papan putih. Bambang membaca nama-nama itu: Herman. Joni. Dul. Ucok. Dan satu nama terakhir masih kosong.

Pria satpam di depan membuka pintu. "Masuk."

Bambang masuk ke dalam bangunan itu. Ruangan pertama adalah ruang tamu sempit dengan sofa panjang yang sudah usang. Ada televisi kecil di pojok, tapi tidak menyala. Ada meja kayu dengan beberapa kursi di sekitarnya. Dindingnya dicat putih, tapi kotor di beberapa tempat.

Di sudut ruangan, ada tiga orang yang sedang duduk.

Orang pertama adalah pria paruh baya dengan rambut mulai beruban. Wajahnya lelah. Matanya cekung. Dia duduk di sofa sambil memegang cangkir kopi. Di dadanya ada plakat nama bertuliskan HERMAN.

Orang kedua adalah pria muda dengan senyum lebar. Wajahnya segar, berbeda dengan dua orang lainnya. Dia melambaikan tangan ke arah Bambang. "Wah, ada anggota baru!" serunya. Plakat namanya bertuliskan JONI.

Orang ketiga adalah pria dengan tubuh besar. Wajahnya menyeramkan. Alisnya tebal. Matanya tajam. Dia tidak tersenyum. Tidak melambaikan tangan. Hanya menatap Bambang dengan tatapan yang tidak bisa Bambang baca. Plakat namanya bertuliskan UCOK.

Bambang mencari satu nama lagi. Dul. Tapi Dul tidak ada di ruangan itu.

"Selamat datang," kata Herman tanpa bangun dari sofa. "Saya Herman, kepala satpam di sini. Kamu Bambang, ya?"

"Iya, Pak."

"Jangan panggil Pak. Panggil Herman aja. Di sini kita semua sama."

"Baik, Pak. Eh, Herman."

Joni tertawa. "Lucu juga lu, Bang. Baru pertama kali kerja jadi satpam?"

"Iya. Belum pernah."

"Ya udah, nanti gue ajarin. Santai aja, kerja di sini gampang. Cuma jaga malam, laporan, tidur. Gaji gede."

Bambang tersenyum mendengar semangat Joni. Tapi senyumnya langsung memudar saat dia menoleh ke Ucok. Ucok masih menatapnya dengan tajam.

"Lu dari mana?" tanya Ucok.

"Jakarta."

"Jauh. Kenapa milih kerja di sini?"

"Kebutuhan, Bang."

Ucok mendengus. "Kebutuhan. Semua orang di sini karena kebutuhan."

"Ucok!" potong Herman dengan nada peringatan. "Jangan bikin newbie takut."

Ucok tidak menjawab. Dia berdiri dan berjalan keluar ruangan. Pintu ditutup agak keras.

Joni mendekati Bambang dan menepuk bahunya. "Jangan diambil hati. Ucok emang galak. Tapi baik kok. Cuma... dia sudah lama di sini. Udah lihat banyak hal."

"Banyak hal apa?"

Joni membuang muka. "Ah, nanti juga lu tahu. Yang penting, selamat datang di neraka."

"Neraka?"

"Canda, Bang. Canda." Joni tertawa lagi. Tapi tawanya terdengar dipaksakan.

Herman bangkit dari sofa. Dia berjalan ke arah pintu dan menoleh ke Bambang. "Besok kamu mulai tugas. Malam ini istirahat dulu. Kamar kamu di ujung lorong. Nomor tujuh."

"Makasih, Herman."

"Jangan lupa baca aturan. Ada di dinding kamar kamu. Baca dan hafalkan. Kalau melanggar, resiko kamu sendiri."

Herman keluar. Joni juga ikut keluar sambil melambai. Bambang ditinggal sendirian di ruang tamu yang sempit itu.

Dia menghela napas. Hari ini baru dimulai, tapi dia sudah merasa lelah. Perjalanan enam jam dalam mobil box, bertemu dengan satpam-satpam aneh, dan suasana pabrik yang terlalu sunyi. Semua ini tidak seperti yang dia bayangkan.

Bambang berjalan mencari kamar nomor tujuh. Lorongnya sempit. Lampu di lorong redup. Beberapa lampu bahkan mati. Dinding lorong lembab. Ada bau jamur yang kuat.

Kamar nomor tujuh ada di ujung. Bambang membuka pintu. Kamar kecil dengan ranjang besi, lemari kayu, dan satu jendela kecil yang tertutup rapat. Di dinding, selembar kertas bertuliskan aturan-aturan.

Bambang meletakkan tas ranselnya di ranjang. Dia mendekati kertas itu dan mulai membaca.

ATURAN PABRIK PT. KARET NUSANTARA

1. Dilarang membuka gudang produksi pada pukul 23.00 hingga 04.00.

2. Dilarang berbicara dengan pengunjung malam.

3. Dilarang menggunakan senter ke arah hutan belakang.

4. Dilarang merekam apapun di dalam area pabrik.

5. Melanggar aturan akan dikenakan sanksi sesuai kontrak kerja.

Bambang membaca aturan itu berulang-ulang. Aturan nomor satu dan dua membuat alisnya berkerut. Pengunjung malam? Apa maksudnya? Dan kenapa tidak boleh membuka gudang produksi di jam-jam tertentu?

Dia meletakkan kertas itu kembali ke dinding. Mungkin besok akan dijelaskan. Mungkin semua aturan ini masuk akal dalam konteks tertentu.

Bambang berbaring di ranjang besi itu. Kasurnya keras. Bantalnya tipis. Tapi dia terlalu lelah untuk peduli. Matanya terasa berat. Pikirannya mulai kabur.

Saat dia hampir tertidur, dia mendengar suara dari kejauhan. Suara seperti karet diregangkan. Tapi terlalu keras. Terlalu berirama. Seperti sesuatu yang besar sedang bergerak perlahan.

Bambang membuka mata. Suara itu berhenti.

Dia menunggu. Tidak ada suara apa pun.

Mungkin hanya imajinasinya. Mungkin hanya angin. Mungkin hanya suara mesin dari kejauhan.

Dia memejamkan mata lagi.

Suara itu muncul kembali. Lebih dekat kali ini.

Bambang duduk di ranjang. Jantungnya berdebar cepat. Dia menatap pintu kamarnya yang tertutup. Dari balik pintu, suara itu terus terdengar. Seperti ada sesuatu yang merayap di lorong.

Dia ingat aturan nomor dua. Jangan berbicara dengan pengunjung malam.

Pengunjung malam.

Apa itu di luar pintunya sekarang?

Bambang tidak berani membuka pintu. Dia tidak berani bersuara. Dia hanya duduk diam di ranjang, menahan napas, dan berdoa dalam hati agar suara itu segera pergi.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, suara itu perlahan menjauh. Kemudian hilang.

Bambang baru berani bernapas lega.

Dia berbaring lagi, tapi tidak bisa tidur. Matanya terus menatap pintu. Telinganya terus mendengar. Menunggu suara itu kembali.

Suara itu tidak kembali.

Tapi Bambang tahu, ini baru malam pertama. Masih ada banyak malam yang akan dia lalui di tempat ini. Dan dia belum tahu apa yang sebenarnya menunggunya di balik aturan-aturan aneh itu.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!