NovelToon NovelToon
BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mochamad Fachri

Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.

Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.

Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Berlian hitam

Di ruang dimensi wakti bergulir sangat cepat, bahkan Nova yang sedang duduk berkultivasi tetap tenang, tanpa terdistraksi apapun. Burung spiritual bertengger di pundaknya berkicau memberikan resonansi energi untuk Nova dan membuat meridiannya tetap stabil, saking tenangnya Nova tak menyadari bahwa ia sudah bermeditasi selama satu bulan, dan mencapai tahap awal puncak kultivasi jiwa.

Hal itu membuat Zira semakin terkejut, bagaimana bisa ia berkembang secepat itu. Bahkan untuk seorang jenius di dunianya saja memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya hanya untuk menembus satu ranah. Berbeda dengan Nova, berbekal garis darah kuno yang mengalir di tubuhnya, ia memiliki bakat yang jarang di miliki oleh kultivator lain.

Ruang dantiannya bertambah luas, berbeda dari sebelumnya. Kultivasi jiwa Nova tidak hanya sekadar menyerap energi, tetapi memurnikan dan membentuknya menjadi kesadaran yang utuh.

Pada tahap ini, jiwa Nova mulai memiliki bentuk yang samar, sebuah bayangan diri yang berdiri di dalam ruang batinnya. Bayangan itu bukan ilusi, melainkan manifestasi dari inti jiwanya sendiri.

Setiap getaran energi yang masuk tidak lagi bercampur secara kacau. Semuanya disaring, dipadatkan, lalu diserap ke dalam inti kesadarannya. Proses inilah yang membuat perkembangan Nova melampaui batas normal, karena ia tidak hanya mengumpulkan energi.

Perlahan, inti jiwa di dalam dirinya mulai mengeras, membentuk fondasi yang kokoh. Inilah tanda bahwa Nova telah menyentuh ambang pembentukan inti jiwa, tahap di mana seorang kultivator tidak lagi mudah digoyahkan oleh tekanan mental, ilusi, maupun serangan spiritual.

Zira yang mengamati dari kejauhan mulai menyadari sesuatu yang lebih dalam, bukan hanya kecepatan Nova yang mengerikan, tetapi kestabilannya.

Tidak ada lonjakan energi yang liar, tidak ada tanda-tanda kehilangan kendali. Semua berjalan seimbang, seolah-olah jiwa Nova memang diciptakan untuk berada di jalur ini.

“Ini bukan sekedar bakat…” gumam Zira pelan.

Di dalam dantian Nova, ruang yang meluas itu kini tidak lagi samar. Sebuah pusat energi mulai terbentuk, berdenyut halus mengikuti detak kesadarannya. Dan tanpa disadari oleh siapa pun, proses itu terus berjalan, hingga akhirnya Nova menghentikan kultivasinya setelah dirasa semuanya sudah cukup.

Karena instruksi dari Zira, Nova tidak serta merta menjadi rakus akan kekuatan jika ia memaksakan kehendaknya, maka jiwanya akan hancur tak tersisa karena wadah yang belum siap untuk ranah yang lebih tinggi. Ia melatih dirinya perlahan untuk hasil kekuatan yang lebih stabil dan dapat membentuk fisiknya yang lebih kuat.

Matanya terbuka perlahan, ia menghembuskan napas kerusnya membuang sisa dari energi kotor yang ia serap di sekitarnya.

“Nova, semakin kuat dirimu, maka semakin banyak sumber daya yang kita perlukan. Sumber daya di ruang dimensi sangatlah terbatas, kita memerlukannya lebih banyak,” ucap Zira saat melihat mata Nova terbuka.

Nova menoleh dan berdiri menatap ke arahnya.

"Kita harus mencarinya dimana? Aku tidak mengetahui dimana kita harus mencari sumber daya.”

Zira memejamkan matanya, ia menggunakan persepsi jiwanya untuk melacak aura dari energi tertentu. Tak memerlukan waktu yang lama, Zira kembali membuka matanya.

“Di sekitar sini tidak ada sama sekali, sangat sulit untuk mendapatkan sumber energi di dunia manusia ini. Kita perlu waktu berhari-hari untuk sekedar menemukan berlian hitam,” jelasnya.

Nova mengernyitkan keningnya seakan mengingat sesuatu.

“Aku tahu, dimana kita bisa menemukan berlian hitam yang kau sebut, aku akan menanyakannya.”

Zira mengangguk pelan.

“Baguslah, aku harap itu memang ada, jika tidak kita akan kesulitan meningkatkan kemampuanmu,” jelas Zira.

***

Di sekolah, Nova kembali menghadapi sosok Dion yang masih saja mencoba mengganggunya meskipun Dion sudah di berikan cukup pelajaran.

“Lo pake ilmu hitam kan?! Udah mending ngaku aja,” ucap Dion sambil menjaga jarak dengan sosok Nova.

Nova hanya diam tak bergeming, saat di tuduh sedemikian rupa olehnya. Para murid yang ada di sekitar mereka mulai memperhatikan, termasuk Ethan dan ketiga praktisi jiwa lainnya.

“Sangat menarik, bocah tengil itu masih saja mengganggu Nova, apa pelajaran yang di berikan Nova masih belum cukup?” ucap Calista sambil bersandar ke dinding.

Ethan menoleh sambil tertawa pelan.

“Kita lihat saja, apa yang akan dia lakukan kepada bocah tengil itu,” sahutnya.

Kembali ke Nova, yang masih berdiri dengan tenang menatap Dion dan teman-temannya dengan tajam. Hal itu membuat kedua teman Dion mundur perlahan, terlebih lagi Alex yang kakinya sudah terlihat gemetar.

“Dion, udahlah mending kuta cabut, jangan berurusan sama dia lagi,” bisiknya.

Dion menepis lengan Alex dan membentaknya.

“Kalo lo takut ya pergi aja Lex, nggak usah ngajak gue!”

Alex hanya bisa menelan ludahnya dan kembali diam.

Nova hanya berdecak pelan lalu berkata. “Mending kalian semua pergi, aku tidak mau membuat masalah dengan kalian,” ucapnya nyaris tanpa nada.

Setelah mengucapkan itu, Nova melangkah pergi, dan saat Dion berusaha menahannya Nova menepis tangan Dion dengan keras, hingga membuat Dion meringis kesakitan.

“Sial! Sakit banget!”

“Tuh kan udah gue...”

Tak!

Alex refleks memegangi kepalanya saat Dion memukulnya dengan botol plastik yang ia genggam.

“Mendingan lo diem!” bentak Dion sambil berlalu pergi.

Singkatnya, waktu berlalu dengan cepat. Nova membuat janji dengan tuan Arga untuk menanyakan sesuatu.

Sepanjang jalan, Nova dan Aruna membicarakan banyak hal dan sesekali tertawa hingga tak terasa mereka sudah sampai di halaman dari kediaman Pratama. Aruna turun lebih dulu, lalu disusul oleh Nova di belakangnya.

“Cepat, Papa sudah menunggumu.”

Nova mengangguk, lalu berjalan di samping Aruna. Kehadiran Nova langsung di sambut oleh nyonya Kinan dan Tuan Arga.

“Om, Tante,” sapa Nova sambil mengangguk.

Keduanya langsung mempersilahkan Nova masuk, sementara Aruna melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian.

Sementara nyonya Kinan, menuju ke arah dapur untuk meminta salah satu maid menyiapkan cemilan dan beberapa minuman.

“Duduklah dulu, Nova,” ucap tuan Arga. “Jadi... apa yang mau kamu tanyakan Nova?”

Nova menghela napasnya lalu berkata dengan suara yang sedikit pelan.

“Apa om tahu tentang berlian hitam?” tanya Nova langsung to the point.

Tuan Arga sedikit terkejut saat mendengar itu, kemudian ia menyandarkan punggungnya ke sofa lalu menatap Nova sambil menarik napas dan menghembuskannya pelan. “Berlian hitam ya?” ucap tuan Arga sambil mengusap dagunya perlahan, seperti mengingat sesuatu. “Itu memang ada, tapi... untuk menemukannya itu cukup sulit, keberadaannya jauh di dalam tanah, dan kemungkinan besar ada di bawah sebuah gunung merapi. Terlalu beresiko, Nova.”

Nova mengangguk paham. Lalu menyandarkan punggungnya ke kursi yang ada di ruangan tuan Arga itu.

“Memangnya untuk apa, kamu mencari itu?” lanjut tuan Arga dengan tatapan yang menyelidik seakan mencari tahu, kenapa Nova mencari berlian langka itu kepadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!