Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel Maut Menggunakan Garam Dapur
Setelah insiden di bawah meja Arini yang hampir membuat jantungnya copot, Satria mengira hari itu akan berakhir dengan damai. Namun, SMA Wijaya Kusuma punya cara unik untuk mengingatkan Satria bahwa statusnya sebagai "penyeimbang" tidak mengenal jam istirahat. Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat dan menyisakan bayangan panjang di area kantin yang sudah sepi, Satria merasakan getaran yang sangat kasar—seperti gesekan batu amplas di dalam kepalanya.
Ini bukan energi dari hantu-hantu sekolah yang biasanya. Ini adalah energi yang berasal dari luar, sesuatu yang tajam, haus darah, dan sangat terorganisir.
"Sat, lihat itu," bisik Arini. Mereka sedang duduk di bangku kantin untuk menyelesaikan laporan yang tertunda.
Di tengah lapangan basket yang kosong, muncul kepulan asap hitam yang pekat. Dari dalam asap itu, keluar seorang pria berpakaian serba hitam dengan penutup wajah. Di tangannya, ia memegang sebuah keris kecil yang memancarkan aura ungu gelap.
“Pewaris... dan bocah pengganggu...” suara pria itu parau, bergema di seluruh lapangan. “Kalian pikir urusan dengan yayasan bayangan sudah selesai? Kami mengirim 'Pembersih' untuk memastikan tidak ada saksi yang tersisa.”
Pria itu bukan hantu. Dia adalah seorang praktisi ilmu hitam sewaan, seorang dukun modern yang dikontrak oleh sisa-sisa pengurus yayasan yang melarikan diri.
Satria meraba tasnya. Kosong. Air sucinya habis saat menghadapi Noni Isabelle kemarin, dan ia lupa mengisi ulang stoknya. Ia melihat ke sekeliling kantin yang sudah tutup. Pintu-pintunya terkunci.
"Rin, kita terkepung. Dia bukan cuma bawa ilmu hitam, dia bawa pasukan 'Banaspati' di belakangnya!" Satria menunjuk ke langit sore, di mana bola-bola api mulai bermunculan, melayang di atas kepala sang dukun sewaan.
Sang dukun mulai merapal mantra. Bola-bola api itu melesat ke arah mereka. Satria menarik tangan Arini, melompat ke balik meja beton kantin tepat sebelum ledakan api menghantam tempat duduk mereka.
"Sat! Kita nggak punya senjata apa-apa!" Arini panik.
Satria memutar otak. Matanya tertuju pada sebuah jerigen plastik besar di pojok dapur kantin Bu Siti yang pintunya hanya terkunci selot kayu. Ia menendang pintu itu hingga terbuka. Di dalamnya, berjejer bumbu dapur.
"Garam!" teriak Satria. Ia menemukan karung kecil berisi garam dapur kasar seberat lima kilogram. "Garam bukan cuma buat masak, Rin. Di dunia ghaib, garam itu kristal murni yang bisa membiaskan energi negatif kalau dipakai dengan teknik yang bener!"
Sang dukun melangkah masuk ke area kantin. Wajahnya yang tertutup kain tampak meremehkan saat melihat Satria memegang segenggam garam.
“Kau mau memasakku, bocah? Ilmu hitamku tidak mempan oleh bumbu dapur!” tawa sang dukun meledak. Ia mengayunkan kerisnya, mengirimkan gelombang energi hitam yang menghancurkan tumpukan piring plastik di dekat Satria.
"Garam itu bukan bumbunya, tapi medianya!" Satria berdiri tegak.
Ia melemparkan segenggam garam ke udara. Dengan kemampuannya, Satria memfokuskan energi batinnya pada butiran-butiran garam tersebut. Di mata Arini, butiran garam itu mendadak bersinar putih terang. Saat gelombang hitam sang dukun menghantam, butiran garam itu bertindak seperti perisai aktif, memecah energi hitam menjadi percikan cahaya yang tidak berbahaya.
“Apa?!” sang dukun terkejut.
"Ucok! Dudung! Bantu gue sebarin garam ini di sekeliling dia!" perintah Satria.
Ucok muncul dari balik dispenser, ia menyambar segenggam garam dan berlari secepat kilat (yang hanya terlihat seperti hembusan angin bagi sang dukun), menciptakan lingkaran garam di sekitar kaki pria berbaju hitam itu. Pocong Dudung ikut membantu dengan melompat-lompat di atas atap kantin, menjatuhkan butiran garam dari lubang ventilasi seperti hujan salju kristal.
Sang dukun terjebak dalam lingkaran garam murni. Setiap kali ia mencoba merapal mantra, energi negatifnya langsung terserap oleh kristal garam di bawah kakinya.
“Kurang ajar! Kau main curang!” sang dukun berteriak frustrasi. Ia mencoba menyerang secara fisik, menerjang ke arah Satria dengan kerisnya.
Satria tidak lari. Ia mengambil segenggam garam lagi, kali ini ia meremasnya kuat-kanak hingga telapak tangannya terasa pedih. Saat dukun itu menusukkan kerisnya, Satria menangkis tangan pria itu dan menempelkan telapak tangannya yang penuh garam langsung ke pergelangan tangan sang dukun yang memegang jimat.
“AAAAAARRGGHHH!”
Asap hitam keluar dari kulit pria itu seolah-olah ia tersentuh besi panas. Jimat di pergelangan tangannya pecah berkeping-keping.
"Ini bukan soal kuat-kuatan ilmu, ini soal siapa yang punya niat paling tulus buat jaga sekolah ini!" seru Satria.
Arini tidak tinggal diam. Ia menemukan sebuah botol cuka besar di samping garam. "Sat! Asam bisa memperkuat reaksi kristalisasinya!"
Arini menyiramkan cuka ke arah lingkaran garam tersebut. Reaksi kimiawi dan ghaib terjadi seketika. Uap putih yang suci membubung tinggi, menciptakan tekanan energi yang membuat sang dukun bertekuk lutut. Banaspati di langit seketika padam, berubah menjadi bola-bola abu yang jatuh ke tanah.
Pria berbaju hitam itu terkapar di lantai kantin yang becek oleh cuka dan garam. Keris hitamnya sudah kehilangan cahaya ungunya, kini hanya tampak seperti besi karatan biasa.
“Kau... bagaimana mungkin...” gumamnya sebelum pingsan karena kelelahan energi.
Meneer Van De Berg muncul di depan Satria, memberikan tepuk tangan pelan. “Luar biasa, Satria. Menggunakan elemen bumi yang paling sederhana untuk mengalahkan keserakahan. Kau mengingatkanku pada taktik gerilya rakyat dulu.”
“Iya! Tapi Sat, garamnya jadi habis! Besok Bu Siti pasti marah karena nggak bisa bikin telur asin!” celetuk Ucok sambil mencoba mencicipi butiran garam yang tersisa di lantai.
"Nanti kita ganti dua karung, Cok," jawab Satria terengah-engah. Ia duduk bersandar pada meja beton, tangannya masih terasa panas karena reaksi energi tadi.
Arini menghampiri Satria, ia menyobek sedikit kain dari seragam cadangannya untuk membalut telapak tangan Satria yang lecet karena gesekan garam kasar.
"Duel maut pakai garam dapur... kalau gue ceritain ke anak OSIS lain, nggak bakal ada yang percaya, Sat," Arini tersenyum sambil mengikat perban di tangan Satria.
"Dunia indigo emang nggak selalu estetik, Rin. Kadang solusinya ada di rak bumbu," balas Satria sambil terkekeh.
Sore itu, mereka menyerahkan sang dukun sewaan yang sudah tidak berdaya itu ke pihak berwajib dengan tuduhan "percobaan pencurian" (karena polisi tidak akan percaya kalau dilaporkan "percobaan serangan Banaspati").
Saat mereka berjalan keluar dari gerbang sekolah, bau cuka dan garam masih menempel di baju mereka. Namun bagi Satria, itu adalah bau kemenangan yang paling nikmat. SMA Wijaya Kusuma sekali lagi membuktikan bahwa ia punya cara sendiri untuk melindungi anak-anaknya—bahkan jika harus menggunakan cara yang paling "asin" sekalipun.
Bab 28 ditutup dengan Satria dan Arini yang mampir ke toko kelontong di depan sekolah, membeli satu karung garam baru untuk mengganti milik Bu Siti, sambil tertawa bersama di bawah lampu jalan yang mulai menyala.