Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan Empat Ibu Mulai Bersatu
Malam mulai datang semilir angin masuk melalui jendela kayu rumah sederhana itu. Di ruang tamu, Kai masih terus memandangi hasil layang-layang buatannya tadi, sesekali ia mengoreksi lukisannya sendiri itu seolah takut ada yang kurang.
Namun saat bertanya sama ibunya, tentu jawaban Alena selalu memuaskan hatinya.
"Udah Kai, jangan dipandangi terus," tegur Alena.
"Gak apa-apa Ma, takut ada yang kurang, makanya Kai mau tambahin dikit-dikit saja," sahut anak itu.
Alena langsung menggelengkan kepalanya melihat keuletan dan ke hati-hatian sang anak, lalu ia melangkah ke dapur untuk membereskan bekas piring makan malamnya tadi.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu membuat Alena sedikit mengernyit.
“Malam-malam begini siapa ya?” gumamnya pelan.
Belum sempat ia melangkah, Kai lebih dulu berdiri kecil lalu berlari membuka pintu, dan benar saja ternyata yang datang.
“Ibu Senna!” seru Kai senang.
“Dan Ibu Anne juga,” sambungnya saat melihat wanita di samping Senna.
Senna langsung masuk tanpa permisi sambil membawa kantong plastik besar di tangannya.
“Astaga dinginnya luar biasa,” omelnya sambil menggosok kedua lengannya sendiri.
Sementara Anne hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu.
“Kalian tumben malam-malam datang,” ujar Alena sambil keluar dari dapur.
Senna langsung menunjuk Alena tanpa basa-basi. “Aku nggak tenang!”
Alena menghela napas kecil. “Astaga… ada apa lagi?”
“Ada apa katanya?” Senna mendelik. “Dari pagi mukamu kayak orang habis ditinggal utang!”
Anne sampai menahan tawa kecil mendengar ucapan itu, sementara Kai yang sudah paham dengan sifat Ibu Senna ia hanya menggeleng kecil seolah ini momen paling seru dalam keluarganya.
“Kita cuma khawatir,” ujar Anne lebih lembut. “Kamu dari tadi keliatan banyak pikiran.”
“Aku baik-baik aja kok,” elak Alena cepat.
“Bohong.”
Kali ini Senna dan Anne kompak menjawab bersamaan.
Kai yang melihat itu hanya tersenyum kecil sambil duduk kembali dekat layang-layangnya.
Namun beberapa detik kemudian... langkah Senna terhenti saat melihat layang-layang besar di depan Kai.
“Eh…” gumamnya pelan.
Anne ikut menoleh.
Dan untuk sesaat… tatapan kedua wanita itu berubah kagum entah kenapa tiba-tiba dadanya menghangat, melihat pada kain biru langit itu, tergambar empat sosok wanita di bawah rembulan putih.
Sederhana, tidak sempurna. Akan tetapi mampu membuat suasana mengharu biru seperti ini. Senna perlahan mendekat, matanya menelusuri gambar itu satu persatu.
“Itu…” suaranya mengecil. “Kita?”
Kai mengangguk polos. “Iya.”
Anne menatap gambar itu cukup lama. Bahkan wanita setenang dirinya sampai kehilangan kata-kata.
Sementara Alena yang berdiri di belakang mereka hanya diam sambil menggigit bibirnya pelan.
Kai lalu berdiri kecil sambil memegang layang-layang itu hati-hati.
“Kalau nanti layang-layang ini terbang tinggi…” ucapnya pelan.
Tatapan anak itu bergantian melihat mereka.
“Kai pengin semua orang tahu…” senyum kecil mulai muncul di bibirnya. “Kalau Kai punya empat Ibu yang hebat.”
Deg.
Seketika mata Senna langsung memanas, tangannya mengepal karena tidak mampu menahan rasa sesak di dadanya.
“Ya ampun anakku…” wanita itu refleks memeluk Kai erat sampai hampir membuat anak itu oleng.
Anne ikut menutup mulutnya sendiri menahan haru. Sementara Alena buru-buru memalingkan wajah karena matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu tuh…” suara Senna mulai bergetar. “Kenapa sih ngomongnya selalu bikin hati orang meleleh begini?”
Kai hanya tertawa kecil di dalam pelukan itu. Namun beberapa detik kemudian? Tatapan Senna tiba-tiba berubah serius, ia seperti tidak asing dengan layangan yang sedang dibuat oleh anaknya itu. Tentunya layangan itu bukan yang biasa dibuat oleh Kai.
“Tunggu dulu," ucapnya sedikit bingung. "Ini mau acara apa, kau membuat layang-layang seniat ini," imbuh Senna yang masih merasa bingung.
Seketika Kai mulai menundukkan pandangannya, reflek jemarinya meremas ujung kaosnya.
"Se- sebenarnya Kai ingin ikut Festival Bu," katanya pelan. "Tapi biaya pendaftarannya cukup mahal."
Deg!
Senna dan Anne saling tatap, seolah menemukan jawabannya dari kegelisahan Alena sedari pagi.
Seketika tatapan Senna langsung mengarah ke Alena. "Oh jadi ini yang buat kamu melamun dari tadi pagi."
Jika sudah seperti ini Alena tidak bisa mengelak lagi, kedua sahabatnya itu sudah mengetahui semuanya tanpa harus ia bercerita, akan tetapi justru hal itu yang membuat ia harus menerima ocehan Senna sepanjang waktu.
"Lena, hal sepenting ini, kamu tidak mau melibatkan kami?" todong Senna dengan nada ceplas-ceplosnya.
"Maaf, Mbak ... bukan aku gak mau melibatkan kalian, tapi aku tidak mau terus-terusan merepotkan kalian," ungkap Alena.
Seketika Senna langsung memeluk Alena seolah mencoba meyakinkan kembali kalau mereka itu keluarga meskipun tidak sedarah.
"Kau dengar baik-baik ya, kita ini keluarga, bahkan aku sudah nganggep kamu, Anne dan Rina layaknya saudaraku sendiri," jelas Senna.
Alena hanya bisa menahan isaknya, dan tanpa ia sadari Kai yang melihat kejadian itu langsung membuka suara.
"Kalau keinginan Kai, membuat kalian khawatir mending tidak usah ikut Festival, Kai gak masalah kok," ucap anak itu berusaha untuk tenang.
Seketika Wanita itu melepas pelukannya cepat lalu menatap layang-layang itu lagi.
"Gak Sayang, kau tidak boleh nyerah," sahut Senna dengan cepat. "Kamu harus ikut festival itu," lanjutnya penuh keyakinan.
"Tapi Bu," potong Kai.
"Sudah, biarkan ini menjadi tugas kita berempat," ucap Senna. Lalu tatapannya mulai beralih pada Alena dan juga Anne.
Anne pun mulai mendekat, begitu juga dengan Alena, mereka seolah merembukkan segala sesuatunya tanpa di dengar oleh Kai.
"Ya sudah besok kita coba dulu ya," ujar Anne.
Entah apa yang tengah mereka sepakati, yang jelas ketiganya sedang mengusahakan agar Kalian bisa mendapatkan tiket pendaftaran itu.
Beberapa menit sudah berlalu, ketiga wanita itu sudah kembali dengan raut wajah yang lega tidak tertekan seperti sebelumnya.
Senna mulai mengambil langkah, memperhatikan lebih jelas gambar di layang-layang itu lalu tangannya langsung menunjuk layang-layang Kai penuh semangat.
“Pokoknya anak kita harus ikut festival itu!”
“Iya, pokonya kita harus mengusahakan," imbuh Anne.
"Mbak makasih banyak ya," ucap Alena.
“Jangan berterima kasih seperti itu, memangnya kita bukan orang tua Kai juga," sahutnya dengan cepat. “Lihat ini dulu! Masa karya sebagus ini nggak diterbangin?”
Anne mulai menghela napas pasrah. Ia tahu kalau Senna sudah bicara seperti itu… berarti tidak ada yang bisa menghentikannya lagi.
Dan benar saja. Detik berikutnya Senna langsung meraih ponselnya.
“Aku telepon Rina sekarang juga," ucap wanita itu lalu melangkah ke ruang tengah bersama dengan Anne.
Setelah beberapa detik telepon itu mulai terjawab, tapi sayang. Rina tidak bisa menerima telepon lama, karena sedang bekerja. Tapi sebelum itu Senna sudah mengutarakan semua isi hatinya.
"Gimana Sen?" tanya Anne.
Senna menghela napas kecil. "Kata Rina, bulan ini baru saja ia membayar cicilan KPR nya, tapi dia janji akan berusaha untuk Kai," sahut Senna pelan seperti bisikan.
"Ya sudah kalau memang keadaan seperti itu besok, kita minta job tambahan saja sama Bos," kata Anne.
"Baiklah, kita usahakan semuanya untuk Kai," ujar Senna.
Setelah berbincang cukup lama di ruang tengah kini Anne dan Senna menyusul Alena yang sudah duduk terlebih dahulu di ruang tamu bersama Kai.
Namun beberapa detik kemudian, suasana hangat itu perlahan berubah hening saat Senna tiba-tiba menatap wajah Kai penuh tekad.
Bersambung ....