SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Tinda Takdir
Debu halus sisa hancurnya perpustakaan masih melayang-layang di udara koridor, menyerupai salju kelabu yang turun perlahan di tengah musim yang mati. Arga terbatuk-batuk hebat, merasakan paru-parunya sesak oleh sisa-sisa aroma kertas lapuk dan bau apek yang tertinggal.
Di sampingnya, Lintang mencoba berdiri dengan bertumpu pada dinding dingin, napasnya tersengal-sengal kehabisan tenaga. Pintu perpustakaan di belakang mereka kini tidak lagi terlihat seperti pintu biasa. Kayu jatinya telah mengerut dan menghitam pekat, dililit rapat oleh rantai-rantai besi tebal yang membara merah panas, seolah-olah sedang menyegel sesuatu yang amat murka dan ingin meledak keluar di dalamnya.
Namun, kemenangan kecil itu harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Arga menunduk menatap telapak tangannya. Sobekan kertas dari buku induk yang ia genggam erat sejak tadi tidak lagi berwarna putih bersih. Tinta hitam pekat dari halaman tersebut mulai merembes keluar, merayap masuk ke bawah kulit pergelangan tangannya seperti akar-akar tanaman parasit yang lapar dan haus akan kehidupan.
"Arga, lihat tanganmu!" seru Lintang dengan suara parau dan wajah pucat.
Arga menatap ngeri ke arah lengannya sendiri. Urat-urat halus di pergelangan tangannya kini menonjol keluar dan berubah warna menjadi hitam legam. Ia mencoba melepaskan dan membuang kertas itu, namun benda tersebut seolah telah menyatu dan menempel kuat dengan daging dan tulangnya.
Ini adalah kutukan dari Sang Pustakawan. Sebuah tanda permanen bagi siapa pun yang berani mencuri atau merobek catatan takdir di wilayah kekuasaannya.
"Konsekuensi..." Arga bergumam pelan, teringat akan peringatan yang tersirat di dalam memori Raka kecil. "Jadi dia... dia belum benar-benar pergi, kan?"
Belum sempat Lintang menjawab, suhu udara di koridor itu turun secara drastis dan ekstrem hingga napas mereka berubah menjadi uap putih yang terlihat jelas di udara. Cahaya lampu neon di langit-langit mulai berkedip-kedip tidak beraturan dengan cepat, menciptakan ritme gelap-terang yang menyakitkan mata dan memusingkan kepala.
Tiba-tiba, dari sela-sela rantai besi yang membara di pintu perpustakaan, mengalir keluar cairan hitam yang sangat kental dan lengket. Itu adalah tinta yang sama persis dengan yang kini sedang merambat di pembuluh darah Arga.
Cairan hitam itu menggenang di lantai, lalu perlahan mulai naik dan membentuk siluet tinggi kurus yang sangat mengerikan. Pustakawan Tanpa Mata memang tidak bisa lagi keluar dalam bentuk fisik utuhnya karena dimensi perpustakaan telah runtuh dan hancur, namun ia memanifestasikan dirinya melalui sisa-sisa tinta takdir yang masih ada di dunia nyata.
Sosoknya kini tampak lebih abstrak dan menyeramkan. Wajahnya tertutup lembaran-lembaran naskah kuno yang beterbangan, dan jarum tulang di tangannya kini dikelilingi oleh ribuan benang perak tipis yang menjalar ke segala arah seperti jaring laba-laba raksasa yang siap memangsa.
"Kau... telah... merusak... susunan... bab..."
Suara itu tidak lagi terdengar seperti serangga merayap, melainkan bergema seperti ribuan suara murid yang menjerit kesakitan secara bersamaan namun dengan frekuensi rendah yang membuat telinga berdenging.
"Pencuri... harus... menjadi... sampul... baru..."
Pustakawan itu mengibaskan tangannya dengan cepat. Seketika itu juga, ribuan benang perak melesat bagaikan anak panah menuju tubuh Arga dan Lintang. Benang-benang itu tampak sangat tipis dan halus, namun sebenarnya setajam silet yang bisa memotong besi.
Lintang mencoba menghalau serangan itu dengan belati peraknya, namun jumlah musuh terlalu banyak dan tak terhingga. Salah satu benang berhasil menyayat pipi Lintang. Yang mengerikan adalah, luka itu tidak mengeluarkan darah merah segar, melainkan mengalir keluar cairan hitam pekat persis seperti tinta.
"Jangan biarkan benang itu menyentuh jantungmu, Lintang!" teriak Arga memperingatkan.
Arga tiba-tiba merasakan panas yang luar biasa membara di dalam perutnya. Itu adalah reaksi dari sisa kontrak Raka yang ia telan saat merasakan kehadiran musuh bebuyutannya.
Arga menyadari satu hal penting. Ia tidak bisa melawan makhluk ini dengan kekuatan fisik biasa. Pustakawan adalah perwujudan dari narasi, tulisan, dan takdir. Untuk bisa mengalahkannya, Arga harus mampu mengubah narasi dan menulis ulang takdir itu sendiri.
Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Ia memfokuskan seluruh energi Indigo yang dimilikinya tepat ke arah tinta hitam yang sedang merayap naik di lengannya. Ia mencoba untuk "membaca" apa yang sedang dituliskan oleh tinta itu di dalam daging dan darahnya.
Di dalam benaknya, ia melihat barisan kalimat panjang yang menyatakan bahwa Arga akan mati di koridor ini, dilupakan oleh sejarah, dan jiwanya akan terkunci menjadi pembatas buku abadi selamanya.
Tidak! batin Arga melawan dengan penuh tekad baja. Aku yang memegang pena sekarang! Bukan kau!
Dengan sekuat tenaga dan kemauan yang luar biasa, Arga mencengkeram kuat lengan bawahnya sendiri. Ia memaksa tinta hitam itu untuk berhenti merambat dan diam di tempat. Di dalam kepalanya, ia membayangkan tinta itu bergerak membentuk huruf-huruf dan kalimat baru. Ia membayangkan sebuah kalimat penutup yang tegas untuk sang Pustakawan.
"Lintang! Lemparkan belatimu ke sini sekarang!" teriak Arga tiba-tiba.
Tanpa ragu, Lintang melemparkan belati peraknya meluncur di udara menuju Arga.
Dengan gerakan yang sangat nekat, Arga menyayatkan bilah tajam itu ke telapak tangannya sendiri yang sudah menghitam.
BRUK!
Tinta hitam bercampur dengan darah merah segar muncrat keluar dari luka itu. Namun anehnya, cairan itu tidak jatuh ke lantai. Ia justru melayang tertahan di udara, dikendalikan sepenuhnya oleh energi Indigo yang meledak keluar dari tubuh Arga.
Arga menggerakkan tangannya dengan cepat di udara kosong, seolah-olah sedang menulis di atas sebuah kanvas gaib yang tak terlihat. Ia membentuk simbol-simbol perlindungan dan penolakan yang pernah ia baca dan pelajari di dalam buku harian Raka.
Cairan hitam-merah itu menyatu dan membentuk sebuah perisai besar yang kokoh. Ketika benang-benang perak sang Pustakawan menghantamnya, mereka justru terpantul balik dengan keras ke arah pemiliknya.
Pustakawan Tanpa Mata menjerit panjang kesakitan saat benang-benang tajamnya sendiri menusuk-nusuk tubuhnya yang terbuat dari kertas dan tinta. Sosoknya mulai goyah dan hancur. Lembaran-lembaran naskah yang menyusun tubuhnya mulai terbakar oleh api biru aneh yang dipicu oleh darah Arga.
"Cerita... ini... belum... selesai..." rintih makhluk itu dengan suara putus-putus. Sosoknya perlahan memudar dan meleleh kembali menjadi genangan tinta hitam di lantai koridor.
Namun, sebelum benar-benar lenyap dan menghilang, ia menunjuk dengan jarum tulangnya ke arah Menara Jam yang berdiri gagah di ujung koridor sana.
"Waktu... akan... menghapusmu... sebelum... kau... mencapai... halaman... terakhir..."
Setelah sosok itu benar-benar hilang, keheningan kembali menyelimuti koridor sekolah. Arga jatuh terduduk lemas di lantai dengan napas yang memburu kencang. Warna hitam di urat-urat tangannya tidak hilang sepenuhnya, namun penyebarannya berhasil dihentikan tepat di siku lengannya.
"Kau melakukan hal yang sangat berbahaya, Arga," kata Lintang pelan sambil mendekat dan membalut luka di pipinya dengan kain sobekan seragam. Wajahnya penuh kekhawatiran mendalam. "Menulis ulang takdir dengan darahmu sendiri... itu akan meninggalkan bekas permanen yang dalam pada jiwamu selamanya."
"Setidaknya kita masih hidup dan bisa melangkah," jawab Arga lemah. Ia menatap tangannya yang kini terlihat seperti tertutup tato hitam yang rumit dan misterius. "Dan kita sudah punya petunjuk selanjutnya. Ruang Musik."
Mereka berdua berdiri dan mulai berjalan perlahan menuju sayap barat sekolah. Arga bisa merasakan dengan jelas bahwa setiap langkah kakinya kini seolah sedang diawasi. Suara detak jam besar dari Menara Jam terdengar semakin jelas dan nyata, bergema getarannya hingga ke tulang punggung.
Dug... dug... dug...
Seolah-olah jam tua itu sendiri sedang menghitung mundur sisa waktu hidup mereka.
Saat mereka semakin mendekati lokasi Ruang Musik, suasana di sekitar mereka kembali berubah drastis. Bau debu dan apek perpustakaan perlahan hilang, digantikan oleh aroma bunga melati yang sangat menyengat dan manis. Aroma yang biasanya sering digunakan untuk menutupi bau busuk bangkai.
Dari balik pintu kayu tebal yang dihiasi ukiran not balok, terdengar jelas suara dentingan piano yang memainkan melodi yang sangat indah namun penuh kesedihan yang mendalam.
Suara itu sangat memukau, namun setiap nadanya terasa seperti tarikan jarum halus yang mencoba menjahit kembali luka-luka lama di hati Arga. Ia tiba-tiba teringat akan wajah ibunya, teringat masa-masa damai dan bahagia sebelum kakaknya menghilang tanpa jejak. Air mata tanpa sadar menetes membasahi pipinya.
"Jangan terlena, Arga!" bisik Lintang tajam sambil menutup rapat telinganya dengan kedua tangan. "Itu adalah lagu Requiem of the Lost. Jika kau membiarkan nadanya masuk dan menguasai hatimu, kau akan kehilangan keinginanmu untuk hidup dan menyerah begitu saja."
Arga segera menghapus air matanya kasar dan menguatkan kembali hatinya. Ia tahu betul, di balik pintu Ruang Musik itu, bukan hanya sekadar hantu pemusik biasa yang menanti, melainkan sebuah jebakan emosi yang jauh lebih mematikan dan berbahaya daripada jarum tajam sang Pustakawan.
Dengan tangan yang kini ditandai selamanya oleh tinta takdir, Arga mendorong pintu Ruang Musik itu terbuka lebar.