NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rahasia rumah jendral

*Malam di Kediaman Jendral*

Langit tahun 80-an gelap pekat. Hanya lampu minyak di sudut pendopo yang berkelap-kelip, melempar bayangan panjang ke dinding kayu berukir.

Di ruang tengah yang luas, Jendral Chandra duduk sendiri. Seragamnya sudah ia lepas, tersisa kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka. Di tangannya, gelas berisi air putih. Tidak disentuh. Matanya menatap kosong ke arah taman belakang yang diselimuti malam.

Pikirannya tidak di sini.

Pikirannya ada di pasar yang rusuh siang tadi. Pada tubuh mungil yang tanpa sengaja meringkuk di dadanya. Pada cadar hitam yang menyisakan sepasang mata hazel. Tajam, cerdas, familiar. Terlalu familiar sampai dadanya sesak.

Siapa dia? Kenapa jantungnya berdetak aneh setiap mengingat sorot mata itu? Lima tahun ia hidup dengan sepuluh istri, tapi tak satu pun membuat tidurnya tidak nyenyak seperti hari ini.

Gila. Jendral Agung Chandra, disibukkan oleh wanita bercadar tak bernama.

_Klek._

Pintu berderit pelan. Wangi melati masuk lebih dulu, disusul langkah kaki yang terlatih untuk tidak bersuara. Tapi Chandra hafal langkah itu.

"Jendral belum tidur?" Suara Ratna, lembut, mendayu. Gaun tidurnya dari sutra tipis warna merah marun. Rambutnya tergerai. Senyumnya manis, tapi matanya menyimpan ambisi sebesar kediaman ini.

Chandra tidak menoleh. "Ada urusan apa malam-malam ke sini?"

Ratna melangkah, duduk di ujung sofa yang sama. Jaraknya sengaja ia buat sempit. Pahanya hampir menyentuh paha Chandra. "Aku hanya khawatir. Sejak dari pasar, kau murung. Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Mas?"

Panggilan 'Mas' itu ia tekankan. Menandai wilayah.

"Urus saja kamar-kamarmu. Tidak perlu mengkhawatirkanku," jawab Chandra datar. Matanya tetap ke taman.

Ratna tidak mundur. Lima tahun jadi istri kedua, lima tahun ia belajar bahwa Chandra bukan pria yang bisa ditaklukkan dengan air mata. Harus dengan gigih. Harus dengan nekat.

Tangannya bergerak, menyentuh lengan Chandra. Jemari lentiknya mengusap pelan, naik ke bahu, lalu turun ke dada. "Mas... kapan terakhir kali kau ke kamarku? Para selir lain iri. Katanya aku istri kesayangan, tapi kesayangan yang tidak pernah disentuh. Apa aku kurang cantik?"

Chandra menangkap pergelangan tangan itu. Bukan untuk membalas. Untuk menghentikan. Genggamannya tegas, tidak kasar, tapi mutlak. "Ratna, sudah kubilang. Pernikahan kita politis. Aku menikahimu karena ayahmu, karena keadaan. Jangan minta lebih dari yang bisa kuberikan."

Kalimat itu seperti belati. Selalu. Tapi Ratna sudah kebal. Ia justru mendekat, napasnya menghangat di rahang Chandra. "Politis atau tidak, kita suami istri. Satu malam saja, Mas. Aku ingin punya anakmu. Anak yang bisa menguatkan posisiku di rumah ini. Anak yang bisa..."

_Tok... tok... tok..._

Ketukan di pintu kayu itu pelan, tapi efeknya seperti gong pecah di tengah kemesraan paksa.

Ratna tersentak. Chandra langsung melepas tangan Ratna seolah kena api. Wajahnya kembali jadi topeng jendral: dingin, tak tersentuh.

"Masuk," perintahnya.

Pintu terbuka. Bagas muncul dengan wajah setengah panik, setengah bersemangat. Seragamnya masih lengkap meski jam sudah lewat pukul sepuluh malam. Ia memberi hormat kilat, matanya melirik Ratna sekilas lalu kembali ke Chandra. Kode jelas: _ada urusan penting, tidak untuk telinga lain_.

"Lapor, Jendral. Ada perkembangan," ucap Bagas.

Chandra berdiri. "Bicara di luar."

Ratna ikut berdiri, senyumnya dipaksa bertahan. "Sepenting itu, Bagas? Sampai tidak bisa tunggu pagi?"

"Penting, Nyonya," jawab Bagas sopan. Tapi nadanya final.

Chandra sudah melangkah keluar, Bagas mengekor. Pintu ditutup pelan di depan wajah Ratna.

Senyum itu runtuh seketika.

Di teras samping, jauh dari jendela dan telinga, Bagas merapat. Suaranya ia bisikkan, hanya cukup untuk Chandra. "Wanita bercadar dan anaknya, Jendral. Aku ikuti sesuai perintah. Mereka masuk ke bangunan rusak di belakang... rumah ini."

Chandra menegang. Manik birunya menyipit. "Ulangi."

"Bangunan gudang tua. Yang terbengkalai di halaman belakang. Yang kita kira kosong lima tahun ini. Mereka masuk lewat semak. Ada pintu rahasia, Jendral. Mereka tinggal di sana."

Udara malam tiba-tiba terasa lebih dingin. Bangunan rusak di belakang rumahnya? Tempat yang ia segel sendiri setelah kebakaran? Tempat yang seharusnya jadi kuburan kenangan?

Dan wanita bercadar itu... tinggal di sana?

Selama lima tahun?

Otak Chandra berputar cepat. Kepingan yang tidak masuk akal mendadak pas. Mata familiar. Anak laki-laki empat tahun. Cerdas. Wajahnya...

"Aman?" tanya Chandra. Suaranya rendah, berbahaya.

"Sejauh ini aman. Tidak ada yang tahu selain saya. Saya jaga jarak. Anak itu... Jendral, anak itu mirip sekali dengan..."

"Siapkan mobil. Sekarang. Kita ke sana," potong Chandra. Ia tidak butuh Bagas menyelesaikan kalimat itu. Ia sudah tahu.

Dua pria itu bergerak cepat, menyelinap lewat pintu samping yang terhubung langsung ke garasi. Tidak ada prajurit jaga yang mereka ajak bicara. Tidak ada suara. Seperti bayangan.

Yang tidak mereka tahu, dari balik pilar pendopo, sepasang mata sipit mengawasi.

Ratna.

Tangannya mengepal sampai kuku menancap ke telapak. Dadanya naik turun menahan amarah dan cemburu yang mendidih.

_Wanita bercadar. Anak. Bangunan belakang. Chandra pergi tengah malam._

Persamaan itu terlalu mudah ditebak. Terlalu busuk untuk diterima.

Dia istri sah. Istri kesayangan. Tapi malam ini, suaminya menyelinap keluar seperti maling hanya karena laporan soal wanita lain.

Tidak. Dia tidak akan diam jadi patung lagi.

Dengan gerakan cepat, Ratna berbalik. Ia masuk ke kamar, melepas gaun sutra, menggantinya dengan kebaya gelap dan kain yang tidak berisik. Rambutnya ia sanggul ketat. Tak pakai perhiasan. Tak pakai minyak wangi.

Malam ini, Nyonya Jendral kedua turun jadi mata-mata.

Ia hafal setiap jalan tikus di rumah ini. Hafal jadwal jaga prajurit. Hafal celah di pagar belakang yang menuju gudang tua.

Kalau Chandra mau bermain rahasia, maka dia akan jadi rahasia yang lebih gelap.

Langkahnya senyap, menyusul ke arah garasi. Dari jauh, ia melihat mobil jip meluncur pelan tanpa lampu, menembus kebun belakang.

Bibir Ratna melengkung. Bukan senyum. Itu seringai.

"Siapapun kau, wanita bercadar... kalau sampai kau yang ada di otak suamiku, aku pastikan kau menyesal pernah keluar dari kuburmu."

Malam semakin larut. Di gudang tua, lampu teplok menyala temaram. Anna sedang meninabobokan Cikal yang tertidur sambil memeluk buku. Ia tidak tahu dua kelompok sedang menuju ke arahnya. Satu membawa pertanyaan, satu lagi membawa cemburu yang bisa membunuh.

Mau lanjut *Babak: Penggerebekan Gudang Tua*? Atau *Babak: Ratna Ketahuan Nguntit & Ditodong Bagas*?

Kalo chapter ini bikin kamu senyum jahat, traktir author kopi ya ☕❤ Biar adegan Chandra dobrak pintu makin bertenaga.

1
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
supyani: makasih onty, yang betah ya sampe cikal gede.
total 1 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!